NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggunya

Setelah tawa kecil dan godaan ayah serta ibu mereda, suasana rumah kembali tenang. Namun tenang yang kurasakan bukanlah tenang yang ringan. Ada sesuatu yang tertinggal di dadaku—sebuah rasa yang belum menemukan jawabannya.

Ayah berdiri, lalu menepuk pundakku pelan.

“Kalau memang sudah sebulat itu niatmu,” katanya lembut, “coba kamu hubungi dia.”

Aku menoleh.

“Sekarang, Yah?”

Ayah mengangguk. “Tidak perlu lama. Sekadar menyapa.”

Aku mengangguk pelan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat saat aku meraih ponsel dari meja. Jemariku sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya membuka daftar kontak. Nama itu ada di sana—tersimpan sederhana, tanpa embel-embel apa pun.

Schevenko.

Aku menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu terputus.

Aku mencoba lagi. Kali ini lebih cepat terputus, dan layar ponsel menampilkan tulisan yang membuat dadaku langsung terasa perih.

Nomor tidak aktif.

Aku menatap layar itu lama. Terlalu lama.

Entah kenapa, ada rasa nyeri kecil yang menjalar dari dada hingga tenggorokan. Bukan rasa panik, bukan juga ketakutan berlebihan—melainkan perasaan kosong yang muncul tiba-tiba, seperti seseorang yang sudah berdiri di depan pintu, tapi pintunya tidak pernah dibuka.

Ayah tidak bertanya. Ia hanya memperhatikanku dari kejauhan.

“Tidak aktif?” tanyanya akhirnya.

Aku mengangguk pelan.

Ayah tersenyum tipis. “Orang seperti dia… kadang memang begitu. Jangan buru-buru menyimpulkan.”

Aku mengangguk, meski perih itu belum benar-benar hilang.

Namanya beberapa kali muncul di pikiranku, lalu menghilang begitu saja, meninggalkan tanya yang menggantung.

Siangnya, rumahku kembali ramai.

Tawa-tawa memenuhi ruang tamu. Teman-temanku—yang dulu satu pesantren denganku—datang berkunjung. Wajah-wajah yang familiar, suara-suara yang dulu sering menemaniku di masa-masa sederhana.

Aku duduk bersama mereka di ruang keluarga. Kami bercanda, mengenang hal-hal kecil, tertawa tanpa beban. Untuk beberapa saat, pikiranku berhasil teralihkan.

Sampai salah satu dari mereka menatapku dengan senyum penuh arti.

“Zahra,” katanya, nada suaranya dibuat misterius. “Yang kemarin itu siapa sih?”

Aku menoleh. “Siapa?”

“Yang ngasih bunga ke kamu,” sahutnya cepat. “Jangan-jangan…”

Kalimat itu menggantung, disambut tawa kecil yang lain.

Aku belum sempat menjawab ketika tiba-tiba salah satu temanku berseru, agak berlebihan, “Sumpah, itu ganteng banget.”

Aku terkejut, lalu tertawa kecil. “Kalian lebay.”

“Lebay dari mana?” sahut temanku yang lain. “Itu bukan ganteng biasa, Zahra. Itu gantengnya kelewatan. MasyaAllah.”

“Iya lagi,” timpal yang lain. “Dan auranya tuh beda. Orang-orang kelihatan bener-bener menghormatinya.”

Aku diam. Senyum kecil muncul tanpa kusadari.

“Iya sih,” lanjut temanku sambil tertawa. “Gak kebayang deh nanti kalau dia jadi suamimu.”

Aku menunduk, senyumku semakin lebar, tapi kali ini bukan karena malu semata. Ada rasa hangat yang menyelinap di sela-sela perih yang sejak tadi belum sepenuhnya hilang.

“Kalian ini,” kataku akhirnya. “Belum tentu juga.”

“Ah, tapi kelihatan,” kata salah satu dari mereka sambil menunjukku. “Kamu tuh beda kalau lagi bahas dia.”

Aku terdiam sejenak.

Mereka benar.

Aku memang berbeda.

Aku tidak lagi bereaksi berlebihan, tidak juga mengelak dengan canda berlebihan. Aku hanya tersenyum, diam, dan membiarkan waktu berjalan.

Di tengah tawa mereka, pikiranku kembali melayang pada satu hal—nomor yang tidak aktif itu. Ada bagian diriku yang ingin percaya bahwa ia hanya sedang sibuk, sedang menjauh untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun ada juga bagian kecil yang belajar untuk menunggu tanpa memaksa.

Untuk pertama kalinya, menunggu tidak terasa seperti kelemahan.

Ia terasa seperti pilihan.

waktu sudah menandakan mau masuk sore tepatnya jam 3.

Saat teman-temanku pulang satu per satu, rumah kembali sepi. Aku duduk sendiri di ruang tamu, memandangi pintu yang perlahan tertutup.

Aku mengambil ponselku lagi. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada pesan.

Aku menghela napas pelan.

“Tidak apa-apa,” bisikku pada diri sendiri. “Aku bisa menunggu.”

Karena kali ini, aku tidak menunggu dengan rasa kosong.

Aku menunggu dengan niat.

Dan entah di mana, aku yakin—ia pun sedang berhadapan dengan sesuatu yang belum siap ia ceritakan.

Sore pun tiba.

Langit berubah warna menjadi jingga lembut, angin berembus pelan dari jendela kamarku yang sedikit terbuka. Aku sedang duduk di tepi ranjang, ponsel tergeletak di sampingku, ketika tiba-tiba layar itu bergetar.

Aku menoleh.

Nama itu muncul.

Schevenko.

Dadaku langsung berdesir. Tanpa ragu, aku mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum,” ucapku cepat, seolah takut ia keburu menutup telepon.

“Wa’alaikum salam,” jawabnya. Suaranya terdengar jelas, tenang, dan… nyata. Tidak seperti kemarin yang hanya ada dalam pikiranku. “Kamu yang menelepon tadi?”

“Iya,” jawabku pelan.

“Ada apa?” tanyanya, nadanya biasa saja, seolah ini percakapan sederhana. Padahal bagiku, ini tidak sederhana sama sekali.

Aku menarik napas. “Datanglah ke rumahku,” kataku jujur. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

Di seberang sana, terdengar jeda singkat. Bukan hening yang canggung, tapi seperti seseorang yang sedang tersenyum kecil sambil berpikir.

“Ada apa nih,” katanya akhirnya, sedikit bercanda, “tiba-tiba banget.”

Aku ikut tersenyum kecil meski ia tidak bisa melihatku. “Nanti juga tahu.”

Ia tertawa pelan. Bukan tawa lepas, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa hangat.

“Oke,” katanya. “Tapi besok ya.”

Aku terdiam sesaat. “Besok?”

“Iya,” jawabnya santai. “Hari ini aku masih harus beresin beberapa hal.”

Aku mengangguk, meski ia tidak melihat. “Iya… tidak apa-apa.”

Seolah menyadari nadaku, ia menambahkan, “Kamu tidak keberatan, kan?”

“Tidak,” jawabku cepat. Terlalu cepat, sampai aku sendiri tersenyum malu. “Aku bisa menunggu.”

Telepon itu tidak langsung ditutup.

Entah bagaimana, obrolan kami berlanjut ke hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Tentang sore hari yang panas.

Tentang jalanan yang macet.

Tentang hal sepele seperti makanan yang kami sukai.

“Kamu suka teh manis atau kopi?” tanyanya tiba-tiba.

“Teh manis,” jawabku. “Hangat.”

“Hm,” katanya. “Pilihan aman.”

“Memangnya kamu?” tanyaku balik.

“Kopi,” jawabnya singkat. “Hitam.”

Aku tertawa kecil. “Cocok sih.”

“Apa maksudnya?” tanyanya.

Aku ragu sesaat, lalu menjawab jujur, “Kamu kelihatan seperti orang yang tidak suka banyak rasa.”

Ia terdiam sebentar.

“Bisa jadi,” katanya pelan.

Kami saling bertanya hal-hal kecil. Tidak ada pembahasan berat. Tidak ada masa lalu. Tidak ada niat yang diucapkan terang-terangan. Namun justru di situlah keanehannya—obrolan ringan itu terasa… nyaman.

Waktu berjalan tanpa kusadari.

“Oh ya,” katanya kemudian, “besok sore aku ke sana.”

Dadaku kembali berdebar. “Aku tunggu.”

Telepon ditutup perlahan.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap, lalu menghela napas panjang. Tidak ada janji besar hari itu. Tidak ada kata-kata serius. Namun entah kenapa, penantian kali ini terasa berbeda.

Bukan gelisah.

Bukan perih.

Melainkan tenang.

Aku turun ke ruang tamu. Ayah menatapku sekilas.

“Dia datang hari ini?” tanyanya.

“Besok,” jawabku.

Ayah mengangguk. “Bagus. Hal-hal penting memang tidak baik dibicarakan terburu-buru.”

Aku tersenyum kecil.

Malam itu, aku tidur dengan pikiran yang lebih tenang. Untuk pertama kalinya, menunggu tidak terasa menyakitkan. Aku tahu, besok akan datang dengan pembicaraan yang mengubah banyak hal.

Dan kali ini, aku siap.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!