Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Rel Harapan di Langit Kelam
"ARIS! GASPOL SEKARANG ATAU KITA JADI KERUPUK!" teriak Sekar sambil memeluk erat Adrian kecil di punggungnya.
Lantai gua karang itu sudah bukan sekadar retak, tapi benar-benar hancur. Tangan-tangan mekanik raksasa milik The Eraser yang berbentuk kubus-kubus hitam itu muncul dari balik pasir, mencengkeram apa saja dengan suara mesin yang memekakkan telinga.
Bunker "Akar Sejati" sudah miring hampir 45 derajat, mesinnya batuk-batuk mengeluarkan asap biru yang bau kabel terbakar.
Aris di kursi pilot keringat dinginnya sudah sebesar biji jagung. "GUA LAGI USAHA, KAR! TAPI INI BUKAN MOBIL BALAP, INI GUDANG RONGSOK YANG DIPAKSA TERBANG!"
Tiba-tiba, tanaman teh pelangi yang tadi tumbuh raksasa bereaksi. Seolah-olah mengerti kalau tuannya sedang terdesak, akar-akarnya yang sebesar batang pohon beringin itu melesat ke depan, merambat cepat ke arah luar gua dan membentuk jalur spiral yang sangat panjang menuju kaki Menara Hitam.
"Liat itu, Ris! Pake akarnya buat jadi rel!" perintah Sekar.
"Gila lu ya? Oke, ayo kita coba hal gila ini!" Aris memutar tuas kemudi dengan kasar. Bunker itu meloncat, roda-roda pendaratannya yang sudah penyok itu mendarat di atas akar teh yang licin dan berpendar.
SREEEETTTTT!
Bunker itu meluncur bak roller coaster dimensi. Aris terus-menerus memaki mesinnya yang mulai korslet, sementara di belakang mereka, gua karang itu runtuh total, ditelan oleh kegelapan portal pembuangan yang semakin lapar.
"Hahaha! Rasakan itu, robot-robot kotak!" Aris berteriak girang saat bunker mereka melesat menjauhi jangkauan tangan mekanik The Eraser. Namun, kegembiraannya hanya sebentar. Di depan mereka, Menara Hitam berdiri tegak dengan aura yang sangat menindas.
Pendakian yang Menyesakkan
Begitu mereka sampai di kaki menara, bunker itu tidak bisa naik lagi secara horizontal. Struktur menara itu vertikal sempurna, halus seperti kaca hitam, tapi luasnya minta ampun.
"Kita harus manjat, Ris?" tanya Sekar lemas melihat ketinggian menara yang puncaknya sudah hilang di balik awan abu-abu.
"Nggak perlu manjat manual. Bunker ini punya mode 'Gecko', tapi energinya harus dialirin langsung dari niat penggunanya," Aris menengok ke arah Adrian kecil yang masih lemas di punggung Sekar. "Dri... Bos kecil... gua butuh bantuan lu lagi. Kasih tahu gua, di mana celah kabel energinya?"
Adrian kecil membuka matanya yang sayu. Dia tidak bicara, tapi dia mengulurkan tangan kecilnya ke arah panel kendali yang sudah hancur. Lewat sentuhan itu, Aris tiba-tiba merasakan sebuah peta skema menara muncul di kepalanya. Bukan lewat angka, tapi lewat perasaan "hangat" dan "dingin".
"Oke, gua dapet! Di sebelah kiri ada jalur induksi magnetik! Kita bisa nempel di sana!" Aris banting stir ke kiri.
Bunker itu mulai mendaki secara vertikal, menempel pada dinding menara hitam. Tapi, saat mereka mulai tinggi, dinding menara itu berubah. Permukaannya yang tadinya hitam polos mulai memantulkan gambar-gambar yang sangat jernih.
Sekar melihat pantulan itu dan langsung bergidik. Itu adalah masa lalu Adrian saat masih menjadi The Shark di Jakarta.
Dia melihat Adrian yang sedang duduk di ruang rapat mewah, memecat ratusan karyawan dengan wajah tanpa ekspresi. Dia melihat Adrian yang sedang menandatangani kontrak penghancuran lahan hutan demi proyek ambisius. Di gambar lain, terlihat Adrian yang sedang mengabaikan telepon dari ibunya hanya karena urusan bisnis.
"Adrian, jangan liat!" Sekar dengan sigap menutup mata Adrian kecil menggunakan telapak tangannya. "Jangan liat itu, Dri. Itu bukan kamu yang sekarang."
Tapi suaranya tetap terdengar. Suara Adrian dewasa yang dingin dan penuh kesombongan menggema dari dinding menara, menghasut pikiran mereka.
"Keberhasilan menuntut pengorbanan, Sekar. Kamu pikir kebun tehmu itu bisa memberi makan jutaan orang? Hanya kekuasaan yang bisa,"suara pantulan itu terdengar sangat nyata.
"BOHONG!" teriak Sekar. Dia mencium puncak kepala Adrian kecil. "Kamu anak baik, Dri. Kamu penyelamat Malabar. Jangan dengerin bayangan itu."
Adrian kecil gemetar di pelukan Sekar. Air mata kecil jatuh dari matanya yang tertutup. "Maaf... aku jahat ya, Kak?" bisiknya lewat telepati yang sangat samar.
"Enggak, sayang. Itu cuma ampas yang lagi kita buang," Sekar mengeratkan pelukannya.
Predator vs Predator
Di tengah pendakian vertikal yang menegangkan itu, tiba-tiba sebuah guncangan hebat menghantam dinding menara. Dari arah bawah, Raksasa Bayangan (si The Shark) muncul dengan kecepatan tinggi, merangkak di dinding menara menggunakan sabit merahnya sebagai tumpuan.
"Waduh, si mantan bos ngejar lagi!" Aris panik, mencoba mempercepat laju bunker.
Tapi, di saat yang sama, kubus-kubus hitam The Eraser mulai berdatangan dari langit.
Mesin-mesin itu tidak hanya mengincar bunker Sekar, tapi juga menyerang si Raksasa Bayangan. Bagi The Eraser, segala sesuatu yang ada di Sub-Root saat ini adalah "Limbah" yang harus dihapus, tidak peduli apakah itu manusia asli atau hanya sekadar ego yang tertinggal.
BZZZZZT!
Salah satu kubus hitam menembakkan laser penghancur tepat ke arah Raksasa Bayangan. Raksasa itu menggeram marah, memutar sabitnya dan membelah kubus itu jadi dua. Pertempuran antara si Ego dan si Penghapus pun pecah tepat di bawah bunker Aris.
"Ini kesempatan kita! Biar mereka baku hantam di bawah!" Aris memanfaatkan kekacauan itu. Dia memacu bunkernya melewati ledakan-ledakan energi yang menyambar-nyambar.
Sekar melihat ke bawah sejenak. Raksasa Bayangan itu bertarung dengan babi buta. Dia terlihat sangat kuat, tapi juga sangat kesepian. Dia menghancurkan mesin-mesin The Eraser dengan kemarahan yang meluap-luap, seolah-olah dia juga menolak untuk dihapus dari sejarah.
"Dia bener-bener nggak mau mati, Kar," gumam Aris yang ikut mengintip.
"Dia itu ambisi Adrian yang paling kuat, Ris. A
mbisi itu nggak bakal mau nyerah gitu aja," balas Sekar. "Tapi kalau dia berhasil menang dari robot-robot itu, dia bakal ngejar kita lagi dengan kekuatan yang lebih gila."
Jantung yang Berdenyut
Semakin dekat mereka dengan puncak, gravitasi terasa semakin kacau. Bunker Aris mulai bergoyang-goyang hebat karena medan magnetik di puncak menara sangat tidak stabil.
Tiba-tiba, Jantung Emas yang dibawa Sekar menyala dengan warna merah yang sangat pekat. Proyeksi Ibu Adrian muncul lagi, tapi kali ini wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Waktunya hampir habis! Matahari sudah menyentuh garis laut! Kalian harus segera menyatukan sari ini di Inti Menara, atau semuanya akan lenyap!"
"Tapi gimana caranya, Wak?!" teriak Aris ke arah Wak Haji yang sejak tadi duduk bersila di pojok bunker sambil terus komat-kamit.
Wak Haji membuka matanya. Matanya sekarang putih cemerlang. "Gunakan akarnya, Neng Sekar. Bukan akar teh yang tadi, tapi akar yang ada di dalem hatimu. Panggil Nak Adrian yang asli, panggil dia dengan namanya yang paling murni!"
Sekar menatap Adrian kecil yang sekarang mulai bercahaya. Tubuh mungil anak itu perlahan-lahan mulai berubah menjadi partikel cahaya pelangi lagi. Proses transformasi paksa ini kelihatannya sangat menyakitkan bagi si bocah.
"A-Adrian... tahan sebentar lagi," Sekar memegang kedua tangan mungil itu.
Tiba-tiba, dari puncak menara yang sudah dekat, keluar sebuah pusaran hitam raksasa. Pusaran itu mulai menyedot segala sesuatu yang ada di menara. Bunker Aris kehilangan daya tempelnya.
"KAR! KITA LEPAS! KITA BAKAL JATUH!" Aris berteriak saat bunker mereka mulai melayang menjauh dari dinding menara, tertahan di udara oleh gaya tarik pusaran di puncak.
Di bawah mereka, Raksasa Bayangan sudah berhasil menghancurkan sebagian besar The Eraser dan mulai melompat ke arah bunker mereka dengan sabit yang siap menebas.
Di saat yang sama, matahari di cakrawala Sub-Root sudah tenggelam setengahnya. Lautan cahaya perak mulai menghilang, digantikan oleh lubang hampa yang mulai menelan seluruh dimensi.
"Adrian!" Sekar berteriak di tengah badai dimensi itu. "Bangun, Adrian! Malabar butuh kamu! Aku butuh kamu!"
Adrian kecil di pelukan Sekar tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. Tapi kali ini, matanya tidak hanya berwarna emas, tapi ada kilatan biru murni seperti air terjun di Malabar.
Dia tidak lagi ketakutan. Dia menatap ke arah Raksasa Bayangan di bawah, lalu menatap ke arah pusaran di atas.
"Kakak... aku ingat sekarang,"suara Adrian terdengar sangat jernih di kepala Sekar. "Aku ingat wanginya teh yang Kakak seduh. Aku ingat kenapa aku milih buat meledak. Aku siap."
Tubuh Adrian kecil meledak menjadi ribuan helai benang cahaya yang langsung melilit seluruh bunker, menarik bunker itu dengan paksa menuju pusat pusaran di puncak menara sebelum sabit si Raksasa Bayangan sempat menyentuh mereka.
Bunker "Akar Sejati" berhasil masuk ke dalam pusaran di puncak menara, namun mereka mendapati bahwa di dalam inti tersebut, tidak ada mesin atau teknologi alien. Yang ada hanyalah sebuah taman kecil yang layu yang persis seperti kamar tidur masa kecil Adrian.
Mengapa pusat dari segala teknologi canggih ini berbentuk memori masa kecil? Dan apa yang akan terjadi ketika Raksasa Bayangan berhasil menembus pusaran tersebut dan berhadapan langsung dengan Adrian kecil yang kini mulai menyatu dengan ingatan-ingatannya? Apakah Sekar sanggup melihat Adrian kembali menjadi "The Shark" demi bisa mengalahkan musuh yang lebih besar di luar sana?
semangat update terus tor..