Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.
Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Jalan Menjadi Legenda
Sinar matahari pagi menerpa jalan tanah yang berkelok-kelok saat pasukan kecil pendekar yang dipimpin Chen Wei melanjutkan perjalanan menuju Gunung Api Naga. Mereka telah berjalan selama seminggu, melewati desa-desa yang ditinggalkan, hutan yang lebat, dan sungai yang deras. Setiap langkah membawa mereka lebih dekat dengan tujuan akhir yang sudah ditentukan, namun juga semakin dekat dengan bahaya yang mengintai di setiap sudut.
Pada hari kedelapan perjalanan, mereka mencapai Desa Tua yang terletak di kaki Pegunungan Api. Desa ini dulunya ramai dengan penduduk yang bekerja sebagai pengrajin besi dan penyembuh, tapi kini hanya tersisa reruntuhan dan beberapa orang tua yang tidak mampu pergi kemana-mana. Mereka memberitahu bahwa Sekte Darah Naga telah datang beberapa minggu yang lalu, mengambil semua makanan dan perlengkapan yang bisa mereka temukan, serta memaksa para pemuda untuk bergabung dengan mereka dengan ancaman membunuh keluarga mereka.
“Kita tidak bisa meninggalkan mereka seperti ini,” kata Liu Qing dengan wajah penuh kesedihan saat melihat kondisi penduduk desa yang lemah dan kelaparan. “Kita harus membantu mereka sebelum melanjutkan perjalanan.”
Chen Wei mengangguk dengan sepakat. “Kita akan berhenti sehari di sini. Kita memiliki makanan yang cukup untuk dibagikan, dan kamu bisa menggunakan kemampuan penyembuhanmu untuk merawat mereka yang terluka dan sakit.”
Selama sehari penuh, mereka membantu penduduk desa dengan segenap kemampuan mereka. Li Hao dan Zhang Hu membersihkan reruntuhan rumah dan membangun kembali pagar yang rusak. Wu Chen dan Chen Feng mengajarkan teknik dasar bela diri kepada beberapa pemuda yang ingin bisa melindungi diri dan keluarga mereka jika Sekte Darah Naga kembali. Yan Ling menggunakan kekuatan anginnya untuk membersihkan sungai yang tersumbat dan membawa air bersih ke desa.
Chen Wei sendiri menghabiskan waktu untuk berbicara dengan seorang lelaki tua bernama Lao Deng yang tahu banyak tentang sejarah Gunung Api Naga. Mereka duduk di bawah pohon beringin tua yang menjulang di tengah desa, sambil menikmati teh herbal yang hangat.
“Gunung Api Naga bukan hanya tempat fisik semata,” ujar Lao Deng dengan suara yang lembut tapi penuh makna. “Ia adalah pintu gerbang antara dunia ini dan alam bawah tanah yang dipenuhi dengan energi kuno. Orang-orang bilang bahwa di dalam gunung itu terdapat lorong yang mengarah ke tempat di mana Kaisar Naga pertama kali muncul ribuan tahun yang lalu.”
“Apakah Anda tahu cara masuk yang tidak diketahui oleh Sekte Darah Naga?” tanya Chen Wei dengan penuh rasa ingin tahu.
Lao Deng tersenyum perlahan dan mengambil selembar kulit kayu dari dalam kantongnya. Di atasnya ada gambar lorong tersembunyi yang menghubungkan Desa Tua dengan bagian belakang Gunung Api Naga. “Ini adalah rahasia yang telah disimpan oleh keluarga saya selama berabad-abad. Kita tidak pernah mau menggunakannya kecuali pada saat darurat yang paling mendesak. Dan saya rasa saat ini adalah waktunya.”
“Terima kasih banyak, Bapak Lao Deng,” kata Chen Wei dengan penuh hormat. “Anda telah membantu kita lebih dari yang bisa kita bayangkan.”
“Semua orang memiliki peran dalam perjuangan ini, anak muda,” jawab lelaki tua itu dengan lembut. “Kamu membawa harapan bagi banyak orang. Jangan pernah menyerah, bahkan ketika semuanya tampak tidak mungkin.”
Pada pagi harinya, mereka berpisah dengan penduduk desa yang kini sudah lebih sehat dan penuh semangat. Beberapa pemuda desa bahkan meminta untuk ikut dalam perjalanan, namun Chen Wei menolaknya dengan lembut – mereka diperlukan untuk melindungi desa dan membangun masa depan yang lebih baik setelah perang usai.
Menggunakan peta yang diberikan Lao Deng, mereka memasuki jalur tersembunyi yang mengarah ke dalam hutan belantara di kaki Gunung Api Naga. Jalur ini penuh dengan rintangan – pohon yang tumbang, jurang yang dalam, dan makhluk-makhluk mistis yang hidup di dalam hutan. Namun dengan keahlian Yan Ling dalam membaca alam dan keberanian Wu Chen serta Chen Feng dalam menghadapi bahaya, mereka berhasil melewati setiap rintangan dengan relatif aman.
Setelah berjalan selama tiga hari melalui hutan yang lebat, mereka akhirnya melihatnya – Gunung Api Naga yang menjulang tinggi ke langit dengan puncak yang mengeluarkan asap hitam dan nyala api yang terkadang muncul ke permukaan. Udara di sekitar mereka menjadi semakin panas, dan bau belerang menyengat memenuhi hidung mereka.
“Kita sudah hampir sampai,” bisik Mei Hua dengan wajah yang penuh perhatian. “Saya merasakan energi yang sangat kuat dari dalam gunung. Zhang Tian sudah mulai mengumpulkan kekuatan untuk upacaranya. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Mereka menemukan lorong tersembunyi yang disebutkan Lao Deng di bagian belakang gunung, di bawah tebing batu yang ditutupi lumut hijau dan tumbuhan liar. Lorong itu sempit dan kegelapan sekali, tapi dengan bantuan cahaya dari Mata Naga Biru dan teknik penyinaran yang diajarkan Yan Ling, mereka bisa melihat jalan dengan jelas.
Di dalam lorong, mereka menemukan jejak segar dari anggota Sekte Darah Naga serta tanda-tanda bahwa jalur ini juga digunakan sebagai jalan keluar darurat oleh sekte tersebut. Zhang Hu mengingatkan mereka untuk berhati-hati – di dalam lorong ini terdapat banyak jebakan yang dia kenal dari cerita ayahnya.
“Di sekitar tikungan berikutnya terdapat jebakan tombak yang akan muncul jika kita tidak menginjak pada batu yang benar,” kata Zhang Hu sambil menunjukkan batu khusus yang memiliki pola unik di permukaannya. “Dan di bagian dalam terdapat penjaga khusus yang dilatih untuk membunuh siapa saja yang mencoba masuk tanpa izin.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati, mengikuti setiap petunjuk yang diberikan Zhang Hu. Saat mereka mencapai bagian dalam lorong, tiga sosok berpakaian hitam dengan topeng berbentuk kepala naga muncul menghadang jalannya. Mereka tidak berkata apa-apa dan langsung menyerang dengan pedang panjang yang tajam.
Pertempuran yang cepat namun sengit terjadi di lorong yang sespit itu. Chen Wei menghadapi salah satu penjaga dengan kecepatan dan kelincahan yang sudah semakin matang. Li Hao dan Zhang Hu bekerja sama dengan sangat baik, mengimbangi kekuatan dan kecepatan masing-masing. Wu Chen menunjukkan keahlian luar biasa dengan pedangnya, sementara Yan Ling menggunakan kekuatan angin untuk membingungkan musuh dan membantu sekutu.
Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengalahkan penjaga tanpa harus membunuh mereka – cukup membuat mereka tidak mampu bergerak agar bisa melanjutkan perjalanan. Liu Qing bahkan memberikan ramuan penyembuh untuk luka-luka mereka sebelum mereka melanjutkan.
“Mengapa kamu membantu mereka?” tanya salah satu pendekar dengan rasa heran.
“Karena tidak semua orang yang bekerja untuk Sekte Darah Naga melakukannya dengan sukarela,” jawab Liu Qing dengan lembut. “Beberapa dari mereka dipaksa atau tertipu. Kita harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk berubah.”
Setelah melewati penjaga, mereka mencapai sebuah ruangan bawah tanah yang luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran tiga naga berwarna biru, merah, dan kuning. Di ujung ruangan terdapat sebuah gerbang besar yang terbuat dari batu hitam dengan simbol Kaisar Naga yang mengerikan di tengahnya.
“Di balik gerbang ini adalah jalur menuju tempat upacara,” kata Zhang Hu dengan suara yang sedikit gemetar – ingatan tentang masa lalunya masih ada di benaknya. “Ayahku pasti sudah menunggu kita di sana.”
Chen Wei mendekati gerbang dan menyentuhnya dengan tangan. Dia merasakan getaran energi yang luar biasa dari dalam gerbang – energi yang campuran antara kekuatan yang luar biasa dan kegelapan yang dalam. Mata Naga Biru di dadanya mulai bersinar dengan cahaya yang kuat, seolah merespon kehadiran kekuatan lain di dalam gunung.
“Semua orang bersiaplah,” kata Chen Wei dengan suara yang kuat dan jelas. “Apa yang akan kita hadapi di sana akan menentukan masa depan seluruh dunia. Kita harus tetap kuat dan tidak pernah melupakan mengapa kita melakukan semua ini.”
Mereka berkumpul bersama, tangan bertumpuk di tengah lingkaran yang mereka bentuk. Setiap orang merasa kekuatan dan semangat dari teman sekutunya mengalir ke dalam diri mereka sendiri. Chen Wei merasa bahwa mereka telah menjadi lebih dari sekadar sekutu – mereka adalah keluarga yang terikat oleh tujuan yang sama.
“Sekarang kita pergi,” kata Mei Hua dengan suara yang penuh tekad. “Mari kita akhiri apa yang telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Mari kita buktikan bahwa kebaikan akan selalu menang atas kejahatan!”
Chen Wei mengangkat kedua tangannya, mengumpulkan kekuatan dari Mata Naga Biru dan dukungan dari semua teman-temannya. Cahaya biru yang menyilaukan menyala dari tangannya, dan gerbang besar yang berat perlahan mulai terbuka dengan suara derak yang menggema di seluruh ruangan bawah tanah.
Di balik gerbang itu, mereka melihat lorong panjang yang menerawang ke atas, dengan cahaya merah menyala dari ujungnya. Udara menjadi semakin panas, dan suara gumuruh yang menggelegar terdengar dari kejauhan – suara dari aktivitas upacara yang sedang berlangsung.
Chen Wei memimpin mereka dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh keyakinan. Dia tahu bahwa perjalanan panjang yang dia tempuh sejak hari pertama di Pegunungan Tianlong telah membawa dia ke titik ini. Setiap ujian yang dia lewati, setiap teman yang dia temui, setiap kesalahan yang dia perbaiki – semua itu telah membentuknya menjadi orang yang dia saat ini.
Dan dia juga tahu bahwa ini hanya permulaan dari babak terakhir perjuangannya. Jalan menuju masih panjang dan penuh dengan bahaya yang belum pernah dia bayangkan. Tapi dia siap menghadapinya semua, karena dia tidak lagi sendirian. Bersama dengan teman-temannya, dia akan menghadapi Zhang Tian dan Kaisar Naga yang akan dibangkitkan. Dia akan membuat pilihan yang benar untuk dunia ini, dan dia akan memastikan bahwa legenda Pendekar Mata Naga Biru akan dikenang sebagai simbol harapan dan kebaikan bagi generasi mendatang.
“Mari kita pergi membuat sejarah,” bisik Chen Wei sambil melangkah ke dalam lorong yang menerawang ke masa depan yang belum pasti. “Mari kita tunjukkan kepada dunia apa artinya benar-benar kuat!”