Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anda Merasa?
Mendengar nama Ella dan Aisha disebut, wajah Agus justru semakin mengeras. Bukannya rasa iba yang muncul, melainkan kilat kebencian yang makin nyata. Bagi Agus, anak-anaknya kini hanyalah pengingat akan masa sulit yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Jangan bawa-bawa anak sebagai tameng, Karina! Mereka sudah besar, mereka akan mengerti bahwa ayahnya butuh kebahagiaan," ucap Agus.
Tepat saat itu, pintu kamar di lantai bawah terbuka. Ibu Ratmi melangkah keluar dengan daster sutra mahalnya, wajahnya yang penuh keriput namun dipoles kosmetik mahal itu tampak dingin dan rupanya sejak tadi menguping di balik pintu.
"Agus benar, Karina. Seorang istri yang baik itu tahu kapan harus mundur, amu sudah terlalu lama mendominasi rumah ini. Anak-anak? Biar mereka ikut kamu saja, aku juga sudah bosan melihat wajah mereka yang selalu membela kamu dan menjadi pembangkang," ucap Ibu Ratmi.
Karina menoleh tak percaya ketika mendengar perkataan mertuanya itu, "Ibu? Ibu mau mengusir cucu Ibu sendiri?" tanya Karina.
"Cucu? Aku butuh cucu laki-laki untuk meneruskan nama keluarga dan kejayaan Agus, bukan dua anak perempuan yang hanya bisa menghabiskan uang untuk les dan belanja," ucap Ibu Ratmi.
"Ibu jahat banget, Ella dan Aisha itu cucu kandung Ibu," ucap Karina.
"Sudah diam, mukai hari ini kamu bukan lagi istriku Karina. Aku ingin bercerai darimu, sekarang kamu ambil barang-barangmu dan pergi dari rumah ini bersama ella dan Aisha," usir Agus.
"Mas, kalau aku sama anak-anak pergi. Kita mau tinggal dimana?" tanya Karina.
"Itu urusanmu. bukan urusanku," jawab Agus lalu pergi meninggalkan Karina.
Suasana di ruang tengah semakin mencekam, kata-kata Agus yang melepaskan tanggung jawab atas tempat tinggal anak kandungnya sendiri bagaikan palu gada yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran Karina. Namun, sebelum Karina sempat membalas, sebuah suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga.
Ella dan Aisha berdiri di sana, wajah mereka pucat, namun mata mereka menyala dengan amarah yang luar biasa. Rupanya, mereka tidak benar-benar masuk ke kamar, mereka berdiri di balik pilar lantai dua, merekam dan mendengarkan setiap kalimat berbisa yang keluar dari mulut Ayah dan Nenek mereka.
"Ma, ayo pergi. Ella juga nggak mau tinggal disini," ucap Ella.
"Ella, Aisha? Kalian...," pertanyaan Karina terhenti karena ragu untuk menanyakannya.
"Ella sama Aisha mendengar semuanya Ma. Kita pergi saja," ucap Ella.
Karina melihat genggaman tangan Ella dan Aisha yang begitu kuat di lengannya, gemetar di tubuh kedua putrinya bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena gejolak amarah dan kekecewaan yang telah mencapai puncaknya.
Di hadapan Ella dan Aisha, Agus bahkan tidak sudi menoleh, ia justru sibuk menuangkan sampanye ke dalam gelas, seolah-olah pengusiran istri dan anak-anaknya adalah sebuah seremoni kemenangan.
"Bagus kalau kalian sudah sadar diri, sejarang pergi dan bawa semua barang-barang kalian yang tidak berguna itu. Jangan sampai ada sampah yang tertinggal di rumah mewah ini," ucap Ibu Ratmi.
"Tapi, diluar hujan deras...," ucap Karina yang masih ragu untuk meninggalkan rumah tersebut.
"Terus?" tanya Ibu Ratmi dengan begitu angkuh.
"Aku akan pergi hari ini, tapi untuk Ella dan Aisha. Apakah tidak bisa mereka berada disini dulu, besok aku akan menjemput mereka," ucap Karina.
"Hujan itu hanya air, jangan manja," ucap Agus.
"Mas...," protes Karina, namun belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Ella bersuara.
"Baik, kita pergi sekarang. Ayo, Ma," ajak Ella.
"Sayang," Karina tidak tega jika kedua putrinya basah karena hujan.
"Ella sama Aisha gapapa, Ma. Justru kalau ada disini, yang ada Ella sama Aisha gila, karena harus menghadapi dua hewan nggak tahu diri," ucap Ella.
"Apa kamu bilang!" bentak Ibu Ratmi.
"Anda merasa? bagus deh," ucap Ella.
"Sudah-sudah, jangan drama. Kalian cepat pergi," usir Agus.
Karina terdiam sesaat dan menatap wajah kedua putrinya yang tampak jauh lebih dewasa dari usia mereka yang sebenarnya. Kata-kata Ella yang menyebut ayah dan neneknya sebagai hewan bukanlah cerminan kurang ajar, melainkan sebuah bentuk pertahanan diri dari hati yang sudah hancur berkeping-keping.
"Ayo, Ma. Jangan memohon pada orang yang sudah kehilangan kemanusiaannya," ucap Aisha, dengan suaranya yang dingin dan datar, sembari menarik tangan Karina menuju pintu besar yang selama dua puluh tahun ini ia jaga kebersihannya dengan penuh kasih sayang.
Agus hanya mendengus dan menyesap sampanyenya dengan tenang, karena ia berhasil mengusir Karina dan kedua anaknya.
Setelah mengambil barang-barangnya, Karina, Ella dan Aisha melangkah keluar. Begitu pintu jati besar itu tertutup di belakang mereka, suara kunci diputar terdengar dengan keras dari dalam dan mereka benar-benar terkunci di luar.
Hujan badai menghantam tubuh mereka seketika dan dalam hitungan detik, pakaian mereka basah kuyup. Ella dan Aisha menggigil, namun mereka tetap berdiri tegak mengapit ibu mereka di teras rumah yang luas itu.
"Tunggu di sini, Mama akan ambil mobil," kata Karina dengan suara bergetar.
Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju garasi, lampu sensor di sana mati. Tak lama kemudian, sopir pribadi Agus yaitu Pak Anwar keluar dengan wajah serba salah.
"Mohon maaf, Bu Karina... Bapak sudah memerintahkan saya untuk mengunci semua mobil. Bapak bilang, semua kendaraan di rumah ini adalah aset perusahaan dan Ibu tidak diizinkan membawanya," ucap Pak Anwar dengan kepala tertunduk, tak berani menatap mata Karina yang selama ini selalu bersikap baik kepadanya.
'Bahkan untuk sebuah mobil keluarga yang biasa aku gunakan mengantar jemput anak-anak... kamu setega itu sama aku dan anak-anak, Mas,' batin Karina.
"Tidak apa-apa, Pak Anwar. Saya mengerti," jawab Karina tenang.
Karina lalu menoleh pada putri-putrinya, "Kita jalan sampai gerbang depan, terus kita cari taksi di luar ya," ucap Karina, diangguki Ella dan Aisha.
Mereka bertiga berjalan di bawah guyuran hujan lebat, menyeret koper-koper kecil yang sempat mereka kemas terburu-buru. Air hujan menyamarkan air mata yang mengalir di pipi Karina, setiap langkah yang ia ambil di atas jalanan aspal kompleks mewah itu terasa seperti melepas satu per satu beban yang selama dua puluh tahun ini ia pikul.
Dahulu, ia meninggalkan kemewahan Grup Wijaya untuk hidup di gang sempit bersama Agus. Sekarang, ia diusir dari kemewahan yang ia bangun sendiri oleh pria yang sama.
Langkah kaki mereka terasa berat karena sepatu yang terendam air, namun tekad di hati Karina justru semakin mengeras seiring dengan dinginnya air hujan yang menusuk tulang. Di sampingnya, Ella dan Aisha saling merangkul, berusaha melindungi satu sama lain dari terpaan angin kencang.
Mereka bukan lagi anak-anak kecil yang butuh dongeng sebelum tidur, mereka adalah dua gadis yang baru saja menyaksikan bagaimana dunia bisa menjadi begitu kejam dalam semalam.
.
.
.
Bersambung.....