NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia cermin dari masalalu

Usai makan malam singkat. Jehan dan Sebria berpisah. Pria itu menurunkan Sebria di depan rumah orang tuanya lalu melaju untuk pulang ke rumah mengganti pakaian nya. Tidak di sangka rumah mereka searah.

...----------------...

Senyum lebar Byan tak bisa disembunyikan saat derit pintu kamar rawat itu terdengar. Bukan dokter dengan perawat yang datang, melainkan aroma melati dan mawar segar yang tiba-tiba memenuhi ruangan.

"Tante Bria!" Serunya girang, matanya berbinar melihat sosok wanita yang membawa buket kecil berwarna-warni itu mendekat. Baginya, kunjungan Sebria bukan sekadar menjenguk tapi membawa secercah warna ke dalam dunianya yang hanya berisi dinding putih dan bau obat-obatan.

"Apa kabar hari ini." Sebria meletak buket itu ke atas meja. Lalu berdiri di sisi brankar. "Bi Mer, saya bawa sarapan dimakan ya. Buat Jehan juga ada."

"Iya Nona, terimakasih. Bapak ke kantin membeli kopi." Bi Merry merasa senang di bawakan sarapan. Ia memang belum pernah melihat Sebria atau pun Ayusa sebelumnya.

"Kamu datang?" Jehan membawa cup kopi di tangan. "Kopi nya cuma satu kalau mau kita minum berdua."

"Tidak terimakasih, aku sudah minum kopi."

Jehan tersenyum tipis. Cara Sebria menolak cepat seolah mereka tidak pernah bertukar saliva saja. "Ini kamu yang bawa?"

"Hm, sarapan dulu nanti kopi nya."

Jehan menurut lalu mengambil sarapan bagiannya yang telah di siapkan Bi Merry. "Bria, ayo sarapan. Karena peralatan makannya sudah tidak ada lagi kita bisa berbagi sendok."

"Aku sudah sarapan. Kamu saja yang makan." Tanpa menoleh Sebria langsung menyahut. Tangannya sibuk menyuapi Byan mengambil alih pekerjaan Bi Merry.

Ck... Seperti kita tidak pernah berciuman saja

Kalimat itu hanya terucap dalam hati. Jehan benar-benar menikmati masakan Sebria. Masih seperti dulu hasil olahan tangan wanita itu tidak berubah. Tetap lezat yang menjadi salah satu membuat Jehan jatuh cinta. Sebria sangat pandai memanjakan lidah nya sebab itu dimasa lalu ia rela menunggu Sebria pulang bekerja dan makan bersama di apartemen wanita itu.

"Security sekolah Byan. Kemarin rawat jalan biaya pengobatan di tanggung oleh pemuda itu." Jehan tiba-tiba berdiri di belakang Sebria.

"Syukurlah. Itu yang ingin ku tanyakan sama kamu tadi." Sebria meletakan mangkok yang sudah kosong di atas nakas.

Bi Merry diam-diam memperhatikan bahasa tubuh dua orang itu. Mereka terlihat tidak secanggung kemarin. Cara mereka bicara cukup santai dengan pergerakan tubuh luwes dan biasa saja.

Pintu kamar terbuka dengan tenangnya, menandakan kedatangan dokter untuk jadwal visite rutin pagi itu.

Di atas tempat tidur, bocah laki-laki yang kemarin sempat membuat panik karena kecelakaan kini sudah bisa duduk tegak, meski beberapa bagian tubuhnya masih terbalut kasa.

"Halo, jagoan! Wah, hari ini wajahmu jauh lebih segar ya," Sapa dokter dengan nada ceria untuk mencairkan suasana.

Dokter mulai melakukan pemeriksaan fisik dengan telaten. Ia memeriksa respons pupil mata, menekan lembut area perut untuk memastikan tidak ada trauma dalam yang terlewat dan mengamati pergerakan tangan serta kaki Byan. Kecelakaan kemarin menyisakan luka lecet dan memar ringan tanpa ada retakan pada tulang atau cedera serius di kepala.

Sambil mencatat di papan rekam medis, dokter memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya istirahat dan kompres pada area yang memar untuk mempercepat pemulihan.

"Semua fungsimu normal. Luka-lukanya juga sudah mulai mengering. Karena kondisimu stabil dan tidak parah, kalau observasi siang ini tetap bagus, kamu sudah boleh pulang sore nanti," Pungkas dokter sembari menepuk lembut bahu Byan.

...----------------...

Cahaya matahari yang mulai melunak menyelinap masuk melalui jendela kamar, membasahi sprei bersih dengan warna jingga keemasan. Byan di perbolehkan pulang karena hasil observasi siang hari sangat baik.

Anak laki-laki itu bersandar di susunan bantal favoritnya. Manik matanya menatap ke arah luar. Sunyi itu yang dirasakannya. Berbeda saat di rumah sakit ada Sebria yang selalu datang menjenguknya.

"Pa, tante Sebria tidak kesini?"

"Tante Bria ada pesanan bunga, Nak."

"Boleh aku telpon tante?" Byan menatap penuh permohonan.

Jehan mengangguk lalu memberikan ponselnya. Ia memberi ruang untuk putra nya bicara pada Sebria. Jehan sengaja keluar dari kamar.

Lampu jalan baru saja berkedip mulai menyala ketika Sebria mengunci pintu toko bunganya. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah buket kecil berisi bunga matahari yang cerah dan beberapa tangkai lavender untuk memberikan efek menenangkan.

Sore itu, langit berwarna jingga keunguan, memayungi perjalanan Sebria menuju rumah Byan. Ia ingin menjenguk anak itu karena merengek di telpon merasa kesepian.

Sesampainya di sana, Sebria menemukan Byan sedang duduk bersandar di kursi teras, terbungkus jaket tebal. Wajah bocah itu masih agak pucat, namun matanya langsung berbinar saat melihat warna kuning mencolok dari bunga matahari yang dibawa Sebria.

"Ini untukmu, Jagoan," Sebria tersenyum hangat sembari menyerahkan buket tersebut. "Bunga matahari ini tidak suka layu, sama seperti kamu yang harus cepat kuat lagi."

Byan memeluk buket itu erat, menghirup aromanya dalam-dalam. Di bawah sisa cahaya senja yang tenang, suasana haru sekaligus damai menyelimuti teras tersebut.

"Ayo tante kita masuk."

Sebria mengangguk sambil membantu Byan melangkah pelan. Manik mata Sebria mengitari seluruh ruangan. Selera Jehan memang tidak berubah hanya saja cahaya dalam rumah itu sedikit gelap.

"Kamu datang?" Jehan menuruni anak tangga dengan wajah segar setelah mandi. "Maaf merepotkan kamu. Dari tadi dia mencari kamu."

"Tidak masalah." Sebria tersenyum. "Tapi aku tidak bisa lama. Mama menyuruhku cepat pulang."

Jehan mengangguk. "Makan malam dulu."

"Seperti nya tidak sempat, Je..."

"Tante mau pulang cepat?"

"Iya sayang, orang di rumah minta pulang cepat." Jelas Sebria.

"Kapan-kapan aku boleh tidak ikut ke rumah tante."

"Boleh banget, Nak. Tunggu sembuh ya nanti kita jalan berdua terus main ke rumah tante."

Wajah Byan sumringah rasa nya ingin sekali cepat sembuh. Pertama kali nya ia di ajak oleh seseorang untuk jalan-jalan selain Bi Merry dan ayahnya. Byan sudah membayangkan kemana saja akan menghabiskan waktu bersama Sebria nanti pasti menyenangkan.

...----------------...

Malam telah jatuh sepenuhnya, menyisakan suara jangkrik dan embusan angin dingin yang menyelinap lewat celah jendela. Di ruang tengah, cahaya lampu temaram menciptakan suasana yang berat. Tidak ada lagi candaan seperti sebelumnya, kini hanya ada Sebria dan Keona duduk berhadapan dengan secangkir kopi yang sudah mendingin.

"Kak kita perlu bicara serius," Buka Keona, suaranya rendah namun tegas. Ia meletakkan ponselnya, tidak lagi berniat mencari bahan gurauan. "Menjenguk anak itu adalah hal baik. Tapi kakak tahu, 'kan, Byan adalah cermin dari masa lalu yang menghancurkan Kakak?"

Sebria terdiam, jemarinya memainkan pinggiran cangkir. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Dia hanya anak kecil, Keo. Dia tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi antara aku dan orang tua nya dulu. Dan saat ini kakak tidak memiliki perasaan apa pun lagi. Sakit dan cinta semuanya sudah selesai."

"Aku paham." Sahut Keona. Setiap kali kakak menceritakan tentang anak itu, aku bisa melihat kakak mencari sesuatu yang kurang dari kakak. Jangan sampai berjalan menuju lubang yang sama dan aku tidak mau melihat kakak sakit lagi apa lagi pada orang sama."

Keheningan malam terasa makin mencekam. Sebria menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di permukaan kopi hitam. Ia sadar, perhatiannya pada Byan itu memang tulus, namun ada garis tipis antara empati dan kerinduan yang salah alamat.

"Kakak cuma merasa dia butuh seseorang, Keo," Bisik Sebria pelan.

"Dia punya ayahnya, Kak. Dan ayahnya punya hidupnya sendiri sekarang," Balas Keona. "Jangan jadikan kebaikan hati kakak sebagai tiket masuk kembali ke masa lalu yang sudah kita tutup rapat-rapat." Awalnya Keona bersikap biasa saja saat belum tahu siapa Byan. Namun, setelah tahu ia memperingati kakaknya.

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!