Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Asha Menyerah
Sudah tiga hari sejak Asha memutuskan untuk mengalah. Tiga hari di mana ia berusaha keras untuk tersenyum meskipun hatinya hancur.
Ia mencoba bersikap normal di depan Arsa dan Raya. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakit yang ia rasakan.
Karena ia sudah memutuskan untuk ikhlas. Untuk merelakan Arsa bahagia bersama Raya.
🌷🌷🌷🌷
Pagi itu, Raya datang ke kelas dengan senyuman yang begitu lebar. Ia terlihat sangat excited tentang sesuatu.
"Hmm, guys! Gw punya ide nih!" ucap Raya dengan nada yang ceria.
Arsa yang sedang membaca buku langsung mendongak. "Ide apa?"
"Hmm, gimana kalau kita pergi ke taman hiburan akhir pekan ini? Kita kan udah lama gak refreshing bareng" ajak Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa terdiam sejenak. "Taman hiburan? Boleh juga sih."
Raya langsung bertepuk tangan dengan senang. "Hmm, yeay! Arsa mau!"
Lalu Raya berbalik ke arah Asha yang sedang duduk di kursinya sembari menulis sesuatu.
"Hmm, Asha! Lo ikut juga ya?" ajak Raya dengan senyuman ramah.
Asha tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia menatap Raya dengan tatapan bingung. "Gw?"
"Hmm, iya dong! Masa lo gak ikut. Kita kan teman" ucap Raya dengan tulus.
Asha melirik ke arah Arsa sekilas. Pemuda itu tidak berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gw... Gw gak tau deh. Gw takut jadi ganggu" tolak Asha dengan halus.
"Hmm, ganggu apaan? Lo temen gw kok! Lagian kalau cuma kita berdua sama Arsa nanti canggung. Lo harus ikut!" desak Raya.
Cinta yang mendengar percakapan itu langsung ikut bersuara. "Iya Sha, lo ikut aja. Lagian gw juga mau ikut kok. Jadi kita berempat."
Asha menatap Cinta dengan tatapan tidak percaya. Sahabatnya itu tersenyum tipis, seolah memberi kode.
"Hmm, nah kan! Cinta juga ikut. Jadi kita berempat. Pasti seru deh!" ucap Raya dengan antusias.
Arsa akhirnya ikut bersuara. "Iya, Asha. Ikut aja. Lumayan buat refreshing."
Asha terdiam mendengar ajakan Arsa. Di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk. Ia ingin menolak, tapi di sisi lain...
'Gw udah memutuskan untuk ikhlas kan? Gw harus bisa anggap ini cuma sebagai teman aja. Gak lebih' batin Asha mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Oke. Gw ikut" jawab Asha akhirnya dengan senyuman tipis.
Raya langsung bersorak senang. "Hmm, yeay! Sabtu besok ya! Kita janjian jam sembilan pagi di depan taman hiburan!"
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, Asha berbaring di kasurnya sembari menatap langit-langit kamar.
Ia memikirkan keputusannya untuk ikut ke taman hiburan. Sebagian dirinya menyesal sudah menerima ajakan itu, tapi sebagian lagi ingin membuktikan bahwa ia sudah ikhlas.
Hpnya tiba-tiba berdering. Pesan dari Cinta.
Cinta:
Sha, lo yakin mau ikut besok?
Asha:
Iya, Cin. Gw harus bisa buktiin kalau gw udah ikhlas.
Cinta:
Sha... Lo gak usah maksa diri. Gw tau ini pasti berat buat lo.
Asha:
Gapapa, Cin. Lagian lo kan ada. Gw gak sendirian.
Cinta:
Iya sih... Oke deh. Tapi kalau lo udah gak sanggup, langsung bilang ya. Kita pulang.
Asha:
Siap. Makasih ya, Cin. Lo emang sahabat terbaik gw.
Asha menatap layar hpnya dengan senyuman tipis. Setidaknya ia punya Cinta yang selalu ada untuknya.
'Gw pasti bisa. Gw harus bisa anggap mereka cuma sebagai teman' batin Asha mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi di dalam hatinya, ia tau bahwa ini akan menjadi salah satu hari terberatnya.
🌷🌷🌷🌷
Sabtu pagi, Asha bangun lebih awal dari biasanya. Ia mandi dan berpakaian dengan penampilan yang biasa saja. Tidak terlalu menor, tapi juga tidak kusam.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong.
"Lo bisa, Asha. Lo pasti bisa" gumam Asha kepada dirinya sendiri.
Ia lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Ibunya yang sedang sarapan di ruang makan meliriknya dengan heran.
"Tumben kamu rapi pagi-pagi. Mau kemana?" tanya ibunya dengan nada datar.
"Mau jalan sama temen" jawab Asha singkat.
Ibunya hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Hubungan mereka memang tidak terlalu dekat.
Asha keluar dari rumah dan mengendarai motornya menuju taman hiburan yang terletak di pinggir kota.
Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang. Ia gugup. Ia takut tidak bisa menahan diri nanti.
Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk ikhlas. Untuk anggap ini hanya sebagai pertemanan biasa.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di depan gerbang taman hiburan, Asha melihat Cinta sudah menunggu di sana.
"Cin!" panggil Asha sembari memarkirkan motornya.
Cinta berbalik dan tersenyum. "Sha! Lo dateng juga akhirnya."
Mereka berdua berpelukan sebentar. Cinta berbisik pelan di telinga Asha, "Lo pasti bisa, Sha. Gw di sini."
Asha tersenyum tipis. "Makasih, Cin."
Tidak lama kemudian, Arsa dan Raya datang bersama. Mereka naik motor yang sama, dengan Arsa sebagai pengendaranya.
Asha merasakan dadanya sesak melihat pemandangan itu. Tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
'Gw udah ikhlas. Gw cuma anggap ini sebagai teman' batin Asha meyakinkan dirinya sendiri.
"Hmm, Asha! Cinta! Kalian udah lama nunggu?" tanya Raya dengan senyuman lebar.
Cinta menggeleng. "Enggak kok. Kita juga baru sampai."
Arsa menatap Asha sekilas. Gadis itu terlihat lebih pucat dari biasanya, tapi ia tidak berkata apa-apa.
"Yuk, kita masuk!" ajak Raya dengan antusias.
Mereka berempat lalu berjalan masuk ke dalam taman hiburan. Suasana di sana sangat ramai dengan pengunjung yang kebanyakan adalah keluarga dan pasangan muda.
Asha berjalan di samping Cinta, sementara Arsa dan Raya berjalan di depan mereka.
"Hmm, Arsa! Kita naik roller coaster dulu yuk!" ajak Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa tertawa kecil. "Boleh. Tapi lo gak takut kan?"
"Hmm, enggak lah! Gw kan pemberani" ucap Raya dengan percaya diri.
Cinta melirik ke arah Asha dengan tatapan khawatir. "Sha, lo mau naik juga?"
Asha mengangguk pelan. "Iya. Gw ikut aja."
Mereka berempat lalu mengantri untuk naik roller coaster. Antrian cukup panjang, jadi mereka harus menunggu sekitar 20 menit.
Selama menunggu, Arsa dan Raya terus mengobrol dengan akrab. Mereka tertawa bersama, berbagi cerita, dan sesekali Raya memukul lengan Arsa dengan gemas.
Asha yang melihat itu hanya bisa terdiam. Ia berusaha keras untuk tidak merasakan apa-apa, tapi dadanya tetap terasa sesak.
Cinta menyadari perubahan ekspresi Asha. Ia langsung menggenggam tangan sahabatnya dengan erat.
"Sha, lo gapapa?" bisik Cinta.
Asha mengangguk pelan meskipun air matanya hampir keluar. "Gw... Gw gapapa."
"Sha, kalau lo udah gak sanggup, kita pulang sekarang juga" bisik Cinta dengan nada khawatir.
Asha menggeleng. "Gak, Cin. Gw harus bisa buktiin kalau gw udah ikhlas."
Cinta menatap Asha dengan tatapan sedih. Ia tau sahabatnya ini sedang menyiksa dirinya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Akhirnya giliran mereka untuk naik roller coaster. Mereka duduk berdua-dua. Raya dan Arsa duduk di depan, sementara Asha dan Cinta duduk di belakang mereka.
Saat roller coaster mulai bergerak, Raya langsung berteriak kencang. "Hmm, Arsa! Gw takut!"
Arsa tertawa. "Katanya pemberani!"
"Hmm, gandengin tangan gw dong!" pinta Raya dengan wajah yang pucat.
Arsa lalu menggenggam tangan Raya. "Udah, pegang erat-erat ya."
Asha yang melihat itu merasakan dadanya seperti ditusuk pisau. Ia langsung mengalihkan pandangannya sembari menggigit bibirnya kuat-kuat.
Cinta yang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangan Asha dengan erat. "Sha..."
Asha hanya menggeleng, tidak bisa berkata apa-apa karena tenggorokannya tercekat.
Selama roller coaster berjalan, Asha hanya menutup mata. Bukan karena takut dengan ketinggian, tapi karena ia tidak sanggup melihat Arsa dan Raya yang bergandengan tangan di depannya.
Air matanya jatuh tanpa suara. Beruntung suasana sangat bising sehingga tidak ada yang menyadari.
'Gw... Gw gak sanggup...' batin Asha dengan hati yang hancur.
🌷🌷🌷🌷
Setelah turun dari roller coaster, Raya masih terlihat pucat. Ia memegang lengan Arsa dengan erat.
"Hmm, gila! Itu seram banget!" ucap Raya dengan nafas yang masih tersengal.
Arsa tertawa. "Makanya, jangan sok pemberani."
"Hmm, tapi seru sih. Mau coba lagi gak?" tanya Raya dengan senyuman nakal.
"Enggak! Cukup sekali" tolak Arsa dengan cepat.
Mereka berdua tertawa bersama. Sementara Asha dan Cinta berjalan di belakang mereka dengan perasaan yang berat.
"Sha, lo yakin gak mau pulang?" bisik Cinta dengan nada khawatir.
Asha menggeleng. "Gak, Cin. Gw... Gw harus kuat."
Tapi kenyataannya, Asha sudah hampir mencapai batasnya.
Mereka lalu berjalan menuju wahana lainnya. Sepanjang hari, Asha mencoba untuk tersenyum dan tertawa bersama mereka. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya.
Tapi setiap kali ia melihat Arsa dan Raya tertawa bersama, dadanya terasa semakin sesak.
Setiap kali ia melihat mereka berdekatan, hatinya terasa semakin hancur.
🌷🌷🌷🌷
Saat waktu menunjukkan pukul tiga sore, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah cafe di dalam taman hiburan.
Mereka duduk berempat di satu meja. Arsa dan Raya duduk bersebelahan, sementara Asha dan Cinta duduk di seberang mereka.
"Hmm, gw capek banget! Tapi seru sih hari ini" ucap Raya dengan senyuman lebar.
Arsa mengangguk. "Iya, lumayan buat refreshing."
"Hmm, Arsa. Makasih ya udah mau nemenin gw hari ini" ucap Raya dengan tatapan yang penuh arti.
Arsa tersenyum tipis. "Sama-sama. Lagian gw juga seneng kok."
Raya tersenyum lebar mendengar ucapan Arsa. Pipinya sedikit merona.
Asha yang melihat interaksi mereka merasakan dadanya semakin sesak. Ia tidak sanggup lagi.
"Cin... Gw mau ke toilet dulu" ucap Asha tiba-tiba sembari berdiri dari kursinya.
"Gw ikut" ucap Cinta langsung berdiri juga.
"Hmm, kalian gapapa?" tanya Raya dengan nada khawatir.
Cinta mengangguk. "Gapapa kok. Kita ke toilet sebentar."
Asha berjalan cepat menuju toilet dengan Cinta yang mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di toilet, Asha langsung masuk ke salah satu bilik dan menutup pintunya.
Ia menangis. Menangis dengan keras. Semua rasa sakit yang ia tahan seharian akhirnya meledak.
"Sha... Sha, buka pintunya" pinta Cinta dari luar bilik dengan nada khawatir.
Asha membuka pintu dengan wajah yang basah oleh air mata. Cinta langsung memeluknya dengan erat.
"Sha... Udah... Udah jangan nangis..." ucap Cinta sembari mengelus punggung Asha.
"Gw... Gw gak sanggup, Cin... Gw gak sanggup liat mereka kayak gitu..." isak Asha di pelukan Cinta.
"Gw tau, Sha. Gw tau ini berat banget buat lo."
"Gw... Gw pikir gw udah ikhlas... Tapi ternyata... Ternyata gw belum bisa..." tangis Asha semakin keras.
Cinta melepaskan pelukannya dan menatap wajah Asha dengan serius. "Sha, dengerin gw. Lo gak perlu maksa diri lo buat ikhlas. Perasaan itu butuh waktu."
"Tapi... Tapi gw udah janji sama diri gw sendiri buat ngelepas Arsa..." ucap Asha dengan suara yang bergetar.
"Sha, ngelepas seseorang itu gak semudah itu. Apalagi kalau lo masih sayang sama dia" ucap Cinta dengan lembut.
Asha menangis lagi. Cinta kembali memeluknya dengan erat.
"Sha, gw rasa lo harus pulang. Lo udah gak sanggup lagi" bisik Cinta.
Asha terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Iya... Gw... Gw mau pulang, Cin..."
🌷🌷🌷🌷
Mereka berdua keluar dari toilet dan kembali ke meja. Arsa dan Raya langsung menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Hmm, kalian lama banget. Gapapa?" tanya Raya dengan nada khawatir.
Asha mencoba tersenyum meskipun matanya masih sembab. "Gw... Gw mau pulang duluan. Gw tiba-tiba gak enak badan."
Arsa langsung terlihat khawatir. "Lo sakit? Mau gw anterin?"
Asha menggeleng cepat. "Gak usah. Gw bisa sendiri."
"Hmm, yakin lo gapapa?" tanya Raya dengan tatapan yang penuh perhatian.
"Iya. Gw cuma butuh istirahat aja" jawab Asha dengan suara yang hampir berbisik.
Cinta ikut bersuara. "Gw ikut Asha aja. Gw khawatir kalau dia sendirian."
Raya mengangguk mengerti. "Hmm, oke deh. Kalian hati-hati ya di jalan."
Asha mengangguk. Ia melirik ke arah Arsa sekilas sebelum berbalik.
Tatapan terakhir yang penuh akan rasa sakit. Tatapan yang seolah berkata selamat tinggal.
"Asha..." panggil Arsa tiba-tiba.
Asha berhenti melangkah. "Ya?"
Arsa terdiam sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya ia hanya berkata, "Hati-hati di jalan."
Asha tersenyum pahit. "Iya. Kalian juga."
Setelah itu, Asha dan Cinta berjalan keluar dari cafe, meninggalkan Arsa dan Raya di sana.
🌷🌷🌷🌷
Di parkiran, Asha berhenti melangkah. Ia menatap taman hiburan yang ramai dengan tatapan kosong.
"Cin... Gw... Gw muak" ucap Asha tiba-tiba dengan suara yang bergetar.
Cinta menatap Asha dengan tatapan bingung. "Muak?"
"Iya. Gw muak sama diri gw sendiri yang lemah. Gw muak sama perasaan gw yang gak bisa gw kontrol" ucap Asha dengan air mata yang mulai jatuh lagi.
"Gw muak harus liat mereka bahagia sementara gw di sini terus tersiksa."
Cinta memeluk Asha lagi. "Sha... Lo gak lemah. Lo udah berusaha keras."
"Tapi gw gagal, Cin. Gw gagal buat ikhlas" isak Asha.
"Sha, dengerin gw. Lo gak perlu ikhlas sekarang. Lo boleh sakit. Lo boleh nangis. Lo boleh marah" ucap Cinta dengan tegas.
"Tapi gw... Gw udah capek nangis, Cin... Gw udah capek sakit..." ucap Asha dengan suara yang sangat lemah.
Cinta tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa memeluk sahabatnya yang hancur itu dengan erat.
Di dalam hati Cinta, ia tau bahwa Asha sudah mencapai titik terendahnya.
Dan ia takut... Ia sangat takut kalau Asha akan melakukan sesuatu yang bodoh.
🌷🌷🌷🌷
Malam harinya, Asha berbaring di kasurnya dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Ia tidak menangis lagi. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
Yang ia rasakan sekarang hanya rasa hampa yang begitu dalam.
Hpnya berdering. Pesan dari Raya.
**Raya:** "Hmm, Asha. Lo udah enakan? Maaf ya kalau hari ini lo jadi gak nyaman."
Asha menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Ia tidak membalas.
Pesan lain masuk. Kali ini dari Arsa.
**Arsa:** "Asha, lo gapapa? Istirahat yang cukup ya."
Asha merasakan dadanya sesak membaca pesan itu. Pesan yang begitu sederhana, tapi terasa begitu menyakitkan.
Ia mematikan hpnya dan memeluk guling dengan erat.
"Gw... Gw gak bisa lagi..." bisik Asha dengan suara yang sangat pelan.
"Gw gak sanggup lagi liat kalian berdua..."
"Mungkin... Mungkin ini adalah akhir buat gw..."
Air matanya jatuh lagi. Kali ini, ia menangis dalam diam. Menangis untuk semua harapan yang telah pupus.
Menangis untuk cinta yang tidak pernah kembali.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
Hancur! 😭 Asha udah berusaha keras buat ikhlas dan anggap semuanya cuma pertemanan biasa. Tapi ternyata dia gak sanggup...
Melihat Arsa dan Raya berdekatan sepanjang hari bikin hatinya semakin hancur. Dia akhirnya pulang duluan karena gak kuat lagi nahan sakit hatinya 💔
Kira-kira apa yang akan Asha lakukan selanjutnya? Apa dia bakal benar-benar nyerah?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku