Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
(Pelan Tapi Pasti)
Pagi itu beda.
Bukan karena ada tamu.
Bukan karena ada berita.
Tapi karena Arka bangun lebih dulu.
Dia duduk di ruang tamu, ngelihat dinding yang catnya mulai pudar di sudut. Sofa yang nggak matching. Mainan berserakan.
Dan anehnya—
Dia nggak ngerasa terganggu.
Dia ngerasa… tenang.
Aruna keluar dari kamar, rambut masih setengah basah.
“Kamu nggak biasa bangun sepagi ini.”
Arka senyum tipis.
“Aku lagi latihan jadi manusia normal.”
Aruna nyengir kecil.
“Berarti selama ini kamu bukan?”
“Dulu lebih kayak robot ambisi.”
Aruna duduk di sampingnya.
Hening, tapi nggak kaku.
“Keluargamu serius dukung,” Aruna ngomong pelan.
“Iya.”
“Kamu nggak kaget?”
“Sedikit.”
Aruna nengok.
“Kamu takut mereka berubah pikiran?”
Arka geleng.
“Aku lebih takut kamu berubah pikiran.”
Aruna diam.
“Aku nggak mau nikah karena semua orang setuju,” lanjutnya.
“Aku mau nikah karena aku yakin.”
Arka mengangguk pelan.
“Makanya hari ini aku mau ngobrol sama anak-anak. Tanpa kamu dulu.”
Aruna langsung nengok cepat.
“Kenapa tanpa aku?”
“Karena ini bukan cuma tentang kita.”
Aruna menatapnya lama.
Lalu akhirnya mengangguk.
“Oke.”
---
Siang hari.
Arven lagi duduk di lantai.
Arkana sibuk gambar.
Arsha lagi baca buku terbalik tapi pura-pura ngerti.
Arka duduk di depan mereka.
Serius. Tapi nggak galak.
“Boleh papa ngomong?”
Kata itu masih terasa asing di mulutnya.
Anak-anak langsung saling pandang.
Arven yang pertama jawab,
“Boleh.”
Arka tarik napas.
“Kalau papa nikah sama Bunda… kalian takut apa?”
Sunyi.
Pertanyaan itu nggak biasa.
Arkana pelan angkat tangan.
“Takut papa sibuk lagi.”
Arven langsung nambah,
“Takut pindah sekolah.”
Arsha paling pelan,
“Takut ditinggal lagi.”
Kalimat terakhir itu bikin dada Arka kayak ditekan.
Dia nggak buru-buru jawab.
“Aku nggak bisa janji hidup nggak bakal sibuk,” katanya pelan.
“Tapi aku bisa janji nggak bakal pergi tanpa kalian.”
Arven nengok.
“Janji beneran?”
“Janji yang bisa kalian tagih.”
Arkana mikir.
“Kalau papa salah?”
“Boleh marah.”
Arsha akhirnya angkat wajahnya.
“Kalau kita belum siap nikahnya cepat?”
Arka senyum kecil.
“Kita tunggu.”
Anak-anak nggak langsung peluk.
Nggak ada adegan film.
Tapi ada satu hal yang berubah—
Mereka nggak lagi lihat Arka sebagai tamu.
Mereka mulai lihat dia sebagai seseorang yang mau tinggal.
---
Sore hari.
Aruna duduk di dapur, pura-pura sibuk potong buah.
Padahal dia nunggu.
Arka masuk.
Gimana?” Aruna tanya pelan.
“Mereka jujur.”
“Kamu?”
“Aku juga.”
Aruna berhenti potong buah.
“Mereka belum sepenuhnya siap.”
Arka angguk.
“Aku tahu.”
“Kamu kecewa?”
“Enggak.”
Aruna menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena ini pertama kalinya aku membangun sesuatu tanpa buru-buru.”
Aruna senyum kecil.
Dan di situ dia sadar—
Arka yang sekarang bukan Arka yang dulu.
---
Malamnya, keluarga Arka video call.
Ibunya muncul di layar duluan.
“Bagaimana hasil rapat kecilnya?”
Arka ketawa kecil.
“Masih tahap negosiasi.”
Alden nyela dari belakang layar,
“Biasanya lo jago negosiasi.”
“Ini beda.”
Ayahnya masuk frame.
“Anak-anak adalah investor paling kritis.”
Aruna duduk di samping Arka.
Ibunya Arka tersenyum padanya.
“Kami tidak ingin menekan. Tapi kami ingin tahu kalian baik-baik saja.”
Aruna jawab pelan,
“Kami baik. Hanya pelan.”
Ayah Arka mengangguk.
“Pelan lebih aman daripada terburu.”
Alden angkat gelas kopi.
“Gue dukung asal lo nggak kabur lagi.”
Arka cuma jawab,
“Nggak ada pintu keluar lagi.”
Ibunya tersenyum puas.
---
Setelah panggilan selesai, Aruna berdiri di balkon kecil.
Angin malam nggak terlalu kencang.
Arka berdiri di belakangnya.
“Kamu takut?” tanya Arka.
“Sedikit.”
“Karena?”
“Karena ini terasa nyata.”
Arka mendekat, tapi nggak menyentuh.
“Dulu kamu sendirian.”
“Iya.”
“Sekarang?”
Aruna menoleh pelan.
“Sekarang aku lagi belajar berbagi beban.”
Arka menatapnya dalam.
“Kita nggak harus sempurna.”
“Aku tahu.”
“Yang penting kita nggak lari.”
Sunyi.
Tapi bukan sunyi kosong.
Sunyi yang penuh keputusan kecil.
Di kamar, Arven lagi bisik ke Arsha.
“Menurut kamu papa bakal beneran tinggal?”
Arsha jawab pelan,
“Kayaknya iya.”
Arkana yang setengah tidur nyeletuk,
“Kalau papa tinggal, aku mau panggil dia tiap malam.”
Anak-anak belum sepenuhnya yakin.
Tapi mereka juga nggak menolak.
Dan itu sudah kemajuan besar.
---
masuk ke:
Arka mulai resmi tinggal beberapa hari seminggu.
Tekanan dari luar (media atau rekan bisnis) mulai mengusik stabilitas.
Atau momen kecil yang bikin satu anak tiba-tiba menolak lagi karena takut kehilangan perhatian.
Kita lanjut ke arah mana?