#Mertua Julid
Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.
Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.
Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.
Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.
Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Menjemput Amelia
.
Hari Minggu pagi, matahari bersinar dengan cerahnya. Pagi-pagi sekali, Raka sudah bersiap. Rambutnya ditata rapi dengan sedikit gel, menampilkan kesan maskulin yang kuat. Kemeja flanel berwarna biru tua dipadukan dengan celana jeans hitam yang pas di tubuhnya, serta sandal slide kulit berwarna coklat tua yang dikenakannya. Penampilannya sederhana, namun tetap memancarkan kharisma seorang kepala desa yang berwibawa.
Baru saja Raka hendak berdiri setelah selesai sarapan bersama.dan membersihkan mulutnya dengan tisu. Sundari bertanya,
"Mau ke mana, Raka?” Nada suara yang terkesan dibuat-buat, layaknya seorang ibu yang penuh perhatian. Aslinya hanya sedang berpura-pura lupa, bahwa Raka ingin menjemput Amelia.
Raka yang baru saja hendak melangkah, menghentikan gerakan kakinya dan memandang wajah wanita tua itu dengan raut datar dan tatapan menusuk. "Menjemput Amelia, tentu saja," ucapnya dingin.
Sundari, dengan nada khawatir yang dipaksakan, berkata, "Apakah tidak ingin kau pikirkan lagi? Ibu hanya khawatir dia bukan gadis yang baik. Siapa tahu dia hanya …”
Ucapannya terhenti kala Raka menatapnya dengan sorot mata yang kian tajam. Atmosfer ruangan seketika berubah menjadi dingin.
Pak Wiranto yang sesungguhnya belum selesai menikmati sarapannya, bahkan harus menelan makanan dengan susah payah. Ia memejamkan mata, merutuki kebodohan istrinya.
"Sudah aku katakan, jangan pernah mengaturku," ucap Raka dengan nada dingin, menusuk jantung Bu Sundari. "Lebih baik sediakan sesuatu untuk membuat Amelia merasa senang," lanjutnya, kemudian membalikkan badan dan kembali melangkah.
Belum sampai keluar dari ruang makan, pemuda tampan itu menghentikan langkahnya kembali. Ia membalikkan badan, menatap datar ke arah ibu tirinya. "Berpikirlah dengan bijak sebelum melakukan sesuatu. Jangan sampai kamu menyesali apa yang kamu lakukan," ucapnya dengan nada mengancam, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruang makan.
Bu Sundari terdiam membisu. Ia merasa sangat kesal dan marah dengan sikap Raka. Namun, ia tidak berani membalas ucapan Raka. Ia takut, Raka akan melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi.
Pak Wiranto menghela napas panjang. Ia merasa sangat lelah dengan pertengkaran yang tak kunjung usai antara Raka dan Bu Sundari. “Sampai kapan kamu akan bertindak bodoh?" Pria itu berdiri walaupun belum kenyang, lalu pergi ke kamarnya.
“Ibu, sih," gerutu Widuri yang ikut kehilangan selera makannya. Di sampingnya, Sutrisno tetap makan dengan lahap seolah tak terusik oleh apapun.
*
Raka memacu motornya dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian, Raka tiba di depan rumah Bu Sukma. Ia memarkirkan motornya di halaman dan menghampiri pintu rumah.
"Assalamualaikum," ucap Raka dengan sopan, di depan pintu yang terbuka lebar.
"Waalaikumsalam." Terdengar suara teriakan Bu Sukma dari dalam rumah. Tak lama kemudian, Bu Sukma muncul di hadapannya.
"Eh, Den Raka," sapa Bu Sukma dengan senyum ramah. "Mari, silakan masuk."
Raka tersenyum dan dan mencium punggung tangan Bu Sukma yang sudah mulai beberapa hari yang lalu ia lakukan. Tak lupa ia juga mencium punggung tangan Pak Marzuki yang sedang duduk bersandar di kursi ruang tamu.
Raka mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin ia temui, hingga tak berapa lama kemudian ia melihat Amelia datang masih dengan menggunakan celemek melingkar di pinggangnya. Di tangan gadis itu ada nampan yang berisi nya.
Amelia tersenyum cerah sambil menyuguhkan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng pada Raka. "Mas Raka udah dateng?" sapanya. “Aku malah belum siap,” ucapnya
Raka tersenyum dan berkata, “Gak papa, santai aja. Bukan acara resmi juga."
Amelia mengangguk lalu mengatakan dirinya akan bersiap. Tentu saja Raka tidak keberatan menunggu. Pemuda tampan itu kini berkesempatan ngobrol lebih lama dengan Pak Marzuki.
Sementara itu, di rumah kediaman Pak Wiranto, Bu Sundari sedang bersungut-sungut kesal. Mau tak mau dia harus mengalah. Dia akan bersikap baik pada Amelia kali ini, tapi tentu saja tidak untuk seterusnya.
Wanita tua itu menggerakkan kakinya, melangkah menuju dapur. Beberapa pelayan tampak sibuk menyiapkan hidangan sesuai dengan yang dipesan oleh Raka. Wanita itu mengingat ucapan Raka, "lebih baik sediakan sesuatu untuk membuat Amelia merasa senang."
"Aku? Menyiapkan sesuatu untuk gadis pembantu itu? Tidak sudi!" gumamnya kemudian pergi meninggalkan dapur, diikuti oleh Widuri yang sejak tadi membuntuti di belakangnya.
"Ibu mau kemana?" tanya Widuri penasaran.
"Mau ke taman belakang. Daripada melakukan sesuatu untuk gadis pembantu itu, lebih baik duduk santai sambil main HP," jawab Bu Sundari masih dengan wajahnya yang kesal.
Sementara itu, di dalam kamar, Pak Wiranto tengah berganti dengan pakaian yang lebih bagus. Ia akan menyambut Amelia dengan senang hati. Ia akan mengikuti keinginan putranya. Barangkali dengan cara seperti itu, Raka akan kembali bersikap lunak padanya seperti dulu. Jika Amelia adalah gadis yang dicintai oleh Raka, maka dia juga akan berusaha mengambil hati Amelia agar Raka tak lagi memusuhinya.
"Semoga Raka tidak marah lagi padaku," gumam Pak Wiranto sambil merapikan rambutnya di depan cermin.
Ia ingin sekali hubungannya dengan Raka kembali harmonis seperti dulu. Ia sangat menyayangi Raka, dan ia tidak ingin kehilangan putranya.
*
Tak lama kemudian, Raka dan Amelia tiba di depan rumah Pak Wiranto. Raka memarkirkan motornya dan membantu Amelia turun.
"Sudah siap?" tanya Raka sambil menggenggam tangan Amelia erat.
Amelia mengangguk, meskipun sedikit gugup. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
Raka tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya. Yang dijawab dengan senyum manis dan anggukan kepala oleh Amelia
Belum sampai masuk ke teras, Raka menghentikan langkahnya dan menggenggam tangan Amelia erat. "Ingat baik-baik," ucapnya dengan nada tegas namun lembut, hanya untuk didengar oleh Amelia. "Setelah menjadi istriku, kamu adalah nyonya di rumah ini. Kamu yang berhak mengatur, bukan diatur. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menindas kamu."
“Maksudnya, Mas?" Amelia masih terperangah tak mengerti dengan kata-kata Raka.
Raka menatap mata Amelia dengan tatapan penuh keyakinan. "Jika ada yang bersikap buruk padamu, kamu boleh membalasnya atau mengatakan itu padaku. Dan percayalah, apapun yang terjadi, aku pasti berdiri di sampingmu. Aku akan mempercayai setiap yang kamu katakan padaku. Apa kau mengerti?"
Amelia mengangguk perlahan. Ia merasa terharu dan bersemangat mendengar ucapan Raka. Apakah itu artinya dia juga bebas melawan Bu Sundari jika wanita itu mencoba menindasnya? Ia merasa lebih percaya diri dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi di dalam rumah itu.
"Aku mengerti, Mas," jawab Amelia dengan senyum yang lebih lebar.
Raka membalas senyuman Amelia dan mengusap lembut pipinya. "Bagus. Sekarang, mari kita masuk," ucapnya, lalu menuntun Amelia masuk ke dalam rumah.
Amelia mengangguk dan tersenyum, melingkarkan tangannya di lengan Raka, melangkah dengan percaya diri.