NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELAJARAN MENCINTAI DIRI YANG RUSAK

Kanaya menghela napas panjang, perlahan menarik dirinya kembali dari lorong waktu yang gelap dan menyesakkan itu. Bayangan pecahan vas bunga, makian di teras rumah ayahnya, hingga teriakan Maya yang menyayat hati perlahan memudar, digantikan oleh suara bising kendaraan di kejauhan dan detak jam dinding di kamarnya yang sekarang.

Ia mengerjapkan mata, menyadari bahwa langit-langit yang ia tatap adalah langit-langit masa kini—masa di mana ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa mengintip dari balik pintu. Ia sudah menjadi mahasiswi. Ia sudah bertahan sejauh ini melewati badai yang konsisten menghantamnya sejak kelas 3 SD.

"Sudah lewat, Naya. Sudah lewat," bisiknya pada diri sendiri, seolah sedang menenangkan anak kecil yang masih gemetar di dalam hatinya.

Ingatan-ingatan itu memang tidak pernah benar-benar pergi; mereka hanya tersimpan di laci terdalam jiwanya, siap meledak kapan saja saat ia merasa lelah. Namun, mengenang semuanya hari ini membuatnya menyadari satu hal: ia adalah satu-satunya saksi sejarah atas kekuatannya sendiri. Mbah Akung sudah tiada, Ayah sudah punya dunia baru, dan Maya masih terjebak dalam traumanya. Hanya Kanaya yang memegang seluruh kebenaran tentang betapa keras ia berjuang untuk tetap "waras" dan tetap menyayangi orang-orang yang justru paling sering melukainya.

Kanaya bangkit dari tempat tidurnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berjalan menuju meja belajar, menatap tumpukan buku kuliah yang menjadi tiketnya untuk keluar dari lingkaran penderitaan ini. Ia tahu, masa lalu tidak bisa diubah, dan orang-orang di sekitarnya mungkin tidak akan pernah benar-benar memahaminya. Tapi sekarang, ia tidak lagi menunggu pemahaman dari mereka.

Ia menarik kursi, membuka laptopnya, dan mulai mengetik. Setiap ketukan jarinya di keyboard terasa seperti langkah kaki yang semakin menjauh dari bayang-bayang makian masa lalu. Ia sadar bahwa satu-satunya orang yang berkewajiban untuk memahami dan mencintai Kanaya sepenuhnya adalah dirinya sendiri.

Di tengah usaha Kanaya untuk tetap fokus pada masa depannya, muncul sosok Hendri, seorang kakak tingkat yang mulai terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. Hendri adalah tipe mahasiswa yang populer—ramah, supel, dan seolah selalu punya energi positif. Namun, bagi Kanaya yang tumbuh dalam trauma pengkhianatan dan kebohongan, keramahan Hendri justru memicu alarm di kepalanya.

Setiap kali Hendri mencoba menyapa atau menawari tumpangan pulang, Kanaya selalu menanggapi dengan sopan namun sangat berjarak. Ada keraguan besar yang mengganjal di hatinya, terutama soal latar belakang Hendri yang ia dengar dari desas-desus di kampus.

"Naya, masih di perpustakaan jam segini? Ayo, bareng aku saja, kebetulan aku mau lewat daerah rumahmu," ajak Hendri suatu sore dengan senyum manis yang terlihat tulus.

Kanaya menggeleng perlahan, sambil merapatkan tas ransel di bahunya. "Terima kasih, Kak Hendri. Tapi aku masih ada urusan lain setelah ini."

Keraguan Kanaya terhadap Hendri bukan karena ia mencurigai adanya kebusukan, melainkan justru karena ia melihat terlalu banyak kebaikan. Dari cerita teman-temannya dan apa yang ia lihat sekilas, keluarga Hendri adalah gambaran keluarga ideal yang selama ini hanya ada dalam impian Kanaya: lengkap, hangat, dan penuh dukungan. Ayah Hendri masih ada dan tampak sangat menyayangi istrinya, sementara ibu Hendri adalah sosok lembut yang sering membawakan bekal untuk teman-teman Hendri.

Setiap kali Hendri menceritakan tentang acara makan malam keluarganya atau bagaimana orang tuanya mendukung hobinya, hati Kanaya mencelos. Bukannya iri, ia justru merasa takut.

"Keluarganya begitu hangat," batin Kanaya sambil menatap Hendri dari kejauhan. "Sedangkan aku? Aku datang dari rumah yang penuh teriakan, makian 'anak sampah', dan trauma yang tidak pernah sembuh."

Kanaya merasa dirinya seperti noda hitam di atas kain putih yang bersih. Ia takut jika ia masuk ke dalam hidup Hendri, trauma yang ia bawa dari Maya dan luka yang diberikan ayahnya akan "menulari" atau merusak ketenangan keluarga Hendri. Ia merasa jiwanya terlalu rusak untuk bersanding dengan seseorang yang tumbuh dalam pelukan kasih sayang yang utuh.

Saat Hendri mendekat, Kanaya justru menarik diri karena ia tidak tahu bagaimana caranya menjadi "normal" di hadapan orang-orang yang tidak pernah merasakan pahitnya diusir atau dimaki karena uang lima puluh ribu.

"Naya, akhir pekan ini ada acara syukuran di rumahku, Ibu bilang aku boleh ajak teman dekat. Kamu mau datang?" tanya Hendri suatu kali dengan binar mata yang jujur.

Kanaya terdiam cukup lama. Lidahnya kelu. Ia ingin sekali merasakan kehangatan itu, tapi di saat yang sama, suara Maya yang memaki-makinya "anak sampah" terngiang di telinganya. Ia takut saat berada di tengah keluarga Hendri, ia malah akan teringat betapa malangnya nasibnya sendiri, atau lebih buruk lagi, ia takut keluarga Hendri akan tahu bahwa di balik kecerdasannya di kampus, ia adalah pelampiasan amarah seorang bunde yang trauma.

"Maaf, Kak... aku sepertinya ada acara sama Ibu," jawab Kanaya pelan, kembali berbohong demi melindungi dirinya dari rasa rendah diri yang luar biasa.

Baginya, Hendri dan keluarganya adalah cahaya yang terlalu terang, dan Kanaya merasa dirinya sudah terlalu lama tinggal dalam kegelapan hingga matanya sakit jika harus melihat cahaya itu. Ia merasa lebih aman tetap berada dalam sunyi dan kesendiriannya, daripada harus merusak kehangatan keluarga orang lain dengan membawa puing-puing hidupnya yang hancur.

Selama masa-masa akhir kuliah hingga wisuda, Kanaya benar-benar membangun tembok yang tinggi. Ia menenggelamkan diri dalam skripsi dan pekerjaan sampingan, mengabaikan setiap pesan atau sinyal perhatian dari Hendri. Baginya, menjauh adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Bukan hanya karena ia merasa "rusak" di tengah keluarga Hendri yang sempurna, tapi ada ketakutan yang lebih nyata: kemarahan Ibu Maya.

Kanaya tahu persis, di mata Maya, laki-laki adalah sumber malapetaka. Setiap kali Maya melihat Kanaya berinteraksi dengan lawan jenis, meski hanya teman sekelas yang bertanya soal tugas, raut wajah Maya akan berubah menjadi sinis. Maya sering berteriak bahwa semua laki-laki itu sama seperti Bagas—pembual dan pengkhianat. Kanaya tidak sanggup membayangkan amukan seperti apa yang akan ia terima jika ia ketahuan menjalin hubungan spesial dengan seseorang seperti Hendri.

Namun, beberapa saat setelah euforia kelulusan mereda, sebuah notifikasi muncul di ponsel Kanaya. Nama yang selama ini ia hindari kembali muncul di layar.

Hendri: "Selamat atas kelulusannya ya, Naya. Aku tahu kamu sibuk belakangan ini, tapi aku cuma mau bilang kalau aku tetap bangga sama perjuanganmu. Kalau kamu sudah punya waktu luang, bolehkah kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan sejak dulu."

Kanaya menatap pesan itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Dadanya terasa sesak antara rasa haru karena masih diingat, dan rasa ngeri yang membayang. Ia menoleh ke arah pintu kamar, memastikan Maya tidak sedang lewat atau mendengarkan.

"Kenapa harus sekarang, Kak?" bisik Kanaya lirih.

Ia teringat betapa Maya bisa meledak hanya karena hal sepele. Jika ia mengizinkan Hendri masuk ke hidupnya, ia seperti sedang mengundang badai ke dalam rumah yang selama ini sudah susah payah ia tenangkan. Ia takut jika ia dekat dengan Hendri, Maya akan kembali memakinya dengan sebutan "anak pelacur" atau menuduhnya akan berakhir tragis seperti ibunya dulu.

Kanaya berdiri di depan jendela, menatap jalanan di depan rumahnya. Di satu sisi, ia sangat mendambakan kehangatan yang ditawarkan Hendri, sebuah pelarian dari ruang pengap penuh trauma ini. Namun di sisi lain, bayangan amarah Maya yang meledak-ledak dan ketakutan akan merusak keharmonisan keluarga Hendri yang indah membuatnya ingin kembali bersembunyi.

Ia mematikan layar ponselnya tanpa membalas. Bagi Kanaya, mencintai seseorang terasa seperti sebuah kemewahan yang berbahaya. Ia merasa harus memilih: kebahagiaannya sendiri atau kedamaian di dalam rumahnya. Dan selama ini, Kanaya selalu memilih yang kedua, meski itu artinya ia harus terus mengubur perasaannya dalam-dalam.

Malam itu, di bawah selimut dengan cahaya ponsel yang sengaja diredupkan agar tidak terlihat dari celah pintu kamar, Kanaya akhirnya mengetikkan balasan. Ia tidak menuliskan kata-kata manis atau basa-basi kelulusan. Sebaliknya, ia mengetikkan kebenaran yang selama ini ia tutup rapat dengan gerendel besi.

Kanaya menceritakan semuanya. Ia bercerita tentang ayahnya yang memakinya demi uang lima puluh ribu, tentang sosok Maya yang bisa berubah menjadi sosok mengerikan yang melontarkan makian "anak sampah" di tengah malam, dan tentang bagaimana ia sudah terbiasa hidup tanpa air mata karena hatinya telah menjadi batu. Ia menuliskan setiap luka dengan jujur, berharap bahwa setelah membaca betapa "rusak" dan rumitnya hidup yang ia jalani, Hendri akan merasa ngeri dan perlahan mundur.

“Keluargamu terlalu indah, Kak. Aku tidak punya tempat untuk kebahagiaan itu. Hidupku penuh dengan amarah Ibu yang belum sembuh dan luka yang tidak akan pernah hilang. Tolong, cari seseorang yang lebih utuh dariku,” tulis Kanaya di akhir pesannya.

Ia meletakkan ponsel itu dengan napas memburu, yakin bahwa setelah ini Hendri akan menghilang. Siapa yang mau terjebak dalam pusaran trauma keluarga orang lain?

Namun, beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.

Hendri: "Naya, terima kasih sudah percaya padaku. Tapi kamu salah kalau mengira cerita itu akan membuatku pergi. Selama ini aku mendekatimu bukan karena aku pikir hidupmu sempurna, tapi karena aku melihat betapa hebatnya kamu bisa tetap berdiri tegak di tengah semua itu."

Hendri: "Jika kamu merasa tidak punya tempat untuk kebahagiaan, biar aku yang buatkan tempat itu. Kamu tidak perlu menjadi 'normal' untuk bersamaku. Aku tidak butuh seseorang yang utuh, Naya. Aku hanya ingin bersamamu, dengan segala luka yang kamu bawa."

Membaca itu, pertahanan Kanaya yang sudah ia bangun bertahun-tahun seolah retak. Hendri tidak lari. Hendri tidak merasa jijik atau takut. Alih-alih pergi, jawaban Hendri justru menunjukkan bahwa ia ingin menjadi pelindung yang selama ini tidak pernah Kanaya miliki dari ayahnya.

Kanaya mendekap ponselnya di dada, air mata yang ia kira sudah kering selama bertahun-tahun, tiba-tiba terasa hangat membasahi pipinya. Ia takut, sangat takut. Ia takut jika Maya tahu, ia takut akan mengecewakan keluarga Hendri. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang mendengar ceritanya dan tidak menghakiminya—seseorang yang justru ingin tetap tinggal di sisinya, meski tahu bahwa di dalam rumah itu, ada badai yang siap meledak kapan saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!