NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Neraka?

Langit Toronto sore itu seperti kanvas yang tumpah dengan tinta hitam. Hujan badai menghantam Humber Bay Arch Bridge, membuat struktur busur putihnya yang megah tampak seperti tulang belulang raksasa yang mencuat di tengah kegelapan. Di bawahnya, Sungai Humber mengamuk; airnya yang keruh meluap, membawa tekanan besar dari pedalaman menuju Danau Ontario, menciptakan suara gemuruh yang menyaingi guntur.

​Gadis itu berdiri di tepian paling luar jembatan. Angin kencang dari arah danau mencambuk rambutnya yang basah, menampar wajahnya dengan sisa-sisa air dingin yang asin. Ia tampak begitu kecil, sebuah siluet rapuh yang menantang amarah alam.

​"Menjauh dari sana!" teriak seorang pria, suaranya parau, nyaris habis ditelan deru angin.

​Gadis itu tidak bergeming. Pandangannya terkunci pada pusaran air di bawahnya. Arus sungai itu tampak seperti tarian monster yang kacau, saling hantam dengan gelombang danau yang meluap ke darat.

​"Kau lihat arusnya?" Gadis itu berbisik, namun nadanya yang tajam menembus suara hujan. "Begitu kuat. Begitu jujur. Ia tidak berpura-pura tenang seperti kalian semua."

​"Jangan gila! Arus itu akan menghancurkanmu dalam hitungan detik!" Pria itu mencoba mendekat, sepatunya mencicit di atas permukaan jembatan yang licin.

​Gadis itu perlahan menoleh, membiarkan kilat yang menyambar di langit Ontario menerangi wajahnya yang kuyu. Senyumnya samar, hampa, dan mengerikan. "Itulah intinya. Aku ingin sesuatu yang cukup kuat untuk menghentikan semua kebisingan di kepalaku."

​Ia melepaskan satu tangannya dari pagar besi. Tubuhnya sedikit terhuyung ditiup angin kencang, condong ke arah jurang berair yang mendidih di bawah sana.

Gadis itu membiarkan tubuhnya condong ke depan, jatuh dengan keanggunan yang mengerikan. Selama sepersekian detik, ia seolah melayang di tengah amuk badai sehelai kain tipis yang terhempas angin sebelum gravitasi merenggutnya dengan paksa.

​Pria itu melompat ke tepi pagar, jemarinya hanya sempat mencengkeram udara kosong yang dingin. "TIDAK!"

​Tubuh sang gadis menghantam permukaan Sungai Humber dengan suara dentuman yang teredam oleh gemuruh air. Dinginnya air sungai bukan lagi sekadar suhu; itu adalah hantaman beton cair yang meremukkan napasnya. Arus liar di bawah sana langsung menyambutnya, menggulung tubuh ringkih itu ke dalam rahim sungai yang gelap dan keruh.

​Di bawah permukaan, dunia berubah menjadi kekacauan warna cokelat dan buih putih. Oksigen dipaksa keluar dari paru-parunya, digantikan oleh rasa sesak yang membakar. Ia bisa merasakan arus sungai yang ganas menyeretnya, membenturkannya pada pusaran yang tak kasat mata, membawanya meluncur deras menuju mulut Danau Ontario yang tak berdasar.

​Cahaya lampu jembatan di atas sana meredup, menjauh, dan akhirnya padam saat air menutup pandangannya sepenuhnya. Di atas sana, hujan masih mengamuk, namun bagi sang gadis, segalanya perlahan menjadi sunyi. Hanya ada suara jantungnya yang berdegup sekali lagi, sangat pelan, sebelum ditelan oleh keheningan sungai yang dingin.

Tiga Bulan Sebelumnya

​Sinar matahari musim gugur yang pucat menembus jendela tinggi Jarvis Collegiate Institute, menerangi debu-debu yang menari di udara kelas sejarah yang kacau. Ruangan itu adalah medan perang suara; tawa meledak di pojok belakang, derit kursi yang ditarik kasar, dan gumaman puluhan remaja yang asyik dengan dunianya masing-masing sebelum bel masuk benar-benar berhenti berdering.

​Tiba-tiba, pintu kayu ek yang berat itu berayun terbuka.

​Mr. Henderson melangkah masuk dengan setumpuk buku tebal dan ekspresi yang meminta otoritas. Ia tidak berteriak, namun langkah sepatunya yang tegas cukup untuk membuat beberapa murid menoleh. Ia berhenti di samping meja guru, mengetukkan penggaris kayu ke permukaan meja—sekali, keras.

​"Semuanya, simpan suara kalian untuk jam istirahat!" tegur Mr. Henderson. Keriuhan mereda perlahan, menyisakan suara gesekan kertas dan napas yang tertahan. "Duduk. Sekarang."

​Setelah kelas benar-benar sunyi, Mr. Henderson menyesuaikan letak kacamatanya. Ia tidak sendirian. Di ambang pintu, seorang gadis berdiri dengan bahu yang sedikit membungkuk, jemarinya meremas tali tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Hari ini kita kedatangan anggota baru," lanjut Mr. Henderson, suaranya melunak sedikit. Ia melirik ke arah pintu, memberi isyarat agar gadis itu maju. "Dia baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri. Saya harap kalian bisa menunjukkan keramahan Toronto yang sebenarnya. Dia mungkin sedikit pemalu, jadi tolong, jaga sikap kalian dan bantu dia beradaptasi."

​Gadis itu melangkah maju, kakinya seolah berat menyentuh lantai kayu. Ia berdiri di depan papan tulis, menunduk, menghindari puluhan pasang mata yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tajam.

Sinar matahari dari jendela besar menangkap sosoknya, memberikan aura yang hampir tidak nyata. Ia memiliki rambut hitam pekat yang panjang dan lurus sempurna, jatuh menjuntai melewati bahunya seperti tirai sutra yang berkilau. Kulitnya memiliki rona porselen yang halus—ciri khas Asia Timur yang kental—tampak bercahaya namun sekaligus pucat di bawah lampu neon kelas.

​Paras wajahnya adalah perpaduan antara keanggunan dan kerentanan. Mata monolidnya yang berwarna cokelat gelap membingkai pandangan yang waspada, sementara struktur tulang pipinya yang lembut dan hidung yang mancung memberikan kesan aristokratik yang klasik. Ia tampak seperti potret yang keluar dari galeri seni di Seoul, tersesat di tengah hiruk-pikuk SMA di pusat kota Toronto.

​"Silakan," ucap Mr. Henderson lembut. "Kenalkan dirimu."

​Greta menarik napas, sebuah gerakan kecil yang membuat bahunya terangkat sedikit. Ia mengangkat wajahnya sebentar, memberikan pandangan sekilas yang memperlihatkan kecantikan wajah asianya yang menawan sebelum matanya kembali jatuh ke lantai.

​"Halo..." suaranya halus, namun memiliki nada yang jernih. "Namaku... Greta. Greta Hildegard."

​Nama Jermanik itu terdengar kontras dengan paras orientalnya, menambah kesan misterius yang langsung menyelimuti ruangan. Saat ia berjalan menuju kursinya di barisan tengah, keheningan kelas masih bertahan lebih lama dari biasanya. Murid-murid tidak hanya diam karena perintah guru, tetapi karena terpesona oleh kehadiran sosok asing yang tampak begitu indah sekaligus rapuh tersebut.

Namun, tidak demikian dengan Norah.

​Duduk di barisan ketiga, dekat jendela, Norah menyilangkan kakinya dengan angkuh. Rambut pirangnya yang keriting ditata sempurna, kontras dengan seragam sekolah yang tampak ia kenakan dengan gaya bebas. Saat mata Greta melewati barisan tempat ia duduk, Norah mengangkat alisnya, senyum tipis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah gelap. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya; lebih menyerupai seringai kemenangan yang tersembunyi.

​Ia melirik Greta dengan tatapan yang penuh perhitungan dan rasa kepuasan yang sudah tak terbayang. Bibirnya bergerak sangat pelan, nyaris tanpa suara, namun Greta seolah bisa membacanya dengan jelas.

​"Selamat datang di neraka," Norah membisikkan tanpa suara, sorot matanya tajam dan menusuk.

​Greta, yang sudah hampir mencapai kursinya, merasakan bisikan tak kasat mata itu. Tubuhnya menegang, dan langkahnya sesaat terhenti. Meskipun tidak ada yang mendengar, getaran dingin menjalari tulang punggungnya, seolah-olah sebuah tirai takdir baru saja terbuka.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!