NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Aku Mencintainya

Arslan mendekat dan menatap Abel yang masih pucat. "Kenapa kamu tidak pernah meminta bantuan Kak Reno untuk mengurus Farel?"

Abel tertegun, sendok bubur yang hampir masuk ke mulutnya tertahan di udara. Pertanyaan Arslan yang terdengar santai itu sebenarnya menghujam tepat ke titik paling sensitif dalam hidupnya. Ia menunduk, mengaduk buburnya perlahan, berusaha menata debar jantungnya yang bukan lagi karena tersipu, melainkan karena beban memori yang kembali menyeruak.

"Kak Reno sudah terlalu banyak menanggung beban, Lan," jawab Abel lirih tanpa menatap mata pria itu. "Dia kehilangan separuh jiwanya saat orang yang dia cintai pergi. Perusahaan, tekanan kerja, dan duka yang belum selesai... aku nggak mau menambah beban di pundaknya dengan keluhan 'aku capek'."

Abel terdiam sejenak, lalu menatap Farel yang tertidur pulas. Sorot matanya berubah menjadi sangat lembut namun penuh tekad. "Lagi pula, Farel cuma punya aku yang bisa stand-by 24 jam. Bagiku, melihat Farel tumbuh sehat itu sudah cukup untuk membayar rasa capek ku. Aku sudah janji... akan menjaganya seperti anakku sendiri."

"Seperti anak sendiri?" Lirih Arslan membuat Abel terdiam, ia ingin menarik ucapannya kembali.

Arslan memperhatikan setiap perubahan ekspresi Abel. Ia menangkap kata tersebut, sebuah kalimat yang bagi orang awam mungkin terdengar biasa, namun bagi Arslan yang sudah tahu kebenarannya, itu adalah konfirmasi tentang pengorbanan besar Abel.

"Maksud ku...."

"Aku tahu, Bel." Ucap Arslan membuat Abel terdiam.

"Tapi kamu juga manusia, Bel," Arslan menggeser duduknya sedikit lebih dekat, suaranya merendah dan sangat hangat. "Seorang 'Ibu' yang hebat pun butuh sandaran. Kamu nggak harus selalu jadi pahlawan sendirian. Kak Reno memang sibuk bekerja, tapi dia juga pasti ingin kamu bahagia, bukan cuma sekadar jadi Ibu asuh yang kelelahan."

Abel tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa getir. "Kamu nggak tahu rasanya jadi aku, Arslan. Ada tanggung jawab yang nggak bisa aku delegasikan ke siapapun."

Arslan meraih tangan Abel yang dingin, menggenggamnya dengan lembut. "Aku memang nggak tahu rasanya jadi kamu. Tapi aku tahu rasanya ingin melindungi orang yang sedang berjuang sendirian. Kalau kamu nggak mau minta bantuan Kak Reno karena nggak enak, kenapa nggak minta bantuan aku? Aku dokternya Farel, dan aku... aku orang yang ingin ada di samping mamanya."

Abel terdiam, tangannya tidak ditarik dari genggaman Arslan. Suasana ruangan yang terkunci itu mendadak terasa sangat intim. Abel bisa merasakan ketulusan Arslan yang kini terasa berbeda jauh dengan Arslan yang dulu pernah menjadikannya bahan taruhan.

Suasana hangat dan intim itu seketika pecah berkeping-keping. Genggaman tangan Arslan terlepas saat suara gedoran keras menghantam pintu kayu ruangan tersebut.

BRAK! BRAK!

"Abel! Buka pintunya! Suster bilang kamu di dalam sama Dokter Arslan dan kenapa ini pintunya dikunci! Apa-apaan ini?!" Suara bariton Reno menggelegar, penuh dengan nada protektif dan kecemasan yang meluap.

Wajah Abel yang tadinya merona kini berubah pucat pasi seputih kertas. Ia langsung berdiri tegak, hampir saja menyenggol mangkuk buburnya. "Kak Reno?! Bukannya dia harusnya baru pulang besok?" bisiknya panik, matanya bergerak liar menatap Farel yang mulai menggeliat terbangun karena suara gaduh itu.

Arslan ikut berdiri. Meski ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, melihat reaksi Abel membuat nyalinya sedikit menciut menghadapi calon kakak ipar yang sedang murka itu. Namun, Arslan tetap berusaha tenang. Ia merapikan jas dokternya dan melangkah menuju pintu.

"Jangan, Arslan! Biar aku saja yang buka," cegat Abel, namun Arslan hanya memberinya tatapan yang seolah berkata, 'Tenang, aku yang hadapi.'

KLIK.

Arslan memutar kunci dan membuka pintu. Belum sempat Arslan mengucapkan sepatah kata pun, Reno sudah merangsek masuk ke dalam ruangan. Matanya menyapu seluruh sudut; ia melihat Abel yang tampak kusut, mangkuk makanan di sofa, dan Farel yang berada di baby bouncer.

"Apa yang kalian lakukan di dalam ruangan terkunci, hah?!" Reno mencengkeram kerah jas putih Arslan, mendorongnya sedikit ke arah meja kerja. "Gue titip adik gue dan anak gue buat kontrol kesehatan, bukan buat lo ajak macam-macam di jam praktik! Lo emang dari dulu otaknya selalu mesum!"

"Kak, cukup! Arslan nggak ngapa-ngapain!" teriak Abel sambil menghampiri mereka, berusaha melepaskan tangan Reno dari Arslan. "Aku tadi pusing dan hampir pingsan karena kurang tidur. Arslan cuma bantu aku istirahat dan makan! Tidak ada hal aneh seperti yang Kakak pikirkan."

Reno menoleh ke arah Abel, tatapannya menajam. "Istirahat bisa di sofa depan, Abel! Nggak perlu dikunci! Kamu tahu kan siapa laki-laki ini? Dia pria yang pernah bikin kamu nangis berbulan-bulan!"

Arslan melepaskan tangan Reno dari kerahnya dengan perlahan namun tegas. Ia menatap Reno tepat di mata. "Gue tahu gue punya catatan buruk di mata Kak Reno. Tapi hari ini gue cuma menjalankan tugas gue sebagai dokter dan... sebagai orang yang peduli sama Abel. Lo lihat dia, dia kecapekan karena ngurus Farel sendirian saat lo nggak ada. Alih-alih marah sama gue, harusnya lo tanya gimana keadaan adik lo sekarang."

Reno terdiam sejenak, napasnya memburu. Ia melirik Abel yang kini mulai menangis karena tertekan dengan situasi ini. Rasa bersalah mulai muncul di hati Reno; ia memang terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya sampai lupa bahwa Abel-lah yang menopang seluruh beban rumah tangga sendirian.

Reno menarik nafas panjang, ia merasa bersalah. Reno merasa telah gagal menjadi Kakak dan Ayah. Reno tidak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin mengabaikan orang-orang yang sangat berharga dalam hidupnya.

Farel yang tadinya hanya merengek kini mulai menangis kencang. Suara tangisan bayi itu seketika meredam ego kedua pria dewasa di ruangan tersebut. Abel segera meraih Farel, memeluknya erat sambil terisak.

"Bawa Farel pulang, Bel. Sekarang," ucap Reno dengan suara yang lebih rendah, meski matanya masih memberikan tatapan maut pada Arslan.

Abel tidak ingin berdebat ia menurut pada omongan Kakaknya. Abel menggendong Farel dan membawanya pulang.

Reno terdiam sejenak, menatap Arslan. Meski bibirnya kelu tapi lirih terucap kata terimakasih.

"Jika Kak Reno mau berterimakasih ucapkan dengan benar." Seru Arslan dan berjalan menuju meja kerjanya.

Reno memejamkan matanya dan menarik nafas panjang agar tidak terpancing emosi. "Gue bilang, terimakasih!"

"Iya, sama-sama Kakak ipar."

Mata Reno melotot mendengar ucapan aneh dari mulut Arslan. "Lama-lama lo ngelunjak juga ya, Lan."

"Kali ini gue serius, Kak. Gue ingin memperbaiki hubungan dengan Abel. Gue sayang dia, Kak."

Mendengar ucapan Arslan, Reno hanya bisa terdiam. Ia tahu, adiknya pun memiliki perasaan yang sama terhadap Arslan. Meski pria di hadapannya ini pernah menyakiti perasaan Abel hingga gadis itu kehilangan rasa percaya diri, namun Reno tahu hati adiknya itu telah terkunci untuk satu pria.

Reno tak banyak bicara, ia berlalu pergi. Untuk merestui hubungan mereka bukanlah keputusan Reno, bahkan untuk melarang pun Reno tidak memiliki hak. Biarkan waktu yang menentukan jawaban di antara keduanya.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!