Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 penyesalan di Depan Ruang ICU
Beberapa jam kemudian, Rina dipindahkan ke ruang ICU. Tubuhnya yang mungil kini dikelilingi kabel-kabel monitor dan selang oksigen yang membantunya bernapas. Gus Azkar hanya bisa melihatnya dari balik kaca besar.
Ia teringat betapa galaknya ia tadi, betapa tegasnya ia melarang Rina sekolah, dan betapa ngerinya ancaman yang ia lontarkan. Sekarang, di depan matanya, "milik" yang ia klaim dengan sombong itu sedang terbaring tak berdaya, menjauh darinya ke alam bawah sadar yang tak tersentuh.
Azkar menyandarkan keningnya di kaca dingin itu. Air matanya menetes—untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
"Bangun, Dek... Mas janji," bisik Azkar lirih, suaranya tercekat oleh isak tangis. "Mas janji akan kembalikan sekolahmu. Mas janji akan kembalikan kebahagiaanmu. Tolong jangan pergi dengan cara seperti ini. Mas belum sempat minta maaf..."
Di ujung koridor, Bian menatap Azkar dengan kebencian sekaligus kasihan. Ia tahu, jika Rina tidak bangun, kedua pria ini akan hidup dalam neraka penyesalan seumur hidup mereka.
____________________________________________________Rina sekarang dalam keadaan koma, dan Gus Azkar benar-benar hancur.
____________________________________________________
Di tengah suasana yang sudah sangat hancur itu, suara langkah kaki kecil yang berlari terdengar mendekat. Itu Ila, sahabat karib Rina sejak SMP yang sudah menganggap Rina seperti kakaknya sendiri. Ila adalah satu-satunya orang yang tahu setiap tetes air mata Rina dan setiap curhatan pilu tentang mimpinya yang terkubur.
"Bak Rina! Bak!" teriak Ila dengan suara serak.
Begitu sampai di depan kaca ruang ICU, langkah Ila terhenti mendadak. Matanya membelalak menatap tubuh Rina yang terbaring kaku dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Rina yang ceria, Rina yang selalu merangkulnya, kini tampak seperti boneka kayu yang tak bernyawa.
Tangisan yang Menyayat Hati
"Bak Rina kenapa? Kenapa bisa jadi seperti ini?!" Ila menoleh ke arah Gus Azkar dan Bian dengan tatapan menuntut. "Tadi pagi dia masih pakai kebaya, dia bilang dia takut... dia bilang dia nggak mau... kenapa sekarang dia tidur di sana?!"
Ila histeris. Ia memukul-mukul kaca ICU, mencoba memanggil jiwa sahabatnya yang sedang berkelana entah di mana. "Bak, bangun! Katanya mau lulus bareng? Katanya mau kuliah bareng Ila? Bak Rina bohong!"
Gus Azkar hanya bisa menunduk, tak sanggup menatap mata Ila yang penuh kejujuran itu. Setiap kata yang keluar dari mulut Ila adalah tamparan bagi egonya.
Kesedihan yang Tak Tertahankan
Ila terus meracau, menceritakan betapa beratnya hari-hari Rina belakangan ini. "Bak Rina itu capek! Dia cuma mau dimengerti, bukan dipaksa! Kalian semua jahat!"
Napas Ila mulai memburu. Wajahnya memucat, oksigen seolah hilang dari sekitarnya karena rasa sedih yang terlalu menghimpit dada. Kepalanya terasa sangat ringan, dan pandangannya perlahan menggelap.
"Bak... jemput... Ila..."
Bruukk!
Ila jatuh jatuh pingsan di lantai koridor, tepat di hadapan Gus Azkar. Kesedihan yang luar biasa karena melihat "kakaknya" dalam kondisi koma membuat tubuh mungil itu tak sanggup lagi menopang beban emosi.
Kini, koridor rumah sakit itu semakin mencekam. Satu gadis sedang bertaruh nyawa di dalam ruangan, sementara sahabat terbaiknya terkapar tak berdaya di luar.
Gus Azkar memejamkan mata rapat-rapat, hatinya hancur berkeping-keping. Ya Allah... apa yang telah aku perbuat? Aku tidak hanya menghancurkan satu nyawa, tapi juga semua orang yang mencintainya.