NovelToon NovelToon
Kultivator Sistem

Kultivator Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Fantasi Timur / Transmigrasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.

Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.

Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.

Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.

Ci Lung hanya ingin hidup normal.

Masalahnya…

Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Yang Tidak Lagi Sama

Pagi di Lembah Sunyi terasa berbeda.

Bukan karena langit berubah warna.

Bukan karena qi alam lebih padat.

Tapi karena sesuatu di pusat lembah… menjadi lebih tenang dari sebelumnya.

Ci Lung berdiri di halaman batu, mata terpejam, tangan kosong.

Tidak ada pedang di tangannya.

Yan Yu mengamatinya dari kejauhan.

Biasanya, setiap kali gurunya berlatih setelah terobosan, qi akan beriak jelas—angin bergerak, dedaunan bergetar, tanah bergetar halus.

Hari ini… tidak ada apa-apa.

Itulah yang membuatnya merinding.

“Guru?” panggil Yan Yu pelan.

Ci Lung membuka mata.

Di kedalaman pupilnya, ada sesuatu yang berubah. Bukan lebih tajam. Bukan lebih keras.

Lebih… dalam.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Yan Yu hati-hati.

Ci Lung mengangkat tangannya, lalu perlahan menggerakkan dua jari seperti memegang pedang tak terlihat.

Udara di depannya… terbelah.

Tidak ada suara.

Tidak ada kilatan.

Namun jarak sepuluh meter di depannya membentuk garis tipis—ruang yang terpisah sepersekian detik sebelum kembali menyatu.

Yan Yu tersentak.

“Kau tidak mengeluarkan qi…”

Ci Lung mengangguk pelan. “Layer keempat bukan tentang menambah kekuatan.”

Dia menurunkan tangannya.

“Ini tentang… mengurangi pemborosan.”

Sistem muncul di sudut pandangannya.

[Analisis: Efisiensi aliran qi meningkat 63%.]

[Catatan: Pengguna tidak lagi sepenuhnya bergantung pada asistensi prediktif.]

Ci Lung tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, sistem tidak langsung memberi komentar lanjutan.

Ada jeda kecil.

Seolah ia sedang menghitung ulang sesuatu.

Siang hari.

Ci Lung duduk bersila di bawah pohon tua di tengah lembah. Pedangnya tergeletak di pangkuannya, namun tidak disentuh.

“Status,” katanya dalam hati.

[Meridian Opening Layer Keempat: Stabil 82%.]

[Sisa poin kultivasi: 7.742.]

[Sinkronisasi sistem: Menurun.]

“Menurun?” Ci Lung bertanya.

[Penjelasan: Pengguna mulai membentuk pola niat independen.]

[Asistensi otomatis menjadi kurang efektif.]

Ci Lung mengangguk pelan.

“Aku tidak ingin kau hilang,” katanya.

Sistem terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

[Tujuan utama: Kelangsungan pengguna.]

[Status saat ini: Terpenuhi.]

Itu bukan jawaban yang biasanya ia terima.

Ada sesuatu yang berubah.

Dulu, sistem selalu memberi rekomendasi agresif. Optimalisasi. Peningkatan. Risiko terukur.

Sekarang…

Seolah ia menunggu.

Sore hari.

Yan Yu berdiri berhadapan dengan Ci Lung.

“Serang aku,” kata Ci Lung.

Yan Yu terkejut. “Guru—?”

“Dengan niat membunuh,” lanjutnya tenang.

Yan Yu menelan ludah, lalu menarik pedangnya.

Qi mengalir deras. Ia tidak menahan diri.

SHAAANG!

Tebasan dilepaskan.

Ci Lung tidak bergerak.

Pedang Yan Yu berhenti satu inci dari lehernya.

Bukan karena ditahan tangan.

Bukan karena ditepis.

Tapi karena qi Yan Yu… hilang arah.

“Lihat?” kata Ci Lung pelan.

Yan Yu mundur satu langkah, napasnya terengah. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak menahan seranganmu,” jawab Ci Lung. “Aku hanya tidak memberi tempat bagi niatmu untuk mendarat.”

Yan Yu terdiam.

Layer keempat bukan ledakan.

Bukan aura.

Bukan intimidasi.

Ia adalah… pengurangan.

Semakin sedikit Ci Lung bergerak, semakin sulit dia disentuh.

Malam turun.

Qi lembah lebih hening dari biasanya.

Ci Lung berdiri sendirian, memandangi langit.

Dia mengangkat pedangnya perlahan.

“Kali ini,” gumamnya, “tanpa bantuan.”

Sistem tidak muncul.

Ci Lung menutup mata.

Dia mengingat perasaan saat Zhao Ming menekan qi-nya. Saat niatnya dipreteli. Saat dunia mendorong balik.

Dia tidak menolak tekanan itu.

Dia mengalirkannya.

Pedangnya bergerak satu kali.

Tidak cepat.

Tidak keras.

Namun langit di atas lembah bergetar tipis.

Awan terbelah sepanjang ratusan meter… tanpa suara.

Ci Lung membuka mata.

Tidak ada rasa terkuras.

Tidak ada meridian retak.

Tidak ada peringatan sistem.

Hanya satu kalimat kecil muncul di sudut pandangannya.

[Catatan: Teknik tidak terdaftar.]

Ci Lung tersenyum.

“Bagus.”

Jauh dari Lembah Sunyi.

Zhao Ming berdiri di tepi tebing, menatap ke arah selatan.

Aura Ci Lung yang baru saja bergerak… sampai padanya seperti getaran samar.

Dia menutup mata.

“Jadi kau berhasil,” gumamnya.

Di belakangnya, seorang kultivator bertanya hati-hati, “Haruskah kita bertindak?”

Zhao Ming membuka mata.

“Tidak.”

Angin berputar lembut di sekelilingnya.

“Sekarang dia mulai belajar berjalan sendiri.”

Dia berbalik.

“Tapi begitu dia berlari… dunia akan mulai panik.”

Di wilayah netral antara Aliansi dan Kultus, gencatan senjata mulai goyah.

Sekte Pedang Surgawi belum bergerak terbuka.

Namun langit di utara berubah warna saat malam.

Beberapa sekte kecil menghilang tanpa jejak.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada mayat.

Hanya… hilang.

Kembali ke Lembah Sunyi.

Yan Yu duduk di samping Ci Lung.

“Guru,” katanya pelan, “kau berubah.”

Ci Lung memandang tangannya sendiri.

“Ya.”

“Menjadi lebih kuat?”

Ci Lung menggeleng.

“Menjadi lebih… sunyi.”

Yan Yu tidak sepenuhnya mengerti.

Tapi dia tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya sejak perang dimulai—

Ci Lung tidak terlihat seperti orang yang sedang mengejar sesuatu.

Dia terlihat seperti orang yang akhirnya… menemukan pijakannya.

Malam semakin dalam.

Sistem muncul sekali lagi.

[Peringatan jarak jauh: Anomali energi terdeteksi di wilayah utara.]

[Kemungkinan keterlibatan Sekte Pedang Surgawi: Tinggi.]

Ci Lung membuka mata perlahan.

“Jadi mereka mulai bergerak.”

Angin malam berdesir pelan.

Layer keempat stabil.

Pedang sunyi.

Dunia di luar… mulai berubah arah.

Dan Ci Lung—

tidak lagi hanya bertahan.

Dia siap melangkah.

1
Arifinnur12
Udah aku kasih kopi tor updet yang banyak dong😄
Tio Da Vinci: Wah makasih yaaa😄
total 1 replies
Arifinnur12
Thor author up thorr up up upp tanggung banget ah, aku kasih kopi nanti biar semangat🤣👍💪
Tio Da Vinci: sabar sabar saya juga manusia😭
total 1 replies
Shelia_:3
Sumpah si ini bagus menurut aku, novelnya murim tentang ritme, tentang ketenangan yang lebih nakutin daripada perang, kebanyakan salah paham juga😭, terus buat kalian yang baca tapi kesannya monoton, tunggu sampe kalian masuk ke bab 20 an seru banget disitu Ci lung jadi op anjay😭
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠
Tio Da Vinci: Makasih yahh😊🕊
total 1 replies
Arifinnur12
Mungkin authornya lagi pusing🤣, saya udah baca yang bab 13 atau berapa tadi yan yu udah naik kultivasinya ke layer 3, terus pas baca bab 15 ini tetep di layer ke 2 atau keberapa gitu, semangat thor ceritanya bagus😄👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!