Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: TERBANGUN DI TUBUH PECUNDANG
# BAB 2: TERBANGUN DI TUBUH PECUNDANG
Sakit.
Itu yang pertama kali Bayu rasakan saat kesadarannya kembali. Sakit di mana-mana. Seperti tulangnya remuk semua. Seperti ada yang nonjok dia berulang kali pakai palu.
Kepalanya berdenyut keras. Matanya berat banget, susah dibuka.
"Ngg..."
Suara erangan keluar dari mulutnya, tapi... asing. Bukan suaranya. Lebih lemah. Lebih... tinggi?
Bayu memaksa matanya terbuka. Penglihatannya kabur. Lampu temaram bergoyang-goyang di atas. Bukan lampu sorot arena. Ini lampu... bohlam mati satu, bergantung di langit-langit kayu lapuk.
Bau apek. Debu. Karat.
Dia mencoba bergerak, tapi tubuhnya nggak mau nurut. Rasanya seperti dikubur hidup-hidup. Berat. Lemas.
"Anjir... gue di mana?!"
Suaranya keluar panik, napasnya pendek-pendek. Jantungnya berdegup kencang.
Bayu mencoba mengingat. Arena. Dika. Pisau. Darah. Mati.
Gue mati.
Tapi kenapa... gue masih bisa mikir?
Tangannya bergerak pelan, gemetar, menyentuh dada. Ada. Jantung masih berdetak. Tapi... ini bukan dadanya. Terlalu kurus. Tulang rusuknya terasa jelas di bawah kulit.
"Apa... apaan ini..."
Dengan susah payah, Bayu mengangkat tangannya ke depan mata. Tangan pucat. Jari-jari panjang, tapi kurus. Kuku bersih. Ini bukan tangannya. Tangan Bayu penuh kapalan, bekas luka, buku-buku jari bengkak karena terlalu sering nonjok.
Tapi ini...
Panik mulai merayap. Dia mencoba bangun, tapi tubuhnya protes keras. Rasa sakit menusuk dari rusuk kiri. Dia meringis, jatuh lagi ke lantai dingin.
Lantai beton kasar. Dingin. Basah. Ada genangan... darah?
Bayu menatap genangan merah itu. Darahnya sendiri? Atau... bukan?
"Gue gila. Pasti gue gila."
Dia merangkak. Pelan. Setiap gerakan bikin tubuhnya terasa mau copot. Di ujung ruangan, ada cermin retak bersandar di dinding. Cermin tua, kusam, tapi masih bisa mantulkan bayangan.
Bayu merangkak ke sana. Napasnya ngos-ngosan. Keringet dingin mengalir di pelipis.
Sampai di depan cermin, dia berhenti. Mengangkat kepala pelan.
Dan dia melihatnya.
Wajah asing.
Bukan wajahnya.
"Siapa... lu?"
Bisikannya gemetar. Matanya melebar. Wajah di cermin itu... muda. Mungkin sekitar dua puluhan awal. Kulit pucat. Rambut hitam berantakan, basah oleh keringat dan... darah? Mata sayu. Bibir pecah-pecah. Pipi kiri bengkak parah, ungu kebiruan. Ada luka gores di dahi.
Tapi yang paling mengerikan...
Matanya. Mata itu kosong. Seperti mayat hidup.
Bayu mengangkat tangan, menyentuh pipi. Bayangan di cermin ikut bergerak. Menyentuh pipi yang sama.
"Ini... gue?"
Tidak. Tidak mungkin.
"INI BUKAN GUE!"
Teriakannya memecah keheningan. Dia memukul cermin dengan kepalan lemah. Cermin retak makin parah, tapi nggak pecah.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun cepat. Kepala pusing. Mau muntah.
Lalu... datang.
Seperti air bah yang jebol bendungan. Memori asing menyerbu otaknya. Cepat. Brutal. Tidak ada ampun.
Gambar. Suara. Perasaan. Semuanya bukan miliknya.
*Seorang anak kecil menangis di sudut kamar mewah. Ibunya pergi. Ayahnya menikah lagi. Wanita asing yang cantik tapi dingin masuk ke rumah. Membawa anak laki-laki lain.*
*"Kau bukan anak kami. Kau cuma beban."*
*Tamparan. Tendangan. Makanan dibuang ke lantai. Disuruh makan seperti anjing.*
*Sekolah. Diejek. Dipukuli. Tidak ada yang peduli.*
*Pulang. Lebih parah. Adik tiri menyiksa. Ibu tiri diam saja. Ayah... tidak pernah ada.*
*Malam itu. Dipukuli habis-habisan. Dibuang di gudang tua. Ditinggal mati.*
"AAAAHHH!"
Bayu berteriak, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Air mata keluar tanpa sadar. Bukan air matanya. Tapi... air mata tubuh ini.
Air mata Kenzo Banyu Samudera.
Nama itu muncul jelas di kepalanya. Seperti ditato di otak.
Kenzo. Anak konglomerat. Keluarga Samudera. Tapi... sampah. Pecundang. Anak yang tidak diinginkan.
"Gue... di tubuh orang lain?"
Pertanyaan itu keluar lemah. Gemetar. Tidak percaya.
Tapi memorinya tidak bohong. Rasa sakitnya tidak bohong. Tubuh ini... nyata.
Bayu terduduk lemas. Punggungnya bersandar di dinding kayu lapuk. Kepalanya kosong. Bingung. Takut. Marah. Sedih. Semua campur jadi satu.
"Kenapa... kenapa gue harus bangun di sini?"
Suaranya serak. Parau.
Lalu, tiba-tiba, ada suara. Bukan suara dari luar. Tapi dari dalam kepalanya. Dingin. Mekanik. Tapi jelas banget.
**[SISTEM PEMBURU TELAH AKTIF]**
Bayu terlonjak kaget. "Apa... apaan?!"
**[PENGGUNA BARU TERDETEKSI: BAYU SAMUDRA]**
**[TUBUH HOST: KENZO BANYU SAMUDERA]**
**[STATUS: KRITIS. KESEHATAN 15 PERSEN]**
"Siapa lu?! Keluar dari kepala gue!"
Dia berteriak sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Tapi suara itu tetap ada. Tenang. Dingin.
**[SISTEM PEMBURU DIRANCANG UNTUK MEMBANTU PENGGUNA BERTAHAN HIDUP DAN MENCAPAI KEKUASAAN]**
**[MISI PERTAMA: BERTAHAN HIDUP]**
**[WAKTU TERSISA: 10 MENIT]**
"Waktu tersisa? Buat apa?!"
**[PERINGATAN: MUSUH MENDEKAT. JARAK 50 METER]**
Jantung Bayu langsung berdegup kencang. Musuh? Siapa?
Dia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Tubuh Kenzo ini benar-benar lemah. Tidak seperti tubuhnya dulu yang terlatih bertarung.
Lalu dia mendengarnya.
Langkah kaki.
Pelan. Tapi ada tiga orang. Mungkin lebih.
Suara percakapan samar terdengar dari luar gudang.
"Lu yakin dia masih hidup?"
"Entah. Tapi bos bilang pastiin. Kalau masih napas, beresin."
"Gampang. Tinggal patahkan lehernya."
Ketawa rendah. Dingin.
Bayu membeku. Darahnya terasa beku.
Mereka datang buat bunuh Kenzo. Bunuh... gue.
Pintu gudang berderit pelan. Terbuka sedikit. Cahaya senter menyorot masuk, memindai ruangan gelap.
"Ada dia. Masih gerak kayaknya."
Bayu mundur. Punggungnya nempel di dinding. Tidak ada jalan keluar. Hanya satu pintu. Dan di pintu itu, tiga siluet masuk pelan.
Preman. Tubuh besar. Tongkat besi di tangan. Senyum jahat terpasang di wajah mereka.
"Heh, bocah. Masih idup ya?"
Salah satu dari mereka berjongkok, menyorotkan senter langsung ke wajah Bayu. Cahayanya menyilaukan.
"Wah, masih bisa buka mata. Tangguh juga lo."
Yang lain ketawa. "Buat apa tangguh? Ujungnya juga mati."
Bayu menatap mereka. Napasnya pendek. Otaknya berputar cepat. Tubuh ini lemah. Tidak bisa lawan tiga orang sekaligus. Bahkan buat berdiri aja susah.
Tapi... Bayu bukan Kenzo.
Bayu petarung jalanan. Bayu yang udah puluhan kali ngadepin orang lebih besar. Lebih kuat.
Bayu yang tidak pernah menyerah.
Tangannya meraba-raba lantai di sekitarnya. Gelap. Susah lihat. Tapi jari-jarinya menyentuh sesuatu. Dingin. Keras. Pipa besi tua.
"Kalian... mau bunuh gue?"
Suaranya keluar pelan. Gemetar. Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah.
Preman itu menyeringai. "Iya lah. Bos bayar kita buat beresin lu. Nothing personal, ya."
Bayu tersenyum tipis. Senyum yang aneh. Senyum orang yang udah nggak punya apa-apa lagi buat dipertahankan.
"Kalau gitu... dateng aja."
Dan dalam sekejap, dia mengayunkan pipa besi itu sekuat tenaga ke lutut preman yang paling depan.
KRAK!
Tulang patah. Terdengar jelas.
"AAARRGGHHH!"
Preman itu jatuh, meraung kesakitan.
Dua yang lain langsung maju. Marah.
Bayu sudah siap mati untuk kedua kalinya.
Tapi kali ini... dia nggak akan mati diam-diam.