NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Penyesalan

Pagi itu, langit Jakarta seolah turut berkabung. Mendung menggantung rendah, menyelimuti gang sempit tempat tinggal Hilman dengan warna abu-abu yang suram. Di depan rumah petak itu, keranda yang ditutup kain hijau dengan sulaman ayat suci telah siap diusung. Aroma bunga kamboja dan air mawar yang tajam menyeruak di udara, bercampur dengan isak tangis yang tertahan dari para tetangga.

Saat keranda mulai diangkat, Syifa berteriak histeris. Gadis kecil itu memeluk tiang keranda dengan erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ayahnya akan benar-benar hilang dari dunia.

"Ayah! Ayah jangan dibawa! Ayah cuma tidur, Pak! Ayah janji mau ajak Syifa ke rumah baru!" jerit Syifa.

Beberapa warga terpaksa menarik Syifa dengan lembut, memberikan ruang bagi para pengusung jenazah. Andini berjalan di belakang keranda, langkahnya gontai. Setiap langkah kaki yang menyentuh jalanan aspal gang terasa seperti injakan pada jantungnya sendiri. Ia teringat bagaimana Hilman setiap pagi berjalan di jalanan yang sama, membawa tas kerja berisi bekal sederhana, hanya untuk mencari uang yang kemudian ia maki-maki karena dianggap sedikit.

Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, orang-orang berdiri di pinggir jalan. Banyak buruh pabrik rekan kerja Hilman yang datang, masih mengenakan seragam kerja mereka. Mereka memberikan penghormatan terakhir pada pria yang mereka kenal sebagai sosok paling pendiam namun paling tangguh di pabrik.

"Dia pria hebat, Ndin. Dia rela ambil shift malamku berkali-kali supaya aku bisa pulang lihat anakku yang lahir, asalkan aku kasih upahnya buat dia tabung," bisik salah satu rekan Hilman saat berpapasan dengan Andini.

Andini hanya bisa menunduk. Setiap kata pujian untuk Hilman terasa seperti tamparan bagi wajahnya.

Di Tepi Liang Lahat

Prosesi pemakaman berlangsung di sebuah TPU yang padat. Saat jenazah Hilman perlahan diturunkan ke liang lahat, suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar suara adzan yang dikumandangkan oleh Pak Gatot dengan suara bergetar.

Andini melihat tubuh suaminya yang terbungkus kain kafan diletakkan di dalam tanah yang merah dan lembap. Inilah rumah baru Hilman. Bukan rumah mewah dengan taman bunga yang ia janjikan lewat asuransi, melainkan sebuah lubang sempit berukuran dua meter.

"Mas..." Andini jatuh berlutut di pinggir lubang makam. "Tunggu, Mas! Aku belum minta maaf! Aku belum bilang kalau aku sayang kamu!"

Saat tanah pertama mulai diturunkan dan mengenai papan penutup jenazah, suara buk... buk... itu terdengar seperti dentuman palu yang meremukkan tulang rusuk Andini. Ia mencoba meraih tanah itu dengan tangannya, mencoba menghentikan proses penguburan, namun tangan-tangan warga menahannya.

"Semuanya sudah terlambat, Ndin," ucap Bu RT yang berdiri di sampingnya dengan nada dingin. "Dulu saat dia berdarah-darah minta dipeluk, kamu malah pergi sama laki-laki lain. Sekarang tanah yang akan memeluknya, bukan kamu."

Pusara yang Dingin

Tanah merah itu akhirnya menggunung. Sebuah nisan kayu sederhana dengan nama "Hilman Bin Ahmad" tertancap di sana. Syifa mendekat, ia menaburkan bunga mawar dengan tangan gemetar.

"Ayah... ini bunga dari Syifa. Maaf Syifa nggak punya uang buat beli bunga yang banyak. Tapi Syifa sayang Ayah selamanya," ucap Syifa sambil mencium nisan kayu itu.

Andini mendekat, mencoba menyentuh tangan Syifa, namun Syifa menarik tangannya dengan cepat. Syifa menatap ibunya dengan tatapan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan kebencian yang mendalam.

"Mama puas sekarang?" tanya Syifa tajam. "Ayah sudah pergi. Uang satu miliarnya sudah ada. Mama bisa beli apa saja sekarang. Tapi jangan pernah minta Syifa untuk panggil Mama lagi. Bagiku, Mama ikut mati bersama Ayah di dalam tanah itu."

Syifa bangkit dan berjalan menjauh meninggalkan makam, mengikuti rombongan warga yang mulai pulang.

Andini tertinggal sendirian di depan pusara yang masih basah. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi tanah merah itu. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan kunci kotak rahasia dan selembar polis asuransi senilai satu miliar yang baru saja ia terima konfirmasinya lewat telepon tadi pagi.

Ia merobek-robek polis asuransi itu di atas makam Hilman. "Aku nggak mau uang ini, Mas! Aku mau kamu! Bangun, Mas! Kita makan nasi garam lagi nggak apa-apa, asal ada kamu!"

Namun, hanya suara angin dan rintik hujan yang menjawab tangisannya. Hilman tidak akan pernah bangun lagi. Pria yang memberikan segalanya itu telah menyelesaikan tugasnya. Ia telah memberikan "harta karun" terakhirnya, dan sebagai imbalannya, ia akhirnya bisa beristirahat dari rasa sakit, dari rasa lapar, dan dari penghinaan istri yang sangat ia cintai.

Andini terus menangis, memeluk gundukan tanah yang masih segar itu, menyadari bahwa satu miliar rupiah adalah harga yang paling murah untuk seorang manusia sesempurna Hilman—dan ia telah menjualnya dengan sangat hina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!