NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Nora Diculik

Taksi kuning itu melaju membelah jalanan, meninggalkan kawasan kediaman keluarga Moore yang tampak semakin mengecil di spion. Nora menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sesaat sambil mengembuskan napas panjang. Beban di pundaknya luruh seketika. Untuk pertama kalinya setelah keributan di sekolah, ia merasa benar-benar bebas. Pikirannya sudah melayang ke mal, membayangkan deretan pakaian bermerek dan aroma dessert manis yang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sesak.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan kurang dari sepuluh menit. Di ruas jalan raya yang lengang, sebuah mobil van hitam tiba-tiba menyalip dan memotong jalur taksi dengan kasar. Sebelum supir taksi sempat mengumpat, sebuah van serupa sudah merapat di belakang, mengunci posisi mereka.

Supir taksi menginjak rem dalam-dalam hingga ban berdecit memilukan di atas aspal. "Apa-apaan ini?!" teriaknya panik. Ia mencoba memutar kemudi ke arah bahu jalan, tetapi kedua van itu terus menghimpit, memaksa taksi berhenti sepenuhnya di tepian yang sepi.

Pintu van depan dan belakang bergeser terbuka. Enam pria berbadan tegap dengan penutup wajah hitam melompat turun. Mereka bergerak cepat, sangat terlatih, dan langsung mengepung taksi tersebut.

Nora membeku di kursi belakang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. "Apa ini?! Perampokan?" bisiknya dengan suara gemetar. Ia merogoh tasnya, mencari ponsel dengan jari-jari yang gemetar karena ketakutan. Namun, benda itu seolah hilang di dasar tas yang berantakan.

PRANG!

"Ah!!"

Kaca jendela di samping kepala Nora hancur berantakan. Serpihan kristal tajam mengenai bahunya. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah tangan kekar merogoh ke dalam, membuka kunci pintu, dan menarik Nora keluar dari taksi.

"Lepaskan! Tolong!" Nora meronta, kakinya menendang udara, tetapi kekuatannya tidak ada artinya. Dua pria mencengkeram lengannya begitu kuat hingga ia merasa tulang lengannya bisa remuk saat itu juga. Ia diseret paksa dan dilemparkan ke dalam pintu van yang terbuka.

Di sisi lain, supir taksi tidak berkutik. Para pria bertopeng lainnya telah meringkusnya, mengikat tubuhnya di bangku kemudi dengan sangat kencang dan menyumpal mulutnya dengan kain. Supir itu hanya bisa menatap dengan mata terbelalak penuh horor saat pintu van tertutup rapat dan kedua kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan debu yang beterbangan. Dia berusaha mengingat-ingat plat nomor dua mobil van itu.

Perjalanan itu tidak lama, namun terasa seperti selamanya bagi Nora yang meringkuk di lantai mobil. Ketika pintu dibuka kembali, ia ditarik keluar dan diseret masuk ke dalam sebuah gudang tua di pinggiran kota. Ruangan itu luas, berlantai beton dingin, dengan aroma karat dan debu yang menyesakkan napas. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah kecil di atap seng yang berlubang.

Mereka melepaskan ikatan di tangan Nora dan membiarkannya jatuh tersungkur di lantai yang keras. Nora meringkuk, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap sepatu-sepatu bot yang mengelilinginya, berusaha mencari celah untuk memohon.

Salah satu pria melangkah maju. Tanpa peringatan, ia menjambak rambut Nora, menarik kepalanya ke belakang hingga leher Nora terasa akan patah.

"Siapa kalian? Apa salahku? Jika uang yang kalian inginkan... a.. Aku punya uang... tolong jangan sakiti aku," rintih Nora. Air mata mengaburkan pandangannya.

Jawaban yang ia terima bukanlah kata-kata, melainkan hantaman keras telapak tangan yang mendarat di pipi kirinya. Kepala Nora tersentak ke samping. Rasa panas dan kebas menjalar seketika. Belum sempat ia memproses rasa sakit itu, sebuah tendangan mendarat di perutnya, membuat napasnya terputus.

Selama beberapa menit berikutnya, gudang itu hanya dipenuhi suara hantaman dan rintihan. Mereka memukulinya tanpa belas kasihan, tendangan di punggung, injakan di kaki, dan pukulan di wajah. Nora memohon ampun hingga suaranya serak, tetapi para pria itu tetap membisu.

Penyiksaan itu mencapai puncaknya saat pria yang tampak seperti pemimpin kelompok itu memberi isyarat. Salah satu anak buahnya mencengkeram pergelangan tangan kanan Nora dan menekannya ke lantai beton.

"Apa yang kalian lakukan? Jangan... tolong, jangan yang itu..." bisik Nora lemah.

Pria itu tidak peduli. Dengan satu gerakan sentakan yang cepat dan bertenaga, ia memutar pergelangan tangan Nora ke arah yang salah.

KRAK.

Suara tulang yang patah bergema di keheningan gudang. Nora mengeluarkan teriakan melengking yang memilukan sebelum akhirnya suaranya hilang, tenggelam dalam rasa sakit yang begitu hebat hingga ia merasa jantungnya hampir berhenti. Dunianya seolah meledak dalam warna putih. Tangan kanannya kini terkulai lemas dengan posisi yang mengerikan, membengkak seketika.

Nora tidak sanggup lagi bergerak. Ia terbaring di lantai, tubuhnya penuh lebam biru dan darah merembes dari sudut bibirnya. Ia terisak pelan, nyaris tidak terdengar. "Aku akan berikan apa saja... uang, perhiasan... tolong hentikan... berapapun bayaran yang kalian terima, aku bisa memberikan lebih...."

Pemimpin pria bertopeng itu berjalan mendekat. Ia berjongkok di samping kepala Nora, menatapnya dengan mata yang dingin dan tak punya empati.

"Uang receh keluarga Moore tidak akan bisa membeli kami" desisnya dengan suara berat yang teredam masker. "Ini bayaran untuk tanganmu yang kau gunakan untuk menyebarkan berita bohong. Lain kali gunakan otakmu untuk hal yang lebih berguna. Jangan macam-macam dengan orang yang tidak bisa kau provokasi! Kau tidak akan sanggup menanggung konsekuensinya!"

Pria itu berdiri, memberikan isyarat dengan tangannya, dan dalam hitungan detik, mereka semua pergi. Suara mesin mobil van menjauh, meninggalkan Nora sendirian dalam keheningan yang menyesakkan di atas lantai beton yang dingin.

Kesadaran Nora mulai menurun. Pandangannya mulai kabur saat ia menatap langit-langit gudang yang suram. Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ia merangkak, mencoba mencari ponselnya yang ternyata sudah hancur berkeping-keping yang mungkin adalah ulah para pria bertopeng tadi.

Nora kembali terbaring lemah, otaknya mencoba merangkai potongan kejadian di sekolah. Dia berusaha mengingat siapa yang mungkin melakukan ini padanya.

Namun, satu bayangan yang paling melekat adalah wajah Mrs. Kartein. Ia ingat bagaimana wanita itu menatapnya dengan kemarahan saat tahu Nora hanya dihukum skorsing dua minggu.

Nora juga teringat rumor tentang keluarga Kartein. Kekayaan mereka bukan hanya dari bisnis legal, melainkan dari jaringan organisasi gelap yang tak tersentuh hukum, mereka adalah keluarga mafia. Meskipun telah dikabarkan Mrs Kartein telah keluar dari urusan bisnis keluarga Kartein dan membangun bisnisnya sendiri yang legal. Meskipun begitu, Kelly Kartein tetaplah bagian keluarga Kartein.

Nora sadar ia tidak akan pernah bisa membalas Mrs. Kartein. Ia hanyalah serangga bagi keluarga itu. Maka, seluruh rasa sakit, kehinaan, dan penderitaan ini, ia alihkan pada satu target yang menurutnya adalah akar dari segalanya.

"Sierra..." bisik Nora parau. Air mata asin mengalir masuk ke luka di sudut mulutnya, terasa perih. "Semua ini gara-gara kau."

Ia mengepalkan tangan kirinya yang masih utuh, meski sekadar menggerakkan jari membuat tangan kanannya yang patah berdenyut hebat. Dalam bayangan kepalanya yang mulai kacau karena trauma, ia membayangkan Sierra-lah yang seharusnya berada di sini. Sierra yang dipukuli, Sierra yang tangannya dihancurkan.

Kebencian itu membakar sisa kesadarannya. Jika ia berhasil selamat dan keluar dari gudang ini, ia bersumpah akan memastikan Sierra membayar setiap detik rasa sakit yang ia rasakan sekarang.

1
Itoh
AQ taro di favorit dlu bacanya MH nnty aja pas udh end biarr kalau misalnya brhnti d tngh jlan GK jdi pikiran buat aq
Nyonya Gunawan
Biarkn orang lain yg ngsh pelajaran utk nora,,biar samantha tuch terbuka matanya lo nora lach sumber masalahnya
aku
mantep bu kelly, dia tau kemana melangkah 🤣🤣 siapkan jantungmu samantha 🤣🤣🌹
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!