Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pemantik Fondasi
Ji Zhen mengabaikan rasa cemas yang mungkin masih menggelayuti benak Huiqing di balik dinding kamar. Karena baginya, urusan emosional adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli saat ini. Pemuda itu duduk bersila di atas ranjang, mengeluarkan Cawan Air Suci dan kristal es inti dari cincin ruangnya. Cahaya biru dari kristal itu memantul di permukaan emas cawan, menciptakan pendaran yang memenuhi ruangan.
Sesuai instruksi Zulong, Ji Zhen menuangkan air biasa ke dalam cawan yang diberikan oleh Huiqing. Setidaknya perlu menunggu satu jam hingga cairan itu berubah menjadi bening kristal dengan aroma yang menenangkan. Ini adalah langkah krusial. Dalam dunia kultivasi ini, tahap Pembentukan Fondasi adalah penentu segalanya. Jika tahap awal hanya tentang mengumpulkan qi liar ke dalam tubuh, Pembentukan Fondasi adalah proses memadatkan energi tersebut menjadi struktur permanen di dalam dantian.
Fondasi yang stabil berarti meridian yang diperkuat ribuan kali lipat, umur yang melonjak drastis, dan yang paling penting, adalah wadah yang mampu menampung kekuatan alam yang lebih besar. Bagi Ji Zhen, tantangannya dua kali lipat lebih berat. Fondasinya retak akibat balas dendam masa lalu. Tanpa pemulihan, qi yang ia serap hanya akan bocor keluar, atau lebih buruk lagi, memicu ledakan dantian yang akan mengubahnya menjadi tumpukan daging hangus.
“Mari kita mulai,” bisik Ji Zhen, meneguk Air Suci dari cawan hingga tandas.
Rasa dingin yang murni langsung menjalar dari tenggorokan menuju perutnya. Ia kemudian menggenggam kristal es inti dengan kedua telapak tangannya, mulai menarik energi es yang padat ke dalam tubuh.
“Tarik pelan-pelan, Bocah! Jangan serakah!” Zulong memperingatkan di dalam kepalanya. “Fokuskan air suci itu untuk menambal retakan di dantianmu, sementara energi kristal digunakan untuk mempertebal dinding meridian. Jika kau mencampurnya secara kasar, tubuhmu akan membeku dari dalam!”
Ji Zhen menggeram. Rasa sakit mulai menyerang. Air suci itu bekerja seperti lem cair yang membara, mencoba menyatukan kembali kepingan fondasinya yang hancur. Lalu di saat yang sama, energi dari kristal es inti terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jalur energinya. Keringat dingin bercucuran di dahi Ji Zhen. Hampir tiga kali ia kehilangan kendali atas aliran qi-nya, membuat napasnya tersedak dan darah segar merembes dari sudut bibirnya.
“Begitu saja sudah mau menyerah?” ejek Zulong. “Ingat tujuanmu. Kau ingin menginjak wajah orang-orang sombong, bukan? Kau ingin menjadi yang terkuat agar tidak ada lagi yang bisa mempermainkan nasibmu. Bangun, Ji Zhen! Stabilkan dantianmu sekarang!”
“Aku… tahu!” Ji Zhen membalas lewat batin, giginya beradu menahan perih yang menyiksa.
Ia memusatkan seluruh konsentrasinya pada titik lemah di meridian utamanya. Dengan arahan presisi dari Zulong, ia mendorong energi air suci ke setiap celah retakan. Perlahan-lahan, kebocoran qi yang selama ini menghambat progresnya mulai berkurang. Fondasinya tidak lagi terasa seperti kaca pecah, melainkan mulai menunjukkan bentuk yang lebih padat dan stabil.
Berjam-jam berlalu dalam keheningan yang menyakitkan. Ji Zhen merasakan kemajuan yang luar biasa. Qi es di dalam tubuhnya kini berkali-kali lipat lebih murni. Namun, saat ia mencoba melakukan dorongan terakhir untuk benar-benar menembus ranah Pembentukan Fondasi, ia merasakan sebuah hambatan besar. Seperti ada dinding baja yang menghalangi energinya untuk memadat sepenuhnya.
Ia pun membuka matanya, napasnya tersengal-sengal. “Hampir… tapi tidak cukup. Kenapa, Zulong?”
“Kau butuh pemantik,” beber Zulong. “Kondisi tubuhmu sudah siap, tapi kau butuh alat untuk mengunci struktur energi itu agar tidak goyah lagi. Pedang Pusaka Penstabil Energi milik Tie Kuang bukan sekadar hiasan. Artefak itu dirancang khusus untuk menyeimbangkan energi yang bergejolak saat menerobos. Tanpa itu, kau hanya akan tertahan di ambang pintu tanpa pernah bisa masuk.”
Ji Zhen menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Sebuah senyum optimis yang liar muncul di wajahnya yang pucat. Jadi, teka-tekinya sudah lengkap. Ia memiliki teknik naga, ia memiliki air suci, dan sekarang ia tahu kunci terakhirnya berada di tangan musuhnya.
“Besok,” gumam Ji Zhen sambil menatap jendela kamar yang memperlihatkan fajar mulai menyingsing. “Besok, orang itu akan memberikan pedangnya padaku, entah dia mau atau tidak. Selama ini juga perintah guru, pasti tugas ini ada di jalan kebenaran.”
Setelah menyesap teh buatan Huiqing, ia merebahkan tubuhnya yang remuk di atas ranjang. Meski lelah luar biasa, semangatnya justru membara lebih hebat dari sebelumnya.