Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Suara dari Bawah Tanah
Aku tidak ingat bagaimana malam itu berakhir.
Yang kuingat hanya tangan anak itu terulur ke arahku, bau tanah yang seperti masuk ke paru-paru, lalu suara Dini menarik tubuhku dari belakang. Setelah itu semuanya terpotong seperti film yang guntingannya hilang.
Aku terbangun di ruang tengah menjelang subuh. Tubuhku penuh keringat dingin, baju yang kupakai bau lumpur padahal aku merasa tidak menyentuh apa pun. Di pergelangan tangan kiriku ada bekas merah melingkar, seperti habis digenggam terlalu kuat.
Dini duduk di sampingku dengan mata bengkak.
“Lo bikin gue hampir mati ketakutan, Sa,” katanya lirih. “Tadi lo jalan sendiri ke bawah mangga. Gue teriak-teriak, tapi lo kayak nggak denger.”
Aku memijat pelipis.
“Aku ngomong sama dia?”
Dini mengangguk pelan.
“Lo bilang… ‘nanti ya’.”
Kalimat itu membuat dadaku jatuh. Aku sama sekali tidak ingat mengucapkannya.
⸻
Pagi itu rumah terasa seperti habis dilalui perang yang tidak kelihatan. Pintu belakang terbuka lebar, padahal aku yakin sudah menguncinya sebelum tidur. Di lantai dapur masih ada sisa jejak lumpur yang membentuk setengah lingkaran, seperti seseorang sempat berdiri lama di sana.
Kotak kayu kecil itu kembali hilang.
Dini membantu membersihkan tanpa banyak bicara. Sesekali dia melirikku seolah takut aku tiba-tiba berubah jadi orang lain.
“Sa,” katanya akhirnya, “kita nggak bisa cuma nunggu. Yang di luar sana makin berani.”
Aku tahu dia benar. Masalahnya, aku tidak tahu harus melawan dengan cara apa. Semua orang cuma memberi peringatan, tidak pernah jalan keluar.
Sampai siang itu seseorang datang tanpa diundang.
⸻
Namanya Arga, anak Pak RT yang baru pulang dari pesantren kota. Aku beberapa kali melihatnya di warung, tapi belum pernah benar-benar kenal.
Dia datang membawa tas kecil dan senyum canggung.
“Bapak nyuruh saya antar ini,” katanya sambil menyerahkan kantong berisi minyak kayu putih dan beberapa bungkus garam. “Katanya buat jaga-jaga.”
Dini langsung menyambut seperti menemukan bala bantuan.
“Mas Arga, sampeyan ngerti soal yang ganggu Raisa, kan?”
Arga tidak langsung menjawab. Matanya justru berputar pelan mengamati ruang tamu, lalu berhenti di arah lorong belakang.
“Sedikit,” katanya hati-hati. “Waktu kecil saya juga sering dengar cerita tentang rumah ini.”
Aku menatapnya.
“Semua orang cuma cerita. Nggak ada yang mau bilang sebenarnya apa.”
Arga menghela napas.
“Yang saya tahu, dulu ada orang pintar dari luar kampung yang pernah datang ke sini. Dia bilang, di tanah rumah ini ada perjanjian lama yang belum selesai. Perjanjian itu butuh nama yang sama untuk dibangunkan lagi.”
Nama yang sama.
Raisa.
Ranti.
Dadaku kembali sesak.
⸻
Sore itu kami bertiga duduk di teras belakang, menghadap pohon mangga seperti sedang menginterogasi saksi bisu.
Arga menancapkan beberapa lidi kecil yang ujungnya dibalut kain putih di sekeliling halaman. Katanya cuma penanda batas, bukan penangkal sungguhan.
“Yang penting jangan ada yang gali lagi,” pesannya.
Aku dan Dini saling pandang. Kami tidak berani jujur soal kotak yang sudah kami buka.
Angin sore menggerakkan daun mangga hingga berbunyi seperti bisikan panjang. Setiap kali rantingnya bergesekan, aku merasa ada yang memanggil namaku pelan-pelan.
“Sa,” Dini menyenggolku, “lo kelihatan pucat lagi.”
Aku hanya tersenyum tipis. Sejak beberapa hari terakhir, tubuhku memang bukan lagi sepenuhnya milikku. Kadang dingin tiba-tiba datang dari dalam tulang, kadang telingaku berdenging mendengar suara yang tidak didengar orang lain.
Arga menatapku lama.
“Kalau boleh jujur, kamu sudah terlalu sering berinteraksi sama dia,” katanya pelan. “Mimpi, sentuhan, bahkan percakapan. Itu bikin batas kalian makin tipis.”
“Terus aku harus gimana?”
Dia menggeleng.
“Saya bukan orang pintar. Tapi biasanya, kalau yang datang itu anak, dia datang karena mencari sesuatu yang belum selesai. Bukan cuma ingin menakuti.”
Kalimat itu menancap di kepalaku: sesuatu yang belum selesai.
⸻
Malamnya hujan turun deras sekali.
Atap rumah seperti dipukul ribuan jari. Air menetes di beberapa sudut, bau lembap makin kuat. Kami bertiga memutuskan berkumpul di ruang tengah saja. Arga ikut berjaga karena tidak tega meninggalkan kami.
Jam dinding bergerak lambat menuju angka yang selalu kutakuti.
02.17.
Tepat beberapa menit sebelumnya, listrik mulai berkedip. Televisi mati-hidup, lampu berdesis seperti orang kelelahan.
“Biasanya dia datang jam segitu?” tanya Arga.
Aku mengangguk tanpa suara.
Detik jarum panjang menyentuh angka dua belas, semua lampu padam bersamaan.
Hening yang datang setelahnya terasa tebal sekali.
Lalu suara itu muncul lagi—sekop menancap tanah.
Kali ini bukan dari belakang rumah, tapi dari bawah lantai ruang tengah.
Grek… grek…
Dini langsung memeluk lenganku.
“Demi Tuhan, ini bukan imajinasi gue kan?”
Arga berdiri, menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya itu bergetar menyapu lantai keramik.
Suara galian makin jelas, tepat di bawah tempat kami duduk.
Tiba-tiba salah satu keramik retak halus, mengeluarkan garis seperti urat.
Dari celahnya keluar air hitam bercampur tanah.
Aku menjerit mundur.
“Dia masuk lewat bawah,” bisik Arga.
Belum sempat kami bergerak, dari lorong belakang terdengar langkah berlari—cepat, ringan, seperti kaki anak kecil telanjang.
Sesuatu melewati kami menuju dapur. Udara berubah dingin menusuk.
Dari dapur terdengar suara piring jatuh, lalu senandung yang sama seperti dulu:
na… na… na…
Arga membaca sesuatu pelan, mungkin doa, sementara Dini sudah menangis tanpa suara.
Aku berdiri tanpa sadar.
Ada dorongan aneh di dadaku, seperti rindu yang bukan milikku. Kakiku melangkah sendiri menuju dapur.
“Sa! Jangan ke sana!” teriak Dini.
Tapi tubuhku tidak mau menurut.
Di pintu dapur aku melihatnya lagi.
Anak itu duduk di atas meja makan, kakinya berayun. Gaun putihnya kini kotor penuh tanah, rambut kepangnya terurai berantakan.
Di tangannya ada kotak kayu kecil—kotak yang hilang tadi siang.
Dia menatapku dengan mata kosong.
“Kak lama banget,” katanya.
Aku ingin lari, tapi mulutku justru menjawab:
“Maaf.”
Arga menarik bahuku dari belakang, membuatku tersadar sejenak.
“Jangan diajak bicara!” bentaknya.
Anak itu tertawa pelan.
“Mas juga mau ikut main?”
Lampu tiba-tiba menyala kembali.
Dan seperti biasa, dia menghilang secepat kedatangannya.
Yang tersisa hanya kotak kayu di atas meja—terbuka lebar.
Di dalamnya kini ada satu benda baru:
seutas kalung kecil dengan liontin bertuliskan namaku.
Raisa.
Padahal aku tidak pernah punya kalung seperti itu.
⸻
Setelah kejadian malam itu, Arga memutuskan tidak pulang.
“Kalian nggak aman sendirian,” katanya tegas.
Kami bertiga tidur bergantian sampai pagi. Tidak ada lagi gangguan, tapi keheningan justru terasa lebih menakutkan—seperti jeda sebelum sesuatu yang lebih besar.
Pagi hari kami memutuskan menemui satu-satunya orang yang mungkin tahu kebenaran: adik kandung nenekku yang masih hidup di desa sebelah, Mbah Sulastri.
Perjalanan ke sana membuatku gelisah sepanjang jalan. Entah kenapa aku merasa sedang mendekati sumber dari semua ini.
Begitu melihatku, Mbah Sulastri langsung menangis.
“Ya Allah… kamu datang juga, Nduk.”
Beliau memegang wajahku dengan tangan gemetar.
“Kamu mirip sekali dengan dia.”
“Dengan Ranti?” tanyaku pelan.
Mbah mengangguk, lalu menatap Arga dan Dini.
“Akhirnya rahasia itu memang harus dibuka.”
Kami duduk di ruang tamunya yang sempit. Bau kopi hitam dan minyak telon bercampur di udara.
Mbah mulai bercerita.
Tentang malam dua puluh tahun lalu.
Tentang permainan anak-anak di bawah mangga.
Tentang seseorang yang datang membawa janji keselamatan untuk keluarga kami—dengan syarat ada satu anak yang “dititipkan” sementara.
“Ranti bukan hilang,” kata Mbah dengan suara bergetar.
“Dia… dipinjam.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Dipinjam sama siapa, Mbah?”
Beliau menatap lurus ke arahku.
“Sama yang tinggal di bawah tanah rumah itu. Yang dulu dijanjikan akan menjaga keluarga kita.”
Di kepalaku semua potongan mulai tersambung—rumah, lubang, namaku, mimpi-mimpi itu.
Mbah memegang tanganku erat.
“Dan sekarang, dia mau menukar pinjamannya.”
Ruangan terasa berputar.
Aku akhirnya mengerti:
aku bukan korban kebetulan.
Aku pengganti yang ditagih.
⸻
Malam semakin dekat, dan aku tahu cerita ini baru memasuki gerbang sesungguhnya.
Yang di bawah mangga bukan lagi sekadar bayangan masa lalu—dia sudah menyebut namaku, memegang tubuhku, dan sebentar lagi mungkin mengambil seluruh hidupku.
Tapi untuk pertama kalinya, aku juga punya sesuatu yang tidak dia perhitungkan:
teman, orang yang percaya, dan kebenaran yang mulai terbuka.
Pertanyaannya tinggal satu:
apakah semua itu cukup untuk membuatku tetap menjadi Raisa?