NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 Tenang

Ketenangan bukan karena hidup tanpa badai, tetapi karena hati bersandar pada Allah di tengah badai.

—Celine Chadia Cendana—

Di balkon apartemen itu, Celine berdiri sendirian.

Angin malam menyentuh wajahnya lembut, membawa hawa dingin yang merayap sampai ke tulang. Hijab yang kini selalu melingkupi kepalanya bergerak pelan, seperti sayap burung yang baru belajar mengepak.

Sudah beberapa minggu sejak ia memutuskan berhijab.

Keputusan itu tidak datang seperti kilat yang tiba-tiba menyambar, melainkan seperti fajar—pelan, samar, lalu akhirnya tak terbantahkan. Namun perubahan luar ternyata tidak serta-merta membuat hatinya tenang.

Justru sebaliknya.

Ada hari-hari di mana ia merasa sangat dekat dengan Allah, seolah doanya naik lurus ke langit tanpa penghalang. Tetapi ada juga hari-hari seperti malam ini—sunyi, berat, dan penuh keraguan yang merambat seperti kabut tebal.

Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mengusir dingin yang tidak hanya datang dari udara.

“Aku benar-benar sudah berubah… atau cuma berpura-pura?” bisiknya.

Pertanyaan itu meluncur dari hatinya seperti anak panah yang tidak bisa ditarik kembali.

Pintu balkon terbuka pelan.

Celine tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah Aldivano selalu tenang, tidak tergesa, seperti seseorang yang tidak pernah dikejar waktu.

Ia berdiri di samping Celine tanpa berkata apa-apa, ikut memandang lautan lampu kota di bawah mereka.

“Kamu belum tidur?” tanyanya akhirnya.

Celine menggeleng.

“Nggak bisa.”

Aldivano menoleh sedikit. “Kenapa?”

Celine ragu. Kata-kata terasa berat di tenggorokannya, seperti batu kecil yang menghalangi napas.

“Aku takut… kalau aku cuma semangat di awal doang.”

Ia menunduk.

“Takut nanti capek… terus balik lagi ke yang dulu.”

Angin berembus sedikit lebih kencang, membuat ujung hijabnya bergetar seperti daun yang tak punya pilihan selain mengikuti arah angin.

Aldivano tidak langsung menjawab. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap jauh ke depan.

“Kamu tahu kenapa orang yang lari maraton nggak langsung sprint dari awal?” tanyanya.

Celine mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena mereka tahu tenaga itu harus dijaga sampai akhir.”

Ia menoleh pada Celine.

“Iman juga gitu.”

Celine diam, mencoba mencerna.

“Naik-turun itu normal,” lanjut Aldivano lembut. “Yang penting bukan seberapa tinggi iman kita hari ini… tapi apakah kita tetap berjalan meski pelan.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menghunjam dalam, seperti air yang meresap ke tanah kering.

Celine menggigit bibirnya.

“Tapi aku ngerasa kosong kadang-kadang.”

Nada suaranya sangat pelan, nyaris seperti pengakuan yang takut didengar.

“Kayak doa-doaku nggak sampai.”

Aldivano tersenyum tipis.

“Doa itu bukan pesan instan yang harus langsung dibalas.”

Ia menatap langit.

“Kadang Allah jawab dengan tenang. Kadang dengan sabar. Kadang dengan cara yang bahkan kita nggak sadari.”

Celine ikut mendongak.

Langit malam tampak luas dan dalam, seperti samudra tanpa dasar. Tidak ada jawaban di sana, tetapi entah kenapa terasa menenangkan.

“Aku pengin jadi baik terus,” katanya lirih.

“Tapi aku juga tahu aku nggak akan selalu kuat.”

Aldivano menatapnya lama, lalu berkata pelan—

“Allah nggak minta kamu selalu kuat.”

Celine menoleh, terkejut.

“Terus?”

“Allah cuma minta kamu selalu kembali.”

Kata kembali itu kembali menampar lembut hatinya, seperti ombak kecil yang terus menyentuh pantai sampai akhirnya mengubah bentuknya.

Air matanya menggenang, tetapi tidak jatuh.

Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang, tetapi tahu ada tangan yang siap menangkapnya jika ia terpeleset.

“Mas…”

“Hm?”

“Kalau aku jatuh lagi… kamu bakal kecewa nggak?”

Pertanyaan itu keluar seperti bisikan yang hampir hilang ditelan angin.

Aldivano menggeleng tanpa ragu.

“Aku cuma bakal kecewa kalau kamu berhenti bangun.”

Jawaban itu begitu jujur hingga terasa menyesakkan sekaligus melegakan.

Celine tertawa kecil di tengah air matanya.

“Kamu selalu punya kata-kata yang bikin aku nggak bisa membantah.”

“Bukan kata-kataku,” jawabnya pelan.

“Itu pengingat buat diriku sendiri juga.”

Mereka kembali diam.

Namun kali ini, diamnya tidak terasa canggung. Lebih seperti keheningan di dalam masjid setelah doa selesai—hening yang penuh, bukan kosong.

Angin malam berembus lagi, kali ini lebih lembut. Udara terasa lebih dingin, tetapi hati Celine justru perlahan hangat.

Seperti seseorang yang duduk di dekat perapian setelah lama tersesat di salju.

“Mas…” panggilnya lagi.

“Iya?”

“Terima kasih,” katanya pelan.

“Untuk apa?”

“Untuk tetap sabar sama aku.”

Aldivano menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—lembut, hangat, dan sedikit sedih.

“Aku nggak sabar sama kamu,” katanya.

“Aku sayang sama kamu.”

Jantung Celine berdegup lebih cepat, seperti burung kecil yang tiba-tiba terbang di dalam dada.

Ia menunduk, pipinya menghangat.

Perasaan itu masih terasa baru, masih canggung, tetapi juga menenangkan—seperti selimut hangat di malam dingin.

“Aku juga…” bisiknya hampir tak terdengar.

Aldivano tidak memaksanya mengulang.

Ia hanya tersenyum, seolah mendengar sudah cukup.

Di bawah mereka, kota terus bergerak—lampu kendaraan melintas seperti aliran sungai cahaya yang tak pernah berhenti. Dunia tetap sibuk, tetap berisik, tetap penuh urusan yang tidak ada hubungannya dengan dua hati yang sedang belajar tenang.

Celine menarik napas dalam-dalam.

Udara malam memenuhi paru-parunya, dingin tetapi menyegarkan. Dadanya terasa lebih lapang, seperti jendela yang akhirnya dibuka setelah lama tertutup.

“Aku pengin jadi lebih baik… bukan cuma buat kamu,” katanya pelan,

“tapi buat Allah.”

Aldivano mengangguk.

“Itu tujuan yang paling aman.”

Celine tersenyum kecil.

“Kenapa aman?”

“Karena kalau kamu berubah karena manusia, kamu bisa berhenti saat manusia itu pergi,” jawabnya.

“Tapi kalau karena Allah… kamu akan tetap berjalan meski sendirian.”

Hatinya bergetar lagi.

Ia sadar—perjalanan ini bukan tentang menjadi sempurna, bukan tentang terlihat suci, bukan tentang membuktikan apa pun kepada orang lain.

Ini tentang pulang.

Tentang kembali kepada Tuhan yang tidak pernah menutup pintu.

Celine memejamkan mata sejenak.

Di dalam dadanya, badai yang tadi berputar kini mulai mereda. Tidak hilang sepenuhnya, tetapi cukup tenang untuk bernapas.

Seperti laut setelah ombak besar—masih bergelombang, tetapi tidak lagi menakutkan.

Ketika ia membuka mata, ia menatap langit sekali lagi.

“Ya Allah…” bisiknya dalam hati,

“kalau aku tersesat lagi, tolong tarik aku pulang.”

Angin malam berembus lembut, menyapu wajahnya seperti tangan tak terlihat yang mengusap penuh kasih.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir…

Celine merasa tenang.

Bukan karena semua masalah selesai.

Bukan karena hatinya sudah sempurna.

Tetapi karena ia tahu ke mana harus kembali.

Dan di sampingnya, Aldivano tetap berdiri—diam, hangat, dan setia.

Seperti mercusuar yang tidak pernah mendekat, tetapi selalu ada untuk menunjukkan arah pulang bagi kapal yang tersesat di tengah gelapnya lautan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!