NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Sang Mafia

Istri Kesayangan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mafia / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Mar Dani

Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.

Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.

Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.

Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.

Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.

Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kini Nabila telah selesai di kamar mandi dan keluar. Dia melihat Reynaldo sedang asik duduk di atas ranjang sambil memegang ponselnya.

"Reynaldo aku ingin pulang!" ucap Nabila dengan nada sinis.

"Kau sudah memikirkan perjanjiannya?" tanya Reynaldo.

"Aku tak ingin menikah!!" jawab Nabila tegas.

"Aku tidak menerima penolakan!!"

"Aku tidak suka dipaksa!"

"Kau harus mau.."

"Tidak aku tidak mau!"

"Baiklah, kau tidak mau berarti kau tak bisa keluar dari Istana Mahkota Perak ini!!"

"Haaa??! Tidak, aku mau pergii!" ucap Nabila berjalan cepat ke pintu kamar, tapi lagi-lagi pintu terkunci secara otomatis.

"Kau tak akan bisaaa pergii dari sini!" "Aku mauu pulangg! Aku tak ingin disini.." teriak Nabila meraung-raung.

"Kau cukup menjadi istri kontrakku – mengapa itu sulit bagimu? Diluar sana banyak yang mau jadi istriku!"

"Yasudah cari yang lain saja, aku tak mau!"

"Kau harus mau!!"

"Tidak!!"

"Baiklah kau tak mau, jangan harap kau bisa bekerja lagi di tempatmu sekarang, dan aku akan meminta seluruh tempat kerja di Kota Perak agar tidak menerimamu!! Aku akan terus mengganggumu sampai kau mau menikah denganku!" ucap Reynaldo dengan tatapan tajam.

Nabila yang mendapat tatapan itu bukannya takut, malah menatap balik dengan sama tajamnya.

"Tuan Reynaldo Wijaya Mahkota yang palinggg baikk – aku tak ingin menikah denganmuu!!" pekiknya dengan suara keras.

"Okeee baiklah, kau boleh pergi!!" ucap Reynaldo yang kini membuka pintu kamar dan membiarkan Nabila keluar.

Nabila langsung berlari cepat untuk keluar dari istana itu, sementara Reynaldo mengikuti langkahnya dari belakang.

Nabila menyusuri koridor istana yang sangat luas.

"Kalo bangun istana jangan terlalu besar dong, mau sampai gerbang aja capek..!" gumamnya dalam hati sambil berlari. Banyak pengawal dan pelayan yang melihatnya dengan heran – waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi Nabila tetap ingin pergi.

Saat sampai di gerbang istana yang besar, langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat jalanan yang sangat gelap dan sepi.

"Mengapa tidak keluar??" suara bariton Reynaldo terdengar dari belakang.

"Gelap.." ucap Nabila dengan suara sendu – bagaimanapun juga dia memiliki phobia kegelapan. "Antar aku pulang.." lirihnya pelan.

"Pergi saja sendiri!"

"Kauu!! Apa seperti itu caramu menghadapi perempuan!!" teriak Nabila.

"Kau yang minta keluar, yasudah keluar saja!!" ucap Reynaldo dengan nada sinis.

"Okeehh aku akan keluar!!" ucap Nabila lalu berjalan keluar dari gerbang istana.

Dia menyusuri jalanan dengan menguatkan diri agar bisa sampai rumah.

"Dasarr pria anehh!!"

"Ahhhh Tuhan, mengapa akhir-akhir ini aku selalu sialll!"

"Ahhkk bangsatt!!" celoteh Nabila kesal sepanjang jalan – tidak menyangka Reynaldo benar-benar membiarkannya pulang dengan berjalan kaki.

Tanpa dia ketahui, Reynaldo sebenarnya mengikuti pergerakannya dari balik mobilnya. Rumah Nabila cukup jauh dari istana mewah itu, dan Reynaldo ingin memastikan keselamatannya. Malam hari memang bukan waktu yang baik bagi seorang wanita sendirian.

Tiba-tiba, dua orang preman yang tampak sangat mabuk menghalangi jalannya.

Nabila mencoba tetap tenang dan berjalan lebih cepat untuk menghindarinya.

"Haaaiii cantiikkk mau kemana jam segini.." ucap salah satu preman sambil mendekatinya. Nabila mengabaikannya, tapi preman itu langsung memeluknya erat.

"Kemarilah sayang, kita akan bersenang-senang malam ini" ucap preman itu sambil memeluk pinggangnya.

"Lepass.. lepaskan aku bangsatt!!" ucap Nabila meronta-ronta.

"Diamlah, kita akan menghabiskan waktu bersama" ucap preman itu menyentuh dagunya.

"Lepasskannn!!!" Nabila memukul perut preman itu dengan kekuatan penuh hingga dia terlepas. Tapi salah satu preman menarik lengan bajunya hingga sobek, membuat kulit putihnya terlihat jelas. Nabila cepat menutupi bagian yang terbuka dan mencoba lari, tapi preman itu kembali menarik tubuhnya. Keadaannya sangat buruk – air matanya sudah menetes dan rasa takut melanda seluruh tubuhnya.

Saat tangan pria itu hampir menyakitinya, tiba-tiba Reynaldo datang seperti penyelamat. Dia menarik preman itu dengan satu tangan, kemudian melemparkannya dengan keras. Belum lagi, dia menendang tubuh preman yang sedang memeluk Nabila hingga terpental jauh.

Nabila langsung berlari ke arah Reynaldo dan memeluknya erat-erat. Reynaldo merasakan tubuhnya yang bergetar hebat karena ketakutan.

"Ahhkk bangsatt!!" ucap preman itu kesakitan.

"Urus mereka!!" perintah Reynaldo kepada pengawalnya yang baru saja datang.

Reynaldo membawa Nabila masuk ke dalam mobilnya, meletakkan dia di sebelahnya, kemudian mengemudikan mobil pergi dari situ. Dia menatap Nabila yang masih terinsaf karena kejadian itu.

"Tenanglah, kau aman bersamaku!!" ucap Reynaldo lembut. Nabila hanya terdiam dan menatap kosong ke arah depan.

Saat sampai di istana, Nabila masih tidak mau bergerak seperti patung. Akhirnya Reynaldo harus menggendongnya dengan gaya bridal style dan membawanya ke kamar tamu yang pernah dia tempati. Dia menyuruh pelayan untuk mengurus kebutuhan Nabila, kemudian pergi meninggalkannya.

Reynaldo melangkah ke ruang kerjanya, memijit pelipisnya sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba asisten pribadinya masuk tergesa-gesa.

"Bos!! Wilayah kita di pinggiran Kota Perak diserang.." ucap asisten itu.

"Ahhkk bangsatt!" ucap Reynaldo marah mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, dia segera berangkat ke lokasi yang diserang oleh gengster – ini sudah menjadi bagian dari kehidupannya yang biasa dia jalani.

Kini sinar matahari menyinari Istana Mahkota Perak. Nabila yang tertidur lelap akhirnya terbangun.

"Nyonya sudah bangun..?" ucap salah satu pelayan dengan sopan.

Nabila mencoba menyadarkan diri dan melihat sekeliling – dia tahu betul ruangan ini. Saat mengingat kejadian kemarin, air matanya menetes – andai saja Reynaldo telat datang, mungkin kehidupannya akan berbeda.

"Aku ingin pulang..!" ucap Nabila dengan nada sinis.

"Maaf nyonya, bukannya hari ini nyonya ada ujian akhir di sekolah..? Tuan mengatakan agar kami membantu nyonya bersiap-siap, dan ini seragam sekolahnya.." ucap pelayan itu sambil memberikan baju seragamnya.

"Astaga aku lupa.." pekik Nabila panik – dia benar-benar terlupakan hari ini ada ujian akhir SMA.

"Dimana kamar mandi..?" tanyanya dengan tergesa-gesa seolah lupa tempatnya.

"Disana nyonya, ayo kami bantu.."

"Tidak perlu, aku bisa mandi sendiri.."

"Tapi nyonya.."

"Diamlah, aku tidak biasa mandi ditemani orang lain.." ucap Nabila tegas sambil berjalan cepat ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, dia keluar dengan menggunakan handuk kimono dan mengambil seragam sekolahnya.

Nabila terkejut dan heran – bagaimana bisa Reynaldo mengetahui sekolahnya.

"Aku lupa dia punya kekuasaan dan uang yang cukup untuk mencari tahu informasi tentang diriku!" celotehnya dalam hati.

"Nyonya, tidak ingin merias wajah??" ucap pelayan itu lembut.

"Tidak perlu, aku tidak biasa pakai makeup ke sekolah..!" ucap Nabila santai.

"Nyonya sangat cantik, meskipun tanpa makeup tetap terlihat sangat cantik.." puji pelayan itu.

"Kau sedang memujiku??" tanya Nabila menatapnya.

"Kami hanya mengatakan yang sebenarnya, nyonya.."

"Baiklah terimakasih! Tapi aku rasa aku tidak terlalu cantik.." ucap Nabila sambil menatap wajahnya di cermin.

Tokk...tokkk...tokkk.

"Masukkk.." teriak Nabila saat ada yang mengetuk pintu.

"Nyonya, ini sarapan anda.." ucap pelayan lain membawa roti panggang, sandwich, dan susu putih untuk sarapan pagi.

"Mengapa kalian repot-repot? Aku biasanya sarapan di sekolah saja..!" ucap Nabila merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang begitu baik.

"Tidak nyonya, kami hanya mengikuti perintah tuan Reynaldo.."

"Dia terlalu berlebihan, tapi terimakasih ya untuk ini" ucap Nabila dengan senyuman manis.

Sejak kemarin malam, perutnya memang belum terisi apa-apa, jadi dia memutuskan untuk menerima sarapan itu. Setelah pelayan pergi, Nabila mulai makan sandwich dan roti panggang.

"Reynaldo dimana??" tanya Nabila kepada pelayan yang ada di kamar.

"Hahh...?" para pelayan terkejut mendengarnya memanggil dengan nama Reynaldo – selama ini, hanya orang terdekat saja yang boleh memanggilnya dengan nama itu, karena panggilan khusus hanya untuk nyonya besar istana dulu.

"Mengapa kau terkejut..?"

"Tidak apa-apa nyonya.."

"Dimana pria menyebalkan itu??"

"Tuan Reynaldo sudah berangkat sejak pukul 4 pagi tadi, nyonya.."

"Dia bekerja sedini itu?"

"Tuan jarang menghabiskan waktu lama di sini, nyonya. Biasanya dia kembali hanya sebentar lalu pergi lagi – kami sudah terbiasa dengan itu" ucap pelayan itu menjelaskan.

"Ohhh pantas dia kaya.." lirih Nabila pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!