Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Siaran dari Perut Bumi
Kegelapan di dalam peti itu bukanlah jenis kesunyian yang tenang; itu adalah kegelapan yang memiliki massa, suara, dan aroma yang menghancurkan kewarasan. Ruang sempit itu dipenuhi oleh simfoni horor: napas Maya yang tersengal-sengal dan memburu, gesekan kain kafan Vanya yang lembap terkena rembesan air tanah, serta dengung statis yang konstan dari ponsel yang masih tergenggam erat di tangan Maya yang gemetar. Bau kayu jati yang baru dipahat bercampur dengan aroma formalin yang tajam, amis darah yang mulai mengental, dan bau tanah basah yang menyeruak masuk melalui celah-celah kecil. Aroma itu menyengat indra penciumannya, memicu rasa mual yang hebat hingga ke hulu hati, seolah lambungnya ingin memuntahkan seluruh isinya keluar.
Maya terhimpit secara brutal. Di satu sisi, ada dinding kayu kasar yang dingin dan lembap, sementara di sisi lain, tubuh kaku Vanya menekan seluruh sisi tubuhnya. Kulit Vanya terasa sedingin es kutub, sebuah sensasi beku yang menembus pakaian Maya dan langsung menusuk hingga ke tulang.
"Rian! Buka! Rian, tolong aku!" Maya menjerit sambil menggedor tutup peti dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, parau, dan penuh keputusasaan. Namun, jeritan itu segera teredam oleh lapisan tanah yang mulai dilemparkan kembali ke atas peti oleh Rian di luar sana. Dug... dug... dug... Bunyi tanah yang menghantam kayu tepat di atas kepalanya terdengar seperti dentuman lonceng kematian yang menandai hitungan mundur sisa hidupnya. Setiap hantaman tanah itu seolah-olah menggetarkan tengkoraknya, mengunci Maya dalam peti mati yang kini menjadi penjara bawah tanah yang sempurna.
Maya mencoba mengubah posisi tubuhnya, namun ruang itu terlalu sempit untuk sekadar menekuk lutut. Setiap inci gerakannya justru membuat ia semakin menempel pada jenazah Vanya yang membeku. Tiba-tiba, layar ponsel di tangan Maya menyala terang, membiaskan cahaya biru neon yang sangat menyakitkan mata dalam kegelapan total itu. Siaran langsung itu ternyata belum berakhir. Sebaliknya, angka di pojok kanan atas menunjukkan jumlah penonton yang meroket tajam hingga menyentuh satu juta orang. Judul siarannya telah berubah secara otomatis oleh sistem: "EKSKLUSIF: PEMAKAMAN HIDUP-HIDUP MAYA PRATAMA."
[SYSTEM]: NEW TASK: MAINTAIN VIEWERS ABOVE 1M. IF VIEWS DROP, OXYGEN WILL BE CUT OFF.
Maya menatap layar dengan mata yang membelalak horor. Di sisi kiri layar, sebuah bar indikator oksigen muncul dengan grafis yang dingin. Angka 85% terpampang di sana, berkedip pelan saat angka-angka di belakang koma terus menurun perlahan namun pasti. Ia menyadari satu hal yang paling brutal dan tidak manusiawi dari permainan ini: nyawanya kini sepenuhnya merupakan komoditas. Hidupnya tergantung pada rasa penasaran, rasa haus akan tragedi, dan obsesi tontonan para netizen. Jika mereka bosan, jika konten ini dianggap kurang "menghibur" dan mereka keluar dari siaran, pasokan udara di dalam peti itu akan dihentikan secara otomatis oleh sistem hidrolik yang dipasang Rian.
"Jangan pergi... tolong jangan tutup Live ini! Aku mohon!" Maya meratap di depan kamera depan ponselnya. Air mata yang bercampur lumpur mengalir menuruni pipinya, menciptakan garis-garis kotor di bawah cahaya layar. Visual yang tersaji di layar ponsel sangatlah memuakkan: wajah Maya yang penuh penderitaan bersisihan dengan wajah Vanya yang pucat pasi dan kaku.
Tiba-tiba, di dalam kesempitan yang menyesakkan itu, tangan Vanya yang dingin mulai bergerak. Bukan lagi sekadar gerakan saraf yang kaku, melainkan gerakan yang perlahan, sinkron, dan pasti. Jari-jari Vanya yang ujung kukunya rusak—mungkin karena upaya terakhirnya mencakar peti sebelum tewas—mulai merayap di lengan Maya. Jari itu mencengkeram kulit Maya, kuku-kukunya yang tajam menekan hingga meninggalkan luka gores yang mengeluarkan darah.
"Maya... lihat kamera..." suara Vanya bukan lagi sekadar bisikan gaib di dalam kepala Maya. Suara itu keluar langsung dari kerongkongan mayat itu, menghasilkan bunyi gurgling yang mengerikan akibat cairan tubuh yang memenuhi saluran pernapasannya. "Senyum, Maya... penonton suka kalau kita terlihat cantik... jangan buat mereka kecewa..."
Di layar ponsel, sebuah filter kecantikan tiba-tiba terpasang secara otomatis pada deteksi wajah Maya dan mayat Vanya. Filter itu menghaluskan kulit mereka yang kotor, memberikan rona merah muda palsu di pipi, dan memanjangkan bulu mata secara digital—menciptakan kontras yang luar biasa memuakkan antara visual "cantik" digital dan realitas busuk nan tragis di dalam peti.
Kolom komentar di bawah layar bergerak seperti air bah, penuh dengan pesan-pesan yang mengerikan:
"Anjir, mayatnya bisa gerak gitu! Teknik animatroniknya kelas dunia!"
"Ini efek CGI-nya gila banget, kayak nyata! Siapa sih desainernya?"
"Maya, coba peluk Vanya yang erat! Kalau kalian ciuman, gue kasih Lion!"
Membaca komentar-komentar itu, Maya merasakan jiwanya hancur berkeping-keping. Mereka tidak peduli pada rasa sakitnya. Bagi satu juta orang itu, ini hanyalah hiburan ekstrem, sebuah film horor real-time yang bisa dinikmati sambil bersantai. Namun, saat indikator oksigen menunjukkan angka 60%, Maya mulai merasakan sesak yang sangat nyata. Kepalanya berdenyut hebat akibat akumulasi karbon dioksida, dan setiap tarikan napasnya mulai Terasa seperti menghirup udara yang terbakar.
"Rian... kenapa kau lakukan ini?" Maya berbisik lirih, berharap mikrofon ponselnya menangkap suaranya dan menyampaikan pesan itu pada pria yang berdiri di atas sana.
Di layar, sebuah komentar muncul dari akun @Anatomi_Maut yang kini dikonfirmasi memiliki lencana admin.
@Anatomi_Maut: "Algoritma tidak butuh persahabatan, Maya. Algoritma butuh keterlibatan (engagement) yang konstan. Kematian Vanya menaikkan saham agensi kita 300%. Bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh kematianmu yang disiarkan secara langsung dari dalam liang lahat. Kau akan menjadi martir digital terbesar abad ini."
Maya tersedak, rasa takutnya kini berubah menjadi kemarahan yang pahit. Rian bukan sekadar ahli IT; dia adalah arsitek keji di belakang sistem ini. Dia yang menciptakan bot untuk memanipulasi pasar, dia yang melempar gift-gift maut untuk memancing penonton, dan dia yang memastikan "PK Maut" ini tidak memiliki jalan keluar selain kematian.
Tiba-tiba, tubuh Vanya bangkit sedikit, menindih tubuh Maya dengan berat yang luar biasa hingga tulang rusuk Maya terasa hampir patah. Mayat itu mendekatkan wajahnya yang kini tampil berkedip-kedip di layar ponsel—antara wajah cantik hasil filter dan wajah asli yang mulai membiru. Vanya merampas ponsel dari tangan Maya dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi sebuah mayat, mengarahkan kamera ke arah mereka berdua dalam posisi selfie.
"Ayo, Maya... ajak mereka PK," racur Vanya dengan suara yang bergetar seperti gesekan amplas di atas kayu. "Kalau kita tidak dapat satu juta poin dalam tiga menit, sistem akan membakar peti ini dari dalam."
Ponsel itu tiba-tiba mengeluarkan perintah otomatis. Kali ini bukan Maya yang menantang, melainkan sistem Rian yang secara paksa menghubungkan mereka dengan akun seorang selebriti papan atas yang sedang melakukan siaran langsung santai di rumah mewahnya.
[SYSTEM]: @Vanya_Eternal & @Maya_Pratama is inviting @Diva_Angeline to a PK MAUT.
Diva Angeline, seorang diva pop yang memiliki 50 juta pengikut, tampak terkejut di layarnya saat menerima undangan itu. Ia tertawa kecil, mengira ini adalah bagian dari promosi film horor terbaru yang viral. "Wah, ada tantangan dari akun mendiang Vanya? Kreatif banget tim marketing-nya! Oke, aku terima! Mari kita main!"
Begitu tombol Accept ditekan oleh Diva, Maya melihat indikator oksigennya naik sedikit menjadi 65%, sebuah "hadiah" kecil dari sistem karena berhasil memperluas jangkauan penonton. Pertempuran hidup dan mati baru saja dimulai di bawah tanah. Di dalam kegelapan tanah makam Jeruk Purut, dua orang gadis—satu berjuang untuk tetap hidup, satu dipaksa bergerak setelah mati—mulai mengemis poin dan perhatian kepada jutaan orang yang menyaksikan mereka dengan tawa dan sorak-sorai, sementara di atas mereka, Rian terus melemparkan gumpalan tanah terakhir, menyegel mereka dalam keabadian digital yang berlumuran darah.
ok next