Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK DINDING MONTSERRAT
POV Maria Joanna
Helikopter medis mendarat dengan guncangan pelan di atap rumah sakit pribadi kerajaan di Madrid. Namun, ketenangan yang kuharapkan tidak kunjung datang. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan setelan hitam kaku yang menatapku dengan sorot mata sedingin es.
"Selamat datang kembali, Putri. Kami sudah menyiapkan 'kamar' yang sama dengan yang digunakan ibumu dulu," bisiknya tepat di telingaku saat aku turun dari tandu.
Langkahku terhenti. Kalimat itu seperti siraman air es yang membekukan jantungku. Kamar yang sama dengan Ibuku? Apakah maksudnya sel penjara? Aku menatap Ayah yang sedang dipapah oleh tim medis, ia tidak mendengar ucapan wanita itu karena pengaruh obat bius pasca operasi bahunya.
Aku meraba saku jas Sebastian, menggenggam erat memo dari Hector: "Adrian adalah putra simpanan dari istrimu yang sah, Arthur." Jika memo ini benar, berarti Adrian bukan hanya pria sarkastis yang menghancurkanku di Jakarta, dia adalah alat balas dendam dari permaisuri pertama untuk melenyapkan darah Julia dari muka bumi.
"Sebastian," panggilku pelan saat pria itu dibawa lewat di sampingku.
"Ya... Putri?" Sebastian membuka matanya yang sayu.
"Bawa aku ke Biara Montserrat. Sekarang. Jangan lewatkan satu detik pun," perintahku dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Sebastian melihat api yang menyala di mata Maria Joanna. Itu bukan lagi mata gadis malang yang menangis di Jakarta karena skandal video. Itu adalah mata seorang singa betina yang siap menerkam. Meskipun lukanya masih terasa nyeri, Sebastian mengangguk. Ia tahu, jika Maria tetap di rumah sakit ini, sekretaris permaisuri lama itu akan melenyapkannya dalam diam.
"Siapkan unit taktis bayangan. Kita menuju pegunungan Montserrat. Jalur udara, sekarang juga!" perintah Sebastian pada timnya melalui radio.
Iring-iringan kendaraan taktis itu melesat membelah malam Madrid, menuju pegunungan berbatu yang menjulang tinggi di luar kota. Sebastian menatap Maria yang duduk diam di kursi belakang, menggenggam liontin singa emasnya. Ia menyadari bahwa rahasia yang selama dua puluh tahun dipendam oleh Raja Arthur akan segera meledak, dan ia tidak yakin apakah Maria cukup kuat untuk menanggung kebenarannya.
POV Maria Joanna
Pegunungan Montserrat tampak megah sekaligus mengerikan di bawah sinar bulan. Biara yang dibangun di celah-celah batu raksasa itu terlihat seperti benteng yang tak tertembus. Begitu helikopter mendarat di area darurat, aku langsung berlari menuju gerbang kayu tua yang dijaga oleh dua biarawati berpakaian serba tertutup.
"Aku Maria Joanna de Borbón. Aku ingin bertemu dengan wanita yang kalian sembunyikan selama dua puluh tahun!" teriakku, suaraku bergema di antara tebing-tebing batu.
Para biarawati itu saling pandang dengan cemas. Salah satu dari mereka membungkuk hormat. "Putri, Raja Arthur memerintahkan agar tidak ada yang masuk ke area ini."
"Raja Arthur adalah ayahku, dan aku adalah putrinya! Minggir atau aku akan meruntuhkan gerbang ini!" amarahku meledak. Kekuatan darah kakekku di China seolah memberiku energi yang luar biasa.
Pintu besar itu akhirnya terbuka perlahan. Aku berlari menyusuri lorong batu yang dingin dan lembap, mengikuti cahaya lilin yang temaram. Di ujung lorong, ada sebuah pintu kecil dengan ukiran bunga peony—bunga kesukaan ibuku.
Dengan tangan gemetar, aku mendorong pintu itu.
Di dalam ruangan yang hanya berisi satu ranjang kayu dan sebuah meja kecil, seorang wanita sedang duduk menghadap jendela yang menghadap ke arah lembah. Rambutnya yang panjang sudah memutih di beberapa bagian, namun aura keanggunannya tetap terpancar. Saat ia berbalik, aku merasa duniaku berhenti berputar.
Wajah itu... wajah yang selama ini hanya kulihat di foto kusam milik ayah angkatku.
"Julia... Ibu?" suaraku nyaris hilang.
Wanita itu berdiri perlahan. Matanya yang indah berkaca-kaca saat melihatku. "Maria... naga kecilku... kau benar-benar datang?"
Aku menghambur ke pelukannya. Aroma melati yang samar—arama yang selalu kurindukan di setiap mimpiku—kini menjadi nyata. Kami menangis bersama di tengah kesunyian biara itu.
"Ibu, kenapa kau di sini? Kenapa Ayah membiarkanmu disekap?" tanyaku di sela isak tangis.
Ibu mengusap pipiku dengan tangannya yang lembut namun kasar karena kerja keras. "Arthur tidak menyekapku, Maria. Dia menyembunyikanku. Istri pertamanya, wanita yang melahirkan Adrian, telah bersumpah untuk meminum darahku dan darahmu demi memastikan anaknya menjadi pewaris tunggal Spanyol dan China. Arthur menukarnya dengan keberadaanmu di Jakarta agar kau tetap hidup."
Jantungku berdegup kencang. "Jadi... keluarga angkatku di Jakarta... mereka bukan hanya menemukanku secara tidak sengaja?"
Ibu menggeleng lemah. "Arthur yang memilih mereka. Dia ingin kau tumbuh tanpa mengetahui beban mahkota ini sampai kau cukup kuat. Tapi dia tidak tahu bahwa istri pertamanya memiliki mata-mata di mana-mana, termasuk Adrian yang sengaja dikirim untuk menghancurkanmu perlahan."
Di rumah sakit, Arthur yang baru saja sadar langsung bangkit dari ranjangnya saat mengetahui Maria menghilang. Ia mencabut paksa selang infus di tangannya, darah memercik ke lantai.
"BAWA AKU KE MONTSERRAT!" teriaknya pada para ajudan.
"Tapi Yang Mulia, kondisi Anda..."
"AKU TIDAK PEDULI! Rahasia itu bukan untuk Maria temukan sendiri dalam kondisi seperti ini!"
Arthur tahu, jika Maria bertemu Julia, maka Maria juga akan tahu tentang pengkhianatan terbesar dalam sejarah kerajaan: Bahwa untuk menyelamatkan Maria, Arthur terpaksa membiarkan Julia dianggap "mati" secara hukum agar faksi radikal di China tidak mengejar mereka lagi. Sebuah keputusan yang membuat Julia hidup dalam pengasingan selama dua dekade.
POV Maria Joanna
Saat aku sedang memeluk Ibu, tiba-tiba suara tembakan terdengar dari luar gerbang biara.
DOR! DOR!
"Ibu, apa itu?!" aku berdiri siaga.
"Mereka datang, Maria," suara Ibu mendadak menjadi sangat tenang dan dingin, persis seperti tatapan Jenderal Zhao. "Keluarga permaisuri lama tidak akan membiarkan reuni ini terjadi. Mereka ingin kita berdua mati di gunung ini."
Ibu menarik sebuah laci di bawah meja kecilnya. Di sana, terdapat sebuah pistol perak dengan grafir Naga China. Ia memberikannya padaku. "Maria, kau sudah belajar bagaimana rasanya menjadi pelayan dan korban. Sekarang, belajarlah bagaimana rasanya menjadi seorang pewaris yang menuntut darah atas setiap air matamu."
Aku menerima pistol itu. Beratnya terasa pas di tanganku. Rasa takutku lenyap, digantikan oleh kedinginan yang mematikan.
"Ayo, Ibu," ucapku mantap. "Mari kita tunjukkan pada mereka mengapa darah naga dan singa tidak boleh diusik."
Pintu kamar biara itu meledak karena granat kecil. Saat debu mulai menipis, sosok pria yang seharusnya sudah mati di Jakarta berdiri di sana dengan senyum iblisnya. Adrian.
"Hai, Maria. Merindukanku?" desisnya sambil menodongkan laras panjang. "Ayahmu di rumah sakit mungkin bisa melindungimu di Madrid, tapi di gunung ini... hanya ada kau, ibumu, dan kematian yang sudah lama kutunda untuk kalian berdua."
Ternyata kematian Adrian di penjara yang dilaporkan tadi adalah kepalsuan besar!