Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 Bimbang
Saat hati dipenuhi kebimbangan, jangan terburu memilih yang paling mudah—pilihlah yang paling mendekatkanmu kepada Allah.
—Reina Athariz—
Langit pagi itu berwarna pucat, seperti wajah seseorang yang semalaman tidak tidur. Matahari tertutup lapisan awan tipis, membuat cahaya yang turun ke bumi terasa lembut namun dingin—seperti pelukan yang diberikan tanpa benar-benar menyentuh.
Celine berdiri di depan jendela apartemennya, memandangi kota yang perlahan bangun. Kendaraan mulai memenuhi jalan, orang-orang bergegas menuju rutinitas masing-masing, seolah dunia tidak pernah kehabisan alasan untuk terus bergerak.
Namun di dalam dirinya, semuanya terasa berhenti.
Hatinya seperti jam rusak yang jarumnya bergerak tetapi tidak pernah menunjukkan waktu yang benar.
Ia memeluk kedua lengannya sendiri, mencoba menahan getaran halus yang muncul dari dalam dada. Bukan dingin. Bukan takut. Lebih seperti perasaan terjepit di antara dua pintu yang sama-sama terbuka, tetapi keduanya terasa salah jika dimasuki.
Di meja kerjanya tergeletak sebuah amplop putih.
Tipis. Sederhana. Namun terasa berat seperti batu.
Surat itu berisi jawaban dari sebuah kesempatan besar—kesempatan yang dulu ia doakan dengan penuh harap, tetapi kini justru membuatnya ingin bersembunyi.
Celine memejamkan mata.
“Ya Allah… kenapa sekarang aku malah takut?” bisiknya.
Ia mengambil ponselnya, ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengetik satu nama.
Reina.
Satu-satunya orang yang selalu bisa mendengar tanpa menghakimi.
Balasan datang cepat, seolah Reina memang sudah menunggu.
“Ke pantai, yuk.”
Celine menatap pesan itu beberapa saat. Pantai. Tempat yang selalu terasa jujur, karena laut tidak pernah pandai berpura-pura.
Ia mengetik balasan singkat.
“Aku jemput.”
***
Sore harinya...
Langit senja di pantai itu berwarna jingga keemasan, seperti lukisan yang sengaja ditumpahkan Tuhan ke ufuk barat. Matahari menggantung rendah, perlahan tenggelam ke dalam laut, seolah kembali pulang ke tempat asalnya setelah seharian menerangi dunia.
Celine duduk di atas pasir, memeluk kedua lututnya. Butiran pasir menempel di ujung rok panjangnya, halus seperti tepung, namun dingin seperti kenangan yang tak ingin disentuh.
Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang khas—aroma yang selalu terasa jujur, seperti alam yang tidak pernah berpura-pura.
Di sampingnya, Reina duduk diam, membiarkan Celine tenggelam dalam pikirannya terlebih dahulu. Ia tahu sahabatnya itu tidak datang sejauh ini hanya untuk melihat laut.
Celine menarik napas panjang, dadanya naik turun seperti ombak yang ragu apakah harus maju atau mundur.
“Aku bingung, Rei…” katanya akhirnya.
Suaranya pelan, nyaris kalah oleh suara debur ombak yang datang silih berganti seperti napas bumi.
Reina menoleh, tatapannya lembut.
“Bingung soal apa?”
Celine menatap laut lepas. Hamparan air itu luas tak berujung, seperti masa depan yang terasa terlalu besar untuk dipahami.
“Aku harus milih… tapi dua-duanya berat.”
Angin menerbangkan sedikit ujung hijabnya, membuatnya berkibar seperti bendera kecil yang tak tahu harus condong ke arah mana.
Reina tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia menunggu, memberi ruang—seperti tanah yang sabar menunggu benih pecah sebelum tumbuh.
“Ada kesempatan…” lanjut Celine pelan,
“yang mungkin bagus buat masa depanku. Tapi… kalau aku ambil, aku harus jauh. Jauh dari rumah. Jauh dari semuanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Termasuk dari Aldivano.”
Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu kecil yang menimbulkan riak besar.
Reina memahami sekarang.
“Dan pilihan satunya?” tanyanya lembut.
“Aku tetap di sini… tapi mungkin kehilangan kesempatan itu selamanya.”
Celine menunduk. Suaranya bergetar seperti kaca tipis yang nyaris retak.
“Aku takut salah pilih.”
Ombak datang lebih besar, menghantam pantai dengan suara gemuruh lembut—seperti langit yang menghela napas panjang.
Reina memandang laut sebentar, lalu berkata pelan—
“Kamu tahu nggak… kadang kita bukan takut salah pilih. Kita takut kehilangan.”
Kalimat itu menusuk tepat ke tengah dada Celine.
Ia tidak menjawab, tetapi jemarinya mencengkeram kain roknya lebih erat.
“Aku nggak mau nyesel, Rei,” bisiknya.
Reina tersenyum tipis.
“Siapa juga yang mau.”
Mereka kembali diam. Seekor burung camar melintas rendah di atas air, sayapnya memantulkan cahaya senja seperti kilatan perak.
“Menurut kamu… aku harus pilih yang mana?” tanya Celine akhirnya.
Reina menoleh, sedikit menggeleng.
“Aku nggak bisa milihin.”
Celine tampak kecewa, tetapi Reina segera melanjutkan—
“Tapi aku bisa bantu kamu melihatnya lebih jelas.”
Ia menghadap Celine sepenuhnya.
“Coba tanya ke diri kamu… pilihan mana yang bikin kamu lebih dekat sama Allah?”
Pertanyaan itu sederhana, namun terasa berat seperti batu yang dijatuhkan ke dalam hati.
Celine terdiam.
Angin berembus, menyapu wajahnya, dingin tetapi menyadarkan.
“Aku nggak tahu…” katanya jujur.
“Dua-duanya terasa benar… dan salah sekaligus.”
Reina tersenyum lembut, seperti seseorang yang mengerti betapa manusia sering tersesat di persimpangan.
“Kamu tahu,” katanya pelan,
“perasaan kayak gini pernah dirasakan juga sama salah satu sahabat Rasulullah.”
Celine menoleh cepat, matanya sedikit membesar.
“Siapa?”
“Umar ibn Khattab.”
Nama itu terasa berat sekaligus agung, seperti pintu besar yang perlahan dibuka.
Reina melanjutkan, suaranya tenang seperti guru yang sedang bercerita di ruang sunyi.
“Beliau pernah bilang bahwa tidak ada ujian yang lebih berat daripada saat hati condong ke dua hal yang sama-sama baik.”
Celine mendengarkan dengan saksama, seperti anak kecil yang takut kehilangan satu kata pun.
“Dan beliau juga mengatakan… kalau kamu tidak tahu mana yang terbaik, maka pilihlah yang paling mendekatkanmu kepada akhirat, bukan dunia.”
Ombak datang lagi, kali ini lembut, menyentuh kaki mereka sebelum mundur perlahan—seperti nasihat yang datang tanpa memaksa.
Hati Celine terasa seperti jendela yang tiba-tiba terbuka setelah lama tertutup debu.
“Akhirat…” gumamnya.
Reina mengangguk.
“Karena dunia selalu punya pengganti. Tapi kesempatan mendekat ke Allah… belum tentu datang dua kali.”
Air mata Celine menggenang, tetapi tidak jatuh. Dadanya terasa hangat sekaligus perih—seperti luka yang akhirnya dibersihkan.
“Aku takut… kalau aku pilih Allah, aku harus kehilangan banyak hal.”
Reina tersenyum, kali ini lebih dalam.
“Kalau kamu pilih Allah, kamu nggak kehilangan. Kamu cuma menukar.”
“Menukar?”
“Iya. Menukar yang sementara dengan yang kekal.”
Langit semakin gelap, warna jingga berubah menjadi ungu kebiruan. Matahari hampir sepenuhnya tenggelam, meninggalkan garis cahaya tipis seperti janji yang belum selesai.
Celine memejamkan mata.
Di dalam kegelapan itu, ia merasakan sesuatu yang perlahan mengendur—simpul besar di dadanya yang sejak tadi terasa menyesakkan.
Seperti tali yang akhirnya dilonggarkan setelah terlalu lama ditarik.
“Aku ngerti sekarang…” bisiknya.
Reina tidak bertanya. Ia hanya menunggu.
“Aku bukan bingung memilih… aku cuma takut melepaskan.”
Air mata akhirnya jatuh, hangat di pipinya yang dingin.
Reina meraih tangannya, menggenggamnya erat.
“Melepaskan itu sakit,” katanya pelan.
“Tapi kadang itu satu-satunya cara supaya tangan kita cukup kosong untuk menerima yang lebih baik.”
Celine menatap laut sekali lagi.
Gelap mulai menyelimuti permukaan air, tetapi suara ombak tetap sama—tenang, berulang, setia. Seperti dzikir alam yang tidak pernah berhenti sejak dunia diciptakan.
Di dalam hatinya, badai belum sepenuhnya reda.
Namun kini ada arah.
Seperti kapal yang masih terombang-ambing, tetapi sudah melihat cahaya mercusuar di kejauhan.
Celine menarik napas panjang, udara asin memenuhi paru-parunya.
“Aku masih takut,” katanya jujur.
Reina tersenyum hangat.
“Berani itu bukan nggak takut,” jawabnya.
“Berani itu tetap melangkah meski takut.”
Celine mengangguk pelan.
Di ufuk barat, cahaya terakhir matahari akhirnya menghilang.
Namun entah kenapa, hatinya justru terasa sedikit lebih terang.
Seperti malam yang datang bukan untuk menakutkan,
melainkan untuk memberi ruang bagi bintang-bintang muncul.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...