Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Rindu dan Sebuah Rahasia di Hari Ulang Tahun
POV IZZAN
Seminggu menjelang ulang tahun Nana yang ke-23, hidup Izzan kembali diuji oleh satu hal yang tak pernah bisa ia tolak: tugas negara.
Panggilan itu datang tiba-tiba. Penugasan luar negeri.
Lokasi: Ukraina.
Durasi: satu bulan.
Ia membaca surat tugas itu berkali-kali, seakan berharap ada kalimat yang berubah. Tapi tidak ada.
Dadanya terasa berat.
Rencananya sudah tersusun rapi. Ulang tahun Nana akan menjadi momen ia melamar. Restu orang tua sudah di tangan. Kakak-kakaknya pun sudah memberi syarat yang siap ia penuhi.
Namun sekarang?
Ia harus memilih: mempercepat lamaran sebelum berangkat, atau menundanya hingga ia kembali.
Malam itu ia menelepon orang tua Nana lebih dulu.
“Om, Tante… saya dapat tugas ke luar negeri. Sebulan.”
Bu Hapsari terdiam beberapa detik.
“Lalu soal rencanamu?”
“Itu yang ingin saya tanyakan. Lebih baik saya percepat sebelum berangkat, atau setelah Nana sidang?”
Ayah Nana menjawab tenang, “Lebih baik setelah Nana sidang. Dia sedang fokus mengejar akhir kuliah.”
Saran yang masuk akal.
Namun ketika ia berdiskusi dengan kedua kakak Nana, jawabannya berbeda.
“Kalau menurutku,” ujar kakak pertama, “tunggu kamu pulang dari Ukraina saja. Jangan buru-buru.”
Kakak kedua juga setuju.
“Lamaran itu momen sekali seumur hidup. Jangan terburu-buru karena jadwal.”
Izzan terdiam. Ia memahami semuanya.
Lalu sebuah ide muncul.
“Bagaimana kalau setelah wisuda?” usulnya. “Biasanya keluarga Nana makan bareng di resto kalau ada momen penting, kan?”
Kedua kakaknya langsung saling pandang.
“Itu ide bagus,” kata kakak pertama. “Lebih sakral. Dia sudah lulus. Bebannya lebih ringan.”
Akhirnya semua sepakat.
Lamaran akan dilakukan setelah wisuda.
Namun ada satu hal lagi.
“Kita mau uji Nana dulu,” ujar kakaknya tiba-tiba.
“Maksudnya?”
“Kita ingin tahu dia benar-benar punya rasa atau tidak.”
Izzan mengernyit.
“Caranya?”
“Selama kamu di Ukraina, jangan kabari dia. Lihat reaksinya.”
Izzan terdiam.
Ia teringat bagaimana beberapa bulan terakhir ia merasa sering dicueki Nana. Chat dibalas lama. Video call ditolak karena sibuk. Ia sempat kesal, walau akhirnya selalu memaklumi.
Kini, keadaan berbalik.
“Baik,” jawabnya pelan. “Saya coba.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POV NANA
Satu minggu sebelum ulang tahunnya, Nana masih percaya pada janji.
“Pas ulang tahun kamu, aku ke Malang,” kata Izzan waktu itu.
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuatnya menunggu.
Namun seminggu menjelang hari itu, Izzan tiba-tiba menghilang.
Chat terakhir hanya dibalas singkat.
Video call tak pernah lagi muncul.
Story WhatsApp-nya pun sepi.
Awalnya Nana berpikir mungkin Izzan sibuk.
Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar.
Hatinya mulai tak nyaman.
Ia membuka Instagram, mencari update. Tidak ada.
Gengsi membuatnya enggan bertanya langsung.
“Kenapa sih aku kepikiran terus?” gumamnya kesal pada diri sendiri.
Ia mencoba fokus pada skripsi. Pada revisi. Pada jadwal sidang yang semakin dekat.
Namun di sela-sela itu, rasa kehilangan kecil menyelinap.
Malam itu, ia membuat story Instagram.
Foto langit malam dari jendela kosnya.
Dengan caption sederhana:
“Some promises are just words.”
Ia tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, seseorang melihatnya dan tersenyum tipis.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POV IZZAN – UKRAINA
Cuaca di Ukraina jauh lebih dingin dibanding Jakarta.
Di sela-sela kesibukan tugas, Izzan membuka Instagram.
Story Nana muncul.
Kalimat bahasa Inggris yang singkat itu cukup membuatnya menghela napas.
“Galau juga ternyata,” gumamnya pelan.
Ia ingin langsung menghubungi. Ingin menjelaskan semuanya.
Tapi ia menahan diri.
Ini hanya sementara.
Ia ingin memastikan satu hal: apakah Nana benar-benar merasa kehilangan.
Hari ulang tahun itu pun tiba.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POV NANA – HARI ULANG TAHUN
Tanggal yang ia tunggu dengan campur aduk.
Sejak pagi, teman-teman kos sudah heboh.
Balon kecil ditempel di dinding. Kue sederhana diletakkan di meja. Tawa memenuhi kamar sempit itu.
“Selamat ulang tahun, Nanaaaa!”
Ia tersenyum. Berusaha menikmati momen.
Tapi di sudut hatinya, ada ruang kosong yang tak mau hilang.
Tidak ada kabar dari Izzan.
Bahkan ucapan singkat pun belum.
Mungkin benar… janji hanya tinggal janji.
Tak lama setelah perayaan kecil itu, bel kos berbunyi.
Seorang kurir berdiri membawa bucket bunga yang sangat besar.
Teman-temannya langsung heboh.
“WOYYYY NANA!”
Ia menerima bunga itu dengan tangan gemetar.
Indah sekali. Mawar putih dan pink berpadu, dibungkus elegan.
Namun tidak ada nama pengirim.
Ia membuka kartu kecilnya.
Kosong.
Hanya tulisan: Happy 23rd.
Siapa ini?
Ia langsung membuat story Instagram.
Foto bucket bunga itu dengan caption bahasa Inggris:
“Thank you for this beautiful surprise. Wish I knew who sent it.”
Beberapa menit kemudian—
Video call masuk.
Nama yang ia tunggu-tunggu muncul di layar.
Mas Izzan.
Ia menatap layar itu lama.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ia tidak mengangkatnya.
Namun panggilan itu terus masuk.
Sampai sepuluh kali.
Teman-temannya mulai berteriak, “ANGKAT WOI!”
Akhirnya ia mengangkat.
Wajah Izzan muncul. Latar belakangnya asing. Terlihat seperti luar negeri.
“Kamu suka bunganya?” tanyanya langsung.
Nana terdiam beberapa detik.
“Itu dari Mas?”
Izzan tersenyum tipis.
“Ya.”
Emosi yang ia tahan seminggu terakhir akhirnya keluar.
“Mas kemana aja sih? Seminggu nggak ada kabar!”
Izzan menarik napas panjang.
“Aku di Ukraina, Na. Dapat tugas sebulan.”
Nana membeku.
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena… sebelumnya aku ngerasa sering dicuekin.”
Jawaban itu membuat Nana terdiam.
“Aku nggak bermaksud cuek…”
“Aku tahu. Tapi aku cuma mau tahu kamu bakal ngerasa kehilangan atau nggak.”
Nana menatap layar dengan mata sedikit berkaca-kaca.
“Mas jahat tau nggak.”
Izzan tersenyum kecil.
“Maaf. Aku cuma pengen tahu.”
“Katanya mau datang pas ulang tahunku.”
“Iya… dan aku minta maaf nggak jadi datang.”
Bel kos kembali berbunyi.
Temannya berteriak dari luar kamar, “NANAAAA ADA KUE LAGI!”
Ia keluar sebentar.
Sebuah kue ulang tahun cantik dengan tulisan:
“Selamat Ulang Tahun Cantik ❤️”
Dan di bawahnya:
“Maaf tidak jadi datang. Semoga suka.”
Teman-temannya makin heboh.
“INI PASTI PACARMU YA???”
Nana kembali ke kamar, membawa kue itu sambil masih video call.
“Itu juga dari Mas?”
Izzan mengangguk.
“Happy birthday, Nana.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Nana benar-benar tersenyum tulus.
Kesal masih ada. Protes masih tersisa.
Tapi rasa bahagia jauh lebih besar.
“Mas nggak usah uji-ujian lagi ya,” ucapnya pelan.
Izzan tertawa kecil.
“Berarti kamu galau kemarin?”
Nana memalingkan wajahnya.
“Enggak tuh.”
Tapi pipinya memerah.
Di Ukraina, Izzan tersenyum lebar.
Ujian kecil itu sudah memberinya jawaban.
Dan di Malang, di kamar kos sederhana yang penuh tawa, Nana akhirnya sadar—
Ia tidak sekadar kagum lagi.
Ia takut kehilangan.
Dan itu artinya… hatinya sudah memilih.
Tanpa ia sadari.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang