NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Rumah tua di pinggiran Bogor itu berbau kayu lapis basah dan kenangan yang membusuk. Di ruang tengah yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam kuning yang bergoyang tertiup angin dari celah jendela, suasananya lebih mirip markas pemberontak daripada tempat persembunyian seorang pengacara dan dua anak diplomat.

Debo duduk bersila di atas lantai tegel yang dingin, matanya yang sembap kini dipenuhi urat merah karena terlalu lama menatap layar laptop. Sementara itu, Risky sedang menempelkan guntingan kertas, peta, dan foto-foto pindaian dari flashdisk Hermawan ke sebuah papan tulis tua yang ia temukan di gudang.

Almira memperhatikan Risky. Pria itu tidak tidur sama sekali. Ia terus bergumam sendiri, menyusun kepingan teka-teki yang semakin lama semakin menyeramkan.

"Wirayuda bukan sekadar pemain," Risky akhirnya bersuara, memecah kesunyian malam yang hanya diisi suara jangkrik. "Dia adalah sutradaranya. Lihat pola ini, Al." Ia menunjuk pada daftar kuitansi transfer bank yang ditemukan di data Hermawan. "Uang ini tidak mengalir ke rekening pribadi Wirayuda. Ini mengalir ke sebuah yayasan fiktif bernama Cahaya Nusantara. Dan kau tahu siapa pembina yayasan itu?"

Almira menggeleng, jantungnya berdegup kencang.

"Mantan petinggi kepolisian yang sekarang duduk di kursi dewan penasihat kementerian. Inilah kenapa ayahmu begitu mudah ditangkap di bandara. Jalur itu sudah dibersihkan untuk penjebakan ini," lanjut Risky.

Almira mengepalkan tangan. "Jadi, kita tidak hanya melawan Wirayuda? Kita melawan sistem?"

"Tepat. Dan itulah sebabnya bukti digital ini tidak akan cukup," Risky berbalik, menatap Almira dengan pandangan yang sangat serius. "Di persidangan besok, mereka akan dengan mudah mengatakan rekaman suara ini adalah rekayasa AI. Mereka akan bilang foto Debo bisa diedit. Kita butuh sesuatu yang bersifat fisik, sesuatu yang tidak bisa mereka bantah."

"Apa itu?" tanya Debo, ikut mendongak dari laptopnya.

"Buku log asli dari gudang kargo diplomatik. Hermawan menyebutkan dalam catatan kecilnya bahwa setiap barang titipan yang masuk lewat jalur 'khusus' harus dicatat dalam buku log manual berwarna merah yang disimpan di brankas kantor biro umum kementerian. Jika kita bisa mendapatkan buku itu, di sana akan tertera siapa yang sebenarnya mendaftarkan koper hitam itu atas nama ayahmu. Dan yang paling penting, di sana ada tanda tangan asli si pengirim."

Almira terdiam. "Kantor pusat kementerian... itu tempat yang paling dijaga ketat sekarang. Namaku dan Debo pasti sudah ada di setiap pos penjagaan."

"Itulah sebabnya kalian tidak akan masuk lewat pintu depan," Risky mengambil sebuah peta cetak bangunan kementerian. "Besok adalah hari sidang pertama ayahmu. Perhatian semua orang akan tertuju pada Pengadilan Negeri. Keamanan di kementerian akan sedikit melonggar karena sebagian besar pejabat akan hadir di sidang untuk menunjukkan 'dukungan' atau sekadar memantau situasi."

"Lalu siapa yang masuk?" tanya Almira.

"Aku," jawab Risky. "Dan kau, Al."

"Aku?"

"Kau tahu seluk-beluk kantor itu. Kau sering ikut ayahmu bekerja saat liburan sekolah, kan? Kau tahu di mana letak ruang biro umum tanpa harus melihat peta. Aku butuh penunjuk jalan yang tidak akan ragu saat berada di dalam lorong-lorong itu."

Debo langsung berdiri. "Aku bagaimana? Aku tidak mau ditinggal lagi!"

"Kau adalah pusat komando kita, Deb," Risky memegang bahu remaja itu. "Kau akan tetap di sini dengan modem satelit milik Yoga. Kau harus meretas masuk ke sistem CCTV kementerian untuk membutakan beberapa titik saat kami masuk. Bisakah kau melakukannya?"

Debo menelan ludah. Ia belum pernah melakukan hal ilegal seperti ini, namun saat ia membayangkan wajah ayahnya yang layu di balik jeruji, rasa takutnya menguap. "Akan kucoba. Berikan aku aksesnya."

Keesokan paginya, fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram. Almira mengenakan pakaian kerjanya yang paling formal yang sempat ia bawa—sebuah setelan blazer yang membuatnya tampak seperti asisten pengacara muda. Ia mengikat rambutnya erat-erat, menatap pantulan dirinya di cermin retak rumah tua itu. Wajahnya tampak lebih dewasa, lebih keras. Gadis yang seminggu lalu masih mengeluh soal kemacetan Jakarta kini telah lenyap.

Perjalanan kembali ke Jakarta terasa seperti menuju medan perang. Risky mengemudikan mobil tua milik ibunya, menghindari jalan protokol. Saat mereka melewati gedung Pengadilan Negeri, kerumunan wartawan sudah memadati gerbang. Mobil tahanan yang membawa Pak Baskoro terlihat dikawal ketat oleh motor polisi.

Almira memalingkan wajah, air matanya nyaris jatuh. "Ayah ada di sana, Risky."

"Jangan lihat sekarang, Al. Fokus pada misi kita. Jika kita gagal mendapatkan buku log itu hari ini, sidang besok akan menjadi akhir bagi ayahmu," Risky mengingatkan dengan suara yang tidak mengizinkan adanya kelemahan.

Mereka berhenti di sebuah gedung parkir di belakang kantor kementerian. Yoga sudah menunggu di sana dengan dua kartu identitas palsu.

"Waktu kalian hanya empat puluh menit," Yoga memperingatkan. "Setelah itu, pergantian shift penjagaan akan dimulai, dan prosedur verifikasi ID akan lebih ketat."

Almira dan Risky berjalan menuju pintu masuk samping yang biasanya digunakan oleh staf kebersihan dan pengiriman logistik. Almira bisa merasakan tangannya berkeringat di dalam saku blazernya. Saat mereka mendekati mesin pemindai, ia menarik napas dalam-dalam.

Pip.

Lampu hijau menyala. Identitas palsu mereka bekerja.

Di dalam, suasana kementerian terasa dingin dan steril. Bau kertas tua dan mesin fotokopi memenuhi udara. Almira memimpin jalan, bergerak cepat melewati lorong-lorong yang dulu sering ia lewati dengan tawa saat membawakan bekal untuk ayahnya. Kini, setiap langkah terasa seperti menginjak ranjau.

"Lantai tiga. Biro Umum ada di ujung lorong sebelah kiri," bisik Almira.

Mereka naik melalui tangga darurat untuk menghindari CCTV di dalam lift. Di lantai tiga, lorong tampak sepi. Sebagian besar staf memang sedang berada di area depan untuk menyambut tamu-tamu penting yang akan memantau sidang melalui layar besar di aula.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah berlawanan. Risky dengan cepat menarik Almira masuk ke dalam ruang pantry yang kosong. Mereka berdiri merapat ke dinding, napas mereka tertahan.

Dua orang staf lewat sambil berbincang.

"...kasihan juga Pak Baskoro. Padahal dia orang paling jujur yang kukenal."

"Ssst, jangan bicara keras-keras. Kau tahu sendiri siapa yang memegang kendali sekarang. Salah bicara sedikit, nasibmu bisa seperti dia."

Suara langkah itu menjauh. Almira merasakan kemarahan yang membara. Ternyata banyak orang tahu ayahnya jujur, tapi mereka terlalu takut untuk bersuara. Ketakutan itulah yang memberi kekuatan pada orang seperti Wirayuda.

Mereka keluar dari pantry dan mencapai pintu Biro Umum. Pintunya terkunci dengan kode digital.

"Debo, sekarang!" bisik Risky ke arah earpiece kecil yang tersembunyi di telinganya.

Di Bogor, Debo dengan jemari yang menari di atas keyboard berhasil menembus enkripsi sistem keamanan gedung. "Tunggu... tiga detik lagi... sekarang!"

Klik.

Pintu terbuka. Mereka segera masuk. Ruangan itu penuh dengan lemari arsip baja. Risky langsung menuju ke sebuah brankas kecil di pojok ruangan, di bawah meja kepala biro.

"Ini dia. Tapi ini butuh kunci fisik dan kombinasi," Risky memeriksa lubang kuncinya.

"Coba cek di bawah laci paling bawah," kata Almira. "Ayah dulu pernah bilang, kepala biro di sini punya kebiasaan kuno menyimpan kunci cadangan di tempat yang paling klise."

Risky meraba bagian bawah laci dan menemukan sebuah kunci kecil yang ditempel dengan isolasi. Ia memasukkannya ke lubang kunci, lalu mulai memutar nomor kombinasi berdasarkan tanggal berdirinya kementerian yang ia baca di plakat depan.

Cklek.

Pintu brankas terbuka. Di dalamnya, terletak sebuah buku log bersampul kulit merah yang sudah agak usang. Risky membukanya dengan terburu-buru, jarinya menelusuri tanggal pengiriman dari Washington D.C. seminggu yang lalu.

"Dapatkan!" Risky berbisik penuh kemenangan. Di sana, di kolom barang titipan diplomatik, tertulis nama Pak Baskoro sebagai penerima, namun kolom pengirim ditandatangani oleh nama yang berbeda: S. Wirayuda. Dan di sampingnya, ada cap stempel rahasia yang tidak seharusnya digunakan untuk pengiriman pribadi.

"Kita harus pergi. Sekarang!" ajak Almira.

Namun, saat mereka berbalik menuju pintu, lampu di lorong tiba-tiba menyala terang. Suara alarm mulai meraung-raung di seluruh gedung.

"Kak! Risky! Sistem mendeteksi ada akses ilegal! Kalian ketahuan! Lari!" suara Debo panik di earpiece.

Risky menyambar buku itu dan memasukkannya ke dalam jaketnya. Mereka berlari keluar ruangan, namun di ujung lorong, empat orang petugas keamanan berseragam lengkap sudah berdiri dengan tongkat pemukul dan senjata siap di tangan.

"Berhenti di tempat!" teriak salah satu petugas.

Risky melihat sekeliling. Tidak ada jalan keluar selain jendela di ujung lorong yang menghadap ke atap gedung sebelah. "Al, kau berani melompat?"

Almira menatap ketinggian yang mengerikan itu, lalu menatap buku merah di pelukan Risky. Ia teringat wajah ayahnya yang mungkin saat ini sedang duduk di kursi pesakitan, dihina oleh jutaan pasang mata.

"Apapun demi Ayah," jawab Almira mantap.

Mereka berlari kencang menuju jendela. Risky menggunakan bahunya untuk memecahkan kaca. Serpihan kristal beterbangan seperti salju di bawah sinar matahari pagi. Mereka melompat tepat saat para petugas keamanan itu melepaskan tembakan peringatan.

Angin kencang menerpa wajah Almira saat ia melayang di udara. Untuk sesaat, ia merasa bebas. Ia mendarat dengan keras di atap gedung sebelah yang tertutup kerikil, berguling untuk meredam benturan. Risky mendarat tepat di sampingnya, segera menariknya berdiri.

"Ayo! Jangan berhenti!"

Mereka melintasi atap gedung, menuruni tangga darurat luar, dan menghilang ke dalam labirin pemukiman padat di belakang kantor kementerian tepat saat mobil-mobil polisi mulai mengepung area tersebut.

Di dalam mobil Yoga yang sudah menunggu di titik jemput cadangan, Almira duduk terengah-engah. Rambutnya berantakan, tangannya berdarah karena serpihan kaca, tapi ia tersenyum. Ia menatap buku merah yang kini ada di pangkuannya.

"Kita punya jawabannya, Risky," bisik Almira.

"Belum semuanya," jawab Risky sambil mengelap darah di pelipisnya. "Sekarang kita harus membawa buku ini ke ruang sidang sebelum hakim menjatuhkan putusan sela. Kita harus melakukan apa yang disebut 'pintu belakang hukum'. Kita akan masuk ke sana dan meledakkan kebenaran ini di depan media."

Almira menggenggam buku itu erat-engah. Perang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, mereka tidak akan membiarkan kebenaran terkubur lagi.

...****************...

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!