NovelToon NovelToon
Diamonds & Deception

Diamonds & Deception

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."

Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.

Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan di Hotel Particulier

Berita tentang kemunculan Beatrice di lokasi syuting langsung meledak di media sosial. Dalam hitungan jam, foto-foto paparazzi yang menangkap momen ketegangan antara Serena, Nicholas, dan Beatrice beredar luas dengan tajuk utama yang provokatif.

Skandal di Provence: Siapa yang Akan Dilumat "Sang Vacuum"?

Di forum-forum diskusi high-society dan akun gosip internasional seperti DeuxMoi, spekulasi mulai liar. Publik yang tidak tahu sejarah masa lalu mereka mulai membuat taruhan.

"Lihat cara Nicholas menatap Serena di set. Itu bukan tatapan benci, itu tatapan lapar. Beatrice hanya pengalihan isu. Korban 'The Vacuum' berikutnya pasti si Model Papan Atas itu!" — tulis salah satu netizen di Twitter.

Tagar #SerenNick dan #JentolNextVictim mulai trending.

Publik mulai menebak-nebak berapa lama benteng pertahanan Serena Rousseau Mane yang terkenal angkuh itu akan bertahan sebelum ia bergabung dalam daftar panjang mantan cinlok Nicholas Moreau Feng.

Malam harinya, seluruh kru dan pemain menginap di sebuah château mewah yang disewa keluarga Feng. Di ruang makan yang diterangi lampu gantung kristal, Serena duduk dikelilingi oleh Odetta dan Iris. Mereka sengaja memilih meja yang paling jauh dari Nicholas.

Namun, Nicholas sengaja duduk di meja tengah bersama Beatrice, Peter, Simon, dan John. Suara tawa mereka yang keras sengaja ditujukan untuk memancing emosi Serena.

"Sayang, kenapa kau melihat ke arah Serena terus?" tanya Beatrice dengan suara manja yang sengaja dikeraskan. "Apa kau sedang mengecek apakah bibirnya benar-benar bengkak karena adegan tadi? Kasihan sekali dia, mungkin kulitnya terlalu sensitif untuk pria sepertimu."

Nicholas menyesap red wine mahalnya, matanya yang sipit melirik ke arah Serena yang sedang memotong wagyu steak dengan gerakan sangat anggun namun penuh penekanan.

"Dia memang selalu sensitif, Bea. Sejak dulu. Dia tidak pernah bisa menangani tekanan yang... mendalam."

Peter tertawa terbahak-bahak, menyenggol bahu Nicholas. "Hati-hati, Nick. Publik di luar sana sudah bertaruh. Katanya, dalam tiga hari Serena akan menyerah dan kau akan menambah koleksi bibir jentol di daftarmu."

Serena meletakkan garpunya dengan denting yang keras. Ia berdiri, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Dengan langkah catwalk yang mematikan, ia berjalan menghampiri meja Nicholas. Odetta dan Iris mengikuti di belakang seperti barisan pengawal kerajaan.

"Koleksi?" Serena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin dari es di Antartika. "Dengarkan baik-baik, Nicholas. Publik boleh menebak apa pun, tapi mereka lupa satu hal, aku bukan wanita-wanita murahan yang kau temukan di lokasi syuting sebelumnya."

Serena mencondongkan tubuhnya ke arah Nicholas, mengabaikan Beatrice yang wajahnya mulai memerah karena marah. "Jika bibirku bengkak, itu karena aku membiarkanmu bekerja sesuai kontrak. Tapi jangan pernah bermimpi kau bisa menjadikanku korban berikutnya. Di mataku, kau tetap pria Tionghoa sipit yang hanya punya satu trik murah untuk memuaskan egomu."

Serena kemudian beralih menatap Beatrice. "Dan untukmu, Beatrice... jaga pria ini baik-baik. Karena begitu lampu kamera padam, dia hanyalah pria yang tidak punya identitas tanpa skandal."

Nicholas bangkit dari kursinya, membuat jarak di antara mereka hilang. Aroma wine dan gairah yang terpendam kembali menyeruak. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang tadi siang mendesah saat aku menciummu, Serena. Mau bertaruh? Sebelum film ini selesai, kau sendiri yang akan datang ke kamarku dan memintaku melakukan teknik itu tanpa ada kamera yang merekam."

"Dalam mimpimu, Feng," desis Serena sebelum berbalik pergi, diikuti oleh lirikan maut dari Odetta kepada Peter dan lainnya.

Malam itu, perang di media sosial semakin panas. Foto Serena yang meninggalkan meja Nicholas dengan wajah angkuh menjadi viral. Publik semakin yakin, ini bukan sekadar cinlok biasa, ini adalah pertempuran dua predator papan atas yang saling ingin menghancurkan, namun tak bisa berhenti saling menyentuh.

Di dalam suite kepresidenan yang luas dengan pemandangan langsung ke kebun lavender yang bermandikan cahaya bulan, suasana sama sekali tidak terlihat tenang. Di atas tempat tidur berseprai sutra Egyptian cotton, Serena Rousseau Mane baru saja kehilangan topeng keangkuhannya.

Serena melempar sebuah majalah Vogue edisi terbaru, yang menampilkan wajah Nicholas di sampulnya ke lantai marmer dengan emosi yang meledak-ledak.

"Pria brengsek! Sipit! Penipu!" Serena memaki dengan napas memburu. Ia mengambil sebuah foto polaroid lama yang ia simpan di dalam dompet rahasianya, foto Nicholas saat masih SMA di Paris, tanpa beban, tanpa Beatrice, hanya milik Serena. "Lihat matamu itu, Nick! Mata yang dulu hanya menatapku, sekarang menatap setiap kamera dan setiap wanita yang lewat!"

Iris duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang segelas martini, sementara Marie, asisten pribadi Serena yang sudah bersamanya sejak awal karier modeling, sedang sibuk merapikan gaun-gaun yang berserakan.

"Serena, hentikan. Kau sudah memaki foto itu selama satu jam," kata Iris tenang, meski matanya menyiratkan keprihatinan. "Kau harus sadar, dia sudah punya Beatrice. Dia punya korban baru setiap enam bulan. Kau itu Serena Rousseau Mane! Kau adalah dewi di catwalk. Jangan rendahkan dirimu dengan menangisi pria yang hobi membuat bibir orang jentol demi rating!"

"Aku tidak menangisinya, Iris! Aku benci dia!" Serena berteriak, meski matanya yang tajam kini mulai berkaca-kaca. "Aku benci karena setiap kali dia menciumku di set, tubuhku berkhianat. Aku benci karena mulutnya masih terasa sama seperti tujuh tahun lalu. Dia tahu persis di mana harus menekan, bagaimana cara menghisap... dia melakukannya seolah-olah dia masih memilikiku!"

Marie mendekat, mengusap bahu Serena dengan lembut. "Mademoiselle, dengarkan saya. Nicholas Moreau Feng adalah racun. Pria tebar pesona seperti dia hanya peduli pada penaklukan. Dia tahu Anda adalah puncak yang belum pernah dia taklukkan sepenuhnya secara fisik. Dia hanya penasaran karena Anda satu-satunya yang berani memutusnya."

"Benar," timpal Iris. "Lupakan Nicholas. Besok pagi, kau harus tampil sempurna. Jangan biarkan matamu sembab. Biarkan dia melihat bahwa kau tidak tersentuh. Kalau perlu, aku akan menelepon Peter untuk menjemputmu dengan mobil sport-nya besok pagi, biar Nicholas tahu bahwa kau punya banyak pilihan yang lebih baik dari pria Tionghoa sombong itu."

Serena mengambil foto polaroid itu lagi, jemarinya gemetar menyentuh wajah Nicholas di gambar tersebut. Ingatan tentang bagaimana Nicholas dulu berlutut di depannya, menjelajahi tubuhnya dengan penuh pemujaan tanpa pernah menyakitinya, terasa seperti belati yang menusuk jantung.

"Dia bukan lagi Nicholas-ku, kan?" bisik Serena lirih.

"Bukan," tegas Iris. "Dia adalah Nicholas milik publik sekarang. Milik Beatrice. Milik industri."

Serena menarik napas panjang, menghapus air mata yang hampir jatuh dengan gerakan kasar. Ia bangkit, berjalan menuju jendela besar, dan menatap ke arah sayap lain dari château tempat Nicholas dan Beatrice menginap.

"Kau benar. Dia hanya aktor yang sedang memainkan perannya," ujar Serena dingin, auranya kembali mengeras. "Besok, aku akan menunjukkan padanya akting yang sebenarnya. Jika dia ingin bermain dengan api, aku akan membakar seluruh set itu bersamanya."

Namun, di balik kata-kata tegas itu, Serena meremas foto tersebut di tangannya. Ia tahu, di balik kebenciannya, ada satu fakta yang tak bisa ia sangkal, ia masih mendambakan sentuhan Nicholas yang dulu, sentuhan yang belum pernah dirasakan oleh wanita manapun, termasuk Beatrice.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Fbian Danish
ceritanya bagus bgt. aku suka.... satset tanpa banyak drama, tapi alurnya enak untuk diikuti... suka..suka..suka..
Fbian Danish
baguuuuussss bgt ceritanya kak. cerita sat set tanpa banyak drama tapi alurnya enak dan konflik yg tidak terlalu pelik. aku suka bgt asli.....
Fbian Danish
bapaknya memberi jaminan kancing, anaknya gantungan kristal... like father like son😄
Salsabiell Jannah
sukaaaaa bangetttt sama novel ini 😍😍😍😍
Ros_10: Makasih 😍
total 1 replies
Fbian Danish
bagus bgt karyamu Thor... 🔥🔥🔥🔥
Fbian Danish
happy bgt kak❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!