Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pesta Rahasia di Atas Atap
Angin malam yang dingin menerpa wajah Genevieve saat Valerius membimbingnya menaiki tangga spiral terakhir menuju atap perpustakaan.
Gadis itu masih menggenggam pinggiran gaun merah marunnya agar tidak tersangkut, sementara pikirannya dipenuhi tanda tanya besar. Kenapa pria ini membawanya pulang ke tempat kerjanya sendiri di saat pesta di balai kota baru saja dimulai?
"Kenapa kita kembali ke sini?" tanya Genevieve dengan suara serak. "Maksudku... pesta itu belum selesai. Bukankah kau ingin aku datang ke sana?"
Valerius tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendorong pintu kayu berat menuju atap dengan satu tangan.
Begitu pintu terbuka, Genevieve tertegun. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Atap perpustakaan yang biasanya hanya berisi tumpukan kursi tua dan debu, kini telah berubah total. Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, sebuah meja kecil telah ditata dengan sangat apik.
Lilin-lilin kecil di dalam lentera kaca menyala temaram, memberikan cahaya hangat yang menenangkan. Namun, yang membuat mata Genevieve membelalak adalah hidangannya.
Ada tumpukan pastry mentega yang masih hangat, aneka keju premium, buah-buahan segar yang berkilau, hingga cokelat artisan yang aromanya jauh lebih menggoda daripada yang ada di pesta tadi.
"Kau... kau menyiapkan ini semua?" bisik Genevieve tak percaya.
Valerius berdiri di tepi pagar pembatas, jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin. "Aku melihat caramu menatap makanan di pesta tadi. Kau memakannya seolah itu adalah beban yang harus segera dihabiskan karena tatapan orang-orang di sekitarmu."
Pria itu berbalik, menatap Genevieve yang masih terpaku. "Di sini, tidak ada mata yang menilaimu. Tidak ada putri kota yang mengganggumu dengan parfum menyengatnya. Hanya ada kau, dan makanan yang benar-benar bisa kau nikmati tanpa perlu merasa terintimidasi."
Genevieve merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Valerius, sang monster yang begitu dingin, ternyata memperhatikan ketidaknyamanannya sedetail itu. Ia tahu Genevieve terpesona pada kemewahan pesta namun tercekik oleh perhatian massa.
"Makanlah, Puan kecil," ucap Valerius pelan, menarikkan kursi untuknya.
"Aku sudah membayar mahal untuk memastikan semua ini sesuai dengan seleramu yang... unik."
Genevieve menatap deretan hidangan itu dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan.
Ada rasa sangsi yang muncul di benaknya; makanan ini tampak terlalu sempurna, seolah-olah hanya sebuah dekorasi atau lukisan yang indah. Ia menoleh ke arah Valerius yang masih berdiri mematung di dekat pagar pembatas, sosoknya tampak seperti siluet gelap yang gagah di bawah siraman cahaya bulan.
"Valerius..." panggilnya lirih. "Semua ini... benar-benar bisa dimakan? Maksudku, apakah ini nyata?"
Valerius sedikit memiringkan kepalanya, seolah pertanyaan Genevieve adalah hal yang paling lucu sekaligus aneh yang pernah ia dengar. Ia melangkah mendekat, suara sepatunya beradu pelan dengan lantai atap, lalu ia mengambil sebuah stroberi merah besar yang dilapisi cokelat pekat.
"Tentu saja nyata, Puan kecil," jawabnya rendah. Ia menyodorkan stroberi itu ke arah bibir Genevieve. "Aku memang seorang monster, tapi aku tidak punya hobi memberi makan mangsaku dengan ilusi. Cobalah."
Genevieve ragu sejenak, namun aroma manis cokelat itu begitu menggoda. Ia menerima stroberi itu dan menggigitnya. Seketika, rasa manis dan sedikit asam yang segar meledak di mulutnya—jauh lebih lezat daripada apa pun yang ia cicipi di balai kota tadi.
"Ini luar biasa!" seru Genevieve spontan, senyumnya kini mengembang lebar, benar-benar tulus tanpa ada beban insecure lagi. Ia mulai mengambil sepotong croissant dan mencicipinya dengan antusias.
Valerius hanya memperhatikan dalam diam. Melihat Genevieve makan dengan lahap di tempat rahasia mereka memberikan kepuasan tersendiri baginya.
Baginya, melihat gadis itu merasa aman adalah kemenangan kecil atas dunia manusia yang tadi sempat membuat Genevieve merasa kecil.
"Makanlah perlahan," gumam Valerius, suaranya melembut secara tidak sengaja. "Tidak akan ada yang datang ke sini untuk merebutnya darimu."
Pemandangan di atas atap itu sungguh ganjil namun sekaligus puitis. Genevieve benar-benar melupakan gaun mahalnya yang berharga ribuan keping emas itu; ia duduk dengan santai, bahkan sesekali menggoyangkan kakinya dengan riang di bawah meja—sebuah kebiasaan kecil yang hanya ia lakukan saat hatinya benar-benar merasa senang dan nyaman.
Setiap suapan macaron atau potongan keju yang masuk ke mulutnya disambut dengan gumaman kepuasan yang tulus. Bagi Genevieve, dunia di bawah sana yang penuh dengan tatapan menghakimi dan persaingan kasta seolah telah lenyap.
Di seberang meja, Valerius tidak menyentuh makanan sedikit pun. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, melipat tangan di depan dada, dan membiarkan matanya yang merah mengunci setiap gerakan Genevieve.
Ia memperhatikan bagaimana pipi gadis itu menggembung saat mengunyah, bagaimana ujung lidahnya menyapu sisa remahan di bibir, dan bagaimana kakinya yang terbalut sepatu tumit tinggi itu berayun kecil mengikuti irama hatinya yang membaik.
Bagi makhluk yang telah hidup berabad-abad dan hanya merasakan rasa haus akan darah, menonton Genevieve makan adalah sebuah pengalaman yang anehnya... memuaskan.
"Kau terlihat seperti anak kecil yang menemukan harta karun," ucap Valerius pelan. Suaranya tidak lagi dingin atau mengintimidasi, melainkan memiliki nada hangat yang jarang ia tunjukkan.
Genevieve tersadar, gerakannya terhenti sejenak. Ia merasa sedikit malu karena telah bersikap terlalu santai di depan pria yang sejujurnya masih sangat misterius baginya.
"Maaf... aku hanya... makanan ini benar-benar enak. Jauh lebih baik daripada harus berpura-pura anggun di depan putri ketua kota itu."
Genevieve akhirnya meletakkan garpu kecilnya dengan napas lega yang panjang. Wajahnya yang tadi pucat dan tegang di balai kota, kini terlihat segar dan merona. Ia menatap Valerius dengan binar mata yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.
"Terima kasih, Valerius. Sungguh," ucap Genevieve tulus.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mendapatkan semua ini tengah malam begini. Ini pasti sangat sulit dan... mahal bagimu."
Valerius hanya memberikan sebuah smirk tipis yang penuh rahasia.
Di dalam hatinya, ia menertawakan pemikiran gadis itu. Baginya, kekayaan yang ia miliki selama berabad-abad mampu membeli seluruh kota ini beserta isinya tanpa membuat pundi-pundinya berkurang sedikit pun. Baginya, menyiapkan pesta di atas atap ini semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, Valerius melihat sebuah kesempatan emas. Ia menyadari bahwa Genevieve mulai luluh justru karena ia merasa Valerius telah "berusaha keras" demi dirinya. Jika ia mengaku kaya raya, Genevieve mungkin akan menjaga jarak lagi.
Maka, Valerius pun memasang wajah yang sedikit lebih serius, berpura-pura seolah semua ini adalah pengorbanan besar.
"Tidak perlu dipikirkan, Puan kecil," ucap Valerius dengan nada suara yang dibuat sedikit lebih berat, seolah ia baru saja menghabiskan sisa tabungannya.
"Aku hanya ingin kau merasa dihargai sekali saja. Meski bagiku ini tidak mudah didapatkan, melihatmu tersenyum seperti ini... kurasa sepadan dengan upayaku."
Genevieve merasa hatinya mencelos. Ia merasa sangat tidak enak sekaligus tersentuh. Ia membayangkan pria di depannya ini mungkin harus bekerja keras atau mengorbankan sesuatu yang berharga hanya untuk membelikannya makanan mewah.
"Aku... aku akan membalas kebaikanmu, Valerius," janji Genevieve dengan sungguh-sungguh.
Valerius menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilat licik di matanya yang merah. Berhutang budi, pikirnya. Itulah tepatnya yang ia inginkan.
Jelas Genevieve mudah di jebak secara, gadis itu punya sifat yang tidak enakan.
keren
cerita nya manis