Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pertemuan Dua Takdir
Puncak Gunung Hitam kini menyerupai neraka di Alam Fana. Api ungu yang dingin membakar paviliun-paviliun Sekte Awan Hitam, sementara ribuan murid mereka telah melarikan diri atau terkapar tak berdaya. Di tengah aula utama yang hancur lebur, Ketua Sekte Han Mo tewas dengan mata terbelalak, tak percaya bahwa seluruh kekuatannya dihancurkan hanya dengan satu tebasan pedang besi biasa milik Jian Wuyou.
Jian Wuyou berdiri di atas puing-puing, napasnya tenang meski jubah hitamnya bersimbah darah musuh. Ia baru saja akan melangkah pergi untuk kembali ke pelukan Li Hua, namun tiba-tiba, jantungnya berdenyut kencang.
Zing—!
Sebuah sensasi duka dan rasa sakit yang amat familiar menyerang batinnya. Ini bukan rasa sakit fisik, melainkan gesekan realitas. Jian Wuyou memejamkan mata dan menggunakan sisa kekuatan spiritualnya untuk memindai area di kaki gunung, menuju jalur masuk Desa Bambu.
Matanya terbuka lebar. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keterkejutan yang luar biasa.
Di kejauhan, di jalan setapak yang tertutup kabut tipis, seorang pemuda berjalan dengan langkah gontai. Pakaiannya compang-camping, penuh noda darah kering dan debu perjalanan jauh. Wajahnya kusam, dipenuhi bekas luka yang masih baru.
Namun, yang paling mencolok adalah lengan kanannya yang kosong, terikat dengan kain kasar yang sudah berubah warna menjadi merah tua. Di punggungnya, ia memanggul sebuah pedang yang retak.
Ia adalah Jian Wuyou.
Bukan Jian Wuyou sang penantang langit yang kembali dari masa depan, melainkan Jian Wuyou di masa ini—pemuda yang baru membantai musuhnya setelah Sekte Pedang Giok hancur, kehilangan jati diri dan terus mabuk-mabukan.
Jian Wuyou (Masa Depan) berdiri terpaku di puncak gunung, menatap bayangan dirinya yang malang di bawah sana. Seketika, ruang di sekelilingnya mulai retak seperti kaca yang dipukul. Tubuh mudanya yang berusia dua puluh tahun mulai terlihat transparan, dan energi spiritualnya menjadi tidak stabil.
"Ini... sebuah paradoks." gumam Jian Wuyou dengan suara gemetar.
Ia menyadari kesalahan fatalnya. Di masa lalu yang asli, ia datang ke Desa Bambu sebagai pemuda cacat yang kehilangan jati diri, mabuk-mabukan, dan dari sanalah ia tidak sengaja berhubungan badan dengan Li Hua. Namun sekarang, ia berada di sini sebagai sosok yang tidak seharusnya ada, telah membeli rumah mewah, dan telah melindungi Li Hua bahkan sebelum "dirinya yang asli" tiba.
"Jika aku tetap di sini, maka 'dia' di bawah sana tidak akan pernah bertemu Li Hua dengan cara yang seharusnya," bisik Jian Wuyou. "Jika dia tidak mengalami penderitaan itu, dia tidak akan pernah menjadi aku. Dan jika dia tidak menjadi aku... maka eksistensiku saat ini akan terhapus."
Jiwu tiba-tiba muncul di sampingnya, tubuhnya juga mulai berpendar tidak stabil. "Kakak... kau merasakannya? Realitas menolak kita. Keberadaan kita di sini mengubah alur takdir terlalu besar. Jika kita bertemu dengan 'diri kita' yang sedang berjalan itu, waktu akan hancur."
Jian Wuyou menatap tangannya yang mulai memudar. Di kejauhan, ia bisa melihat "dirinya yang satu tangan" mulai memasuki gerbang Desa Bambu, tempat di mana Li Hua mungkin sedang berdiri menunggunya kembali dari peperangan.
"Aku harus pergi," ucap Jian Wuyou dengan nada pedih yang menyayat hati. "Aku tidak boleh membiarkan dia melihatku. Aku harus menghilang dari masa ini agar takdir Li Hua dan Jian Wuyou yang asli tetap berjalan."
"Tapi bagaimana dengan Li Hua yang ada di rumah kita sekarang?" tanya Jiwu. "Dia sudah mengenalmu sebagai Wuyou yang kuat."
Jian Wuyou menoleh ke arah Desa Bambu, ke arah rumah mewah tempat Li Hua, Mei Lian, dan bayi Jian Han berada. Air mata jatuh di pipinya. Ia menyadari bahwa ia telah menciptakan sebuah percabangan waktu yang tidak seharusnya ada.
"Kita akan menghapus ingatan Li Hua sebelum pergi," ucap Jian Wuyou dengan tekad bulat. "Kita akan melompat ke celah dimensi sebelum realitas menghapus kita. Biarlah Desa Bambu ini tetap memiliki Jian Wuyou-nya yang terluka, sementara aku... aku akan mencari jalan lain untuk melawan langit."
Dengan lambaian tangan, Jian Wuyou melepaskan gelombang energi terakhirnya untuk menyelimuti kediamannya di desa,bersiap melakukan pelarian besar melintasi ruang dimensi sebelum dua sosok Jian Wuyou bertemu dan menghancurkan dunia.