"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN LUCAS
Desa yang biasanya tenang itu kini berubah menjadi medan pertempuran yang mengerikan.
Suara denting pedang, geraman serigala, dan jeritan musuh bersahutan di tengah kobaran api yang melahap beberapa lumbung gandum.
"Jangan biarkan mereka mendekati kediaman utama!" teriak Leo, suaranya membelah kebisingan.
Lucian, dalam wujud serigala abu-abu raksasanya, menjadi perisai untuk adik-adik, dia berada di garis depan, dengan taringnya yang tajam, Lucian mencengkeram bahu seorang vampir dan membantingnya ke dinding batu hingga hancur.
SRAKKK
SRAKKK
Di sampingnya, ada Liam dan Noah yang bergerak kompak, mereka menyerang kaki musuh, membuat para vampir itu kehilangan keseimbangan sebelum Leo memberikan serangan penyelesaian.
"Mati kau, makhluk busuk!" geram Noah melalui komunikasi batin yang bisa dirasakan saudara-saudaranya.
Leo sendiri bergerak seperti bayangan, dia menggunakan teknik kelincahan yang baru dia pelajari dari Aurora.
Setiap kali seorang vampir mencoba mengayunkan pedang ke arah saudara-saudaranya, Leo muncul di sela-sela mereka, menangkis serangan dengan pedang rampasan dan membalas dengan tendangan yang mematikan.
"Kak Leo! Di belakangmu!" teriak Oliver dari kejauhan.
Leo merunduk secara insting, sebuah sabit besar melintas tepat di atas kepalanya.
TRANG
BRAKKKKKKK
Pelakunya adalah seorang komandan pemberontak bertubuh tinggi dengan jubah yang compang-camping.
"Keturunan klan perak, kalian memang keras kepala seperti kakek kalian!" desis sang ketua, musuh.
"Kau terlalu banyak bicara!" balas Leo, dingin.
WUUSSH
Leo melompat, menggunakan punggung Lucian sebagai tumpuan untuk terbang lebih tinggi, di udara, Leo memutar tubuhnya dan menghantamkan kedua kakinya ke dada sang komandan.
BRAKKKK
"AAAAKKKKKKKKHHH!"
Si ketua musuh itu terlempar menghantam pohon besar, namun dia segera bangkit dan mengeluarkan sihir darah nya lagi, yang tadi sempat di gagalkan oleh Leo.
Butiran-butiran darah di tanah mulai melayang, membentuk jarum-jarum tajam yang diarahkan ke arah adik-adik Leo yang masih kecil.
"TIDAK!"
Teriak Leo, penuh amarah.
Darah Leo bergejolak, dalam kondisi terdesak seperti ini, sisi vampir di dalam dirinya bereaksi liar, matanya mulai berkilat perak, dan kecepatannya berlipat ganda.
Sebelum jarum-jarum darah itu mengenai Liam dan Noah, Leo sudah berada di depan mereka, mengayunkan tangannya dengan gerakan memutar hingga menciptakan angin puyuh kecil yang menghalau sihir itu.
CRASH
CRASH
DUARRR
Ledakan energi itu membuat semua orang di medan perang terdiam sejenak. Para warga desa yang mengintip dari balik jendela terbelalak melihat tuan muda mereka memiliki kekuatan yang tidak masuk akal.
"Siapa sebenarnya kau, Leo Alistair?" sang ketua mundur selangkah, tampak gentar melihat aura perak yang keluar dari tubuh Leo.
"Bukan urusan mu!"
DUARRRRRR
DUARRRRRR
Leo menghantam mereka semua dengan kekuatan gabungan nya.
JLEB
"AAAKKKKHHHHHHH!"
Sebuah belati perak menancap tepat di tangan sang ketua Vampir pemberontak itu.
"Siapa?!" teriak nya kesakitan.
Sesosok pria dewasa dengan zirah perak dan jubah biru tua mendarat dengan tenang di depan Leo.
Sosok itu berdiri tegak, memancarkan aura ksatria yang sangat kuat hingga membuat para vampir itu gemetar ketakutan.
"Ayah?" bisik Leo, matanya membelalak.
Lucas Alistair, sang Duke, berdiri di sana dengan pedang besar di punggungnya, dia menoleh sedikit ke arah Leo, memberikan tatapan tajam namun penuh kebanggaan.
"Kau pulang di waktu yang tepat, Leo," ucap Lucas, suaranya berat dan berwibawa.
"Berani sekali kalian mengganggu kedamaian rakyatku," lanjut Lucas sambil menarik pedang besarnya.
SRAKKK
Hanya dengan satu tebasan angin dari pedang Lucas, sisa-sisa energi sihir darah di udara langsung buyar berantakan.
Melihat kehadiran sang Duke Alistair yang legendaris, para pemberontak itu langsung kehilangan nyali, mereka tahu, melawan anak-anak Alistair saja sudah sulit, apalagi melawan sang kepala keluarga yang dikenal sebagai ksatria terkuat di kerajaan Harper.
"Lari! Pergi dari sini!" teriak para vampir itu kocar-kacir masuk ke dalam hutan.
Lucian hendak mengejar, namun Lucas mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk berhenti.
"Biarkan mereka, prioritas kita adalah warga desa dan memadamkan api," cegah Lucas, menggeleng kan kepala nya.
Lucian kembali ke wujud manusianya, dengan nafas terengah-engah, baju nya sobek di sana-sini, begitu juga Liam dan Noah yang kembali menjadi remaja biasa, tampak kelelahan namun puas.
"Kak Leo! Kamu keren sekali tadi!" seru Noah sambil berlari memeluk kakaknya.
Leo tersenyum kecil, membalas pelukan adik nya.
Tiba-tiba, dari arah kejauhan, Oliver datang berlari dengan wajah yang masih pucat.
"Ayah! Kak Leo! Ada sesuatu di hutan, sesuatu yang lebih besar dari sekadar vampir pemberontak!" teriak Oliver, mata ungunya berkilat tajam.
Semua orang terdiam, indra penciuman tajam mereka langsung menangkap bau amis darah yang berbeda, jauh lebih tajam yang mulai terbawa angin masuk ke pemukiman desa.
Bau amis itu bukan sekadar darah, tapi bau kematian yang sudah membusuk.
SREKK
SREKK
SREKK
Tiba-tiba dari balik pepohonan yang meranggas, muncul sosok-sosok yang lebih mengerikan daripada vampir pemberontak tadi.
Makhluk-makhluk besar dan menceritakan itu adalah mayat hidup yang dibangkitkan dengan sihir darah hitam, tubuh mereka besar, kulitnya abu-abu pucat dengan urat merah yang berdenyut di luar.
"Monster apa lagi itu?!" teriak Noah, mundur selangkah sambil merapatkan barisan dengan Liam.
"Tetap di posisimu, Noah!" perintah Lucas tegas.
SRINGG
Lucas menghunuskan pedang besarnya, auranya meledak, menekan hawa dingin yang dibawa makhluk-makhluk itu.
Ada sekitar tujuh makhluk raksasa, dan di belakang mereka berdiri seorang pria berjubah merah dengan tongkat tengkorak.
"Habisi mereka semua! Jangan sisakan satu pun benih Alistair!" teriak si pria berjubah merah itu.
"AAAAAGGHGGGGHHHHHHH!"
Para mahluk mengerikan itu meraung, suara mereka seperti gesekan batu makam, dan menerjang maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuh sebesar itu.
"Lucian! Ambil sisi kanan! Liam, Noah, jaga barisan belakang dan bantu warga! Leo, bersamaku di depan!" komando Lucas dengan suara menggelegar.
BUMMM
DUARRR
DUARRRRRR
Pertarungan yang baru saja selesai kembali terjadi, bahkan ini jauh lebih ganas dari serangan dari para Vampir pemberontak tadi, entah siapa orang yang ada di balik penyerangan ini.
DUARRR
DUARRR
BRAKKK
Lucas beradu kekuatan dengan raksasa paling terbesar, benturan pedang raksasanya dengan tinju monster itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan salju di sekitar mereka.
Sementara Leo tidak membuang waktu, dia melesat ke arah dua mahkluk raksasa yang mencoba melewati ayahnya, instingnya berteriak bahwa makhluk ini tidak bisa dibunuh dengan cara biasa.
"Oliver! Cari titik lemahnya! Apakah ada inti sihir di tubuh mereka?" teriak Leo sambil salto di udara, menghindari sabetan cakar yang menghancurkan dinding rumah di sampingnya.
Oliver, dengan mata ungunya yang menyala, mencoba memfokuskan pandangan.
"Di dada kiri! Ada kristal darah yang berdenyut di sana, Kak! Hancurkan itu!" teriak Oliver.
"Diterima!" jawab Leo., tersenyum miring.