NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 2 - TUTORIAL PALING AMPAS

Tiga bulan yang lalu.

Kesadaran itu datang seperti sisa rasa kantuk setelah begadang semalaman menonton maraton anime. Sayup, berat, dan menyebalkan.

Hal pertama yang tertangkap oleh indra Ash bukanlah cahaya ilahi atau suara dewi cantik yang menawarkan kekuatan cheat. Melainkan dingin. Dingin yang basah dan meresap sampai ke tulang. Lalu sensasi aneh di sekujur tubuh, seperti tenggelam dalam sesuatu yang kental.

Air.

Dia ada di dalam air.

Mata Ash terbuka lebar. Pandangannya kabur, tapi cukup jelas untuk melihat permukaan air di atas kepalanya, berkilauan oleh cahaya matahari yang menembus.

Panik langsung melanda.

Ash menendang, mengayuh, berenang ke atas dengan gerakan yang sama sekali tidak elegan. Kepalanya menyembul ke permukaan dengan bunyi BYUARR keras, air muncrat ke segala arah.

"HUAAAAHHH!" Ash tersedak, batuk batuk keras sambil mengapung dengan susah payah. "AIR! KENAPA AKU DI AIR?!"

Dia mengayuh ke tepi terdekat, yang ternyata adalah tepi danau kecil dengan bebatuan berlumut. Tangannya mencengkeram batu, mencoba menarik tubuhnya keluar.

Tapi sesuatu menarik kakinya.

Sesuatu yang kuat.

Sesuatu yang punya gigi.

"HAH?!"

Ash menoleh ke bawah, dan yang dia lihat membuat jantungnya nyaris berhenti.

Seekor buaya. Besar. Sangat besar. Panjangnya mungkin empat meter, dengan kulit kehijauan yang dipenuhi sisik kasar. Dan rahangnya yang penuh gigi runcing sedang mencengkeram betis kaki kanan Ash dengan erat.

Tidak sakit.

Belum.

Tapi Ash bisa merasakan tekanan. Gigi gigi tajam itu mulai menembus kulit. Darah mulai keluar, mengalir dan bercampur dengan air danau.

"BUAYA?! BUAYA BENERAN?!" teriak Ash histeris. "LEPAS! LEPAS! AKU BUKAN MAKANAN! AKU MASIH PUNYA UTANG STUDENT LOAN!"

Buaya itu tidak peduli dengan keluhan finansial Ash. Cengkeramannya semakin kuat. Ash merasakan tulangnya mulai retak.

Dan kemudian, rasa sakit itu datang.

Sakit yang menusuk. Tajam. Seperti ada ratusan jarum panas yang menancap di betisnya sekaligus.

"AAAAAARGGHHH!"

Refleks, Ash menendang kepala buaya itu dengan kaki kiri. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tapi kulitnya terlalu keras. Seperti menendang ban truk.

Buaya itu justru menarik lebih kuat, mencoba menyeret Ash kembali ke dalam air.

Ash panik total. Tangannya mencengkeram bebatuan tepi danau dengan putus asa, kukunya sampai patah. Tapi genggaman buaya terlalu kuat.

Dia akan tenggelam.

Dia akan dimakan.

Dia akan mati.

Dan saat pikiran itu melintas, sesuatu dalam diri Ash meledak.

Bukan ledakan fisik.

Tapi ledakan... energi.

Cahaya emas tiba tiba muncul dari tubuhnya. Tidak terang menyilaukan, tapi cukup untuk membuat air di sekitarnya bergetar. Gelombang kecil energi memancar dari dadanya, merambat ke seluruh tubuh, lalu meledak keluar.

BYUARRR!

Buaya itu terlempar. Tubuhnya terpental mundur seperti ditendang oleh kekuatan tak kasat mata, menghantam air dengan bunyi gedebuk keras sebelum menghilang ke kedalaman danau.

Ash, yang masih mencengkeram batu, terdiam.

Napasnya memburu. Jantungnya berdebar seperti drum taiko yang dipukul orang gila.

Dan kakinya...

Perlahan, Ash menarik tubuhnya keluar dari air. Duduk di tepi danau dengan napas terengah. Lalu dia melihat betis kanannya.

Ada bekas gigitan. Dalam. Daging robek, tulang terlihat sedikit, darah mengalir deras.

Tapi saat dia menatapnya...

Lukanya menutup.

Tidak perlahan.

Tidak bertahap.

Daging yang robek tumbuh kembali. Kulit menyatu. Darah berhenti mengalir. Dalam hitungan detik, betisnya kembali utuh. Tidak ada bekas. Tidak ada luka. Bahkan tidak ada rasa sakit.

Seperti tidak pernah terluka sejak awal.

Ash menatap kakinya dengan mata membulat. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Lalu dia menatap tangannya. Tangan yang tadi mengeluarkan cahaya emas aneh.

"Apa... apaan ini?" bisiknya pelan.

Hening.

Hanya suara air danau yang beriak pelan dan kicauan burung di kejauhan.

Ash duduk di sana, basah kuyup, gemetar, dan sangat, sangat bingung.

Lalu pikirannya mulai bekerja. Perlahan. Mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.

"Oke. Oke. Mari kita recap." Ash menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku bangun di danau. Di danau yang aku tidak kenal. Lalu ada buaya raksasa yang mau makan aku. Lalu aku ngeluarin cahaya emas entah dari mana dan ngelempar buayanya. Lalu kaki aku yang robek parah sembuh sendiri dalam lima detik."

Dia terdiam.

"Dan sekarang aku ngomong sendiri kayak orang gila."

Ash menatap langit. Langit biru cerah tanpa awan. Bukan langit Jakarta yang penuh polusi. Ini langit yang terlalu bersih. Terlalu indah. Terlalu... asing.

"Tunggu," gumam Ash. "Kalau ini bukan Jakarta... kalau ini bukan Bumi..."

Matanya melebar.

"Jangan jangan..."

Dia berdiri dengan cepat, hampir terpeleset di bebatuan basah. Pandangannya menyapu sekeliling dengan panik.

Danau. Hutan lebat di sekelilingnya. Pohon pohon raksasa yang tingginya tidak masuk akal. Tanaman tanaman aneh yang tidak pernah dia lihat di buku biologi manapun.

Dan kemudian, dia melihat sesuatu yang membuat teorinya semakin kuat.

Seekor kelinci.

Tapi bukan kelinci biasa.

Kelinci ini punya tanduk. Tanduk kecil meruncing di keningnya. Dan matanya berwarna merah menyala.

Kelinci itu melompat melewati semak, menghilang ke dalam hutan.

Ash terdiam.

Lalu dia tertawa.

Tertawa keras. Ngakak. Sampai perutnya sakit.

"HAHAHAHA! BENERAN! INI BENERAN ISEKAI!" teriaknya ke langit, tidak peduli kalau ada yang dengar. "AKU KENA ISEKAI! Seperti di novel novel web itu! Seperti di anime anime itu!"

Dia berputar putar, masih tertawa, air danau yang menetes dari bajunya membuat jejak basah di tanah.

"Tapi tunggu," Ash berhenti, ekspresinya berubah jadi bingung. "Biasanya kan ada dewi cantik yang ngasih penjelasan. Atau minimal ada panel status kayak di game. Atau suara sistem yang bilang 'Selamat datang di dunia baru' atau semacamnya."

Dia menatap sekeliling. Menunggu.

Tidak ada apa apa.

"Halo?! Admin?! Game Master?! Truck kun?!" teriak Ash. "Mana tutorialnya?! Mana cheat skill nya?! Kalian serius nge drop aku di sini tanpa panduan apapun?!"

Hening.

Hanya angin yang berhembus pelan.

Ash cemberut. "Pelit banget. Biasanya kan dikasih skill appraisal, atau inventory unlimited, atau minimal pedang ajaib. Ini aku dikasih apa? Baju basah dan trauma buaya!"

Tapi kemudian dia ingat sesuatu.

Cahaya emas tadi.

Dan regenerasi.

"Oh iya," gumam Ash sambil menatap tangannya lagi. "Aku kayaknya punya... sesuatu. Entah itu apa. Tapi bisa ngelempar buaya dan nyembuhin luka. Itu lumayan, kan?"

Dia mencoba berkonsentrasi. Mengangkat tangan seperti karakter anime yang mau ngeluarin jurus.

"Ayo keluar lagi. Cahaya ajaib. Kamehameha. Rasengan. Apapun lah!"

Tidak ada apa apa.

Tangannya tetap normal. Tidak ada cahaya. Tidak ada energi. Tidak ada apapun.

"Hah? Kok mati?" Ash mencoba lagi, kali ini dengan pose berbeda. "Mungkin harus pake pose khusus? Atau mantra?"

Dia berdiri dengan kuda kuda aneh, tangannya di depan dada, lalu berteriak dengan sepenuh hati.

"ABRAKADABRA! HOKUS POKUS! KELUAR KEKUATANKU!"

Tetap tidak ada apa apa.

Ash menurunkan tangannya dengan wajah kecewa. "Ya sudah lah. Mungkin cooldown nya lama. Atau harus ada trigger tertentu. Nanti aku coba lagi kalau ada monster."

Dia melihat bajunya. Baju lengan panjang putih pudar yang bahannya kasar dan tidak nyaman. Celana kain coklat yang modelnya seperti buatan abad pertengahan. Dan tidak ada sepatu. Kakinya telanjang.

"Siapa yang ganti baju aku?" gumam Ash sambil memeriksa sakunya. Kosong melompong. "Dan kenapa bajunya kayak cosplay petani di RPG? Di mana baju aku yang asli? HP ku? Dompet ku?"

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.

Ash menghela napas panjang, lalu mulai berjalan menyusuri tepi danau. Kakinya basah, dingin, dan sedikit sakit karena menginjak kerikil tajam. Tapi dia tidak punya pilihan.

Dia harus cari peradaban.

Harus cari manusia.

Atau setidaknya, harus cari tempat yang lebih aman daripada danau berisi buaya mutant.

Saat berjalan, Ash terus mengamati sekelilingnya. Pohon pohon raksasa itu benar benar tidak masuk akal. Batangnya begitu besar sampai butuh mungkin sepuluh orang untuk memeluknya. Dan tingginya... Ash bahkan tidak bisa melihat puncaknya dengan jelas.

Tanaman tanaman di sekitarnya juga aneh. Ada yang bercahaya biru redup. Ada yang daunnya bergerak sendiri meski tidak ada angin. Ada yang mengeluarkan bau manis yang membuat Ash pusing kalau terlalu dekat.

"Ini seperti avatar tapi versi lebih seram," gumam Ash sambil menghindari tanaman berdaun bergerigi yang sepertinya karnivora. "Oke, catatan mental: jangan sentuh tanaman apapun sebelum tahu fungsinya."

Dia terus berjalan sampai menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Jejak kaki.

Jejak kaki besar. Seperti kaki beruang, tapi lebih besar. Dan cakarnya... sangat tajam kalau dilihat dari bekas di tanah.

Ash berhenti. Jantungnya berdebar lagi.

"Oke, ini bad news," bisiknya pelan. "Jejak kaki monster. Berarti ada predator di sini. Dan ukurannya... besar."

Dia melihat sekeliling dengan waspada. Hutan tiba tiba terasa lebih sepi. Terlalu sepi. Bahkan suara burung tadi sudah tidak terdengar lagi.

Lalu dia mendengar sesuatu.

Gesekan.

Napas berat.

Geraman rendah.

Ash membeku. Perlahan, sangat perlahan, dia menoleh ke arah sumber suara.

Dan di sana, sekitar sepuluh meter darinya, berdiri seekor beruang.

Tapi bukan beruang biasa.

Ini beruang yang ukurannya sebesar mobil SUV. Bulunya hitam pekat dengan corak merah di punggung. Matanya bersinar kuning seperti lampu. Dan taringnya... panjang, tajam, dan menetes air liur yang mengeluarkan asap saat menyentuh tanah.

Beruang itu menatap Ash.

Ash menatap balik.

Selama tiga detik, mereka hanya saling menatap.

Lalu Ash tersenyum. Senyum yang sangat, sangat tidak yakin.

"Eh... halo, Pak Beruang," ucap Ash dengan suara gemetar. "Aku cuma lewat. Nggak ganggu kok. Aku bahkan nggak bawa makanan. Kamu boleh cek tas aku. Oh wait, aku nggak punya tas. Jadi... kita bisa skip bagian ini dan aku jalan terus, ya?"

Beruang itu menggeram. Lebih keras. Suaranya bergetar di tulang dada Ash.

"Oke, sepertinya diplomasi gagal," gumam Ash. "Plan B. Lari."

Tapi sebelum dia sempat bergerak, beruang itu sudah menerjang.

Cepat.

Sangat cepat untuk ukurannya.

"ASTAGA!"

Ash berbalik dan berlari sekencang mungkin. Kakinya menginjak tanah, akar, batu, apapun yang ada di depannya. Napasnya memburu. Jantungnya berpacu.

Dan di belakangnya, suara langkah berat beruang itu semakin dekat. Semakin dekat.

"KENAPA SELALU ADA MONSTER YANG MAU MAKAN AKU?!" teriak Ash frustasi sambil melompati semak. "INI BUKAN TUTORIAL YANG FAIR! DI GAME BIASANYA MONSTER PERTAMA ITU SLIME! BUKAN BERUANG RAKSASA!"

Dia melihat pohon besar di depan dengan dahan rendah. Tanpa berpikir panjang, Ash melompat, mencengkeram dahan itu, dan menarik tubuhnya naik dengan kekuatan yang dia tidak tahu dia punya.

Beruang itu sampai di bawah pohon, berdiri dengan kaki belakang, dan mengaum keras.

ROAAAARRR!

Suaranya begitu keras sampai daun daun di pohon bergetar dan jatuh.

Ash memeluk batang pohon dengan erat, kakinya gemetar. "Okay, okay. Aku di atas. Kamu di bawah. Kita bisa hidup berdampingan dengan damai, kan?"

Beruang itu mencakar batang pohon.

SRETTT!

Cakarnya meninggalkan bekas dalam di kulit pohon. Serpihan kayu beterbangan.

"JANGAN! INI POHON CAGAR BUDAYA!" protes Ash panik.

Tapi beruang itu tidak peduli. Ia terus mencakar, mencoba merobohkan pohon atau menjangkau Ash.

Dan saat itulah Ash menyadari sesuatu.

Pohon ini... mulai goyang.

"Oh tidak. Oh tidak. Oh tidak."

Pohon itu roboh.

Perlahan. Tapi pasti.

Dan Ash jatuh bersama pohon itu, mendarat dengan keras di tanah. Punggungnya membentur batu. Sakit. Sangat sakit.

Dia mencoba bangkit, tapi tubuhnya lemas. Napasnya tersendat.

Dan beruang itu sudah ada di depannya. Mulutnya terbuka lebar, siap menggigit.

Ash menutup mata.

Ini dia. Akhir cerita. Mati dimakan beruang di hari pertama isekai. Pathetic.

Tapi gigitan itu tidak datang.

Yang datang adalah suara.

SYUUUUTTTT!

Suara sesuatu melesat cepat di udara.

Lalu bunyi THUD keras.

Ash membuka matanya.

Beruang itu berdiri membeku. Di kepalanya, tertancap sebuah anak panah. Anak panah dengan bulu putih yang menancap tepat di antara kedua matanya.

Beruang itu terhuyung. Lalu jatuh. Tubuhnya yang besar menghantam tanah dengan bunyi DUAR yang menggelegar.

Mati.

Ash terdiam. Masih tergeletak di tanah, menatap bangkai beruang itu dengan tidak percaya.

Lalu dia mendengar suara langkah kaki.

Seseorang berjalan mendekat.

Ash menoleh.

Dan yang dia lihat adalah seorang wanita muda. Rambutnya silver panjang, berkilau di bawah sinar matahari yang menembus celah daun. Wajahnya cantik, tapi datar. Tanpa ekspresi. Seperti patung es yang hidup.

Di tangannya, sebuah busur panjang yang masih ada sisa cahaya samar di ujungnya.

Wanita itu berjalan ke arah bangkai beruang, mencabut anak panahnya dengan gerakan efisien, lalu membersihkan darah di mata panah dengan kain.

Ash masih terbaring di tanah, menatapnya dengan mata membulat.

"Kamu... kamu nyelamatin aku?" tanya Ash dengan suara serak.

Wanita itu akhirnya menoleh. Matanya yang berwarna abu abu gelap menatap Ash tanpa emosi.

"Tidak," jawabnya dengan suara dingin dan datar. "Aku membunuh beruang ini karena aku butuh dagingnya. Kamu hanya kebetulan ada di sana."

Ash terdiam.

Lalu dia tertawa. Tawa lelah yang terdengar sedikit histeris.

"Oke. Fair enough. Terima kasih tetap, meski itu nggak disengaja."

Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Ash lebih lama, seperti sedang menilai sesuatu.

"Siapa kamu?" tanya wanita itu akhirnya.

"Ash," jawab Ash sambil mencoba duduk. Punggungnya masih sakit. "Nama aku Ash. Dan aku... aku tersesat."

"Tersesat," ulang wanita itu dengan nada yang tidak percaya. "Di Hutan Kematian. Sendirian. Tanpa senjata. Tanpa armor. Bahkan tanpa sepatu."

"Iya, aku tahu kedengarannya bodoh," Ash menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tapi percaya deh, aku juga bingung kenapa aku bisa ada di sini."

Wanita itu terdiam lama. Terlalu lama.

Lalu dia berbalik, mulai berjalan menjauh.

"Tunggu!" panggil Ash. "Kamu mau ke mana? Jangan tinggalin aku di sini!"

"Itu bukan urusanku," jawab wanita itu tanpa menoleh. "Bertahanlah sendiri. Atau mati. Aku tidak peduli."

"Tapi aku nggak tahu jalan keluar!"

"Itu masalahmu."

Ash panik. Dia berdiri dengan susah payah, kakinya masih gemetar. "Oke, oke. Tunggu. Aku... aku bisa bayar! Kalau kamu tunjukin jalan keluar, aku bayar!"

Wanita itu berhenti. Menoleh sedikit.

"Bayar dengan apa?" tanyanya skeptis. "Kamu bahkan tidak punya apa apa."

"Nanti!" sahut Ash cepat. "Nanti kalau aku sudah punya uang. Aku janji. Aku orangnya bisa dipercaya kok. Aku bahkan pernah balikin dompet yang ketemu di jalan. Eh, tapi itu di dunia lain sih. Tapi maksudku, aku tipe orang yang jujur!"

Wanita itu menatap Ash lama. Seperti sedang mempertimbangkan apakah orang di depannya ini gila, bodoh, atau keduanya.

Lalu dia menghela napas. Napas yang sangat, sangat lelah.

"Ikut aku," ucapnya akhirnya dengan nada datar. "Tapi kalau kamu jadi beban, aku akan tinggalkan kamu untuk dimakan monster."

"Deal!" Ash langsung setuju tanpa pikir panjang. "Aku janji nggak bakal jadi beban. Aku bahkan bisa bantu bawa barang. Atau... atau jadi umpan kalau ada monster lagi. Aku fleksibel."

Wanita itu tidak menanggapi. Dia hanya mulai berjalan lagi.

Ash mengikutinya dari belakang, masih gemetar tapi lega.

"Eh, ngomong ngomong," ucap Ash sambil berusaha menyamai langkah wanita itu yang cepat. "Nama kamu siapa?"

Wanita itu tidak menjawab.

"Oke, strong silent type. Aku paham. Tapi setidaknya kasih tahu nama dong. Biar aku nggak manggil kamu 'Mbak Pemanah' terus."

Masih tidak ada jawaban.

Ash tidak menyerah. "Oke, kalau gitu aku tebak. Kamu pasti punya nama yang keren. Mungkin... Artemis? Atau... Ashe? Seperti karakter di game itu?"

Akhirnya, wanita itu berhenti dan menoleh dengan tatapan tajam.

"Eveline," ucapnya dengan nada dingin yang membuat Ash langsung diam. "Nama aku Eveline. Dan jangan panggil aku 'Mbak'."

"Oke, Eveline. Salam kenal." Ash tersenyum. Senyum yang polos dan tidak tahu apa apa. "Aku Ash. Dan sepertinya mulai sekarang, kita jadi partner!"

"Kita bukan partner," koreksi Eveline dengan cepat. "Kamu hanya ikut karena aku mengizinkan. Tidak lebih."

"Oke, oke. Noted."

Mereka melanjutkan perjalanan. Eveline di depan, Ash di belakang.

Dan meskipun Eveline terlihat dingin dan tidak tertarik, ada sesuatu dalam cara dia sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Ash masih mengikuti.

Sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sadari.

Sementara Ash, yang masih basah, lelah, dan bingung, hanya bisa tersenyum kecil.

Setidaknya, dia tidak sendirian lagi.

Dan di dunia asing yang penuh monster ini, itu sudah lebih dari cukup.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!