NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran di altar

Keheningan.

Keheningan yang sangat mencekam setelah pertanyaan Mayra bergema di seluruh gereja.

Semua mata tertuju pada Dev Armando--pria yang berdiri tegak di samping Mayra dengan tuxedo hitam sempurna dan aura yang sangat mengintimidasi.

"MAYRA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Bambang dari barisan depan, suaranya penuh dengan shock dan kebingungan. Pria itu terlihat seperti akan pingsan.

"Ini gila! Mayra, kamu gila!" seru Siska sambil berdiri, wajahnya merah padam, entah karena malu atau marah.

Pak Hendra menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. "Dev! Jangan bilang kau--"

Tapi Dev mengangkat tangannya, sebuah gesture sederhana yang langsung membuat Pak Hendra terdiam. Aura kekuasaan yang dipancarkan Dev begitu kuat sampai bahkan kakak kandungnya sendiri tidak berani melawan.

Dev berbalik menghadap Mayra sepenuhnya, menatap mata wanita yang berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang indah, veil yang panjang, dan tatapan penuh tekad.

Mata mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk gereja, Dev tersenyum--senyum kecil yang nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Mayra tahu jawabannya.

"Ya," kata Dev dengan suara dalam yang bergema di seluruh gereja. "Saya bersedia menikahimu, Mayra Andini Kusumo."

BOOM.

Bom kedua meledak.

Gereja yang sudah chaos sekarang benar-benar menjadi kekacauan total.

"WHAT?!"

"Oh my God! Oh my God!"

"Ini mimpi buruk apa?!"

"Dia mau nikah sama pamannya Arman?!"

"DEV! APA MAKSUDMU?!" teriak Pak Hendra dengan wajah merah padam. "DIA TUNANGANNYA ARMAN! KEPONAKANMU!"

Dev menatap kakaknya dengan tatapan dingin. "Mantan tunangan, Hendra. Dan kalaupun masih tunangan, sepertinya keponakanmu sudah tidak layak untuk wanita ini."

Nyonya Puspita berdiri dengan air mata mengalir. "Dev, tolong jangan lakukan ini! Ini akan menghancurkan keluarga kita!"

"Keluarga kita sudah dihancurkan oleh putramu sendiri, Puspita," jawab Dev dengan nada datar tapi menusuk. "Bukan oleh saya."

Arman yang selama ini terdiam akhirnya angkat bicara dengan suara bergetar. "Paman... kenapa? Kenapa lakukan ini padaku?"

Dev berbalik menatap keponakannya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang membuat Arman sontak mundur selangkah.

"Kau benar-benar bertanya kenapa, Arman?" kata Dev dengan nada yang tenang tapi penuh ancaman. "Kau dibesarkan dalam keluarga terhormat. Diberi segalanya. Posisi, uang, nama baik. Dan apa yang kau lakukan? Kau mengkhianati wanita yang mencintaimu dengan murni. Kau tidur dengan kakak tirinya di belakangnya. Kau membuat rencana untuk tetap menikahi dia sambil terus berselingkuh."

Arman semakin pucat. "Aku... aku tidak--" dia mencoba mengelak.

"Jangan bohong lagi, Arman," potong Mayra dengan suara dingin. "Aku punya lebih banyak bukti dari yang sudah kutampilkan."

Mayra mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan screenshot percakapan WhatsApp antara Arman dan Zakia, percakapan yang sangat intim, bahkan ada yang membahas tentang "setelah Mayra tidur nanti kita bisa bebas".

Pastor yang membaca pesan itu terlihat sangat shock dan kecewa. Beberapa tamu yang cukup dekat untuk melihat layar langsung berteriak.

"Oh my God, mereka merencanakan ini?!"

"Ini bukan sekadar selingkuh, ini konspirasi!"

Zakia yang masih berusaha keluar tapi dihalangi security akhirnya menangis histeris. "Mayra, maafkan aku! Aku tidak bermaksud! Aku... aku hanya--"

"Hanya merebut tunanganku?" potong Mayra dengan tatapan tajam. "Hanya mengkhianatiku seperti yang selalu kau lakukan sejak kau masuk ke keluarga kami? Kau selalu iri dengan apapun yang kumiliki, Zakia. Tapi kali ini kau sudah melewati batas."

Siska mencoba membela putrinya. "Mayra! Zakia mungkin salah tapi kamu tidak bisa--"

"Tidak bisa apa, Mama?" Mayra berbalik menatap ibu tirinya dengan tatapan dingin. "Tidak bisa membongkar kebusukan kalian? Tidak bisa mengambil kebahagiaan untuk diriku sendiri? Atau tidak bisa membuat kalian malu?"

Siska terdiam, tidak bisa menjawab.

Bambang berdiri dengan langkah gontai menghampiri altar. "Mayra... sayang... Papa mengerti kau sakit hati. Tapi ini... menikah dengan pria yang bahkan tidak kau kenal--"

"Saya kenal dia lebih baik dari saya kenal Arman yang ternyata penipu," potong Mayra. "Dan Papa, maafkan aku. Tapi ini keputusanku. Aku tidak akan menikah dengan pria yang mengkhianatiku. Aku akan menikah dengan pria yang menghargaiku."

Dev meraih tangan Mayra dengan lembut, sebuah gesture yang membuat seluruh gereja terdiam sejenak.

"Mayra tidak sendirian dalam keputusan ini," kata Dev sambil menatap Bambang dengan tatapan yang serius tapi sopan. "Saya sudah menyatakan niat saya untuk menikahi putri Anda, Pak Bambang. Dan saya berjanji akan memperlakukannya dengan hormat dan menjaganya dengan baik."

Bambang menatap Dev dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... tapi kau... kau paman dari Arman..."

"Saya tidak punya hubungan darah dengan Arman, Pak. Saya adik dari ayah angkatnya. Dan saya sudah lama tidak dekat dengan keluarga Prasetyo," jelas Dev. "Menikahi Mayra bukan tentang keluarga. Ini tentang menghormati keputusan wanita yang kuat ini untuk tidak menerima pengkhianatan."

Penjelasan Dev membuat beberapa tamu mulai berbisik dengan nada yang sedikit berbeda.

"Hmm... kalau dipikir-pikir, Dev Armando jauh lebih sukses dari Arman..."

"Dan dia tidak ada hubungan darah, jadi secara tehnik tidak incest..."

"Mayra memilih bangkit, smart move sih..."

Nyonya Puspita tidak terima. "Ini tetap tidak bisa diterima! Dev, kau--"

"Puspita," potong Dev dengan suara yang sangat tenang tapi menusuk. "Anda tidak punya hak untuk melarang saya. Saya bukan anak Anda. Saya bukan bagian dari keluarga Prasetyo lagi sejak lama. Dan keputusan saya sudah final."

Pastor yang selama ini terdiam dengan wajah sangat bingung akhirnya angkat bicara. "Tuan Armando, Nona Kusumo... ini sangat tidak biasa. Saya tidak yakin bisa melanjutkan--"

"Pastor," Mayra berbalik menatap pria paruh baya itu dengan tatapan serius. "Saya datang ke sini hari ini untuk menikah. Bukan dengan pria yang mengkhianati saya, tapi dengan pria yang menghormati saya. Semua persyaratan legal sudah terpenuhi, kami berdua sudah cukup umur, tidak ada hubungan darah, tidak ada halangan hukum. Yang berubah hanya... pengantin prianya."

Pastor menatap Mayra, lalu Dev, lalu bukti-bukti perselingkuhan yang masih terpampang di layar. Pria itu terlihat seperti sedang berjuang dengan dilema moral yang sangat berat.

"Ini... ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam karir saya sebagai pastor," kata pria itu akhirnya.

"Tapi apakah ada aturan yang melarangnya?" tanya Dev dengan nada yang sangat tenang tapi tegas.

Pastor terdiam, berpikir. "Secara... teknis... tidak ada. Selama kedua pihak setuju dan memenuhi persyaratan--"

"Kami setuju," potong Mayra dan Dev bersamaan.

Pastor menatap mereka berdua. "Tapi... Nona Kusumo, ini keputusan yang sangat besar. Apakah Anda yakin? Tidak ada paksaan?"

Mayra menatap mata Pastor dengan tatapan yang sangat serius. "Tidak ada paksaan, Pastor. Ini keputusan saya. Sepenuhnya."

Pastor lalu menatap Dev. "Tuan Armando?"

"Saya datang ke sini hari ini dengan niat tulus untuk menikahi Mayra Andini Kusumo," jawab Dev dengan tegas.

Keheningan lagi.

Pastor menatap bukti-bukti di layar, menatap Arman yang berdiri dengan wajah hancur, menatap Zakia yang masih menangis, lalu menatap Mayra dan Dev yang berdiri dengan tangan bergandengan.

Akhirnya, dia menghela napas panjang.

"Baiklah," kata Pastor akhirnya. "Jika ini benar-benar kehendak kalian berdua..."

"TIDAK!" teriak Arman dengan putus asa. "Mayra, kumohon! Jangan lakukan ini! Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku mencintaimu! Aku--"

Mayra berbalik menatap mantan tunangannya dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang membuat Arman terdiam.

"Kau mencintaiku?" tanya Mayra dengan nada sinis. "Kau mencintaiku tapi kau tidur dengan kakak tiriku? Kau mencintaiku tapi kau merencanakan untuk tetap selingkuh setelah kita menikah? Kau mencintaiku tapi kau tidak pernah menghormati aku?"

Arman tidak bisa menjawab. Air mata mulai mengalir di pipinya, pria itu benar-benar menangis.

"Mayra... aku bodoh. Aku sangat bodoh. Tapi kumohon... jangan lakukan ini... jangan menikah dengan pamanku..." suara Arman bergetar.

Mayra merasakan sesuatu di dadanya--bukan kasihan untuk Arman, tapi... penutupan. Closure. Akhir dari chapter yang menyakitkan.

"Terlambat, Arman," kata Mayra dengan nada final. "Kau sudah membuat pilihanmu. Sekarang aku membuat pilihanku."

Mayra berbalik menghadap Dev sepenuhnya, membelakangi Arman yang masih berdiri dengan wajah hancur.

"Pastor," kata Mayra tanpa menoleh. "Tolong lanjutkan."

Pastor menatap Dev. "Tuan Armando... Anda yakin?"

Dev tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melepas cincin yang ada di saku jasnya--cincin yang entah dari mana dia dapatkan (ternyata dia sudah mempersiapkan ini)--dan memegang tangan Mayra dengan lembut.

"Saya sangat yakin," kata Dev sambil menatap mata Mayra.

Dan dalam tatapan itu, Mayra melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat di mata Arman, ada kejujuran. Komitmen. Kekuatan.

Pastor akhirnya mengangguk dengan pasrah. "Baiklah. Ini adalah pernikahan paling... tidak biasa yang pernah saya pimpin. Tapi jika ini kehendak kalian berdua..."

Dia menatap jemaat yang masih dalam keadaan shock total.

"Apakah ada yang memiliki keberatan LAIN terhadap pernikahan antara Dev Armando dan Mayra Andini Kusumo?" tanya Pastor dengan nada yang sedikit menekankan kata "lain".

Pak Hendra hampir angkat bicara tapi Nyonya Puspita menarik lengannya. "Biarkan saja," bisik istrinya dengan air mata mengalir. "Kita sudah cukup malu hari ini."

Lantas tidak ada yang angkat bicara.

Semua tamu terlalu shock untuk bereaksi.

Pastor menghela napas panjang. "Baiklah. Jika tidak ada... Mari kita lanjutkan."

Dia berbalik menatap Dev dan Mayra dengan tatapan yang campur aduk antara bingung, khawatir, dan sedikit kagum.

"Dev Armando," kata Pastor. "Apakah Anda bersedia menerima Mayra Andini Kusumo sebagai istri Anda yang sah? Untuk mencintai dan menghormatinya, dalam suka dan duka, dalam kesehatan dan penyakit, sampai maut memisahkan kalian?"

Dev menatap Mayra dengan tatapan yang sangat intens.

"Ya, saya bersedia," jawabnya dengan suara yang tegas dan jelas--tidak ada keraguan.

Pastor menatap Mayra. "Mayra Andini Kusumo, apakah Anda bersedia menerima Dev Armando sebagai suami Anda yang sah? Untuk mencintai dan menghormatinya, dalam suka dan duka, dalam kesehatan dan penyakit, sampai maut memisahkan kalian?"

Mayra merasakan jantungnya berdebar kencang. Ini dia. Moment yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Dia melirik ke belakang sekilas, melihat ayahnya yang duduk dengan wajah pucat, melihat Siska yang terlihat shock, melihat Zakia yang masih menangis, melihat Arman yang berdiri dengan wajah hancur.

Lalu dia menatap Dev--pria yang baru dia kenal beberapa hari, tapi entah kenapa terasa seperti satu-satunya orang yang mengerti dan menghormati keputusannya.

"Ya," kata Mayra dengan suara yang jelas dan tegas. "Saya bersedia."

Pastor mengangguk. "Cincin?"

Dev mengeluarkan cincin dari sakunya--cincin platinum sederhana tapi elegan dengan satu berlian kecil. Dia mengambil tangan kiri Mayra dengan lembut.

"Mayra, dengan cincin ini, saya menikahimu," kata Dev sambil memasangkan cincin itu di jari manis Mayra, tepat di atas cincin pertunangan dari Arman yang belum sempat Mayra lepas.

Mayra merasakan cincin baru itu--hangat, berat, nyata.

Dia tidak punya cincin untuk Dev, ini semua terlalu mendadak. Tapi Dev sepertinya sudah memprediksi ini. Dia mengeluarkan cincin kedua dan menyerahkannya pada Mayra.

Dengan tangan gemetar sedikit, Mayra mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Dev.

"Dev, dengan cincin ini, saya menikahimu," kata Mayra dengan suara yang sedikit bergetar.

Pastor tersenyum tipis--mungkin satu-satunya senyum di seluruh gereja yang chaos ini.

"Maka dengan kuasa yang diberikan kepada saya," kata Pastor sambil mengangkat tangannya. "Saya nyatakan kalian berdua sebagai suami dan istri yang sah. Tuan Armando..."

Pastor menatap Dev.

"...Anda boleh mencium pengantin Anda."

Keheningan total.

Semua mata tertuju pada Dev dan Mayra.

Dev menatap Mayra dengan tatapan yang menanyakan izin, sebuah gentleman gesture yang membuat jantung Mayra berdetak sedikit lebih cepat.

Mayra mengangguk sedikit.

Dev melangkah lebih dekat, satu tangannya meraih pinggang Mayra dengan lembut, tangan lainnya memegang sisi wajahnya dengan sangat gentle.

Lalu dia mencium Mayra.

Bukan ciuman yang dalam atau penuh semangat, ini ciuman yang lembut, hormat, tapi tetap cukup lama untuk membuat statement.

Mayra merasakan bibir Dev yang hangat, aroma cologne maskulin yang menenangkan, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan pengkhianatan Arman, dia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.

Aman. Dia merasa aman.

Saat Dev melepaskan ciuman itu, dia berbisik sangat pelan hanya untuk Mayra, "Selamat, Nyonya Armando. Kita sudah berhasil."

Mayra tersenyum, senyum pertamanya yang tulus hari ini.

"Terima kasih... suamiku."

Mereka berbalik menghadap jemaat yang masih dalam keadaan shock total.

Pastor mengangkat tangannya. "Saya perkenalkan... Tuan dan Nyonya Armando."

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorak sorai.

Hanya keheningan yang sangat mencekam dan tatapan shock dari ratusan pasang mata.

Tapi Mayra tidak peduli.

Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Balas dendam.

Kebebasan.

Dan kehidupan baru.

Dev menggenggam tangan Mayra dan membimbingnya turun dari altar. Mereka berjalan di aisle yang sama dengan yang Mayra lalui tadi--tapi kali ini dengan pengantin pria yang berbeda.

Saat melewati barisan keluarga Prasetyo, Mayra bisa melihat Nyonya Puspita menangis tersedu-sedu, Pak Hendra menatap dengan wajah merah padam, dan Arman...

Arman berdiri di altar dengan wajah yang benar-benar hancur, air mata mengalir, menatap Mayra dengan tatapan yang penuh penyesalan.

Tapi Mayra tidak menoleh.

Dia terus berjalan dengan kepala tegak, tangan digenggam erat oleh Dev.

Saat melewati Bambang, ayahnya berdiri dan meraih tangan Mayra.

"Mayra..." suaranya bergetar.

Mayra berhenti, menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku, Pa. Tapi ini yang terbaik untukku."

Bambang menatap putrinya, lalu menatap Dev dengan tatapan menyelidik. "Kau... kau akan menjaganya?"

Dev menatap mata Bambang dengan tatapan serius. "Dengan sepenuh kemampuan saya, Pak."

Bambang terdiam, lalu perlahan mengangguk-- menerima kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan.

Mayra dan Dev terus berjalan keluar dari gereja.

Di belakang mereka, kekacauan masih berlanjut--tamu-tamu berbisik keras, Zakia masih menangis, keluarga Prasetyo dalam keadaan kacau.

Tapi Mayra tidak menoleh lagi.

Saat mereka keluar dari pintu besar gereja, cahaya matahari menyambut mereka. Fotografer yang bingung akhirnya mengambil foto, pengantin baru dengan latar belakang tangga gereja.

Dev menatap Mayra. "Anda baik-baik saja?"

Mayra menarik napas dalam, merasakan udara segar, lalu tersenyum, senyum lega yang sangat tulus.

"Sangat baik. Terima kasih, Dev. Untuk semuanya."

Dev tersenyum tipis. "Sama-sama. Sekarang... kita harus menghadapi resepsi."

Mayra tertawa kecil, tawa pertamanya yang tulus hari ini.

"Oh God. Aku lupa tentang resepsi."

"Jangan khawatir," kata Dev sambil membimbing Mayra ke mobil--bukan Rolls Royce yang Mayra tumpangi tadi, tapi Bentley hitam mewah milik Dev. "Kita akan melewati ini bersama."

Dan saat mereka masuk ke dalam mobil, meninggalkan gereja yang masih dalam chaos, Mayra menyadari satu hal:

Hidupnya baru saja berubah total.

Tapi entah kenapa, dia tidak takut lagi.

Karena untuk pertama kalinya, dia yang memegang kendali.

****

Bersambung....

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!