Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alvaro
Aurellia duduk di lantai, bersandar pada sisi tempat tidur, sementara tangannya melipat pakaian bersih yang diambilnya dari tas kecil. Gerakannya lambat, hampir tanpa suara, seolah ia khawatir akan mengganggu ketentraman yang akhirnya ada.
Alvaro mengamatinya lama.
Ia jarang sekali melihat Aurellia dalam keadaan seperti ini—tanpa seragam kafe, tanpa apron, tanpa senyuman profesional untuk pelanggan. Rambutnya diikat sembarangan, wajahnya tampak alami, matanya menampakkan kelelahan yang jelas bukan berasal darinya.
“Kamu nggak capek? ” tanya Alvaro akhirnya.
Aurellia menoleh dan memberikan senyum kecil. “Capek. Tapi masih kuat. ”
Jawaban itu sederhana, namun terasa berat di dada Alvaro.
Ia memalingkan wajahnya, memandangi langit-langit kamar yang sudah familiar. Ada rasa bersalah yang sulit untuk dihilangkan.
Sementara itu, di bagian lain kota, Nara duduk di atas motor, sesekali memeriksa ponselnya.
Ia baru saja berpamitan dari kos Alvaro. Tak lama—hanya cukup untuk memastikan kakaknya bisa berdiri dengan baik, dan Aurellia tahu apa yang harus di lakukan jika demam kakaknya meningkat.
Namun, ada satu hal lain yang perlu diurus.
Nara berhenti di tepi jalan, membuka kontak yang terdaftar sebagai Ibu.
Tangan Nara sedikit ragu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Telepon berbunyi beberapa kali sebelum diangkat.
“Nara? ” suara Bu Dewi terdengar lembut, tetapi penuh kewaspadaan sebagai seorang ibu.
“Iya, Bu. ”
“Kamu kenapa pagi-pagi telepon? ”
Nara menghela napas pelan. “Bu… aku mau ngabarin tentang Kak Alvaro. ”
Nada suaranya membuat Bu Dewi langsung duduk lebih tegak.
“Ada apa sama Alvaro? ”
Nara menelan ludah. “Kak Alvaro sakit, Bu. Kecapean. ”
Sedikit hening di seberang sana.
“Sakit apa? ” tanya Bu Dewi akhirnya, suaranya kini lebih rendah.
“Demam, pusing, hampir jatuh kemarin malam. Jadwal kerjanya padat bulan ini. Hampir nggak tidur. ”
Nara menatap jalanan yang mulai ramai. “Aku sama Kak Aurellia yang anterin dia ke kos. Sekarang dia lagi istirahat. Makanya kemarin nggak sempet jelasin detail waktu izin. ”
Napas Bu Dewi terdengar berat. “Kenapa dia nggak memberi tahu Ibu? ”
“Ya… Kak Alvaro kayak gitu,” jawab Nara pelan. “Tidak mau merepotkan. ”
Hening lagi.
Nara bisa membayangkan ekspresi ibunya di rumah—alis berkerut, mata berkaca, dan rasa bersalah yang pasti muncul.
“Kakakmu ada di sana? ” tanya Bu Dewi.
“Iya, Bu. Dia izin kerja hari ini. Nemenin Kak Alvaro. ”
Suara Bu Dewi menjadi lebih lembut. “Syukurlah. ”
Nara memberi senyum kecil. “Iya, Bu. Dia jagain Kak Alvaro dari semalam. Bahkan belum pulang, mungkin nanti sore atau malem. ”
“Ibu jadi khawatir,” gumam Bu Dewi. “Anak itu emang keras kepala dari dulu. ”
“Iya,” sahut Nara pelan. “Makanya aku bilang ke Ibu, supaya Kak Alvaro nggak sendirian nanggung semuanya. ”
“Makasih ya, Ra,” kata Bu Dewi tulus. “Udah jujur. ”
Nara mengangguk meskipun ibunya tidak bisa melihat. “Aku pulang lebih dulu ya, Bu. Nanti aku kabari lagi. ”
“Iya. Hati-hati di jalan. ”
Telepon ditutup.
Nara menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Setidaknya sekarang ibunya sudah mengetahui. Setidaknya, beban tersebut tidak lagi ditanggung sendiri oleh kakaknya.
Di waktu yang hampir bersamaan, Aurellia berdiri di depan jendela kamar kosnya, ponsel di telinga.
“Iya, Bu,” katanya dengan lembut.
Suara dari seberang terdengar jelas, dengan nada sedikit cemas. “Kamu jadi pulang siang ini? ”
“Kayaknya nanti sore atau malem,” jawab Aurellia dengan jujur. “Aku lagi ngurus Alvaro. ”
“Alvaro kenapa? ” tanya ibunya tiba-tiba.
Aurellia melirik ranjang. Alvaro memejamkan mata, berpura-pura tidur, tetapi jelas masih mendengarkan.
“Dia kecapean, Bu. Demam. Aku ambil izin kerja hari ini buat nemenin dia. ”
Kedua sisi telepon terdiam sejenak, kemudian suara Bu Dewi terdengar lebih lembut. “Kamu baik-baik aja? ”
“Saya baik-baik aja. ”
“Kamu yakin? ” Nada khawatir tidak bisa ia sembunyikan.
Aurellia tersenyum kecil. “Yakin. Ini nggak ada apa-apanya dibanding semuanya yang dia jalani sebulan terakhir. ”
Ibunya menghela napas. “Hati-hati ya. Jagalah dirimu. ”
“Iya, Bu. ”
Telepon ditutup.
Aurellia meletakkan ponselnya dan duduk kembali di samping ranjang. Alvaro membuka mata dan menatapnya.
“Kamu udah ngabarin ibumu? ” tanyanya pelan.
“Iya. ”
“Kamu nggak perlu—”
Aurellia segera menggelengkan kepala. “Perlu. ”
Nada tanggapannya lembut, tetapi tegas.
“Kita nggak bisa terus berpura-pura kuat sendirian,” ia melanjutkan. “Kadang orang-orang yang peduli ke kita perlu tau. ”
Alvaro menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
Menjelang siang, suhu tubuh Alvaro kembali naik.
Aurellia mengukur suhu badannya menggunakan telapak tangan, lalu mengambil handuk basah. Ia mengusapkan handuk tersebut pada dahi Alvaro dengan hati-hati.
Alvaro memejamkan mata, menikmati sentuhan itu lebih dari yang bisa ia ungkapkan.
“Kamu harus minum lagi,” kata Aurellia.
“Iya,” jawabnya patuh.
Kali ini, ia minum obat tanpa protes. Kepalanya terlalu berat untuk berdebat.
Sore hari tiba dengan lembut.
Hujan rintik-rintik di luar, menambah suasana tenang di dalam kamar kecil itu. Aurellia duduk di tepi ranjang, membaca pesan dari rekannya yang menanyakan kabar.
Ia membalas dengan singkat, kemudian menyimpan ponselnya.
“Kamu nggak bosen? ” tanya Alvaro tiba-tiba.
“Bosen kenapa? ”
“Nemenin aku seharian. ”
Aurellia tersenyum kecil. “Aku justru jarang dapet waktu kayak gini. ”
“Kayak gini? ”
“Diem. Tanpa beranjak ke mana-mana. Nggak perlu nunjukin kekuatan. ”
Alvaro memandangnya.
“Aku tau kamu nggak sengaja,” Aurellia melanjutkan dengan lembut. “Tapi kamu lupa satu hal. ”
“Apa? ”
“Kamu juga perlu merawat diri. ”
Suasana hening mengisi celah antara mereka.
Alvaro menarik napas dalam-dalam. “Aku takut. ”
Aurellia terlihat terkejut. “Takut apa? ”
“Kalo aku berhenti sejenak, segalanya bakal berantakan. ”
Aurellia menggelengkan kepalanya. “Yang berantakan justru kamu kalo nggak istirahat. ”
Pernyataan tersebut sederhana, namun sangat tepat.
Alvaro hanya terdiam.
Saat malam mendekat, keadaan Alvaro mulai membaik. Demamnya menurun, dan pernapasannya menjadi lebih teratur. Aurellia menyiapkan cemilan, memastikan dia makan meski hanya sedikit.
“Kamu akan pulang? ” tanya Alvaro saat Aurellia mulai membereskan tasnya.
“Belum,” jawabnya. “Nanti. Ketika kamu udah ngerasa baik. ”
Alvaro menatapnya cukup lama.
“Aku ngerasa beruntung,” katanya pelan.
Aurellia membalas senyumnya. “Aku juga ngerasa begitu. ”
Di luar, hujan mulai mereda.
Di dalam kamar kecil tersebut, untuk pertama kalinya setelah sebulan mengalami kelelahan, Alvaro merasakan kehidupannya kembali seimbang.
Bukan karena pekerjaannya terhenti.
Tetapi karena ia akhirnya memahami arti berhenti sejenak—dan membiarkan dirinya untuk dicintai.
Ponsel Aurellia bergetar di atas meja kecil. Nama Nara muncul di layar ponselnya.
“Aku udah sampe di depan,” tulisnya dengan singkat.
Aurellia menghela napas pelan. Ia menoleh ke Alvaro yang setengah berbaring, selimut menutupi tubuhnya hingga dada. Wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan pagi ini, tetapi matanya langsung terbuka ketika melihat Aurellia mengambil tasnya.
“Nara? ” tanya Alvaro pelan.
“Ya,” jawab Aurellia jujur. “Dia mau jemput aku buat pulang. ”
Setelah itu, ada jeda sesaat.
“Oh,” gumam Alvaro.
Nada suaranya terdengar biasa, tetapi Aurellia sangat mengenalnya sehingga bisa merasakan beban kecil di baliknya.
“Kamu kenapa? ” tanyanya lembut sambil duduk kembali di tepi ranjang.
Alvaro menggeleng. “Gapapa. ”
Kebohongan kecil yang sangat jelas.
Aurellia tersenyum tipis. “Besok aku kerja siang, Var. Kalo aku pulang sekarang, besok aku masih bisa kembali ke sini. ”
Alvaro menatapnya, matanya sedikit sayu. “Aku tau. ”
Ia tahu secara logis. Namun, perasaan tidak selalu mengikuti logika.
Ada sisi dalam dirinya yang ingin Aurellia tetap berada di sana, duduk di kursi kecil itu, memastikan bahwa napasnya stabil, memastikan ia tidak sendirian. Bukan karena ia tidak mampu—tetapi karena kehadirannya memberikan rasa aman yang sulit untuk dijelaskan.
“Aku udah mendingan,” katanya akhirnya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Aurellia menggenggam tangannya. “Karena kamu mau istirahat. ”
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Nara muncul di ambang pintu, jaketnya masih setengah basah. “Maaf kalo ganggu,” katanya pelan. “Aku cuma mau jemput Kak Aurellia. ”
Alvaro tersenyum kecil. “Makasih, Ra. ”
Nara melirik kakaknya sejenak, lalu mengangguk. “Istirahat yang baik ya. Jangan berlebihan lagi. ”
Aurellia berdiri, merapikan tasnya, kemudian menoleh kembali kepada Alvaro. Ia sedikit membungkuk, suaranya pelan.
“Aku pulang dulu. Kamu tidur yang nyenyak. Jangan buka laptop. ”
Alvaro tertawa pelan. “Iya, Bu. ”
Aurellia tersenyum, lalu dengan mantap mencium keningnya sejenak. Sebuah sentuhan ringan, tetapi cukup membuat dada Alvaro hangat.
Saat pintu kamar tertutup, Alvaro tetap menatap ke arah pintu selama beberapa detik.
Ada rasa berat yang tersisa.
Namun, juga ada keyakinan.
Besok Aurellia akan kembali ke kafe. Hidup akan berjalan lagi. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ditinggalkan—melainkan sedang dijaga dari kejauhan.
Ia menarik selimut lebih tinggi, memejamkan mata.
Dan membiarkan dirinya percaya bahwa istirahat ini bukanlah akhir dari perjuangan—melainkan awal dari cara yang lebih sehat untuk bertahan.