Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setibanya di rumah, Zhang Yuze mendapati bahwa kedua orang tuanya masih belum pulang. Rumah besar itu terasa lengang dan sunyi, hanya diisi oleh suara langkah kakinya sendiri yang bergema samar di lantai. Tanpa ragu, ia segera mengganti pakaian dan memulai “rutinitas hariannya”.
Di sekolah, Zhang Yuze selalu menampilkan sosok yang tampak pendiam, muram, bahkan sedikit serius. Namun, hanya satu orang di dunia ini yang benar-benar mengenalnya—Chen Jialong, sahabatnya sejak kecil. Di mata Chen Jialong, Zhang Yuze sama sekali bukan pemuda lurus dan polos seperti yang terlihat di luar. Sebaliknya, ia adalah seorang mesum terpendam yang pandai menyembunyikan sisi gelapnya.
Komputer pribadinya hampir sepenuhnya dipenuhi film-film berlabel ramah segala usia—setidaknya begitu menurut kategorinya sendiri—yang jumlahnya nyaris memenuhi seluruh kapasitas hard drive. Lebih dari itu, Zhang Yuze bahkan merupakan anggota tingkat dua belas di sebuah situs dewasa ternama, dengan level keanggotaan yang konon lebih tinggi daripada beberapa administratornya.
Jika orang tuanya mengetahui sisi ini, entah ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan.
Sore itu, Zhang Yuze duduk santai di depan komputer, menyesap minuman dingin sambil dengan tenang mengunduh beberapa film terbaru. Jari-jarinya bergerak cekatan di atas mouse dan keyboard, wajahnya memancarkan kepuasan kecil yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.
Namun, tepat ketika unduhan hampir selesai, bel pintu tiba-tiba berbunyi.
Deringannya yang nyaring membuat Zhang Yuze terkejut. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dalam benaknya, ia mengira ayahnya telah pulang lebih awal.
Begitu pintu dibuka, ia tertegun.
Bukan ayahnya yang berdiri di sana, melainkan seorang pemuda asing berusia sekitar dua puluh tahunan, mengenakan pakaian sederhana, dengan tas selempang di bahunya. Penampilannya mirip seorang petugas pengantar barang.
“Apakah Anda Zhang Yuze?” tanya pemuda itu dengan nada sopan, menatapnya sekilas untuk memastikan.
“Ya. Saya,” jawab Zhang Yuze sambil mengangguk, sedikit kebingungan.
“Kalau begitu, mohon tanda tangan di sini. Ini paket Anda.”
Pemuda itu menyerahkan sebuah pena dan selembar kertas. Setelah memastikan identitas penerima, ia terlihat cukup lega.
Dengan perasaan heran, Zhang Yuze menandatangani namanya, lalu menerima sebuah paket berukuran sedang yang dibungkus rapi. Ketika ia mengangkat kepala kembali, si pengantar sudah berbalik pergi dengan langkah cepat, seolah takut berlama-lama.
Zhang Yuze berdiri sejenak di ambang pintu, menatap paket di tangannya dengan dahi berkerut. Ia yakin betul tidak memesan apa pun belakangan ini. Satu-satunya barang yang pernah ia pesan adalah sebuah majalah koleksi ilustrasi indah dari sebuah situs dewasa, itu pun sudah setengah tahun yang lalu. Ia bahkan telah membayar lunas, tetapi barangnya tidak pernah tiba. Pada akhirnya, ia mengira dirinya telah tertipu dan melupakan hal itu.
Mungkinkah paket ini adalah barang tersebut?
Jika benar, maka efisiensi pengirimannya sungguh keterlaluan.
Meski dipenuhi tanda tanya, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Zhang Yuze membawa paket itu masuk ke dalam rumah, menutup pintu, lalu meletakkannya di atas meja ruang tamu. Dengan hati berdebar, ia mulai membukanya.
Lapisan demi lapisan dibuka.
Satu lapisan.
Dua lapisan.
Tiga lapisan.
Semakin lama, wajah Zhang Yuze semakin muram. Bungkusannya terlalu berlebihan. Rasanya seperti kain pembalut kaki perempuan tua di zaman dahulu—panjang, berbelit, dan sama sekali tidak efisien.
“Berlebihan sekali…” gumamnya kesal.
Akhirnya, setelah membuka entah berapa lapis, sebuah benda hitam pekat tersingkap di hadapannya.
Itu adalah sebuah buku.
Buku tersebut tampak sangat tebal, dengan sampul hitam polos tanpa satu pun tulisan atau pola. Zhang Yuze mengangkatnya perlahan. Ia terkejut ketika merasakan permukaannya—sangat halus, dingin, dan terasa aneh, seolah bukan terbuat dari kertas atau kulit biasa.
Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, ia membuka buku itu secara perlahan.
Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya kecewa.
Di halaman pertama, selain sebuah ilustrasi seorang pemuda berwajah licik dengan senyum nakal yang tampak penuh tipu daya, hanya terdapat tiga huruf besar yang tertulis mencolok:
"Cermin Pusaka Dewa"
“Uh…?”
Zhang Yuze terdiam, tercengang. Otaknya seakan berhenti bekerja.
Apa-apaan ini?
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di dalam benaknya.
“Jangan takut.”
Zhang Yuze terkejut setengah mati. Jantungnya hampir meloncat keluar dari dada. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tetapi rumah itu kosong.
“Siapa?!” serunya panik.
“Aku adalah roh dari buku ini,” suara itu kembali terdengar, tenang dan dalam. “Aku adalah jiwa dari Cermin Pusaka Dewa.”
Suara itu tidak terdengar dari telinganya, melainkan langsung bergema di dalam kesadarannya.
Zhang Yuze menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Meski rasa takut masih tersisa, rasa ingin tahunya jauh lebih besar.
“Apa maksud dari Cermin Pusaka Dewa ini?” tanyanya hati-hati.
“Seperti namanya,” jawab roh buku itu, “Cermin Pusaka Dewa adalah pusaka yang dapat menjadikanmu seorang dewa sejati. Selama kau mempelajari seluruh kemampuan yang tercatat di dalamnya dan memenuhi syarat hukum tertentu, kau akan mencapai keilahian.”
Jantung Zhang Yuze berdegup kencang.
Setiap kata itu terdengar terlalu fantastis, terlalu tidak masuk akal. Namun, kejadian yang tengah berlangsung di hadapannya membuatnya sulit untuk sepenuhnya menolak.
“Lalu… apa yang harus kulakukan?” tanyanya pelan, berusaha menekan kegembiraan yang mulai menyelinap ke dalam hatinya.
“Teteskan setetes darahmu ke tubuh pemuda dalam ilustrasi ini,” ujar Roh Buku. “Dengan begitu, kau akan menjadi muridnya. Hanya setelah itu kau dapat melihat isi sejati dari Cermin Pusaka.”
Zhang Yuze menatap ilustrasi di halaman pertama itu. Pemuda dalam gambar tampak tersenyum licik, seolah sedang mengejeknya.
Setelah ragu sejenak, ia mengangguk. Dengan gigi terkatup, ia menggigit ujung jarinya sendiri. Rasa perih menjalar, tetapi ia menahannya. Setetes darah segar jatuh dan menetes tepat di atas ilustrasi pemuda tersebut.
Dalam sekejap, darah itu terserap ke dalam halaman, seakan menghilang begitu saja.
Tiba-tiba, cahaya keemasan meledak keluar dari buku.
Cahayanya begitu menyilaukan hingga Zhang Yuze terpaksa memejamkan mata. Sinar hangat itu memenuhi seluruh ruang tamu, memantul di dinding dan langit-langit, menciptakan suasana yang nyaris sakral.
Beberapa saat kemudian, cahaya itu perlahan meredup dan akhirnya menghilang sepenuhnya.
Zhang Yuze membuka matanya.
Ia terkejut ketika mendapati bahwa halaman-halaman di balik halaman pertama kini dapat dibuka. Namun, rasa gembiranya hanya berlangsung sesaat. Saat ia mencoba membuka halaman kedua, buku itu kembali menolak.
Ia hanya bisa membuka halaman pertama.
“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung. “Kenapa aku masih tidak bisa membukanya?”
“Itu karena tingkatmu saat ini masih terlalu rendah,” jawab Roh Buku dengan nada lembut. “Ketika energimu telah mencapai tingkat yang cukup untuk melihat isi di baliknya, halaman-halaman itu akan terbuka dengan sendirinya.”
“Energi?” Zhang Yuze mengernyit. “Energi apa?”
Roh Buku pun mulai menjelaskan secara rinci.
Sedikit demi sedikit, Zhang Yuze akhirnya memahami bahwa untuk mempelajari kemampuan supranatural dalam Cermin Pusaka Dewa, ia membutuhkan sesuatu yang disebut energi kepercayaan. Dan lebih jauh lagi, buku ini ternyata adalah kitab suci untuk menjadi Dewa Cinta.
Artinya, tugas utamanya adalah menaklukkan dan memikat berbagai wanita cantik, memperoleh kepercayaan, kekaguman, dan perasaan mereka sebagai sumber energi.
Zhang Yuze terdiam membeku.
Otaknya terasa seperti disambar petir.
Menjadi… Dewa Cinta?
Menaklukkan wanita sebagai kewajiban ilahi?
Segala yang baru saja ia dengar terlalu absurd, terlalu tidak masuk akal, hingga membuatnya benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah api kecil mulai menyala—api yang perlahan berubah menjadi harapan, kegembiraan, dan antisipasi yang sulit dijelaskan.
Tanpa ia sadari, hidupnya telah melangkah ke jalur yang sama sekali baru.
Dan sejak saat itu, takdir Zhang Yuze pun mulai berubah, selangkah demi selangkah, menuju jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.