Ketika Naya, gadis cantik dari desa, bekerja sebagai babysitter sekaligus penyusui bagi bayi dari keluarga kaya, ia hanya ingin mencari nafkah.
Namun kehadirannya malah menjadi badai di rumah besar itu.
Majikannya, Arya Maheswara, pria tampan dan dingin yang kehilangan istrinya, mulai terganggu oleh kehangatan dan kelembutan Naya.
Tubuhnya wangi susu, senyumnya lembut, dan caranya menimang bayi—terlalu menenangkan… bahkan untuk seorang pria yang sudah lama mati rasa.
Di antara tangis bayi dan keheningan malam, muncul sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh — rasa, perhatian, dan godaan yang membuat batas antara majikan dan babysitter semakin kabur.
“Kau pikir aku hanya tergoda karena tubuhmu, Naya ?”
“Lalu kenapa tatapan mu selalu berhenti di sini, Tuan ?”
“Karena dari situ… kehangatan itu datang.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tegang di tengah gairah yang menggantung
...0o0__0o0...
...Cengkeraman Arya masih terasa di pergelangan tangan Naya. Namun gadis itu tidak meronta. Ia justru mengendurkan bahunya, membiarkan tubuhnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang berbuat salah....
...Tatapan Naya naik perlahan, bertemu mata Arya tanpa gentar....
...Arya terdiam terlalu lama....
...Keheningan itu menekan, seperti udara yang mendadak di peras dari ruangan. Tatapan-nya tidak lagi menyapu Naya—melainkan berhenti pada satu titik: ranjang....
...Seprai kusut....
...Bantal miring berantakan....
...Jejak tubuh yang belum sepenuh-nya hilang....
...Bukan kekacauan tergesa....
...Bukan pula akibat bayi....
...Arya menghela napas perlahan, berat. Rahang-nya mengeras, bukan karena marah—melainkan karena pikiran yang tidak ia sukai sendiri. Ia menoleh ke Naya....
...Gadis itu berdiri tegak, kedua tangan-nya saling meng-genggam di depan tubuh. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Seolah ia sadar sedang di nilai… dan memilih tidak menutupi apa pun....
...“Kau tidak menerima tamu,” kata Arya akhirnya. Nada suaranya rendah, menekan....
...“Tidak,” jawab Naya singkat....
...Satu kata itu jatuh seperti palu....
...Arya melangkah mendekat ke ranjang. Jemari-nya menyentuh ujung seprai—sekilas, nyaris tanpa sadar. Gerakan-nya kecil, tapi cukup untuk membuat napas Naya tersendat....
...“Berarti,” ucap Arya pelan, “ini semua terjadi…" Ia menoleh ke arah Naya. "Kamu bermain sendirian.” ia mencolek sperma yang menempel di sprei....
...Kalimat itu tidak menuduh. Justru lebih berbahaya karena terdengar sebagai kesimpulan....
...Naya mengangkat wajahnya perlahan. Melotot terkejut....
...Tatapan mereka bertabrakan....
...Untuk sepersekian detik, gadis itu mengira Arya akan marah. Menghardik. Mengusir. Namun yang ia lihat justru sorot mata yang lebih gelap. Lebih sulit di tebak....
...“Ini kamarku,” kata Naya akhirnya, suaranya stabil meski tenggorokan-nya terasa kering. “Aku bebas melakukan apa pun.”...
...Arya menatapnya lama. Terlalu lama untuk ukuran majikan dan babysitter. Ia seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri—bahwa asumsi di kepalanya tidak seharus-nya mengusik-nya....
...Langkah Arya berhenti hanya satu jengkal di depan Naya. Tidak menyentuh. Tidak juga menjauh....
...“Lain kali,” katanya dingin, “rapikan tempat tidur mu... Karena saya tidak suka gadis jorok.”...
...Nada itu terdengar seperti perintah biasa....
...Naya mengangguk kecil. Tidak membela. Tidak menjelaskan....
...Di sudut kamar, Karan bergerak kecil dalam tidurnya. Suara napas bayi itu menjadi satu-satunya hal yang menjaga situasi agar tidak jatuh lebih dalam ke jurang yang salah....
...“Kemarilah,” titah Arya sambil melangkah santai menuju sofa. Nada suaranya datar, nyaris lelah. “Aku butuh amunisi sebentar.”...
...Darah Naya seketika surut dari wajahnya. Di balik sofa—di balik gorden hitam yang menjuntai berat—ada Firan. ...
...Nafas Naya tercekat, pikiran-nya berpacu liar. Satu langkah salah, dan semuanya runtuh. Ia segera menghampiri Arya, terlalu cepat, terlalu tergesa....
...“Bukankah Tuan hari ini sibuk ?” tanyanya, suaranya di buat seringan mungkin. Jarinya gemetar saat menarik lepas tali kimono, kain itu melorot pelan, seperti sengaja....
...Lalu gadis itu memeluk Arya dari belakang—erat, posesif—seolah ingin mengurung perhatian pria itu hanya pada dirinya....
...Arya sempat mengernyit. Tatapan-nya melirik sekilas ke arah gorden. Ada sesuatu yang bergerak. Bukan angin. Ia yakin. Ruangan itu tertutup rapat....
...Namun sebelum kecurigaan itu sempat tumbuh, sentuhan Naya menarik-nya kembali. Hangat. Mengganggu. Sengaja menggoda....
...Fokus Arya buyar, pikiran-nya di alihkan oleh tangan Naya yang menyelusuri tubuh'nya, pelan, lembut, namun liar....
...Di balik gorden, Firan berdiri kaku. Otot-ototnya menegang, peluh dingin mengalir di pelipis. ...
...Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk perlahan. Firan menahan napas, takut suara sekecil apa pun akan menimbulkan kecurigaan....
...Satu langkah Arya mendekat ke gorden—semuanya selesai. Dan Naya tahu itu. ...
...Itulah sebabnya pelukan gadis itu semakin menguat. Bukan karena rindu. Melainkan karena panik....
...Apa Tuan lelah ?” bisiknya lembut, nyaris seperti angin yang menyentuh telinga. ...
...Tangan-nya menyusup ke bahu Arya, jari-jarinya menekan pelan, memijat, lalu berhenti—menggantung....
...Arya tidak menjawab. Rahang-nya mengeras. Tatapan-nya masih dingin, tapi fokusnya mulai terpecah....
...Naya tersenyum tipis. Ia mencondongkan tubuh, membiarkan jarak mereka lenyap. Nafasnya sengaja di perlambat, hangat, terarah ke leher Arya....
...“Aku bisa membuat Tuan lupa sebentar,” ucapnya lirih. Bukan permohonan. Tapi tawaran....
...Tangan-nya bergerak lebih berani, menyusuri dada Arya, berhenti tepat di sana—cukup lama untuk mengganggu, cukup singkat untuk membuat-nya ingin lebih....
...Arya menarik napas tajam....
...Tangan-nya mencengkeram pergelangan Naya, seolah hendak menghentikan. Namun detik berikutnya, justru ia menarik gadis itu mendekat dengan kasar. Wajah mereka hanya berjarak sehela napas....
...“Kau sengaja menggoda ku, hem,” gumamnya rendah....
...Naya tidak mundur. Ia mendongak, menantang, bibirnya hampir menyentuh bibir Arya. “Bukankah Tuan yang mengajarkan ku caranya terbakar ?”...
...Arya mencium Naya—keras, rakus, tanpa peringatan. Seolah semua kendali yang tadi ia pegang runtuh begitu saja....
...Ciuman-nya menekan, menuntut, membuat Naya terhuyung mundur hingga punggung-nya menyentuh sofa....
...Umpt..!...
...Naya merasakan tubuh Arya menegang sesaat sebelum ciuman itu terjadi semakin liar, dan panas. Seperti ada naluri yang mencoba melawan, lalu kalah telak....
...Saat bibir Arya menekan bibirnya dengan rakus, Naya nyaris lupa bernapas—bukan karena ciuman itu, melainkan karena ketakutan yang bersembunyi beberapa langkah dari mereka....
...Di balik gorden hitam, Firan membeku....
...Suara kain bergesek. Nafas yang tertahan. Degup jantungnya sendiri terasa terlalu keras di telinga. ...
...Setiap sentuhan Arya pada Naya terdengar seperti gema ancaman—seolah satu detik lagi pria itu akan menjauh, menoleh, dan melihat kebenaran....
...Arya mencengkeram pinggang Naya, memperdalam ciuman. Fokusnya benar-benar terseret, tenggelam dalam kehangatan dan kendali semu....
...Namun—tiba-tiba—Arya berhenti sepersekian detik....
...Firan menahan napas....
...Tatapan Arya melirik ke arah gorden. Diam. Tajam. Seperti predator yang mencium bau asing....
...Jari Arya mengendur sedikit....
...Naya panik. Ia segera meraih wajah Arya, "Fokus, tuan." Bisiknya. ...
...Gadis itu mencium kembali lebih berani, lebih menuntut. Tangan-nya naik ke leher pria itu, kukunya menekan pelan—mengalihkan, memaksa....
...“Jangan alihkan pandangan mu, aku lebih menarik daripada gorden hitam tak bernyawa itu.” Bisik Naya putus asa, tapi terdengar seperti rayuan....
...Arya mendengus pelan, lalu kembali mencium—kali ini lebih kasar. Kecurigaan-nya tenggelam, di kubur oleh sentuhan dan kendali yang di rebut Naya....
...Di balik gorden, lutut Firan hampir menyerah. Satu langkah saja—tirai itu akan tersibak. Satu suara saja—semuanya berakhir. Ia memejamkan mata, berdoa dalam diam....
...Sementara di luar, Naya terus mempertahankan ciuman itu—bukan karena ingin, melainkan karena hidup seseorang sedang ia pertaruhkan di antara bibir dan napas yang saling mengunci....
...Ciuman itu tak lagi sekadar tuntutan....
...Arya kehilangan ritmenya—atau justru menemukan miliknya sendiri. Tangan-nya mencengkeram Naya seolah gadis itu jangkar terakhir dari dunia yang mulai kabur. ...
...Nafas mereka bertabrakan, tak beraturan. Ada sesuatu yang gelap dan lapar di cara Arya menekan, menarik, lalu menuntut lebih....
...Naya terhuyung ketika Arya mendorong-nya ke sofa. Kulitnya merinding, bukan oleh gairah semata, melainkan oleh waktu yang terasa menipis. Setiap detik yang berlalu adalah detik di mana tirai bisa tersibak....
...“Tuan Arya…” panggilnya lirih—setengah peringatan, setengah permohonan. Saat tangan laki-laki itu meremas dada sintalnya....
...Namun pria itu tak berhenti. Sentuhan-nya menjadi semakin liar, lebih dominan, seolah ia ingin meneng-gelamkan kecurigaan yang sempat muncul tadi. ...
...Kepalanya menunduk, menghisap puting Naya lebih dalam—kehangatan yang membuat pikirannya benar-benar lepas dari ruangan, dari gorden, dari segala yang tersembunyi....
...Naya memejamkan mata. Ia membiarkan itu terjadi. Bukan karena sekedar ingin—melainkan karena harus....
..."Ah, tuan. Pelan-pelan." Desah Naya tertahan....
...Namun Arya abai. Ia semakin menghisap kuat puting itu bergantian. Namun asi Naya hanya keluar sedikit. Dan itu membuat-nya meng-hentikan kegiatan-nya....
..."Kenapa asi mu hanya keluar sedikit, Naya ?" Tanya Arya mulai curiga....
...Naya spontan kaku, lalu tersenyum tipis. "Aku habis memompa-nya." Jawabnya beralasan. Padahal faktanya ASI-nya habis karena di hisap oleh kakak tirinya....
...Di balik gorden, Firan nyaris runtuh. Suara-suara yang tertahan, gesekan pelan, helaan napas yang tercekik—semuanya menjadi pisau yang mengiris kesadaran-nya. Ia menekan punggung ke dinding, menahan diri agar tidak bergerak, tidak bersuara, tidak bernafas terlalu keras....
...Arya mendengus rendah, Ia menurunkan kepalanya, menghisap bagian intim tubuh naya. Tenggelam sepenuh-nya di bawah bunga kuncup milik gadis itu. ...
...Dunia menyempit menjadi sentuhan dan kendali. Apa pun yang tadi mencurigakan kini terkubur—di kalahkan oleh dorongan napsu yang lebih bergejolak....
...Dan Naya, di bawah cengkeraman itu, hanya memikirkan satu hal. Bertahan sedikit lagi. Karena selama Arya belum menoleh, selama tirai belum tersibak, rahasia itu—masih hidup....
..."Eurghhh, hisap lebih dalam lagi, Tuan." Erang Naya mulai belingsatan....
...Namun Arya malah berhenti mendadak. Seolah ada sakelar yang di tarik paksa, ia menarik mundur kepala-nya. ...
...Nafasnya masih berat, rahangnya mengeras, matanya kembali dingin—terlalu cepat untuk seseorang yang barusan kehilangan kendali....
...Arya mengusap wajahnya sekali, kasar. Lalu menoleh ke arah jam di pergelangan tangan. “Sial,” gumamnya rendah. "Aku nyaris lupa daratan...
...Naya membeku. Jantung-nya masih berdebar liar, tapi kini bercampur harap yang rapuh. Ia tidak berani bergerak, takut satu gerakan salah akan mengubah keputusan itu....
...Arya meraih jasnya dari sandaran kursi. “Aku ada urusan kantor,” katanya datar, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil. ...
...Tatapan-nya sekilas jatuh ke wajah Naya—tajam, penuh kepemilikan—lalu terlepas. "Istirahatlah dan tunggu aku pulang nanti..." Arya melangkah menuju pintu....
...Di tengah langkahnya, Arya berhenti sepersekian detik. Ruangan mendadak hening. Naya menahan napas, matanya tanpa sadar melirik ke arah gorden....
...Namun Arya hanya berkata, “Jangan keluar kamar hari ini.”...
...Klik....
...Pintu tertutup....
...Kunci berputar dari luar....
...Arya mengunci Naya di dalam kamar, entah apa alasannya. Mungkin dia takut jika gadis itu akan kabur....
...Sunyi....
...Beberapa detik berlalu sebelum Naya benar-benar berani bernapas. Tubuhnya melemas, ia terduduk di sofa, tangan-nya gemetar hebat. Kaki-kakinya terasa nyaris tak menopang....
...Di balik gorden hitam, Firan akhirnya bergerak keluar. Ia tersandung keluar perlahan, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal seolah baru saja selamat dari tenggelam. Keringat dingin membasahi tengkuknya....
...“Bos Arya… dia pergi ?” suaranya nyaris tak terdengar....
...Naya mengangguk lemah....
...Lega itu datang terlambat, tapi menghantam keras. Seperti runtuhnya tembok yang terlalu lama menahan tekanan. ...
...Naya menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan—bukan menangis, hanya berusaha mengumpulkan dirinya kembali....
..."Sial, dia ninggalin aku saat horny tinggi." Umpat Naya. Geram. Bercampur frustasi....
...Firan bersandar ke sofa di samping, matanya terpejam. Lututnya bergetar. "Aku harus segera pergi dari sini," gumam-nya....
...Naya langsung bangun, duduk di pangkuan Firan. Tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun. "Puaskan aku, sebelum kamu pergi." Bisik-nya. Ia meng-gerakkan tubuh'nya maju-mundur....
...Firan langsung mengerang, membuka matanya. Tangan-nya mencengkram pinggang Naya erat. "Kau gila, Hem ?" Desis-nya. "Tuan Arya pasti menunggu ku di bawah."...
...Naya langsung manyun, meng-hentikan gerakan tubuhnya. "Kak Firan, kau sungguh tega." katanya manja. "Tubuhku sudah sangat terangsang." Bisik-nya memohon....
...Firan memalingkan wajahnya, menahan diri dari godaan adik tirinya. "Kau bisa bermain sendiri, Naya." Katanya. "Dimana kunci cadangan-nya ?" Desaknya....
...Naya mendengus, berdiri mengambil kunci cadangan di laci. Lalu melemparnya ke arah Firan. "Pergilah." Usirnya datar. ...
...Firan yang tidak punya banyak waktu, langsung pergi. Meninggalkan Naya yang sedang merajuk....
..."Sial," Umpat Naya geram. "Punya dua lelaki tampan, tapi sama-sama menyebalkan." Dumel-nya. "Awas saja, aku akan bales kalian berdua nanti." sungutnya....
...Mereka selamat. Untuk sekarang. Namun di ruangan itu, bekas ketegangan masih menggantung—mengingatkan bahwa kelegaan ini hanya jeda, bukan akhir....
...0o0__0o0...
kamu juga pak arya,,harusnya csri waktu yg tepat kalo mau jukim 🤣🤣
Semoga novelmu yg lain TDK bernuansa seperti ini juga....berat sis.... setara dgn bosan ...wk....wk....wk ...🤭😀🤨