NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 : Mandi

Seorang Kasim Tua berkulit pucat maju ke depan dengan angkuh. Ia membawa sebuah gulungan sutra kuning.

​"Titah Kaisar!" teriaknya.

​Wan Long langsung melompat-lompat kegirangan, mencoba merebut gulungan itu seolah itu adalah mainan. "Kertas kuning! Aku mau kertas kuning untuk jadi layang-layang!"

​Si Kasim menjauhkan gulungan itu dengan wajah jijik. "Pangeran Wan Long, harap tenang! Kaisar memberikan restunya, namun karena Pangeran tidak mampu menjalankan tugas resmi, maka upacara minum teh dan penghormatan di istana ditiadakan. Kalian langsung masuk ke kamar pengantin setelah ini. Mahar dari Menteri Bai sudah diterima, dan tunjangan bulanan kediaman ini akan dipotong setengah karena sekarang ada 'satu mulut lagi' yang harus diberi makan."

​Penghinaan terang-terangan. Bai Hua mengepalkan tangannya di sandaran kursi roda. Ia membenci ketidakadilan. Keluarga Bai menjualnya, dan keluarga Kekaisaran membuangnya seolah ia adalah beban tambahan bagi pangeran bodoh.

​"Tunggu," potong Bai Hua saat Kasim itu hendak pergi. "Katakan pada Kaisar dan Permaisuri. Terima kasih atas restunya. Aku akan memastikan Pangeran Wan Long terawat dengan sangat baik hingga mereka mungkin tidak akan mengenali putra mereka sendiri suatu hari nanti."

​Kasim itu mengernyit, merasa ada nada ancaman dalam suara gadis lumpuh itu, namun ia hanya mendengus dan melenggang pergi tanpa pamit.

​Wan Long tiba-tiba berhenti mengejar belalang. Ia berdiri di belakang kursi roda Bai Hua, tangannya yang besar memegang pundak Bai Hua. Untuk sesaat, tekanan tangannya terasa begitu mantap dan melindungi, jauh dari kesan pria lemah mental.

​"Istri... ayo masuk kamar. Di luar banyak nyamuk nakal. Di dalam, kita bisa main pecahkan kepala nyamuknya bersama-sama," bisik Wan Long dengan nada riang yang dibuat-buat, namun Bai Hua bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari pria di belakangnya.

​Bai Hua menyeringai. "Ya, Pangeran."

"Nona, apa sebaiknya saya siapkan makanan?" Bibi Pong berinisiatif, meski ia tahu bahwa majikan nya tidak memiliki upaya untuk diizinkan menempati dapur utama istana.

Bai Hua mengernyit . "Bibi,apa tidak ada pelayan lain yang membantuku?" Tanya gadis itu dengan kesal.

Sebelum Bibi Pong menjawab, sebuah suara berhadir diantara mereka. Suara cempreng dengan nada tinggi yang khas. "Nonaaaa! Maafkan hamba! Hamba terlambat kemari." Seorang gadis dengan rambut dikepang dan poni bergoyang itu segera menunduk di depan kursi roda milik Bai Hua.

"Saya Choi, pelayan baru yang akan melayani Anda. Beberapa teman saya sedang menyiapkan hidangan untuk Nona dan Pangeran nikmati." Lontar Choi sembari menunduk, menatap ke lantai paviliun.

"Makan! Wan Long suka makan!" Wan Long tiba-tiba tertawa riang. Dengan refleks, ia segera mendorong kursi roda kayu milik Bai Hua ke dalam kamar utama di Paviliun Pangeran Pertama.

"Makan! Ayo makan!" Pekik nya kegirangan.

"Bibi... Antar saja makanan nya ya..." Bai Hua berhasil melontarkan kalimat terakhirnya sebelum pintu kamar benar benar tertutup.

***

​Pintu kamar pengantin tertutup rapat. Suasana canggung menyelimuti ruangan yang dihiasi lilin merah itu. Bai Hua duduk di kursi rodanya, merasa tubuhnya sangat lengket. Darah dari luka cambukan di punggungnya sudah mengering dan membuat hanfu putihnya menempel kaku pada kulit. Udara panas membuat tubuhnya mudah berkeringat, dan itu sama sekali tidak nyaman.

​Di sudut ruangan, Wan Long sedang asyik melompat-lompat di atas ranjang.

​"Kuda! Wan Long naik kuda merah sambil makan! Hahaha!" teriaknya sambil mengacak-acak sprei sutra.

​Bai Hua menatapnya dengan curiga. Pangeran ini... apa dia benar-benar gila? batinnya. Ada sesuatu pada cara Wan Long mendarat saat melompat yang terasa terlalu stabil untuk orang idiot.

Titik Nol! Pikir Bai Hua. Pikiran nya melayang pada perkataan Pangeran Pertama tentang Titik Nol Target. Namun, ketika ia melihat perilaku Pangeran yang tak berhenti bergumam dan bermain selimut seperti anak kecil, Bai Hua pun menepis pikiran itu. Mungkin dia mendengarnya dari orang lain. Atau otak nya sedang mengalami konslet dan tidak sengaja berkata begitu. Pikir nya kemudian.

​"Pangeran, berhenti berisik. Aku ingin mandi," ketus Bai Hua. Ia melepas pakaian pengantin dan menyisakan hanfu putih nya.

​Wan Long berhenti melompat. Ia menatap Bai Hua dengan mata bulat yang dibuat-buat polos. "Mandi? Wan Long juga mau main air! Byurrr!"

​"Jangan berani-berani mendekat!" ancam Bai Hua sambil meraba tusuk konde di rambutnya.

​"Hahaha! Istri takut air? Atau takut Wan Long?" Wan Long tertawa, suaranya tinggi namun ia justru turun dari ranjang dengan gerakan yang gesit yang membuat Bai Hua tidak nyaman.

​"Keluar," perintah Bai Hua dengan nada mengancam. "Panggil Bibi Pong atau Choi ke sini."

​Wan Long malah menggeleng kuat-kuat. "Tidak boleh! Choi dan Bibi Pong sedang masak bakpao besar! Kalau diganggu, nanti bakpaonya menangis!" Ia berjalan mendekat ke kursi roda Bai Hua. Wajah tirusnya condong ke depan, menatap Bai Hua dengan mata yang berbinar nakal. "Wan Long saja! Wan Long jago mandi-mandi!"

​"Jangan lancang!" Bai Hua menghunuskan tusuk konde emasnya tepat di depan leher Wan Long.

​Namun, Wan Long sama sekali tidak mundur. Ia justru menangkap pergelangan tangan Bai Hua dengan satu tangan yang kurus namun cengkeramannya terasa seperti besi dingin. "Istri... kalau pegang benda tajam, nanti tangannya berdarah. Kalau berdarah, Wan Long sedih," bisiknya. Sedetik kemudian, ia kembali ke mode kekanak-kanakannya. "Ayo! Mandi! Main air!"

​Wan Long mendorong kursi roda Bai Hua menuju bilik mandi di pojok kamar yang sudah disiapkan air hangat di dalam bak kayu besar. Uapnya mengepul, memenuhi ruangan kecil itu.

​"Wan Long, aku peringatkan kau---"

​Sret!

​Tanpa membuang waktu, Wan Long mengangkat tubuh Bai Hua dari kursi roda. Bai Hua terkesiap. Meski tubuh pria di hadapannya ini terlihat kurus dan kurang gizi, namun tulang-tulangnya terasa keras. Tinggi badannya yang mencapai 185 cm membuat Bai Hua merasa sangat kecil di dekapannya.

​"Turunkan aku!" Bai Hua memukul bahu Wan Long, namun pria itu seolah tidak merasakan sakit.

​Wan Long mendudukkan Bai Hua di tepian bak kayu. Dengan gerakan yang sangat halus---yang membuat Bai Hua kembali curiga---ia mulai melepaskan ikat pinggang hanfu putih Bai Hua.

​"Wan Long, apa yang kau-"

​"Ssst! Wan Long mau cuci punggung istri. Tadi ada warna merah-merah nakal di baju istri. Wan Long mau buang warna merahnya!" ucap Wan Long. Matanya menatap kain yang menempel pada luka cambukan Bai Hua dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Bai Hua membeku saat merasakan tangan kurus Wan Long mulai membasahi kain yang menempel di punggungnya dengan air hangat secara perlahan agar tidak sakit saat dilepaskan. Gerakan tangannya sangat stabil, tidak gemetar sama sekali.

​Teknik ini dia tahu cara menangani luka terbuka agar tidak infeksi, batin Bai Hua. Kecurigaannya semakin memuncak.

​Sambil membersihkan luka itu, Bai Hua yang merasa sangat kesal dan perih refleks bergumam dalam bahasa yang sangat asing bagi zaman itu.

​"Sialan. Kalau saja ada Shower di apartemenku, aku tidak perlu repot mandi dengan bantuan pria idiot seperti ini," gerutu Bai Hua pelan.

​Gerakan tangan Wan Long yang sedang memeras kain basah tiba-tiba berhenti. Bahunya yang sempit tampak menegang. Kepalanya sedikit miring, matanya menyipit menatap uap air yang membumbung.

​"Sow-wer? Apa itu?" tanya Wan Long. Ia menoleh sedikit, matanya menyipit menatap Bai Hua. "Apa itu nama jenis makanan baru?"

​Bai Hua membeku. Bodoh! Kenapa aku kelepasan ngomong istilah abad 21?

​Wan Long kembali berbalik, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk seringai tipis yang tidak terlihat oleh Bai Hua.

​***

Happy Reading ❤️

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
Pa Muhsid
buka puasa gak usah beli kolak udah ada yang manis😍😍😍 wangyu dan meilin
Pa Muhsid
bbc berlapis ok👍
mimief
wkwkwkwkwkwk
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
Roti Bakar
lanjutttt kpn upp?
mimief
gimana?
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
Pa Muhsid
cinta sejati😘😘😘❤❤❤ berbungkus benci (benar "cinta)
Dede Dedeh
rame... pisan lanjut thor
Pa Muhsid
visual nya mana tor
mimief
wah...seru
jadi bayangin visual merekanya bertarung
SusanTee
lnjutt
mimief
bukan??🤣🤣🤣
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mimief
iy..ya
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
ANWi/Berly Re: hehe iya kak, susah susah gampang sistem retensi ini. bikin bingung😭😭😭😭
total 1 replies
mimief
senjata makan tuan ya gaes .
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sahabat pena
ga punya kak
sahabat pena: siap kak. semangat up nya
total 2 replies
Roti Bakar
ah aku paham! Jd si kaisar biarin para anjing saling tarung gitu yahh??? (permaisuri-wanjin-meteri bai vs bai hua-wan long) trs dia tinggal leyeh leyeh 🤭
Roti Bakar
oh wan jin , dia kn anak permaisuri yah?? brarti dia disitu atas printah permaisuri dong
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️💪
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
mimief
Waduuuh...
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa
Roti Bakar
ini kpn up nya????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!