17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frekuensi Bajakan
Selasa, 20 Agustus 1996.
Pukul 13:00 WIB.
Siang di Bandung sedang terik-teriknya.
Rumah besar keluarga Lian sunyi senyap seperti mausoleum (kuburan besar).
Ayah bekerja. Ibu mungkin sedang arisan atau belanja—menghindari anaknya yang dianggap "aib" di rumah. Dinda masih sekolah.
Lian terbaring di kasurnya. Dia memakai kaos oblong belel yang sudah bolong di ketiak. Matanya menatap putaran kipas angin gantung di langit-langit kamar.
Wuzzz... wuzzz... wuzzz...
Dia sedang di-skorsing.
Harusnya, bagi remaja normal, skorsing adalah liburan tak resmi. Waktunya main Sega, baca komik, atau tidur seharian.
Tapi bagi Lian, skorsing ini adalah siksaan. Ini memberinya terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Dan berpikir adalah musuh terbesarnya.
Pikiran itu menjalar seperti lumut di kepalanya:
'Apa yang terjadi kalau gue nggak bisa nyelametin Kara?'
'Apa semua yang gue alami di loop itu nyata?'
'Apa gue beneran gila?'
Lian menatap botol obat di meja belajarnya. Obat antidepresan yang sudah berdebu. Riko benar, dia sudah lama tidak meminumnya.
Klontang!
Sebuah bunyi keras mengejutkan Lian. Seperti ada kerikil yang dilempar ke kaca jendela kamarnya di lantai dua.
Lian tidak bergerak. Mungkin cuma burung atau angin.
Klontang! Duk!
Kali ini lebih keras. Ada batu yang mengenai teralis besi.
Lian bangun dengan malas. Dia menyeret langkahnya ke jendela, menyibakkan gorden sedikit.
Di bawah sana, di halaman samping yang tertutup pohon mangga rimbun, sesosok manusia sedang melambaikan tangan seperti orang tenggelam.
Seragam putih abu-abu yang dikeluarkan. Tas ransel dicangklong sebelah bahu. Rambut acak-acakan.
Riko.
"Woy!" bisik Riko keras (stage whisper) sambil memberi isyarat tangan. "Buka woy!"
Lian ternganga. "Rik? Ngapain lo di sini?"
Dia buru-buru membuka kunci jendela (gerendel), lalu mendorong kaca nako itu terbuka.
"Minggir! Gue mau manjat!"
Sebelum Lian sempat melarang, Riko sudah melompat lincah ke dahan pohon mangga. Dengan keahlian seperti monyet terlatih—hasil dari seringnya mereka kabur jajan bakso lewat tembok belakang sekolah dulu—Riko merayap ke arah balkon kamar Lian.
Dalam hitungan detik, Riko sudah mendarat di lantai kamar Lian dengan bunyi Gedebuk.
"Hhh... gila. Pohon mangga lo banyak semut rangrangnya," keluh Riko sambil menepuk-nepuk celananya yang dikerubungi semut merah. "Sakit, woy."
Lian menatap sahabatnya tak percaya. Ada rasa hangat yang menjalar di dada kirinya.
"Lo bolos?"
"Ya iyalah! Ngapain gue sekolah kalo Ketuanya nggak ada?" cengir Riko lebar. Dia melempar tas ranselnya ke kasur Lian.
"Gue bawain 'logistik' buat tahanan politik."
Riko membuka tasnya.
Isinya: Dua bungkus nasi padang, tiga komik Dragon Ball volume terbaru, satu pak rokok Marlboro (selundupan), dan majalah Hai.
"Bonyok lo nggak ada, kan?" tanya Riko memastikan.
"Kosong."
"Mantap. Ayo makan. Gue laper berat abis dikejar Satpam gara-gara manjat pager belakang."
...----------------...
Mereka duduk bersila di lantai kamar. Makan nasi padang pakai tangan.
Bagi Lian, ini adalah momen paling normal yang dia rasakan selama berhari-hari. Bau rendang, suara kunyahan Riko, asap rokok tipis yang mereka hembuskan ke luar jendela supaya tidak bau apek.
"Sekolah gimana?" tanya Lian setelah nasi padangnya habis separuh.
Riko mengunyah lambat. Ekspresinya berubah serius.
"Kacau, Yan. Lo jadi trending topic."
"Versi resminya: Lo ngalamin kelelahan akut (nervous breakdown) gara-gara tekanan jadi Ketua OSIS. Orang-orang pada simpati sih, sebenernya. Banyak yang nitip salam. Nih," Riko mengeluarkan segepok surat lipat-lipat kertas binder dari tasnya. "Surat fans. Dari adek kelas."
Lian mendorong surat-surat itu menjauh. Dia tidak peduli.
"Kara?" tanya Lian. Satu kata itu yang paling penting.
Riko berhenti makan. Dia meneguk es teh plastiknya lama.
"Nah, itu masalahnya. Versi Kara beda."
"Guru-guru bilang Kara itu 'penyebabnya'. Ada gosip dia ngajarin lo ajaran sesat lah, makein lo guna-guna lah. Pokoknya dia dikambinghitamkan abis-abisan sama sekolah. Biar nama baik lo—si siswa emas—tetep bersih."
Lian meremas bungkus nasi padangnya sampai remuk.
"Brengsek."
"Itu fitnah, Rik. Kara justru yang nyelametin gue. Kalau nggak ada dia, gue udah..."
Lian menggantung kalimatnya.
"Udah mati?" sambung Riko tenang.
Lian menoleh kaget.
Riko menatap Lian lurus. Tidak ada nada bercanda.
"Gue liat mata lo, Yan. Pas di UKS kemarin. Dan pas di lapangan itu. Itu bukan tatapan orang stress. Itu tatapan orang yang ngeliat sesuatu yang nggak bisa gue liat."
Riko mengambil kamera Nikon FM2-nya dari tas. Meletakkannya di antara mereka.
"Dan lo tau yang aneh? Roll film di dalem kamera gue..."
Riko menunjuk kamera itu.
"...kosong. Terbakar habis (fogging). Padahal gue baru pasang film baru Minggu malem."
Jantung Lian berdegup. Efek cahaya di "Dunia Mimpi" itu nyata.
"Gue nggak tau lo ngapain sama kamera gue," lanjut Riko pelan. "Tapi kalo lo bilang Kara nyelametin lo... gue percaya."
Lian menunduk, matanya panas.
Akhirnya. Satu orang percaya. Tanpa butuh bukti kaset. Tanpa butuh sihir. Cuma modal kepercayaan sahabat.
"Makasih, Rik," suara Lian serak.
"Jangan makasih dulu," potong Riko. "Ada berita buruk."
Lian mendongak.
"Tadi pagi gue cabut ke rumah Kara. Niatnya mau nyampein salam lo, kali aja dia butuh temen."
"Rumahnya kayak benteng, Yan. Pager digembok. Mobil Ayahnya nutupin jalan. Gue coba nanya satpam komplek."
Riko menarik napas panjang.
"Mereka lagi packing. Kardus-kardus diangkut ke mobil pickup. Satpam bilang, Kara mau dibawa ke rumah neneknya di Tasikmalaya."
"Besok pagi. Subuh."
BESOK.
Dunia Lian seakan runtuh lagi.
"Tasik?" Lian berdiri. "Itu jauh banget, Rik. Kalau dia pergi ke sana... komunikasi putus. Nggak ada telepon. Surat bakal disensor ortunya."
Lian mondar-mandir di kamarnya seperti binatang dikurung.
"Gue harus ke sana. Gue harus cegah dia pergi."
"Pake apa? Sapu terbang?" Riko menunjuk kaki Lian yang masih diperban. "Motor lo disita. Kunci mobil bokap lo disimpen di brankas. Lo keluar pager dikit, tetangga langsung lapor bonyok lo."
"Gue bisa jalan kaki! Gue lari!"
"Ke Cikutra? Pincang gitu? Sampe sana keburu dia berangkat."
Riko menggeleng. "Lagian, di depan rumahnya ada Bapaknya yang lagi standby bawa pentungan satpam. Lo mau mati konyol?"
Lian meninju tembok. "Terus gue harus diem aja?! Nunggu dia ilang lagi?!"
Riko diam sejenak, menatap Lian yang putus asa.
Lalu, perlahan, senyum miring khas Riko muncul di wajahnya.
"Siapa bilang diem aja?"
Riko merogoh saku celana abu-abunya.
Mengeluarkan sebuah benda kecil. Persegi panjang. Hitam.
Sebuah Pager (Radio Panggil) merk Motorola.
"Lo inget kan, gue baru beli ginian minggu lalu dari duit hasil jual foto?"
Lian mengangguk. Benda itu tren baru anak orang kaya.
"Tadi... pas gue ngintip dari pager rumah Kara..." Riko bercerita dengan mata berbinar bangga. "...gue liat jendela kamarnya kebuka dikit. Gue nggak bisa masuk, tapi gue bisa lempar sesuatu."
Riko mengeluarkan secarik kertas resi.
"Gue lempar Pager gue, Yan. Masuk pas ke kamarnya. Gue bungkus pake kaos kaki bau gue biar nggak pecah."
Lian terbelalak. "Lo... lo kasih Pager lo ke Kara?"
"Yep. Gue korbannya Pager mahal gue demi cinta lo yang complicated itu. Harusnya lo bersyukur punya temen sejenius gue."
Riko menunjuk telepon rumah di meja belajar Lian (yang sudah dicabut kabelnya oleh Ayah Lian, tapi Riko sudah menyambungnya lagi diam-diam saat Lian tidak sadar).
"Nomor ID pagernya ada di situ," Riko menunjuk kertas. "Lo bisa kirim pesen ke dia. Satu arah emang, tapi dia bisa baca."
"Dan kalau dia pinter... dia bisa cari wartel terdekat buat nelpon balik ke nomor pager ini, terus operator bakal bacain pesen dia ke lo."
Lian menyambar kertas ID itu. Tangannya gemetar.
Ini dia.
Frekuensi Bajakan.
Lian menyambungkan kembali kabel telepon rumahnya ke soket dinding dengan cepat.
Tuuuuut. Nada sambung hidup.
"Rik..." Lian menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Gue sayang sama lo, anjir. No homo."
"Iyalah, siapa lagi yang mau nolongin cowok cengeng kayak lo," Riko tertawa, lalu berdiri dan menepuk debu dari celananya.
"Udah, buruan pesen. Gue jaga di pintu, takut bonyok lo pulang."
Lian mengangkat gagang telepon. Menghubungi operator paging.
Jantungnya berpacu lebih cepat dari saat dikejar monster.
"Selamat siang, Citra Page. Ada pesan yang ingin disampaikan?" suara operator wanita terdengar di ujung telepon.
"Iya, Mbak. Ke nomor ID 4040. Atas nama..." Lian berpikir sejenak. Jangan pakai nama asli. Ayahnya Kara mungkin baca.
"...atas nama Side B."
"Baik. Isi pesannya?"
Lian menarik napas. Dia harus singkat, padat, dan menyakitkan.
"Pesannya: Jangan pergi. Temui aku di Stasiun Lama jam 10 malam ini. Kita lari."
Hening sejenak.
"Sudah, Mas?" tanya operator itu, suaranya terdengar kaget dengan isi pesan nekat itu.
"Sudah, Mbak. Kirim sekarang. Penting."
Telepon ditutup.
Pesan terkirim. Mengudara lewat satelit, menembus tembok rumah Kara, masuk ke benda kecil yang (semoga) ada di tangan gadis itu sekarang.
Riko bersiul pelan dari ambang pintu. "Jam 10 malem? Stasiun Lama? Lo mau ngajak anak gadis orang kabur interlocal?"
Lian menatap Riko tajam.
"Tasik itu jauh, Rik. Kalau dia pergi, dia nggak bakal balik. Gue bakal bawa dia pergi. Sebentar aja. Gue mau pastiin dia... sembuh."
"Terus lo? Lo pincang, nggak punya duit, nggak punya kendaraan."
"Gue punya lo," tembak Lian.
Riko melongo. "Sialan. Gue lagi."
Tapi sedetik kemudian, Riko nyengir. "Oke. Motor gue tangkinya penuh. Gue yang nyetir."
"Tapi lo harus siap. Ini bukan cuma ngelanggar aturan sekolah. Ini pidana penculikan anak di bawah umur kalau ketahuan."
Lian tidak peduli.
"Dia bukan anak di bawah umur, Rik. Dia... satu-satunya orang dewasa di dunia anak-anak ini."
Riko menghela napas pasrah, tapi dia terlihat bersemangat. Petualangan.
"Oke, Bos. Jam 10 malem. Gue tunggu di gang belakang. Jangan telat."