Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Krikil di tanjakan.
Kabar tentang adaptasi live-action komik "The Silent Verdict" meledak seperti kembang api di Stellar Komik Studio. Namun, bagi Nana, euforia itu hanya bertahan lima menit sebelum ia menyadari tumpukan tanggung jawab baru yang menghimpit bahunya. Ia bukan lagi sekadar gadis yang menggambar di sudut ruangan; ia kini menjadi 'pencipta' yang karyanya akan dipertaruhkan dengan investasi miliaran rupiah.
Pagi itu, di ruang rapat Stellar Komik, suasana terasa sangat formal. Beberapa pria berjas dari platform streaming internasional duduk berhadapan dengan tim kreatif. Di ujung meja, dengan wibawa yang tak tergoyahkan, duduk Aska sebagai kepala tim legal yang akan menyelaraskan kontrak produksi.
"Kami ingin hak adaptasi penuh, termasuk perubahan latar belakang karakter utama agar lebih masuk ke pasar global," ujar salah satu perwakilan investor.
Nana, yang duduk di samping Hadi, merasakan jemarinya mendingin. Karakter utama dalam komiknya dibangun dari serpihan rasa sakitnya sendiri. Jika latar belakangnya diubah, jiwanya akan hilang. Ia ingin bicara, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik ke arah Aska, berharap pria itu akan membelanya seperti biasanya.
Namun, Aska hanya menatap dokumen di depannya tanpa ekspresi. "Secara hukum, itu dimungkinkan jika royalti kompensasi kreatifnya dinaikkan tiga kali lipat," sahut Aska datar.
Nana tersentak. Hanya itu? Hanya soal angka? Nana menyadari satu hal yang pahit: di mata dunia profesional Aska, karya seni adalah komoditas. Aska tidak sedang melindungi perasaan Nana; dia sedang melindungi nilai kontrak.
"Maaf," suara Nana terdengar pelan namun tegas, memotong diskusi. "Saya tidak setuju. Karakter itu adalah fondasi dari seluruh konflik hukum yang ada di cerita ini. Jika diubah, logika ceritanya akan runtuh."
Seluruh ruangan terdiam. Perwakilan investor itu menaikkan alisnya, sementara Hadi menyenggol lengan Nana, memberinya kode untuk diam. Aska perlahan mengangkat kepalanya, menatap Nana dari balik kacamata bacanya. Tatapannya tidak hangat; itu adalah tatapan seorang mentor yang sedang menguji muridnya yang paling keras kepala.
"Nana," suara Aska berat dan dingin. "Dalam bisnis ini, idealisme tanpa kompromi adalah resep untuk kegagalan. Jika kau ingin suaramu didengar, kau harus punya argumen yang lebih kuat daripada sekadar 'logika cerita'."
Nana merasa harga dirinya ditampar. Di depan semua orang, Aska tidak memanjakannya. Pria itu justru menunjukkan betapa jauhnya jarak antara Nana yang masih emosional dengan Aska yang sudah sangat pragmatis.
Rapat ditunda tanpa kesepakatan. Nana berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia merasa dipermalukan oleh orang yang paling ia kagumi.
Satu jam kemudian, Nana sedang berada di kafetaria, menatap layar tabletnya dengan lesu, saat sebuah bayangan tinggi menutupi cahayanya. Aska berdiri di sana, meletakkan secangkir kopi pahit di depan Nana.
"Sakit hati?" tanya Aska tanpa basa-basi.
"Abang membuatku terlihat seperti amatir di depan investor," balas Nana tanpa menoleh.
Aska menarik kursi dan duduk di depan Nana. "Kau memang masih amatir, Nana. Kau punya bakat, tapi kau belum punya taji untuk bernegosiasi. Kau pikir dengan hanya mengatakan 'tidak setuju', mereka akan luluh? Dunia ini tidak berputar di sekitar perasaanmu."
Aska memajukan tubuhnya, suaranya merendah. "Kalau kau ingin sejajar denganku, berhentilah bersikap seperti seniman yang rapuh. Pergi riset lagi. Cari celah hukum atau data pasar yang membuktikan bahwa karakter aslimu lebih menjual daripada versi mereka. Datang padaku besok pagi dengan argumen yang masuk akal, bukan dengan air mata."
Nana menatap Aska. Ia melihat pantulan dirinya di mata pria itu, seorang gadis yang baru saja belajar berdiri. "Kenapa Abang tidak membantuku tadi?"
"Karena jika aku selalu menarik tanganmu, kau tidak akan pernah belajar cara memanjat sendiri," sahut Aska sambil berdiri. "Ingat, Nana. Aku tidak butuh seseorang yang hanya bisa bersembunyi di balik jasku. Aku butuh rekan yang bisa berdiri tegak di sampingku tanpa perlu dilindungi setiap saat."
Di belahan kota yang lain, di kantor tempatnya bekerja, Tris duduk di kubikelnya dengan tatapan kosong. Tumpukan laporan di mejanya sama sekali tidak disentuh. Rekan-rekan sekantornya berbisik-bisik, beberapa bahkan terang-terangan menunjukkan video permintaan maaf Elli yang viral kemarin.
Tris merasa seperti paria. Ia yang dulu populer karena statusnya sebagai adik Aska dan tunangan Nana yang manis, kini hanya dipandang sebagai pria yang tertipu oleh wanita manipulatif.
Sore itu, Tusi datang ke kantor Tris untuk menyerahkan beberapa dokumen, namun wajahnya tampak sangat dingin.
"Ibu ... aku mau pulang ke rumah malam ini," ujar Tris saat mereka bicara di lobi kantor. "Aku stres di sini, semua orang membicarakan video Elli."
Tusi menatap putra bungsunya dengan rasa kecewa yang mendalam. "Kau stres karena gosip? Nana stres karena dihina secara publik oleh selingkuhanmu, tapi dia tetap bekerja dan menghasilkan karya. Kau punya pekerjaan, Tris. Kau punya gaji. Tapi kau tidak punya martabat." Tusi sudah hilang respek pada sosok yang pernah ia anggap sebagai anak.
Tusi menghela napas panjang. "Ibu sudah bicara dengan Aska. Fasilitas rumah dan mobil akan ditarik. Kau punya gaji sendiri, kan? Gunakan itu untuk menyewa apartemen kecil atau kos-kosan. Belajarlah hidup dari hasil keringatmu sendiri tanpa embel-embel nama keluarga atau dukungan Aska."
"Bu! Ibu mengusirku?" Tris tersentak.
"Sampai kau bisa membuktikan bahwa kau bekerja karena tanggung jawab, bukan karena mencari prestise, jangan pulang ke rumah," tegas Tusi sebelum berbalik pergi.
Tris berdiri mematung di lobi kantornya. Ia melihat rekan-rekan kerjanya berlalu lalang, mengabaikannya. Ia masih punya pekerjaan, tapi ia kehilangan segala kenyamanan yang selama ini ia anggap sebagai hak lahirnya.
Malam harinya, Nana tidak pulang. Ia mengurung diri di studio, dikelilingi oleh tumpukan buku riset hukum dan data tren pasar global yang ia minta dari divisi pemasaran. Matanya perih, namun ia terus menulis poin-poin argumen.
Ia teringat kata-kata Aska. Sejajar.
Jarak itu masih sangat jauh. Aska adalah pengacara yang sudah memenangkan ratusan kasus, sementara ia baru saja memenangkan satu bab dalam hidupnya. Namun, setiap goresan pena malam itu terasa seperti satu langkah kaki yang dipaksakan untuk mendaki.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aska.
Aska: [Draf kontrak barunya sudah ada di mejaku. Jika argumenmu besok pagi sampah, aku akan menandatangani versi investor. Jangan mengecewakanku.]
Nana tersenyum tipis, meski hatinya berdebar kencang. Ini bukan lagi soal cinta picik seperti yang ia rasakan pada Tris. Ini adalah kompetisi. Ini adalah pembuktian.
"Aku akan membuktikan padamu, Bang," bisik Nana pada kegelapan studio. "Bahwa aku layak bukan karena kau kasihan, tapi karena aku memang yang terbaik."
Nana kembali bekerja, ditemani cahaya lampu meja yang temaram. Di gedung seberang, Aska masih berdiri di balik jendela kantornya, menatap ke arah gedung studio tempat Nana berada. Ia tahu lampu di ruangan Nana masih menyala.
Aska memutar-mutar pena kayu ek pemberian Nana di jemarinya. "Teruslah berlari, Nana. Jangan sampai aku bosan menunggumu di atas sini."
Bersambung....
Aska kecarian tuh Na pulkam gak ada pamitan dulu kan lumayan kalo pamitan bisa ditambahin bawaan oleh oleh buat bu penyihir 🤣