NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PELUANG YANG SEMPIT DAN HARAPAN YANG TERCEKAT

Malam di Oetimu tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara jangkrik yang mengerik parau di balik semak kering, dan derit tiang-tiang bambu rumah yang bergesekan saat angin malam yang dingin menusuk masuk melalui celah dinding. Jonatan berbaring di atas bale-bale, menatap langit-langit rumbia yang mulai menghitam oleh asap lampu minyak. Pikirannya riuh, jauh lebih bising daripada suara alam di luar sana.

Tadi sore, setelah pertemuan ayahnya dengan Tuan Markus, suasana rumah mendadak berubah menjadi makam yang dingin. Ibunya, Bu Maria, lebih banyak diam. Tangannya gemetar saat mencuci piring, dan matanya enggan bertemu tatap dengan Jonatan. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik raut wajah wanita yang biasanya tegar itu—sebuah rasa takut yang telah mengakar.

"Jonatan, bangun. Bapak mau bicara," suara Pak Berto memecah lamunan.

Jonatan bangkit. Ia mendapati ayahnya duduk di meja makan kayu yang kaki-kakinya sudah pincang diganjal batu. Di atas meja, terdapat sebuah amplop cokelat yang terlihat sangat tua dan berminyak.

"Duduklah," perintah Pak Berto. Suaranya tidak lagi keras seperti tadi sore. Kini suaranya terdengar seperti pasir yang digosokkan ke kayu; kering dan penuh luka.

Jonatan duduk perlahan. Ia menatap amplop itu dengan curiga. "Apa itu, Bapak?"

Pak Berto membuka amplop tersebut dengan jari-jarinya yang gemetar. Di dalamnya ada beberapa lembar uang ratusan ribu yang sudah lusuh, baunya seperti bau tanah dan keringat yang mengendap lama. "Ini untuk tiketmu. Dan sedikit modal untuk kau makan di minggu-minggu pertama di Jawa."

Mata Jonatan membelalak. Ia tahu persis bahwa tabungan ayahnya tidak pernah menyentuh angka satu juta rupiah pun. "Bapak... dari mana uang ini? Bapak benar-benar meminjam dari Tuan Markus?"

Pak Berto tidak menjawab secara langsung. Ia justru mengambil lintingan rokoknya, menyulutnya, dan membiarkan asapnya menutupi wajahnya yang penuh kerutan. "Jangan tanya dari mana asalnya. Tanya pada dirimu sendiri, apa kau sanggup membuat uang ini tidak menjadi sampah?"

"Bapak, itu lintah darat! Dia akan mengambil tanah kita kalau Bapak tidak bisa bayar bunganya!" suara Jonatan meninggi, ada rasa panik yang merambat di dadanya.

Tiba-tiba, Bu Maria keluar dari dapur. Matanya sembab. Ia memegang bahu Jonatan dengan tangan yang masih basah. "Jon, bapakmu sudah memutuskan. Tanah itu... biar Tuhan yang jaga. Tapi kau, masa depanmu tidak boleh mati di sini. Kalau kau tidak berangkat sekarang, kau hanya akan melihat kami semua perlahan-lahan terkubur bersama debu Oetimu."

Jonatan merasa seperti ada sebongkah batu besar yang menyumbat kerongkongannya. Ia menatap uang-uang kumal di atas meja itu bukan sebagai modal, melainkan sebagai potongan-potongan harga diri ayahnya yang telah dijual. Uang itu terasa panas di matanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan tenang di kapal nanti, sementara ia tahu setiap sen yang ia gunakan adalah ancaman bagi rumah tempat ia dilahirkan?

"Peluang kita sempit sekali, Jon," lanjut Pak Berto pelan. "Hanya ada satu jalan keluar. Kau harus sukses di sana. Jangan pernah menoleh ke belakang. Jangan pernah pikirkan kami yang di sini. Kalau kau lapar, bertahanlah. Kalau kau dihina, telanlah. Tapi jangan sekali-kali kau lepaskan sekolahmu."

Malam itu, Jonatan tidak bisa kembali memejamkan mata. Ia pergi ke belakang rumah, berdiri di bawah langit NTT yang penuh bintang namun terasa begitu jauh. Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang dipaksa maju ke medan perang tanpa perisai, hanya berbekal doa dari orang tua yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan.

Ia membayangkan kota besar. Di sana, ia tidak akan lagi dipanggil "Jonatan sang anak sulung yang rajin". Di sana, ia hanya akan menjadi "Anak Timur" yang mungkin akan kesulitan bicara karena logatnya yang kental, yang akan ditertawakan karena tidak tahu cara menggunakan lift, atau yang akan dipandang jijik karena kulitnya yang terlalu gelap oleh matahari.

"Tuhan," bisiknya ke arah kegelapan. "Tanah kami sudah kering. Jangan biarkan hati kami juga ikut kering."

Keesokan paginya, suasana desa terasa berbeda. Jonatan mulai mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak; hanya dua helai celana panjang, tiga kaos yang warnanya sudah pudar, dan sebuah buku catatan tebal yang ia beli dengan uang hasil menjual kayu bakar tahun lalu. Setiap kali ia memasukkan satu baju ke dalam tas kainnya, hatinya terasa berdenyut.

Adik-adiknya, yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari kemiskinan dan hutang, hanya melihat dengan mata bulat penuh tanya. "Kak Jon mau ke mana? Bawa oleh-oleh ya kalau pulang?" tanya si kecil Maria.

Jonatan hanya bisa tersenyum getir, mengusap kepala adiknya dengan tangan yang gemetar. Oleh-oleh? batinnya. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan bisa makan besok pagi di atas kapal.

Menjelang keberangkatan yang dijadwalkan esok lusa, Jonatan memutuskan untuk berjalan satu kali lagi mengitari ladang mereka. Ladang yang kini bukan lagi sekadar tempat menanam jagung, melainkan sebuah taruhan nyawa. Ia berlutut di tengah tanah yang retak-retak itu, mengambil segenggam tanah merah yang kering, dan mencium baunya. Bau tanah yang merindukan hujan.

"Aku akan kembali," sumpah Jonatan. Suaranya tidak lagi bergetar. Ada ketegasan yang dingin di sana. "Aku akan membawa air untuk tanah ini. Dan aku akan membeli kembali setiap jengkal martabat Bapak yang hilang hari ini."

Di kejauhan, ia melihat Tuan Markus melintas dengan motor besarnya, meninggalkan kepulan debu yang menutupi pandangan Jonatan. Jonatan tidak lagi menunduk. Ia berdiri tegak, membiarkan debu itu mengenai wajahnya. Ia tidak akan lagi menjadi sebelah mata bagi siapa pun. Ia akan menjadi sepasang mata yang menatap tajam ke depan, merobek ketidakadilan yang selama ini mengurung keluarganya.

Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, Jonatan duduk bersama Bu Maria di teras. Ibunya memberikan sebuah kalung kecil dari benang tenun sederhana. "Ini hanya untuk pengingat, Jon. Di mana pun kau berada, kau adalah anak Oetimu. Jangan biarkan kota besar itu mengubah hatimu menjadi beton yang keras."

Jonatan memegang kalung itu, merasakannya di telapak tangannya. Peluangnya memang sempit, hampir tidak ada ruang untuk kesalahan. Satu langkah salah, dan ia akan kehilangan segalanya. Tapi di dalam sempitnya peluang itu, Jonatan menemukan sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah berada di titik nadir: kekuatan untuk tidak takut lagi kehilangan apa-apa, karena ia memang sudah tidak punya apa-apa lagi selain mimpinya sendiri.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!