NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Malam Terakhir Di Pulau Dewata

Pagi di hari ketiga di Bali disambut dengan nuansa yang jauh lebih rapi. Koridor hotel dipenuhi oleh siswa laki-laki yang sibuk membenarkan kerah kemeja dan siswa perempuan yang tampil anggun dengan pakaian formal. Aula utama hotel telah disulap menjadi sebuah ruang runway yang megah, lengkap dengan lampu sorot yang tajam dan musik upbeat yang menghentak, menandakan dimulainya hajatan besar jurusan Busana.

Gery duduk di barisan depan bersama "Geng Bus 4". Di sampingnya, Vanya tampil cantik dengan blus formal, sementara di sisi lain, Nadia tampak segar dengan riasan tipis yang natural. Namun, perhatian Gery teralih pada Dion. Sang ketua kelas yang biasanya santai dan penuh lelucon itu tampak kaku. Ia terus-menerus membenarkan posisi duduknya, matanya tak lepas menatap tirai panggung tempat para model akan muncul.

Acara dimulai dengan spektakuler. Satu per satu siswi jurusan Busana melangkah di atas catwalk, memamerkan gaun-gaun hasil rancangan mereka yang rumit dan artistik. Decak kagum terdengar dari seluruh penjuru aula. Gery dan teman-teman perhotelan lainnya sibuk memberikan poin penilaian di lembar yang telah disediakan.

Hingga akhirnya, seorang siswi bernama Sherly muncul. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru safir dengan aksen payet yang berkilauan. Sherly melangkah dengan anggun di atas sepatu hak tinggi yang cukup ekstrem. Namun, tepat di tengah catwalk, saat ia hendak melakukan putaran, keseimbangannya goyah. Suara krek kecil dari hak sepatunya terdengar, dan dalam sekejap, Sherly jatuh tersungkur dengan posisi kaki yang terkilir parah.

Seluruh penonton terkesiap. Suasana yang tadinya riuh mendadak sunyi karena syok. Para guru baru saja hendak berdiri untuk menolong, namun sebuah bayangan melesat lebih cepat dari siapa pun.

"Sherly!"

Gery, Reno, dan Vanya membelalakkan mata. Dion sudah berada di atas panggung. Tanpa mempedulikan aturan protokol acara atau tatapan ratusan pasang mata, Dion berlutut di samping Sherly, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa. Ia membantu Sherly berdiri dengan sangat protektif, bahkan membiarkan Sherly bertumpu sepenuhnya pada bahunya saat para guru akhirnya naik untuk mengambil alih.

"Lho, Dion? Kok udah disana aja?" bisik Reno dengan mulut ternganga.

Setelah Sherly dibawa ke ruang kesehatan oleh para guru, suasana aula menjadi agak canggung. Acara tetap dilanjutkan, namun pikiran rombongan PH2 sudah tidak lagi berada di panggung. Mereka melihat Dion kembali ke barisan dengan wajah gelisah. Ia terus menatap ponselnya, kakinya bergoyang tidak sabar, dan aura kepemimpinannya yang biasanya tenang kini tampak retak oleh kekhawatiran.

Begitu sesi fashion show selesai dan para siswa diberi waktu istirahat sejenak di area lobi luar, Gery, Reno, dan Vanya langsung memojokkan Dion di sudut dekat pilar.

"Yon, lo berutang penjelasan sama kita," ucap Gery pelan namun menuntut. "Respon lo tadi... itu bukan respon ketua kelas biasa yang bantuin temen sekolah."

Dion menghela napas panjang, ia menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Oke, oke. Gue jujur. Sherly itu pacar gue. Kita udah bareng sejak kelas 2 SMP."

"APA?!" seru Vanya dan Nadia hampir bersamaan, membuat beberapa orang di sekitar menoleh.

"Sstt! Jangan kenceng-kenceng!" Dion memberi isyarat diam. "Kita emang nggak kelihatan deket di sekolah. Pas masuk semester dua ini, dia bener-bener 'ngilang' karena fokus bikin tugas karya busana ini. Kalian tahu sendiri kan, anak busana kalau udah urusan pola dan jahit bisa nggak tidur berhari-hari. Di Bali ini pun, mereka dapet jadwal padat buat persiapan fashion show, beda sama kita yang bisa asik berenang atau main ke pantai."

Reno menggeleng-gelengkan kepala. "Gila, Yon. Hebat banget lo berdua bisa nutupin serapi itu selama satu semester lebih. Jadi selama ini lo galau gara-gara dia sibuk?"

"Bukan galau, gue cuma kangen aja. Kita jarang banget punya waktu berdua belakangan ini. Dan pas tadi liat dia jatuh... gue bener-bener nggak bisa diem aja," jelas Dion, matanya mulai melunak.

Gery tersenyum kecil sambil menepuk bahu sahabatnya itu. Ia teringat betapa Dion selalu mendukungnya dengan Vanya maupun Nadia, ternyata Dion sendiri sedang berjuang menjaga hubungan jarak dekat yang terasa jauh karena kesibukan jurusan.

"Pantas aja lo tadi gelisah banget," kata Nadia lembut. "Gimana kondisinya sekarang? Udah lo tanya?"

"Lagi diurut sama guru-guru di ruang medis. Katanya terkilirnya lumayan," jawab Dion lesu.

Vanya menyenggol lengan Gery, lalu menatap Dion. "Yon, habis ini kalau ada waktu bebas, lo temenin dia aja. Biar urusan absen atau kumpul kelas, biar Gery yang handle sebagai wakil atau temen deket lo. Kita semua dukung lo kok."

Dion menatap teman-temannya satu per satu. Ada rasa syukur yang mendalam di matanya. Rahasia besar sang ketua kelas akhirnya terungkap, menambah satu lagi lapisan cerita dalam perjalanan Bus 4 di Bali. Kini, Gery sadar bahwa di balik keceriaan setiap temannya, masing-masing sedang memperjuangkan sesuatu—entah itu menyembuhkan luka seperti Vanya, menyatakan perasaan seperti Feri, atau menjaga kesetiaan dalam kesibukan seperti Dion.

Matahari Bali mulai condong ke arah barat, menyiramkan warna oranye keemasan di area parkir hotel. Para wali kelas berdiri dengan map di tangan, meniup peluit kecil untuk mengumpulkan siswa mereka masing-masing. Di barisan kelas PH2, Gery berdiri di posisi paling depan, mencoba tetap tenang meskipun ia tahu kursi kepemimpinan di sampingnya sedang kosong.

Bu Ratna, wali kelas mereka, menyisir barisan dengan pandangan tajam. "Gery, mana Dion? Ibu tidak melihat dia sejak acara fashion show tadi selesai."

Gery menarik napas pendek, menyiapkan alasan yang sudah ia susun bersama Reno tadi. "Anu, Bu... Dion sedang mendampingi Sherly dari kelas Busana di ruang medis. Kebetulan tadi orang tua Sherly menghubungi Dion lewat telepon untuk menanyakan kondisi anaknya."

Alis Bu Ratna terangkat sebelah, tampak heran. "Kenapa orang tua Sherly menghubungi Dion? Mereka kan beda jurusan, dan Ibu rasa guru pendamping Busana sudah mengabari orang tua mereka."

Gery mengangguk mantap, mencoba meyakinkan sang guru. "Dion itu teman dekat Sherly sejak SMP, Bu. Kebetulan rumah mereka juga berdekatan, bertetangga. Jadi mungkin orang tua Sherly merasa lebih nyaman bertanya langsung ke Dion untuk memastikan keadaan Sherly yang sebenarnya."

Bu Ratna terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawaban Gery. Penjelasan tentang "teman SMP" dan "tetangga" terdengar sangat masuk akal di telinganya. "Oh, begitu. Ya sudah, kalau memang tetangga. Tapi bilang ke Dion, setelah urusannya selesai harus segera melapor ke Ibu. Malam ini kita ada pengarahan terakhir sebelum besok subuh kita berangkat ke Yogyakarta."

"Baik, Bu," jawab Gery lega. Di belakangnya, Reno memberikan jempol tersembunyi sebagai tanda apresiasi atas keberhasilan Gery menutupi rahasia Dion.

Setelah urusan absen selesai, Bu Ratna tidak langsung membubarkan barisan. Ia membagikan selembar kertas fotokopi yang berisi daftar pertanyaan kepada setiap siswa.

"Anak-anak, sebelum kalian menikmati malam terakhir di Bali, Ibu ingin kalian mengisi lembar kerja ini. Ini adalah evaluasi dan refleksi selama kalian menginap di hotel bintang empat ini. Dari hari pertama table manner, observasi divisi housekeeping, hingga operasional laundry," jelas Bu Ratna. "Ibu ingin tahu apa saja pengalaman yang kalian dapatkan dan bagaimana perasaan kalian bekerja di lingkungan profesional hotel."

Rombongan PH2 segera membubarkan diri. Gery, Vanya, dan Nadia memilih duduk di sofa area lobi yang agak tenang untuk mengisi lembar kerja tersebut.

"Pertanyaan pertama: Apa kesan pertama Anda saat melihat operasional departemen housekeeping?" Vanya membacakan soal itu dengan nada malas. "Gue bakal tulis: Capek tapi seru karena bisa bikin handuk jadi angsa."

Gery tertawa sambil mulai menuliskan jawaban yang lebih serius. "Gue malah lebih tertarik sama sistem manajemennya, Van. Gimana mereka mengatur waktu pembersihan kamar supaya nggak mengganggu tamu."

Nadia yang duduk di depan mereka tampak serius menulis. "Gue suka bagian Table Manner. Ternyata etika makan itu mencerminkan kelas dan profesionalisme kita sebagai orang perhotelan."

Di tengah pengisian lembar kerja itu, Vanya menyenggol lengan Gery. "Ger, beneran deh, makasih ya udah bantuin Dion tadi. Kalau nggak, mungkin Bu Ratna bakal curiga banget."

"Santai, Van. Dion udah banyak bantu gue, sekarang giliran gue yang jaga dia," jawab Gery.

Malam terakhir di Bali terasa berbeda. Ada rasa haru yang mulai merayap karena mereka akan meninggalkan pulau ini, namun ada juga semangat baru untuk menyambut Yogyakarta. Lembar kerja di tangan mereka bukan sekadar tugas sekolah, melainkan rangkuman dari perjalanan yang telah mendewasakan mereka—baik secara ilmu perhotelan, maupun secara emosional.

Gery menatap ke luar jendela lobi, melihat bus-bus yang sudah berjejer rapi siap untuk perjalanan panjang besok. Di dalam hatinya, ia berharap di Yogyakarta nanti, cerita mereka akan tetap sehangat malam-malam di Bali.

Malam terakhir di Bali tidak boleh terbuang percuma hanya dengan menatap langit-langit kamar hotel. Setelah lembar evaluasi dikumpulkan, sebuah pesan singkat SMS berentet muncul di hp grup kecil mereka: "Pantai satu jam lagi. Last call sebelum Jogja."

Pintu lift terbuka di lantai lobi, menampakkan Gery yang berjalan diapit oleh Reno dan Feri. Reno tampak masih bersemangat meski wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan, sementara Feri berjalan dengan senyum yang tidak bisa lepas dari wajahnya sejak jadian dengan Vivi tadi malam.

Di dekat sofa besar lobi, Vanya dan Vivi sudah berdiri menunggu. Vanya mengenakan kardigan tipis di atas kaosnya, sementara Vivi tampak sedikit gugup, terus memilin ujung bajunya.

"Lho, cuma berdua? Yang lainnya mana?" tanya Reno sambil mengedarkan pandangan mencari Nadia dan yang lainnya.

"Nadia sama Yola lagi ke minimarket sebentar, katanya mau beli stok camilan buat perjalanan panjang ke Jogja besok," jawab Vanya. "Kalau Rini, biasalah, lagi 'setoran' suara lewat telepon sama pacarnya di kamar. Nggak bisa diganggu gugat kalau udah urusan asmara jarak jauh."

Reno terkekeh. "Ya sudah, kita berangkat duluan aja. Toh nanti Nadia sama Yola pasti nyusul kalau urusan logistik mereka beres."

Mereka berlima mulai melangkah keluar hotel, menyeberangi jalanan yang masih cukup ramai oleh wisatawan. Begitu kaki mereka menyentuh pasir pantai yang dingin, Vanya tanpa ragu langsung menyelinap di samping Gery dan memeluk lengan cowok itu dengan erat. Gery hanya bisa tersenyum kecil, membiarkan Vanya menjadikan lengannya sebagai sandaran.

Di sisi lain, pemandangan unik terlihat dari pasangan baru kita. Feri mencoba berjalan berdekatan dengan Vivi, namun Vivi yang masih malu-malu hanya berani memegang ujung jari Feri, seolah takut jika ada orang lain yang memperhatikan mereka. Reno yang melihat itu dari belakang hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Duh, dunia serasa milik berdua ya. Gue berasa jadi obat nyamuk paling besar di Bali malam ini," celetuk Reno, yang langsung disambut tawa oleh Gery.

Suasana pantai malam itu terasa lebih melankolis. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, membiarkan air laut yang dingin sesekali menyapu sandal mereka. Tidak ada gitar kali ini, hanya suara deburan ombak dan obrolan ringan tentang apa yang akan mereka lakukan di Yogyakarta nanti.

"Ger," panggil Vanya pelan di sela langkah mereka. "Makasih ya buat Bali ini. Gue ngerasa... beban gue jauh lebih ringan sekarang."

Gery menoleh ke arah Vanya. Di bawah temaram lampu pantai, wajah Vanya tampak tenang. "Sama-sama, Van. Kita masih punya Jogja. Semoga di sana ceritanya makin seru."

Langkah mereka terhenti saat melihat hamparan laut gelap yang luas. Mereka berdiri berjajar, menatap ke arah samudera, menyadari bahwa besok pagi kehidupan mereka akan berpindah ke atas roda bus lagi. Perjalanan Bali ini telah memberikan banyak hal: status baru bagi Feri dan Vivi, rahasia besar bagi Dion, dan sebuah "kontrak" perlindungan bagi Gery dan Vanya.

Saat mereka sedang asik menikmati angin malam, dari kejauhan terlihat dua sosok berlari kecil membawa kantong kresek besar. Itu Nadia dan Yola.

"Woi! Tungguin! Camilannya udah siap nih!" teriak Nadia sambil melambaikan tangan.

Gery menatap Nadia yang berlari mendekat. Di balik status barunya dengan Vanya, melihat Nadia baik-baik saja dan tetap ceria selalu memberikan rasa tenang tersendiri di hatinya. Malam terakhir di Bali ditutup dengan tawa sembilan orang sahabat yang kembali berkumpul, siap untuk menyongsong petualangan baru di tanah Jawa.

Suasana di pesisir pantai Kuta malam itu sudah cukup meriah dengan kehadiran rombongan Nadia dan Yola yang membawa "bekal" camilan. Reno kembali memetik gitarnya, memainkan lagu-lagu santai yang mengiringi canda tawa mereka. Namun, perhatian mereka teralihkan ketika dua bayangan muncul dari arah lampu jalanan hotel.

Seketika, petikan gitar Reno melambat. Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang berjalan dengan langkah hati-hati, membopoh seorang gadis yang kaki kanannya tampak dibalut perban tipis.

"Woi! Sang pahlawan akhirnya muncul!" seru Reno sambil berdiri, meletakkan gitarnya di atas pasir.

Dion tersenyum lebar meski keringat tampak membasahi dahinya karena harus menahan beban Sherly. Sherly sendiri tampak malu-malu, ia tersenyum tipis ke arah teman-teman PH2 yang kini sudah tahu rahasianya.

"Sori telat, tadi nunggu kakinya Sherly beneran enakan dulu baru gue ajak ke sini," ujar Dion sambil perlahan menurunkan Sherly untuk duduk di lingkaran pasir.

Vanya dan Nadia segera bergeser, memberikan ruang terbaik agar Sherly bisa meluruskan kakinya dengan nyaman. "Gimana kondisinya, Sher? Masih sakit banget?" tanya Nadia penuh perhatian.

"Udah mendingan kok, Nad. Tadi udah diurut sama Bu Guru dan dikasih obat antinyeri. Cuma emang belum boleh buat tumpuan berat dulu," jawab Sherly lembut. Ia melirik Dion dengan tatapan penuh terima kasih yang sangat dalam, sebuah tatapan yang menjelaskan segalanya tentang hubungan mereka yang selama ini tersembunyi.

Kehadiran Dion dan Sherly seolah menjadi kepingan terakhir yang melengkapi malam perpisahan mereka di Bali. Kini, lingkaran itu terasa sempurna. Ada Gery dan Vanya dengan status "kontrak" uniknya, Feri dan Vivi yang baru saja mekar, Dion dan Sherly yang akhirnya bisa "go public" di depan sahabat terdekat, serta Reno, Nadia, Yola, dan Rini yang menjadi pendukung setia.

Reno kembali memetik gitarnya, kali ini dengan tempo yang lebih semangat. "Oke, karena personel udah lengkap, lagu ini buat pasangan-pasangan yang ada di sini, dan buat kita yang bakal ninggalin Bali besok!"

Mereka bernyanyi bersama, suara mereka bersahutan dengan deburan ombak. Di tengah nyanyian, Gery memperhatikan sekelilingnya. Ia melihat Vanya yang bersandar di bahunya, Dion yang sesekali membetulkan posisi duduk Sherly, dan Feri yang masih tampak canggung namun bahagia di samping Vivi.

Gery merasa, inilah momen paling jujur dalam perjalanan mereka. Di atas pasir pantai Bali, tidak ada lagi sekat antar jurusan atau rahasia yang membebani. Mereka hanya sekumpulan remaja yang sedang menciptakan memori untuk dibawa pulang.

"Besok di bus, kita bakal tepar semua nih," celetuk Yola sambil mengunyah keripik singkong, yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

"Nggak apa-apa, yang penting malam ini kita puas-puasin," sahut Gery.

Malam semakin larut, namun energi mereka seolah tak habis. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel karena sadar bahwa beberapa jam lagi mereka harus check-out. Mereka berjalan beriringan meninggalkan pantai, dengan Dion yang kembali membopoh Sherly dengan penuh kesabaran.

Bali resmi memberikan salam perpisahan yang manis melalui kebersamaan ini. Esok fajar menyingsing, dan bus akan membawa mereka menyeberangi selat kembali, menuju tanah Jawa yang sudah menanti dengan cerita Jogja-nya.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!