NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istana yang Tertunda di Ujung Desa

Pagi itu, Jakarta terasa begitu menyesakkan bagi Andini. Debu jalanan, deru mesin, dan bayang-bayang kemewahan semu dari masa lalunya seolah mencekik lehernya. Setelah malam yang mengerikan di pemakaman dan penemuan wasiat terakhir Hilman, Andini mengambil keputusan besar yang mengejutkan semua orang. Ia menjual rumah petak itu—satu-satunya saksi bisu penderitaan dan pengorbanan Hilman—dan mencairkan seluruh aset yang bisa ia selamatkan.

Ia teringat kembali suara Hilman di walkman butut yang ia temukan di loker sekolah. Suara yang serak namun penuh ketulusan itu terus terngiang seperti kompas yang menuntun jalannya:

"Andini, aku sudah membeli sebidang tanah di desa tempat ibumu dimakamkan. Di sana udaranya segar, tidak ada asap pabrik yang membuat dada sesak. Aku sudah mulai membangun pondasi rumah kecil di sana. Aku kerjakan sendiri setiap hari Minggu... Maaf, rumahnya belum jadi... aku kehabisan waktu. Pulanglah ke sana, Dek. Bangunlah istanamu di atas tanah itu."

Dengan membawa Syifa dan satu koper berisi pakaian serta kotak sepatu milik Hilman, Andini meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota. Ia meninggalkan semua kenangan pahit tentang Reno, tentang kemiskinan yang membuatnya buta, dan tentang ambisi-ambisi kosong yang hampir menghancurkan jiwanya.

Tanah Penantian

Perjalanan menuju desa memakan waktu belasan jam. Saat mobil sewaan mereka memasuki jalanan berbatu yang dikelilingi pohon jati dan hamparan sawah hijau, Andini merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Udara di sini benar-benar berbeda—sejuk dan beraroma tanah basah, persis seperti yang dideskripsikan Hilman.

Mereka berhenti di sebuah lahan di pinggir desa, tak jauh dari area pemakaman umum. Di sana, di tengah rerumputan liar, berdiri sebuah pondasi bangunan yang belum selesai. Bata-bata merahnya sudah mulai ditumbuhi lumut, namun susunannya sangat rapi.

Andini turun dari mobil dan melangkah menuju pondasi itu. Ia berlutut, menyentuh permukaan bata yang kasar. Di salah satu sudut bata, ia melihat guratan semen yang sudah kering, membentuk sebuah tulisan kecil: "Untuk Andini & Syifa. Rumah Cinta Kita."

Tangis Andini pecah seketika. Ia membayangkan Hilman, dengan tubuhnya yang sudah rapuh dan satu ginjal yang tersisa, menempuh perjalanan jauh setiap akhir pekan. Pria itu pasti bekerja di bawah terik matahari, mengaduk semen dengan tangan yang melepuh, dan menyusun bata demi bata sendirian demi mewujudkan mimpi yang pernah dihina istrinya.

"Kamu di sini, Mas... kamu sudah menyiapkan ini semua untuk kami," isak Andini sambil mencium tanah itu.

Membangun Istana dari Air Mata

Andini menggunakan sebagian dari uang satu setengah miliar itu untuk melanjutkan pembangunan rumah tersebut. Namun, ia tidak menyewa kontraktor mewah. Ia memilih untuk mempekerjakan tetangga sekitar dan ia sendiri ikut turun tangan.

Setiap hari, Andini ikut mengangkat batu, ikut mengecat dinding, dan ikut membersihkan sisa-sisa bangunan. Ia ingin setiap jengkal rumah ini memiliki bekas sentuhan tangannya, sebagai bentuk penebusan dosanya pada Hilman. Ia ingin merasakan lelah yang dulu dirasakan suaminya.

Beberapa bulan kemudian, rumah itu berdiri dengan indahnya. Bukan rumah mewah bergaya Eropa seperti yang dulu ia impikan bersama Reno, melainkan rumah bergaya joglo modern yang sangat asri. Jendelanya besar-besar agar cahaya matahari dan udara segar bisa masuk ke setiap sudut. Di halamannya, Andini menanam pohon mangga yang besar, persis seperti keinginan Hilman.

Syifa kini terlihat jauh lebih ceria. Gadis kecil itu memiliki kamar sendiri dengan rak buku yang penuh dengan buku-buku kedokteran dasar yang dibelikan Andini. Di sore hari, Syifa sering duduk di teras, membaca buku sambil ditemani segelas teh hangat—ritual yang dulu selalu dilakukan ayahnya.

Rumah itu terasa sangat nyaman. Di ruang tengah, Andini memajang foto Hilman yang sedang tersenyum lebar. Setiap kali ia merasa lelah, ia akan menatap foto itu dan seolah mendengar Hilman berkata, "Bagus, Dek. Istana kita sudah jadi."

Cita-Cita di Balik Jas Putih

Suatu sore, saat matahari mulai terbenam di balik bukit, Andini duduk di halaman sambil memperhatikan Syifa yang sedang membantu mengobati kaki seorang anak tetangga yang lecet karena terjatuh. Syifa melakukannya dengan sangat telaten, membersihkan luka dengan alkohol dan membalutnya dengan kain kasa.

"Ma," panggil Syifa setelah anak itu pulang. "Besok kalau Syifa sudah jadi dokter, Syifa mau bangun klinik di sebelah rumah ini. Biar orang-orang desa nggak perlu jauh-jauh ke kota kalau sakit."

Andini tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Iya, Sayang. Ayah pasti bangga sekali mendengarnya."

Andini menyadari bahwa harta yang ditinggalkan Hilman bukan hanya berupa uang di buku tabungan, melainkan sebuah masa depan yang terencana dengan sangat rapi. Hilman tidak hanya memberinya rumah, tapi ia memberinya "tujuan hidup".

Malamnya, Andini masuk ke kamar kerjanya. Ia membuka kotak sepatu Hilman dan mengeluarkan chip memori yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia memasukkan chip itu ke laptopnya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Rahasia keluarga besar Hilman yang terkandung di dalam chip ini adalah bom waktu yang suatu saat akan meledak.

Namun, saat ia membuka file terakhir yang tersembunyi, ia menemukan sebuah video baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Video itu berjudul: "Buka Saat Rumah Desa Sudah Jadi."

Pesan yang Mengubah Segalanya

Andini menekan tombol play. Muncul wajah Hilman yang tampak lebih segar, sepertinya video ini diambil jauh sebelum ia jatuh sakit parah.

"Andini, kalau kamu melihat ini, berarti kamu sudah berada di rumah kita. Selamat, Dek. Akhirnya kamu punya istana sendiri. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Kamu tahu kan aku adalah bagian dari keluarga konglomerat, saat aku lari sepuluh tahun lalu." aku mencuri sebagian harta.

Hilman menarik napas panjang di dalam video itu.

"Keluargaku akan terus mencar mu karena kunci yang aku berikan di loker sekolah tempo hari. Kunci itu bukan untuk loker, Andini. Kunci itu adalah kunci akses ke sebuah brankas emas batangan di Bank Swiss atas nama Syifa. kunci itu hanya bisa aktif jika pemegangnya berada di koordinat rumah desa ini."

Andini terkesiap. Ia segera mencari kunci loker nomor 18 yang ia simpan di dalam laci. Tiba-tiba, kunci itu bergetar kecil dan mengeluarkan lampu biru yang berkedip. Di layar laptopnya, muncul sebuah peta satelit yang menunjukkan posisi mereka saat ini.

"Waktumu tinggal sedikit, Andini. Begitu kunci ini aktif, mereka akan tahu lokasimu dalam hitungan menit. Aku sudah menyiapkan sebuah jalan rahasia di bawah lantai ruang tengah rumah ini. Masuklah ke sana bersama Syifa, dan jangan keluar sampai pria bernama 'Baskara' datang menjemputmu."

Tiba-tiba, suara deru mesin helikopter terdengar di atas rumah mereka yang tenang. Cahaya lampu sorot yang sangat terang menyapu halaman rumah, menembus kaca-kaca jendela yang besar.

Syifa terbangun dan berlari ke arah Andini dengan wajah ketakutan. "Ma! Ada apa? Ada lampu besar di luar!"

Andini melihat ke luar jendela. Tiga buah mobil hitam besar mulai memasuki halaman rumahnya, merusak taman bunga yang baru ia tanam. Adrian telah datang.

"Mas... jadi ini sebabnya kamu menyuruhku membangun rumah ini?" bisik Andini dengan tubuh bergetar.

Ia segera menarik tangan Syifa menuju ruang tengah, mencari tuas atau celah di bawah lantai seperti yang dikatakan Hilman.

"Andini! Keluar! Berikan kuncinya dan serahkan anak itu!" teriak suara Adrian keponakan Hilman yang menggelegar di tengah kesunyian desa.

Andini meraba-raba lantai kayu di bawah foto Hilman. Klik. Sebuah lubang terbuka. Ia mendorong Syifa masuk ke dalam kegelapan lubang itu. Ia menyadari bahwa peperangan yang sebenarnya baru saja dimulai, justru di tempat yang ia anggap sebagai surga terakhirnya.

1
Rahmawati
hebat sekali Hilman merancang masa depan syifa
Tinta Emas: itulah kehebatan seorang Ayah untuk anaknya
total 1 replies
Rahmawati
duh, ada. misteri apa lagi nih
Tinta Emas: kayanya lebih seru nih
total 1 replies
Rahmawati
semangat belajarnya syifa agar ayahmu bangga di surga sana
Tinta Emas: semoga sukses syifa
total 1 replies
Rahmawati
kl inget ttg Hilman aku ikutan sedih😭
Rahmawati: aamiin
total 2 replies
Rahmawati
syifa bakal jd pewaris harta keluarga hilman
Tinta Emas: mudah-mudahan
total 1 replies
Rahmawati
kok jadi deg deg an ya, lanjutttt
Tinta Emas: waduh
total 1 replies
Rahmawati
bener dah yang dari Hilman utk sekolah syfa, kl utk makan kan Andini bisa kerja
Tinta Emas: kita lihat kedepan nya kak
total 1 replies
Amell Phone
cerita sangat bagus aku suka lebih semangat lagi dong authornya dlm menulis.masak iya setiap hari cuma muat 1bb itupun pendek pula.usahain dong minimal 3 bab/hari agar lebih seru
Tinta Emas: untuk bab ini satu bab ka, untuk judul yang lainnya saya usahakan, terima kasih ka
total 1 replies
falea sezi
sumpah istri durhaka
Tinta Emas: seperti nya demikian
total 1 replies
Rahmawati
ayo Andini berpikir, km harus bisa mengelola uang 1 milyar itu utk hidup dengan syifa
Tinta Emas: bisa gak ya dia?
total 1 replies
Rahmawati
ooo gitu toh awal mereka bertemu dan menikah.
Tinta Emas: sudah terjawab ka
total 1 replies
Rahmawati
selama suami masih bekerja demi keluarga maka hormatilah dia
Tinta Emas: harus itu ka
total 1 replies
Rahmawati
apa lagi yg di tinggalkanlah Hilman utk syifa
Tinta Emas: kayanya seru nih
total 1 replies
Rahmawati
bagus bgt ceritanya, bikin nyesek
Tinta Emas: santai ka
total 1 replies
Rahmawati
😭😭😭
Tinta Emas: walah...
total 1 replies
Rahmawati
kok ada istri kayak gitu, Hilman sabar bgt
Tinta Emas: mungkin ada
total 1 replies
Amell Phone
ceritanya bagus sangat menyentuh hati,jadi terbawa suasana.lanjut lagi dong semngat buat penulis biar sehari bisa nulis beberapa episode
Tinta Emas: terima kasih ka
total 1 replies
Rahmawati
aduh bikin nyesek
Tinta Emas: Tahan Mbak
total 1 replies
SisAzalea
sepatutnya ini waktu tidur ,malah nangis2 aku
Tinta Emas: waduh ko gitu
total 1 replies
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Tinta Emas: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!