Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEWUJUDKAN YANG TAK PERNAH SAMPAI
Langkah mereka membawa mereka masuk ke sebuah toko buku tua yang terjepit di antara deretan bangunan kolonial. Aroma kertas lama, lem, dan debu yang khas langsung menyapa indra penciuman Arunika. Di dalamnya, rak-rak kayu yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit penuh sesak dengan ribuan judul, mulai dari sastra klasik hingga novel-novel remaja yang sampulnya sudah memudar.
Arunika berjalan menyusuri lorong sempit, jari-jarinya menyentuh punggung buku satu per satu. Di sampingnya, Senja berjalan dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika ia menyenggol satu buku saja, ia akan mengganggu keheningan ribuan cerita yang tersimpan di sana. Senja menatap rak-rak itu dengan wajah serius, matanya yang redup bergerak lincah mencari judul yang mungkin mendeskripsikan dirinya—seorang pria tanpa bayangan, sebuah janji di halte, atau tragedi di Braga.
Setelah hampir setengah jam memutari bagian fiksi, Arunika akhirnya berhenti. Ia menghela napas panjang dan menoleh ke arah Senja yang masih tampak tegang mencari "identitas"-nya di antara barisan kata-kata.
"Gaada soal kamu, geer ya kamu," ucap Arunika tiba-tiba, memecah kesunyian di antara mereka.
Senja tertegun, lalu menoleh dengan wajah bingung yang terlihat sangat manusiawi. "Masa nggak ada? Kamu sudah cek bagian misteri? Atau mungkin... bagian sejarah?"
Arunika justru tertawa kecil, suara tawanya memantul lembut di antara rak-rak buku. "Aku sudah cek semuanya, Senja. Nggak ada novel tentang pria aneh yang hobi duduk di halte bus sambil nunggu janji yang dia sendiri lupa. Ternyata kamu bukan tokoh fiksi yang keluar dari buku, kamu cuma pria yang kebanyakan imajinasi."
Mendengar itu, pertahanan Senja runtuh. Ia yang tadinya tampak begitu terbebani oleh pemikiran filosofis tentang eksistensinya, kini ikut tertawa. Tawanya terdengar ringan, sebuah suara yang sejenak membuat wajah pucatnya terlihat lebih hidup. Untuk pertama kalinya, mereka tidak sedang membahas kematian, hantu, atau memori yang hilang. Mereka hanya dua orang yang sedang menertawakan kekonyolan satu sama lain.
"Oke, oke, aku mengaku. Mungkin aku memang terlalu tinggi hati menganggap hidupku sepenting sebuah novel," ucap Senja di sela tawa tipisnya.
Arunika tersenyum lebar, ia merasa senang bisa melihat sisi Senja yang ini. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi hari ini, kamu baru saja membuktikan kalau kamu punya satu hal yang nggak dimiliki tokoh novel mana pun."
"Apa?" tanya Senja.
"Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri," jawab Arunika sambil melangkah menuju pintu keluar toko buku. "Tokoh novel biasanya terlalu sibuk dengan drama mereka sendiri. Tapi kamu... kamu masih bisa bercanda di tengah keadaan yang nggak jelas begini. Itu artinya kamu nyata, setidaknya di sini," Arunika menunjuk kepalanya sendiri.
Mereka keluar dari toko buku itu kembali ke jalanan Asia Afrika yang semakin terik. Meski pencarian mereka di rak-rak buku tadi tidak membuahkan hasil, ada sesuatu yang berubah. Beban di pundak Senja tampak sedikit berkurang. Ia menyadari bahwa ia tidak butuh sebuah buku untuk membuktikan keberadaannya, selama ada orang seperti Arunika yang bersedia menuliskan setiap langkah perjalanannya hari ini ke dalam ingatan yang hidup.
Arunika melangkah keluar dari toko buku, kembali ke trotoar yang kini mulai dipenuhi cahaya matahari yang menyelinap di antara celah gedung-gedung tua. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Senja yang masih tampak sedikit melamun setelah tawa mereka mereda. Tatapan Arunika berubah menjadi lebih serius, seolah ada sebuah teori baru yang baru saja mengkristal di benaknya.
"Apa jangan-jangan bukan novel?" ucap Arunika pelan, suaranya hampir tertutup deru kendaraan. "Tapi ada seseorang yang menulis soal kamu di diary-nya atau lainnya. Seseorang yang begitu merinci setiap detail tentangmu sampai sosokmu tertahan di sini."
Senja tertegun, langkahnya terhenti. Ia membayangkan sebuah buku harian di suatu tempat, penuh dengan curahan hati tentang dirinya, tentang janji di halte itu, atau tentang betapa seseorang sangat merindukannya.
"Tapi kita nggak bisa cari soal itu," lanjut Arunika, suaranya kini lebih tegas namun tetap lembut. "Jalan keluarnya adalah ingatanmu. Bukan tulisan orang lain."
Arunika menatap Senja dengan lekat. Ia menyadari bahwa meski buku sketsa itu membantu, dan teori-teori tentang tokoh novel itu menghibur, kunci dari pintu yang terkunci ini tetap berada di dalam diri Senja sendiri. Tidak ada gunanya mencari bukti di luar jika pemilik rumahnya sendiri lupa di mana ia meletakkan kuncinya.
"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," bisik Arunika lagi, seolah kalimat itu adalah mantra untuk mengembalikan fokus Senja. "Diary itu, atau apa pun namanya, mungkin hanya sebuah cermin. Tapi kamu adalah aslinya. Kamu nggak bisa berharap pada tulisan orang lain untuk membuatmu merasa utuh kembali."
Senja menunduk, menatap bayangan Arunika yang memanjang di trotoar, sementara di samping bayangan itu hanya ada kekosongan. "Kalau jalan keluarnya adalah ingatanku, tapi di dalam sini cuma ada ruang kosong yang gelap, apa yang harus kulakukan, Arunika? Aku takut jika aku terus menggali, aku hanya akan menemukan lebih banyak kesunyian."
Arunika melangkah maju, memperkecil jarak. "Kamu nggak menggali sendirian sekarang. Ingatan itu nggak hilang, Senja. Dia cuma tertutup debu karena terlalu lama ditinggalkan. Kita akan cari pemicunya. Kalau jalan kaki di Asia Afrika ini bikin kamu sesak, berarti di balik rasa sesak itu ada sesuatu yang penting. Jangan dilawan sesaknya, tapi diikuti."
Ia mengangkat buku sketsa cokelat itu. "Mungkin diary yang kamu maksud itu adalah buku ini. Mungkin kamu sendiri yang menulis diary-mu dalam bentuk gambar karena kata-kata nggak cukup untuk menggambarkan betapa kamu ingin ditepati janjinya."
Senja menarik napas panjang, mencoba merasakan udara Bandung yang masuk ke dalam paru-parunya yang semu. Ia menatap ke arah depan, ke arah keramaian yang menanti mereka. "Kamu benar. Menunggu seseorang menemukan diary-ku itu seperti menunggu keajaiban yang tidak pasti. Aku harus menemukannya sendiri, di dalam sini."
"Nah, gitu dong," ucap Arunika sambil tersenyum menyemangati. "Ayo, kita jalan lagi. Jangan sampai ingatanmu kalah sama rasa malasmu."
Mereka kembali menyusuri trotoar, bergerak menuju arah Alun-alun di mana kerumunan orang semakin padat. Di tengah kebisingan itu, Arunika tetap setia berjalan di samping sosok yang dianggap dunia tidak ada, menuntun seorang pria yang sedang berusaha merebut kembali sejarah hidupnya dari kegelapan lupa.
Langkah mereka terhenti tepat di hamparan rumput sintetis Alun-alun Bandung. Di depan mereka, Menara Kembar Masjid Raya menjulang tinggi membelah langit siang yang biru. Orang-orang sibuk berlarian dan berswafoto, namun pandangan Senja terkunci rapat pada dua menara beton yang berdiri kokoh itu. Matanya yang tadi tampak kosong, kini mulai bergetar. Ada sebuah kilatan yang muncul secara tiba-tiba, seolah-olah bayangan dari masa lalu sedang diproyeksikan secara paksa ke udara di depan mereka.
"Aku ingat gadis itu, walau tidak sepenuhnya," ucap Senja. Suaranya tidak lagi mengambang, melainkan terdengar berat oleh beban emosi yang baru saja muncul dari dasar memorinya. Ia tidak menatap Arunika, melainkan menatap ruang kosong di antara mereka berdua, seolah sosok gadis itu sedang mewujud di sana. "Dia pakai kerudung."
Arunika menahan napas. Ia tidak memakai kacamata kerjanya saat ini, sehingga dunia di sekitarnya tampak sedikit lebih lembut, namun fokusnya pada kegelisahan Senja justru menjadi lebih tajam. Ia merapikan sedikit ujung kerudung kremnya yang tersapu angin, merasakan sebuah kebetulan yang terasa semakin menyesakkan.
"Kita pernah buat janji akan ke sini, tapi mungkin itu tidak jadi kenyataan," lanjut Senja, kini suaranya merendah, hampir menyerupai bisikan duka. Ia tidak sedang bercerita tentang kejadian yang telah selesai, melainkan tentang sebuah harapan yang terputus di tengah jalan. "Rasanya seakan kami baru saja membuat janji itu di bawah sana, di halte itu... tapi janji itu tidak pernah terjadi. Kakiku tidak pernah sampai ke sini."
Arunika terdiam, menatap Menara Kembar itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa janji yang tidak terpenuhi itu bukan hanya soal bertemu di kafe, tapi sebuah perjalanan menuju puncak menara ini yang terenggut oleh waktu. Senja terjebak dalam fase di mana janji itu baru saja diucapkan, namun kenyataannya sudah lama berlalu.
"Jadi, kamu merasa janji itu masih menggantung di udara karena kamu tidak pernah menepatinya?" tanya Arunika lembut.
Senja mengangguk lemah. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin. Tapi buat dia... dia nggak pernah memandangku sebelah mata. Dia mungkin menungguku di bawah menara ini, atau di atas sana, dan aku justru membiarkan janji itu menguap begitu saja tanpa pernah terjadi."
Arunika melangkah maju, memecah lamunan Senja yang menyakitkan. "Senja, dengar. Kalau janji itu tidak jadi kenyataan tiga tahun lalu, bukan berarti itu harus tetap terkubur sebagai kegagalan. Kamu bilang kamu ingat dia pakai kerudung, dan sekarang aku di sini, juga memakai kerudung, berdiri bersamamu."
Arunika menunjuk ke arah pintu masuk menara yang menjulang. "Ayo kita naik. Kalau janji itu tidak pernah terjadi dulu, mari kita buat itu terjadi sekarang. Aku tidak memakai kacamata, jadi aku akan melihat pemandangan dari atas sana dengan cara yang sama seperti yang mungkin dia inginkan—dengan mata telanjang yang penuh harapan. Mungkin dengan menuntaskan apa yang tidak pernah terjadi, kamu bisa berhenti merasa sesak."
Senja menatap Arunika, lalu beralih ke menara itu lagi. Ketakutan masih membayangi wajahnya, namun ada sebuah keinginan kuat untuk menebus rasa bersalahnya. "Bagaimana kalau setelah sampai di atas, aku tetap merasa tidak utuh? Bagaimana kalau 'tidak terjadi' itu sudah menjadi takdirku selamanya?"
"Setidaknya kita sudah mencoba untuk tidak membiarkan janji itu mati sia-sia," jawab Arunika dengan senyum menguatkan. "Ayo, kita buat apa yang tidak pernah terjadi itu menjadi nyata hari ini, bersamaku."
Mereka pun berjalan beriringan menuju gedung masjid, menembus kerumunan orang yang tak menyadari bahwa di antara mereka, ada sebuah janji dari masa lalu yang sedang berjuang untuk didekap kembali di puncak menara itu.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍