Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
Ini… istana? batin Mama Kania.
Decak kagum wanita paruh baya itu tak juga berhenti sejak mereka turun dari mobil. Rumah besar di hadapan mereka terasa jauh lebih megah dibandingkan rumah mereka di Surabaya.
Mereka kemudian dipersilakan masuk. Ruang tamu yang luas dan elegan menyambut langkah mereka.
Mama Sofia mengajak keduanya duduk di ruang keluarga.
“Bi, tolong siapkan dua kamar ya,” pintanya singkat.
Setelah itu, Mama Sofia ikut duduk bersama mereka. Obrolan ringan pun mengalir pelan, tanpa topik yang benar-benar penting.
Sore itu berlalu dengan tenang dan kehangatan mereka yang mengobrol banyak di ruang keluarga.
...----------------...
Setelah ikut membantu sedikit para asisten rumah tangga yang menata barang-barangnya di kamar yang akan ia gunakan ke depannya, Aulia bergegas membersihkan diri. Wanita yang tidak banyak bicara itu bergerak sangat hati-hati, terutama di sekitar perutnya. Luka operasi yang belum sepenuhnya kering membuat setiap gerakan terasa perlu diperhitungkan.
Di dalam kamar mandi, aroma sabun perlahan menguar. Aulia berdiri di bawah shower, membiarkan air hangat mengalir pelan membasahi tubuhnya. Tangannya bergerak hati-hati, sesekali terhenti saat rasa perih samar muncul. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan kembali.
Ia tidak mandi terlalu lama. Cukup membersihkan diri tanpa memaksa tubuhnya. Di bawah aliran air itu, Aulia membiarkan pikirannya kosong sejenak, seolah memberi jeda bagi luka yang datang bertubi-tubi beberapa hari terakhir, dan untuk kehilangan yang masih belum dia ikhlaskan.
Usai mandi, ia melangkah keluar dengan bathrobe menutupi tubuhnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti kala mendapati Archio duduk di sofa kamar sambil menggendong baby Leonel. Aulia tentu saja terkejut.
“Eh…” mata Aulia membola. Ia refleks berbalik dan kembali masuk ke balik pintu kamar mandi. “Bapak ngapain di situ?” tanyanya dari dalam, suaranya terdengar kaku.
“Ah, iya. Maaf, Aulia,” jawab Archio tergagap. “Saya pikir tadi kamu sudah selesai mandi. Leonel sempat menangis, jadi saya membawanya ke kamar.”
“Tapi kan ada mbak pengasuhnya,” protes Aulia tanpa sadar. Nadanya terdengar sedikit ketus. “Kenapa tidak menyuruh dia saja?”
Archio menarik sudut bibirnya. Senyum kecil tercetak di wajahnya, lebih terlihat canggung daripada santai.
“Karena Leonel menangis waktu saya yang menggendong. Saya panik, jadi langsung di bawa ke kamar ini, Sampai lupa kalau dia ada pengasuhnya. Maaf, Aulia. Saya keluar sekarang.” Ia segera melangkah pergi, meninggalkan kamar dan menutup pintu. Aulia berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berganti pakaian.
“Aneh…” gumamnya sambil mengernyit. “Jelas-jelas aku tidak mendengar Leonel menangis. Apa sudah berhenti?” pikirnya. tak mau ambil pusing, Ia langsung mengenakan pakaian yang sudah tersusun rapi di atas ranjang. Tanpa perlu bertanya, Aulia tahu siapa yang menyiapkannya sejak sore tadi.
Setelah selesai, ia melangkah menuju kamar Leonel.
“Kamu sudah selesai?” tanya Archio basa basi, Jelas-jelas Aulia sudah berdiri di depan pintu.
Aulia tidak menjawab. Ia mendekati ranjang bayi dan memperhatikan Leonel yang sibuk memainkan mainan kecil di tangannya. “Kamu nangis ya, sayang?” tanyanya lembut.
Leonel justru tertawa kecil saat melihat wajah Aulia.
“Lapar?” Aulia meraih tubuh bayi mungil itu untuk digendong.
“Dia tidak terlihat seperti habis menangis,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Archio langsung menoleh. “Tadi menangis kok. Serius,” katanya cepat, terlalu cepat seperti orang yang ketauan berbohong.
Aulia hanya mengangguk kecil. Ia bersiap menyusui, namun gerakannya terhenti saat menyadari Archio masih berada di sana, duduk dan memperhatikan.
“Kenapa?” tanya pria itu.
“Bapak tidak keluar?” Aulia menatapnya datar.
“Oh, iya. Maaf,” jawab Archio cepat. Ia bangkit, mengusap tengkuknya dengan kikuk, lalu berjalan ke arah pintu. “Saya keluar sekarang.”
Pintu tertutup perlahan. Barulah Aulia duduk dengan tenang dan mulai menyusui Leonel.
...****************...
Tidak lama kemudian, Archio kembali masuk ke kamar Baby Leonel. Kali ini ia tidak datang sendiri. Di belakangnya menyusul Bibi Dar yang membawa nampan berisi makanan, serta Mama Kania yang ikut melangkah masuk.
“Aulia, kamu makan dulu ya,” ujar Archio sambil meletakkan segelas air di atas meja kecil di samping ranjang.
Bibi Dar menyusul, menata nampan berisi beberapa menu makanan hangat di hadapan Aulia.
“Saya bisa turun makan,” ujar Aulia. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa dirinya diperlakukan seolah tidak mampu berjalan, sampai makanan pun harus dibawa ke kamar.
“Kamu tidak boleh terlalu capek,” jawab Archio tenang. “Naik turun tangga juga sebaiknya dihindari dulu. Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih. Saya takut luka operasi kamu tertarik kalau terlalu banyak bergerak.”
“Ini sudah kering, dan aku bisa hati ha—”
“Udah-udah,” potong Archio cepat, seolah tidak ingin berdebat. Ia menarik meja kecil itu lebih dekat ke ranjang. “Makanannya juga sudah di sini. Kamu makan dulu, ya.”
Aulia terdiam. Ia bergerak pelan, rasa canggung perlahan menyeruak di dadanya.
“Sini, Leonel sama Mama dulu,” ujar Mama Kania lembut. Wanita paruh baya itu duduk dan mengambil alih bayi yang belum juga terlelap.
Aulia akhirnya makan dalam diam. Beberapa suap makanan masuk ke mulutnya dengan perasaan yang tidak benar-benar nyaman. Ekor matanya beberapa kali menangkap sosok Archio yang duduk di sisinya, tatapannya terlalu sering mengarah padanya.Dan jujur saja, perhatian itu membuat Aulia merasa semakin risih.
Entah kenapa, tanpa Archio sadari, sejak tadi tatapannya tidak beralih dari wanita yang makan dalam diam itu.
“Kenapa berhenti? Itu makanannya belum habis,” ujarnya saat Aulia meletakkan sendok. Porsi yang masuk ke perut wanita itu bahkan belum setengah.
“Sudah,” jawab Aulia singkat sambil menggeser piringnya sedikit menjauh.
Archio bergerak cepat, meraih segelas air dan menyodorkannya. “Ini, minum dulu.”
Aulia menerimanya dengan ekspresi canggung yang sulit disembunyikan. Jemarinya menggenggam gelas itu pelan, lalu menyesapnya sedikit.
“Istirahat beberapa menit dulu. Setelah itu baru minum obat,” lanjut Archio. Nada suaranya tenang, terlalu teratur, seolah ia sedang mengawasi pasiennya sendiri.
Ia tetap berdiri di sana, tidak beranjak, memastikan semuanya berjalan sesuai yang ia ucapkan. Tanpa ia sadari, sikapnya itu justru membuat Aulia semakin risih.
Semua perlakuan itu tak luput dari mata wanita paruh baya yang tengah menggendong Leonel. Mama Kania memperhatikan pemandangan itu sambil menyembunyikan senyum tipis. Pria di hadapannya terlihat begitu perhatian, mungkin sedikit berlebihan, tapi dari caranya berbicara dan bersikap, Mama Kania bisa menangkap satu hal, Pria itu penyayang, dan tampaknya bukan tipe yang mudah lepas tangan.
"Ini obatnya, sayang,” ujar Mama Kania sambil menyerahkan kantong obat yang tadi ia bawa kepada putrinya.
Belum sempat Aulia meraih, Archio sudah lebih dulu mengambil alih. Pria itu duduk lebih dekat, membuka satu per satu tablet dari kemasannya dengan gerakan rapi dan terbiasa, lalu menyodorkannya ke arah Aulia.
“Yang ini dulu,” katanya pelan.
Aulia menerima obat itu, menelannya dengan seteguk air yang masih ia pegang. Archio menunggu, matanya tak lepas sampai wanita itu benar-benar selesai menelan.
“Sudah?” tanyanya memastikan.
Aulia mengangguk kecil, perasaan canggung kembali mengendap di dadanya, sementara Mama Kania hanya mengamati tanpa komentar, membiarkan semuanya mengalir apa adanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa Like, komen dan vote... Selamat berhari senin🫶🫶
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian