Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 GARIS TAKDIR DAN KERAGUAN SANG PENGUASA
Kamis, 30 Juli 2020, Musim Panas
Tiga minggu telah berlalu sejak malam yang mengubah seluruh garis hidup Olivia Elenora Aurevyn. Di bawah langit Monako yang cerah, Olive perlahan-lahan mencoba mengubur memori kelam itu dalam-dalam. Baginya, malam di hotel mewah itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak boleh bangun kembali. Ia telah kembali menjadi sang The Golden Butterfly yang anggun, menyelesaikan ujian kelulusannya dengan nilai yang memukau, dan tampil sempurna di hadapan publik.
Puncaknya adalah saat pesta kelulusan. Olive tampil luar biasa dengan gaun satin ketat yang memamerkan bentuk tubuh hourglass-nya yang sempurna. Tidak ada raut trauma, tidak ada kesedihan yang terlihat. Mulut belatynya tetap setajam biasanya saat menghadapi para pemuda bangsawan yang mencoba mendekatinya. Ia terlihat sangat baik-baik saja, seolah tidak pernah terjadi badai besar yang menghancurkan kesuciannya.
Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, ada sesuatu yang berbeda. Olive merasakan keanehan pada tubuhnya. Saat ia merencanakan liburan kelulusan ke Paris bersama geng "The Royal Lustre", ia merasa orang tuanya, Bram dan Feli, serta kakaknya, Brian, memberikan izin dengan terlalu mudah.
"Kau sudah bekerja keras untuk kelulusanmu, Olive. Pergilah ke Paris, bersenang-senanglah dengan Zee dan Vera," ucap Brian sambil mengusap kepala adiknya dengan lembut. Padahal biasanya, Brian adalah pria paling protektif yang akan menginterogasi Olive selama berjam-jam sebelum mengizinkannya keluar kota.
Keanehan itu berlanjut saat mereka tiba di Paris. Kota romantis itu seharusnya menjadi tempat Olive melepaskan penat, namun seminggu di sana, kesehatan Olive justru menurun drastis.
"Olive, kau yakin tidak mau ikut? Ini butik limited edition, hanya ada lima dress flora di seluruh Paris!" seru Zee sambil merapikan Mermaid Hair-nya di depan cermin apartemen mewah yang mereka sewa.
Vera, sang Silent Oracle, menatap Olive dengan dahi berkerut. "Wajahmu pucat, Olive. Sejak pagi kau sudah bolak-balik ke kamar mandi. Apa karena spageti semalam?"
Olive menyandarkan kepalanya di sofa, wajahnya yang berbentuk diamond itu tampak kuyu. "Mungkin aku hanya masuk angin karena kita terlalu sering keluar malam. Kalian pergilah, belikan aku satu set dress itu. Aku sangat menginginkannya. Aku akan istirahat di sini."
Setelah perdebatan kecil, Zee dan Vera akhirnya menyerah. Mereka berangkat menuju pusat mode Paris demi memanjakan sahabat mereka. Begitu suara pintu apartemen tertutup dan suasana menjadi sunyi, Olive bangkit dengan sisa tenaganya.
Ia berjalan menuju kopernya yang tersembunyi di dalam lemari. Dari saku rahasia, ia mengeluarkan dua buah benda yang sudah ia siapkan sejak masih di Monako. Testpack.
Satu minggu sebelum berangkat ke Paris, Olive menyadari bahwa siklus bulanannya terlambat. Dengan kecerdasan dan ketelitian yang luar biasa, ia meminta pelayan kepercayaannya di kediaman Aurevyn untuk membelikan alat tersebut.
"Ini untuk temanku yang kuliah di kedokteran, Bibi. Dia butuh banyak sampel untuk uji kelulusan tapi tidak ingin menghebohkan apotek lokal karena statusnya sebagai elit," dusta Olive saat itu. Pelayan itu, yang sudah mengenal Olive sejak kecil sebagai gadis polos, percaya begitu saja tanpa rasa curiga.
Kini, di dalam kamar mandi apartemen di Paris, tangan Olive gemetar hebat. Ia melakukan tes pertama. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya yang mungil.
Lima menit terasa seperti keabadian.
Dua garis merah muncul. Namun, satu garisnya tampak samar.
"Tidak... tidak mungkin. Ini pasti salah," bisik Olive dengan air mata yang mulai menetes.
Ia segera mengambil alat kedua sebuah testpack elektrik yang jauh lebih canggih dan akurat. Ia menunggu dengan napas tertahan, berdoa kepada Tuhan agar dugaannya salah. Namun, layar digital kecil itu perlahan memunculkan kata yang menghancurkan seluruh dunianya.
POSITIVE.
Olive terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Tangisnya pecah seketika, namun ia membungkam mulutnya agar suaranya tidak terdengar keluar. Ia hamil. Di usianya yang baru 18 tahun, di saat masa depannya baru saja dimulai, ia mengandung anak dari pria asing yang bahkan tidak ia ketahui wajahnya.
Pikiran Olive kacau. Reputasi Aurevyn Global Group akan hancur jika berita ini tersebar. Ayahnya akan murka, ibunya akan malu, dan Brian... Brian mungkin akan membunuh pria itu jika dia tahu. Namun, di tengah ketakutannya, Olive merasakan sebuah dorongan insting yang kuat. Ia menatap perutnya yang masih rata.
"Bayi ini... dia tidak salah," gumam Olive di sela isakannya. "Dia tidak memilih untuk hadir dengan cara seperti ini. Aku tidak akan menggugurkannya."
Olive adalah gadis yang lembut, namun ia memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Ia sudah menyusun rencana ini sejak di Monako sebagai antisipasi terburuk. Ia tidak bisa tinggal di Paris, ia tidak bisa kembali ke Monako. Ia harus pergi ke tempat di mana tidak ada satu orang pun yang mengenalnya.
Dengan gerakan cepat dan penuh tekad, Olive mengemas barang-barangnya yang paling penting. Ia mengambil paspor dan tiket pesawat yang sudah ia pesan secara rahasia tujuan : London.
Sebelum melangkah keluar, ia menulis sepucuk surat di atas meja ruang tamu.
“Zee, Vera... Maafkan aku. Aku harus pergi untuk waktu yang lama. Jangan cari aku, dan tolong sampaikan pada keluargaku kalau aku ingin mencari jati diri di tempat yang jauh. Aku menyayangi kalian. Tolong simpan rahasia kepergianku ini dari Brian selama mungkin.”
Olive meninggalkan apartemen itu dengan kacamata hitam besar menutupi matanya yang sembab. Meski daerah sensitifnya terkadang masih terasa ngilu dan perutnya mual, ia berjalan dengan tegap menuju taksi yang akan membawanya ke bandara. Kupu-kupu emas itu kini terbang jauh, meninggalkan kemewahan Monako demi melindungi nyawa kecil di dalam rahimnya.
Di sisi lain benua, di kantor pusat Valerius Defense & Security Group yang megah di Monako, Liam Maximilian Valerius sedang menatap dokumen kerja sama antara perusahaannya dan Aurevyn Global Group.
Investasi hotel mewah di pesisir Monte Carlo sudah ditandatangani. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati sang Iron Monarch. Selama tiga minggu ini, ia sudah berkali-kali mencoba menemui Olivia Elenora Aurevyn dengan alasan pertemuan bisnis keluarga, namun selalu gagal.
"Tuan Liam, ini laporan terbaru dari informan kita di Paris," ucap Marcus sambil meletakkan tablet di meja kerja Liam yang luas.
Liam melihat foto-foto Olive yang sedang tertawa bersama Zee dan Vera di sebuah kafe di Paris. Di foto lain, Olive tampak sangat cantik dengan gaun yang membentuk lekuk tubuhnya saat hari kelulusan.
Liam menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya. "Kau yakin ini dia, Marcus? Gadis yang kucari?"
"Inisialnya E, dia ada di hotel itu malam itu, dan dia dijuluki Kupu-kupu, Tuan. Semuanya cocok," jawab Marcus ragu-ragu.
Liam mendengus dingin. "Lihatlah dia di foto itu. Dia tampak sangat bahagia, sangat sehat, dan sama sekali tidak terlihat seperti seorang gadis yang baru saja kehilangan kesuciannya secara paksa oleh pria asing. Gadis yang kutiduri semalam itu... dia menangis pilu. Dia kesakitan. Darahnya ada di mana-mana."
Liam berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah laut. "Jika itu Olivia, dia tidak akan bisa tampil seberani itu dengan gaun ketat di pesta kelulusan hanya dalam hitungan hari. Dia terlalu polos untuk bisa berpura-pura sekuat itu. Dan lihat informasimu... dia sedang bersenang-senang di Paris sekarang."
"Jadi maksud Anda...?"
"Aku rasa aku terlalu gabah," ucap Liam dengan nada penuh penyesalan dan keraguan. "Aku terlalu terobsesi pada inisial itu hingga mengabaikan logika. Olivia Elenora mungkin memang ada di hotel itu, tapi mungkin dia benar-benar berada di kamar 666 miliknya sendiri, sementara gadis yang masuk ke kamarku adalah orang lain yang menggunakan kekacauan sistem itu untuk bersembunyi."
Liam mengepalkan tangannya. "Aku sudah membuat keputusan bodoh dengan melibatkan bisnis sebesar ini hanya demi mencari seorang gadis yang mungkin salah alamat."
"Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Tuan?"
Liam menatap tajam ke arah foto Olive di layar tablet. "Hentikan pencarian pada Olivia Aurevyn. Tarik semua orangmu dari Paris. Aku tidak ingin merusak hubungan bisnis dengan keluarga Aurevyn karena kecurigaan yang tidak berdasar. Biarkan gadis itu menikmati liburannya."
"Baik, Tuan."
"Tapi Marcus..." Liam menjeda kalimatnya, matanya menggelap. "Jangan berhenti mencari pemilik surat itu. Cari tahu siapa lagi yang memiliki akses ke lantai VIP malam itu selain keluarga Caelmont dan Aurevyn. Aku tidak akan tenang sebelum menemukan 'E' yang sebenarnya."
Liam kembali ke kursinya, mencoba fokus pada tumpukan dokumen militer pribadinya. Namun, entah mengapa, setiap kali ia menutup mata, ia tidak bisa menghapus bayangan kulit seputih porselen dan aroma bunga lili yang ia hirup semalam itu. Ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan, sebuah detail kecil yang tidak bisa dijelaskan oleh logika bisnisnya yang dingin.
Kembali ke Paris, sore harinya.
Zee dan Vera masuk ke apartemen dengan tawa riang, membawa banyak tas belanjaan bermerek, termasuk kotak besar berisi dress flora pesanan Olive.
"Olive! Lihat apa yang kami bawa! Kau pasti akan sangat cantik memakai..." Zee menghentikan kalimatnya saat melihat ruangan yang sunyi.
"Olive?" Vera memanggil, berjalan menuju kamar tidur. Kosong.
Mata Vera kemudian tertuju pada meja ruang tamu. Di sana terletak sebuah surat dan sebuah benda kecil yang tertinggal di bawah meja karena terjatuh saat Olive terburu-buru.
Zee mengambil surat itu dan membacanya. Wajahnya yang tadinya ceria berubah menjadi pucat pasi. "Vera... Olive pergi. Dia kabur."
Vera merebut surat itu, membacanya dengan cepat, lalu matanya beralih ke benda yang tergeletak di bawah meja. Ia memungutnya. Itu adalah tutup dari testpack elektrik yang digunakan Olive tadi. Vera, dengan kemampuan observasinya yang tajam, segera memeriksa tempat sampah di kamar mandi.
Di sana, ia menemukan dua alat tes yang menunjukkan hasil positif.
"Ya Tuhan..." Vera menutup mulutnya, terduduk lemas di samping Zee.
"Ada apa, Vera? Kenapa Olive pergi?" tanya Zee sambil menangis.
Vera menunjukkan hasil tes itu pada Zee. "Dia hamil, Zee. Sahabat kita... Olive yang polos... dia hamil dan dia pergi sendirian karena takut pada keluarganya."
Zee berteriak histeris, "Siapa pelakunya?! Siapa bajingan yang berani menyentuh Olive?!"
Vera menggeleng lemah. "Aku tidak tahu. Tapi jika Brian tahu adiknya hilang dan dalam kondisi seperti ini, Monako benar-benar akan hancur."
Kedua sahabat itu menangis berpelukan, meratapi nasib Olive yang kini entah berada di mana. Di saat yang sama, di atas ketinggian ribuan kaki, Olive menatap ke luar jendela pesawat. Air matanya mengalir membasahi pipinya saat melihat daratan Eropa yang perlahan menjauh.
"Maafkan aku, bunda... Ayah... Kak Brian," bisik Olive lirih. "Aku akan menjaga anak ini, meski aku harus menghilang dari dunia kalian selamanya."
Tanpa Olive ketahui, di Monako, Liam baru saja membatalkan pencarian terhadap dirinya, menganggapnya bukan sebagai wanita semalam. Sebuah ironi besar di mana sang ayah dari bayi itu justru berhenti mencari di saat sang ibu sedang melarikan diri membawa darah dagingnya.