Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Rania sudah berganti pakaian----mengenakan daster piyama berwarna lembut membalut tubuhnya.
Gadis berambut ikal ini yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, rambutnya yang ikal basah di biarkan tergerai.
Matanya langsung mengarah ke sang suami yang sudah tidur membelakanginya.
Di atas ranjang.
Arga sudah tertidur dengan nyenyak, langkah Rania pelan-pelan berusaha meraih bantal yang tepat di samping kepala suaminya.
Setelah bantal itu ada di genggamannya, Rania kembali melangkahkan kakinya ke sofa tepat di depan ranjang.
Berusaha tak menimbulkan suara kecil yang nanti akan membangunkan Arga.
Handuk itu Rania gantungkan di tempat gantungan khusus untuk gantungan baju di kamar itu.
Karena gadis ini masih ketakutan dan trauma akan perbuatan masa lalu Arga, di tambah gertakan Arga tadi membuat Rania enggan tidur dengan Arga.
Jadi Rania mematikan tombol lampu lalu memutuskan tidur di sofa, sebelum merebahkan diri---lehernya di miring kanan dan kiri.
"Maafin aku Arga...Aku belum bisa terima kamu sebagai suami aku," batin lirih Rania sebelum merebahkan diri di atas kasur.
Rania menidurkan dirinya di atas sofa yang memanjang, matanya menatap langit-langit kamar.
Entah mengapa hatinya bisa belajar mencintai Arga, tapi masa lalu yang amat kelam itu tak bisa hilang dari benak dan hatinya.
Lama berpikir sayup-sayup matanya terpejam.
Gadis berambut ikal ini mulai terbawa ke alam mimpi.
Di lain sisi, tangan Arga meraba di sampingnya---saat yang di rasa tak ada seseorang.
Pria itu langsung terbangun, dirinya mengangkat bantal yang tadi di tidurinya.
"Alhamdulilah, kunci kamar masih ada di sini," ujar Arga.
Arga sengaja menaruh kunci kamar di bawah bantalnya, agar Rania tidak keluar kamar.
Hal ini di lakukan demi, dirinya dan sang istri bisa bersama.
Lalu pria itu melihat sekeliling mencari keberadaan sang istri, dan---ternyata istrinya berada di depannya tidur di atas sofa.
"Astaghfirullah Dek, kamu ternyata belum bisa nerima aku," ucap Arga menghela napas.
Rania yang sudah amat pulas tak sadar jika Arga menyadari dirinya tak tidur di sampingnya, Arga bangkit dari tidurnya mendekati Rania.
Arga memindahkan tubuh istrinya kembali ke atas ranjang.
Rania tak sadar, masih memejamkan mata---tubuhnya di bopong oleh sang suami untuk di tidurkan di atas ranjang.
Pria itu menatap wajah istrinya yang tengah tertidur pulas, wajah yang cantik dengan rahang yang tegas.
"Seandainya kamu bisa menerima saya lebih cepat jadi suamimu itu akan baik buat kita," kata Arga membelai lembut wajah sang istri yang sedang tertidur pulas.
Tangan Arga membantu kepala Rania dengan menambahkan bantal di bawah kepala, lalu Arga tidur di sampingnya dengan menggunakan bantal yang di sofa---yang Rania kenakan tadi.
Arga tidur di samping sang istri, dirinya menghela napas lelah. Matanya menatap langit-langit lalu menoleh ke samping.
Rania Wiratama.
Nama itu masih melekat padanya, gadis ini masih enggan menggunakan nama Prananda di belakang namanya karena sangat takut---takut jika Arga akan meninggalkannya.
Arga memiringkan tubuhnya menatap Rania yang sudah pulas di sampingnya, "asal kamu tahu Rania, aku sudah melupakan Karin saat kamu mencekikku," ujar Arga Prananda.
"Karin dan saya dulu selalu berkelahi, hanya untuk membicarakanmu," tambah Arga, masih tertidur menatap Rania yang memejamkan matanya.
Waktu demi waktu berlalu.
Rania yang tertidur sedang merenggangkan badannya, sambil melenguh lalu memeluk Arga.
Arga yang masih setengah tidur sadar jika yang memeluknya ini adalah Rania-----sang istri, posisi kepala Rania di taruh di dada bidang milik sang suami dan tangannya memeluk Arga selayaknya guling.
Pria itu menelan salivanya agar menepati janjinya, untuk tak menyentuh Rania sebelum izin di berikan.
Kaki Rania juga melingkar di bagian bawah Arga, dan tanpa sadar membuat batangnya berdiri.
Rania memeluk Arga semakin erat di tambah di luar hujan dan menciptakan suasana yang dingin, Arga menyadari jika Rania kedinginan.
Lalu Arga menarik selimut dan menyelimuti tubuh istrinya, aroma aloevera masih tercium di hidungnya.
"Kamu wangi banget sih," ujar Arga tak henti-hentinya mencium aroma rambut Rania.
Tapi Rania tanpa sadar di alam bawah sadarnya dengan sangat nyaman memeluk suaminya, Arga membalas pelukan istrinya dengan lembut.
Tubuhnya berusaha menghangatkan tubuh istrinya.
"Tidurlah, nanti solat subuh saya bangunkan," kata Arga yang memeluk tubuh Rania sambil mencium aroma aloevera dari rambut sang istri.
Waktu terus berjalan, detingan jam mulai terdengar.
Hujan di luar terhenti saat adzan subuh berkumandang, dan Rania masih memejamkan matanya.
Arga membangunkannya dengan pelan-pelan.
"Dek...Dek bangun," ujar Arga menepuk-nepuk pipi istrinya.
Rania terduduk di atas ranjang.
Rambutnya yang keriting berantakan terurai tak beraturan.
Matanya mengedip-ngedip menyesuaikan pandangan, lalu Rania membulatkan mata saat sadar sudah di atas ranjang.
"Loh, kok bisa disini?" tanya Rania yang kaget.
"Bangun, ambil wudhu solat yaa," kata Arga menyuruh sang istri.
Rania masih keadaan bingung, mau menanyakan apa yang terjadi semalam. Matanya terus mencari apa ada noda darah di atas kasurnya.
Beruntung tak ada.
"Rania ambil wudhu solat subuh!" perintah Arga sebagai suaminya.
Rania hanya menganggukkan kepalanya, dalam keadaan rambutnya yang kacau dan wajahnya masih kusut, kakinya melangkahkan ke ubin.
Saat telapak kakinya menyentuh ubin, hawa dingin menusuk tulang langsung menyentuh tubuhnya.
"Di-dingin," ujar Rania tubuhnya menggigil.
Arga menghela napas, dirinya harus membimbing Rania seperti seorang anak kecil.
Arga Akhirnya membopong tubuh Rania dan menjejakkannya di atas keset.
"Ambil wudhu nanti solat subuh," titah Arga memerintah istrinya sekali lagi.
Rania yang semalam barusan di bentak oleh Arga hanya mengangguk patuh sambil menggigil kedinginan, sungguh Rania tak pernah diperlakukan seperti ini.
Jika solat subuh pun, di rumah ayahnya---Karto Wiratama selalu menyuruh putrinya air wudhu mengenakan air hangat.
Singkat waktu Rania mengenakan mukena putih, sementara Arga sudah mengenakan sarung dan peci lalu keduanya melaksanakan solat subuh.
Rania memulai menjalankan rumah tangga dengan kemandirian, tanpa rasa manja lagi dari ayahnya.
Setelah solat Rania menyalami tangan Arga, wajah gadis ini masih pucat---entah karena dingin karena hujan semalam, atau masih terbayang perintah Arga.
*
*
*