Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunyi yang Tidak Wajar
Tiga hari perjalanan menuju Sekte Pedang Langit pun berlalu tanpa terasa. Selama tiga hari terakhir itu, perjalanan mereka berjalan terlalu tenang. Tidak ada perampok, tidak ada binatang buas, bahkan tidak ada gangguan dari pendekar aliran hitam.
Gao Rui dan Tetua Bei bergerak cepat, kadang menyusuri jalur pegunungan, kadang menyeberangi dataran luas. Sesekali mereka beristirahat di desa kecil di sepanjang jalan, menukar beberapa koin dengan makanan hangat dan air bersih. Di lain waktu, mereka memilih bermalam di alam terbuka, berteduh di bawah pohon besar atau di ceruk batu, hanya ditemani suara serangga malam dan desir angin.
Bagi Gao Rui, perjalanan itu terasa seperti jeda sunyi sebelum badai. Tubuhnya terus bergerak, namun pikirannya tetap waspada, mengingat semua ajaran gurunya. Ia tidak lengah hanya karena perjalanan tampak mudah.
Hingga suatu pagi, ketenangan itu terputus. Saat matahari baru saja naik, mereka tiba di sebuah desa yang terletak tidak jauh dari sebuah hutan lebat. Namun, alih-alih melihat asap dapur atau mendengar suara ayam berkokok, yang menyambut mereka hanyalah keheningan yang menyesakkan.
Bangunan-bangunan di desa itu hancur berantakan. Rumah-rumah kayu roboh, dinding batu retak dan runtuh, tanah penuh bekas cakar dan hantaman yang tidak beraturan. Beberapa atap terlihat tercabik, seolah disobek oleh kekuatan kasar yang tidak mengenal teknik.
Gao Rui dan Tetua Bei memperlambat langkah mereka. Keduanya menginjakkan kaki di desa itu dengan kewaspadaan penuh.
“Ada orang?” panggil Gao Rui, suaranya menggema lemah di antara bangunan yang rusak.
Tidak ada jawaban. Mereka bergerak menyusuri jalan utama desa, memeriksa satu per satu rumah yang masih berdiri setengah runtuh. Di beberapa tempat terlihat bekas darah yang sudah mengering, namun tidak ditemukan satu pun jasad. Tidak ada jeritan, tidak ada tanda kehidupan.
Tetua Bei berhenti di tengah jalan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan yang lebih dalam. Pandangannya menyapu kerusakan di sekeliling mereka, dari bekas hantaman di tanah hingga pola kehancuran pada bangunan.
“Ini bukan ulah pendekar aliran hitam,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan berat.
Gao Rui menoleh.
“Bagaimana Tetua bisa yakin?”
Tetua Bei berjongkok, menyentuh tanah yang retak dengan dua jarinya.
“Serangan pendekar, sekejam apa pun, tetap meninggalkan jejak teknik dan aliran tenaga dalam yang terarah,” jelasnya. “Namun ini…” Ia menunjuk bekas-bekas kerusakan yang tidak beraturan. “Brutal, liar, dan tidak terkendali. Ini adalah serangan siluman.”
Jantung Gao Rui berdegup sedikit lebih cepat. Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan.
Keduanya kembali melangkah, masuk lebih dalam ke desa. Mereka memeriksa gudang, sumur, bahkan balai kecil di tengah desa. Namun hasilnya tetap sama, kosong. Tidak ada satu pun orang yang tersisa, hidup ataupun mati, seolah seluruh desa telah ditelan begitu saja.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan. Ada perasaan tidak nyaman merayap di dadanya.
Tetua Bei berdiri tegak, menatap ke arah hutan lebat di kejauhan.
“Siluman tidak akan menyerang tanpa alasan,” katanya dingin. “Dan mereka jarang bergerak sendirian.”
Tatapan Gao Rui mengikuti arah pandangan sang tetua. Dari balik pepohonan, hutan itu tampak sunyi. Terlalu sunyi. Tanpa disadari, perjalanan menuju kompetisi antar sekte telah membawa mereka pada sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar pertarungan di atas arena.
Karena tidak menemukan apa pun selain kehancuran dan keheningan, Gao Rui dan Tetua Bei akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke jalur utama. Desa itu mereka tinggalkan tanpa menoleh lagi, namun bayangan kehancurannya tetap tertanam di benak Gao Rui.
Matahari terus merangkak naik. Menjelang tengah hari, setelah menempuh beberapa li perjalanan, pemandangan di depan mereka kembali berubah. Dari kejauhan, tampak sebuah desa lain berdiri di tengah dataran terbuka.
Namun, sejak pandangan pertama saja sudah terasa ada yang tidak wajar. Desa itu dikelilingi tembok-tembok sederhana yang disusun dari batu kasar dan kayu seadanya. Tingginya tidak seberapa, jelas dibangun dengan tergesa-gesa. Beberapa bagian bahkan tampak miring dan retak, seolah hanya bertahan karena dipaksa berdiri. Di beberapa titik, terlihat kayu yang hangus, batu yang pecah, dan bekas senjata yang menancap atau tergeletak di tanah.
“Itu…” Gao Rui memperlambat langkahnya. Matanya menyapu sekeliling tembok dengan kening berkerut. “Seperti benteng darurat.”
Tetua Bei mengangguk pelan. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan.
“Dan bekas pertempuran masih baru.”
Jejak darah yang mengering di tanah, tanda-tanda perbaikan darurat, serta aura tegang yang samar terasa di udara membuat desa itu tampak seperti seseorang yang baru saja selamat dari bencana, namun masih gemetar menunggu serangan berikutnya.
Gao Rui memandang desa itu cukup lama sebelum akhirnya menoleh ke Tetua Bei.
“Tetua, bagaimana kalau kita mampir?” tanyanya. “Mungkin mereka tahu sesuatu. Atau setidaknya… kita bisa memastikan keadaan mereka.”
Tetua Bei menatap muridnya sejenak, lalu menghela napas tipis.
“Kau semakin peka,” katanya. “Baiklah. Tapi tetap waspada.”
Keduanya berjalan mendekat. Saat tiba di depan gerbang desa, mereka berhenti. Pintu kayu besar itu tampak setengah rusak, penuh bekas tebasan dan hantaman. Beberapa papan bahkan sudah diganti dengan kayu lain yang lebih tipis.
Belum sempat Gao Rui membuka mulut, tiba-tiba pintu itu bergerak.
Krekk…
Gerbang terbuka perlahan, memperlihatkan dua orang pria yang berdiri di baliknya. Pakaian mereka sederhana, namun tampak kotor dan penuh tambalan. Wajah keduanya tegang, tangan mereka menggenggam tombak dan golok dengan erat.
Begitu melihat Gao Rui dan Tetua Bei, kedua pria itu tertegun sejenak. Lalu salah satunya maju setengah langkah.
“Kalian…” suaranya ragu namun penuh harap, “apakah kalian bala bantuan yang kami minta?”
Gao Rui terdiam. Ia sama sekali tidak memahami maksud pertanyaan itu. Bala bantuan? Dari siapa? Untuk apa? Wajahnya menunjukkan kebingungan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ia melirik Tetua Bei, memberi isyarat tak langsung agar sang tetua yang menjawab. Tetua Bei tersenyum tipis, senyum yang tenang dan penuh wibawa, ciri seseorang yang telah melewati puluhan tahun badai dunia persilatan.
“Kami bukan bala bantuan,” katanya dengan nada diplomatis. “Aku Tetua Bei dari Sekte Bukit Bintang. Kami kebetulan melintas di wilayah ini dan melihat kondisi desa kalian yang tidak biasa. Karena itu, kami ingin bertanya… apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Dua pria itu membelalak.
“S-Sekte Bukit Bintang?” seru salah satunya nyaris tanpa sadar.
Wajah mereka berubah drastis. Kewaspadaan bercampur tegang seketika berganti dengan keterkejutan dan rasa hormat. Sebagai orang desa, mereka mungkin tidak memahami seluk-beluk dunia persilatan, namun nama Sekte Bukit Bintang, sekte besar aliran putih bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka.
Keduanya saling pandang, lalu segera menundukkan kepala.
“Maafkan sikap kami sebelumnya,” kata pria yang pertama dengan suara lebih sopan. “Silakan masuk, Tetua. Silakan masuk.”
Tanpa menunggu lama, mereka membuka gerbang lebih lebar dan mempersilahkan Gao Rui serta Tetua Bei masuk ke dalam desa. Di balik tembok sederhana itu, suasana desa tampak jauh dari kata tenang. Wajah-wajah penuh lelah, ketakutan yang belum sepenuhnya sirna, dan udara yang dipenuhi kegelisahan.
Langkah Gao Rui terasa lebih berat saat ia memasuki desa itu. Ia menyadari satu hal dengan jelas. Kehidupan di luar sekte… tampaknya tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.