NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Darah di Tanah Leluhur

SUARA baling-baling helikopter yang menderu di atas vila Danau Como terdengar seperti detak jantung kematian yang dipercepat. Aria tidak diberikan waktu untuk berkemas. Dante hanya melemparkan sebuah tas kulit kecil padanya dan memerintahkannya untuk mengganti gaun tidurnya dengan pakaian yang lebih taktis.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mereka sudah berlari melintasi halaman rumput yang basah menuju landasan helikopter pribadi di sisi barat vila. Angin kencang yang dihasilkan oleh helikopter membuat rambut Aria berantakan, namun ia tidak peduli. Matanya tertuju pada Dante yang bergerak di depannya dengan pistol tersampir di pinggang dan wajah yang sedingin marmer makam.

Begitu mereka masuk ke dalam kabin helikopter yang sempit, pintu digeser tertutup dengan bunyi debuman yang final. Dante segera mengenakan headset komunikasi dan mulai memberikan perintah dalam bahasa Italia yang cepat dan tajam kepada anak buahnya di darat.

Aria duduk di kursi seberangnya, menatap keluar jendela saat vila megah itu mulai mengecil di bawah mereka. Ia melihat iring-iringan mobil hitam Moretti yang mulai bergerak meninggalkan area tersebut, menyebar ke berbagai arah untuk mengecoh musuh.

"Dante," panggil Aria melalui mikrofon headset-nya. "Apakah ini benar-benar separah itu? Lucchese... siapa mereka?"

Dante menoleh. Mata abu-abunya tampak berkilat di bawah cahaya kabin yang remang. "Lucchese adalah kanker yang seharusnya sudah kupotong sejak lima tahun lalu. Mereka berbasis di New York, tapi mereka punya akar di Sisilia. Mereka tidak punya kehormatan. Jika ayahmu bekerja sama dengan mereka, itu berarti dia sudah siap untuk membakar seluruh Italia hanya untuk menjatuhkanku."

"Dan aku adalah bensinnya," gumam Aria pelan.

Dante tidak membantah. Ia meraih tangan Aria, mencengkeramnya dengan kuat namun tidak menyakitkan. "Kau adalah alasan mereka menyerang sekarang. Mereka pikir aku lemah karena aku mengambil seorang istri dari keluarga musuh. Mereka pikir pernikahan ini adalah celah di perisaiku. Mereka akan segera sadar betapa salahnya mereka."

Perjalanan berlanjut dengan jet pribadi dari bandara militer kecil menuju Sisilia. Selama penerbangan, Dante tidak tidur. Ia terus menatap peta digital di tabletnya, mengoordinasikan serangan balik. Aria mencoba untuk memejamkan mata, namun setiap kali ia melakukannya, ia mendengar suara ledakan gudang pelabuhan yang diceritakan Dante.

Saat fajar menyingsing, mereka mendarat di sebuah landasan pacu pribadi yang tersembunyi di balik perbukitan gersang Sisilia. Udara di sini berbeda dengan Como. Di sini udaranya kering, panas, dan berbau debu serta belerang.

Sebuah iring-iringan mobil SUV berlapis baja sudah menunggu. Mereka berkendara selama dua jam melewati desa-desa tua yang tampak tak berpenghuni, mendaki jalanan berliku yang dilingkupi oleh tebing-tebing batu kapur yang curam.

Akhirnya, di puncak sebuah bukit yang terisolasi, berdirilah Castello dei Corvi—Kastil Para Gagak.

Itu bukan istana yang cantik. Itu adalah benteng abad pertengahan yang telah dimodernisasi dengan teknologi pertahanan mutakhir. Dinding batunya tebal dan berwarna abu-abu kusam, dengan menara-menara pengawas yang dilengkapi dengan penembak jitu dan kamera termal.

"Ini adalah tempat kelahiran keluarga Moretti," ucap Dante saat mobil mereka melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat. "Di sini, tidak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa seizinku. Dan tidak ada seorang pun yang bisa keluar tanpa aku mengetahuinya."

Aria turun dari mobil dan menatap bangunan megah namun mengintimidasi itu. Ia merasa seolah-olah ia baru saja berpindah dari satu penjara cantik ke penjara yang lebih kokoh.

"Nyonya Moretti," seorang pria tua dengan wajah yang dipenuhi kerutan namun mata yang masih tajam menyambut mereka. "Selamat datang kembali ke rumah."

"Ini adalah Agostino," Dante memperkenalkan pria itu pada Aria. "Dia adalah pengelola kastil ini dan orang yang paling dipercayai kakekku. Jika kau butuh sesuatu dan aku tidak ada, kau bicara padanya."

Agostino membungkuk hormat, namun ia menatap Aria dengan pandangan yang menyelidik. "Darah Vane di dalam dinding Moretti... ini adalah hari yang bersejarah, Tuan Dante."

"Darahnya mungkin Vane, Agostino, tapi namanya adalah Moretti," sahut Dante tegas. "Pastikan semua orang di sini mengerti itu."

Kamar mereka di kastil ini jauh lebih sederhana daripada di Como. Dindingnya terbuat dari batu telanjang, dengan perapian besar dan perabotan kayu berat yang tampak sudah berusia ratusan tahun. Namun, di sudut ruangan, terdapat meja kerja dengan monitor komputer canggih dan peralatan komunikasi satelit.

Dante melepas senjatanya dan meletakkannya di meja. Ia tampak kelelahan, namun matanya masih memancarkan energi yang berbahaya.

"Aku harus turun ke ruang bawah tanah. Ada pertemuan dengan para Capo wilayah selatan," ucap Dante sambil mencuci wajahnya di wastafel porselen tua.

"Berapa lama kita akan di sini?" tanya Aria.

"Sampai ayahmu mati, atau sampai keluarga Lucchese memohon ampun," jawab Dante dingin. Ia berjalan mendekati Aria dan berdiri di depannya. "Aria, aku tahu ini bukan kehidupan yang kau bayangkan saat kau belajar hukum di universitas. Tapi kau harus mengerti satu hal."

Dante memegang kedua bahu Aria, menatapnya dalam-dalam. "Di Sisilia, aturan mainnya berbeda. Di sini, tidak ada polisi yang bisa disuap untuk melindungimu. Hanya ada kekuatan. Jika kau melihat seseorang yang tidak kau kenal di dalam kastil ini, kau lari ke ruang aman. Jangan mencoba menjadi pahlawan."

"Aku bukan anak kecil, Dante," balas Aria, meskipun hatinya mencelos melihat keseriusan di wajah suaminya.

Dante menghela napas. Ia meraba saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pistol kecil berwarna perak. "Ambil ini."

Aria menatap senjata itu. Itu adalah Beretta 21A Bobcat, cukup kecil untuk disembunyikan di balik saku atau di ikat pinggangnya.

"Gunakan ini hanya sebagai pilihan terakhir," bisik Dante sambil meletakkan pistol itu ke tangan Aria. "Pelurunya tidak akan menghentikan truk, tapi jika kau menembak dengan tepat di wajah seseorang, itu akan memberimu waktu untuk melarikan diri."

Aria menggenggam pistol dingin itu. Beratnya terasa seperti beban moral yang baru. "Kau benar-benar berpikir mereka bisa menembus kastil ini?"

"Aku berpikir bahwa Julian Vane sudah kehilangan akal sehatnya, dan pria yang tidak punya beban adalah pria yang paling sulit diprediksi," jawab Dante.

Dante mengecup kening Aria singkat—sebuah gerakan yang terasa sangat asing di tengah pembicaraan tentang kematian ini—lalu ia berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Aria sendirian dengan pikirannya.

Sore harinya, Aria tidak bisa hanya duduk diam. Ia keluar dari kamarnya dan mulai menjelajahi koridor-koridor kastil yang dingin. Marco tidak lagi mengikutinya sedekat sebelumnya; di sini, pengawal ada di mana-mana, sehingga Dante merasa sedikit lebih aman memberikan Aria ruang gerak.

Aria sampai di sebuah balkon besar yang menghadap ke lembah di bawah. Dari sana, ia bisa melihat laut Mediterania yang membentang luas di kejauhan, berkilau di bawah sinar matahari sore.

"Pemandangan yang indah, bukan?"

Aria berbalik dan melihat seorang wanita tua sedang duduk di kursi kayu sambil merajut. Wanita itu mengenakan pakaian serba hitam, dengan kerudung renda yang menutupi sebagian rambut putihnya.

"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu," ucap Aria sopan.

Wanita itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang masih rapi. "Kau pasti Aria. Kabar tentang pengantin baru Dante sudah menyebar ke seluruh pulau ini bahkan sebelum helikopter kalian mendarat."

Aria mendekat. "Dan Anda adalah...?"

"Aku adalah Nonna Vitina. Aku yang mengasuh Dante saat dia dikirim ke sini setelah ibunya... pergi," jawab wanita itu.

Mendengar penyebutan tentang ibu Dante, Aria merasa tertarik. "Dante sering menghabiskan waktu di sini?"

Nonna Vitina mengangguk, jarinya terus bergerak lincah memainkan jarum rajut. "Tempat ini adalah tempat perlindungannya. Tapi juga tempat di mana dia belajar menjadi monster. Ayahnya, Lorenzo, akan membawanya ke gudang di bawah bukit itu dan memaksanya melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh anak berusia sepuluh tahun."

Nonna Vitina berhenti merajut sejenak dan menatap Aria dengan mata yang penuh kebijaksanaan. "Kau punya mata yang kuat, Nak. Tapi di dunia ini, kekuatan saja tidak cukup. Kau harus punya kelicikan. Dante mencintaimu, meskipun dia sendiri mungkin belum menyadarinya atau terlalu takut untuk mengakuinya."

"Mencintaiku?" Aria tertawa pahit. "Dia memperlakukanku seperti properti berharga, Nonna. Itu bukan cinta."

"Bagi seorang Moretti, properti adalah hal yang paling mereka lindungi dengan nyawa," sahut Nonna Vitina. "Mereka tidak tahu cara memberikan bunga atau puisi. Mereka memberikan perlindungan, kesetiaan, dan terkadang... rasa sakit. Itulah cara mereka mencintai."

Aria terdiam, merenungkan kata-kata wanita tua itu. Apakah mungkin obsesi Dante adalah bentuk cintanya yang terdistorsi?

Tiba-tiba, suara sirene meraung dari menara pengawas. Suaranya membelah keheningan sore Sisilia dengan nada yang sangat mendesak.

Aria melihat Nonna Vitina segera berdiri dengan kecepatan yang tidak terduga untuk wanita seusianya. "Masuk ke dalam, Aria! Sekarang!"

Dari arah lembah, Aria melihat kepulan debu yang besar. Belasan kendaraan SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju gerbang kastil. Namun, itu bukan kendaraan Moretti. Di atas atap salah satu mobil, seseorang berdiri sambil memegang peluncur roket.

WUUUSH! BOOOOM!

Sebuah roket menghantam salah satu menara pengawas bagian luar, menciptakan ledakan api dan debu yang dahsyat. Goncangannya terasa hingga ke balkon tempat Aria berdiri.

"Aria!" suara Dante menggelegar dari dalam koridor.

Dante berlari ke arahnya, mengenakan rompi anti-peluru dan memegang senapan serbu. Wajahnya dipenuhi amarah yang murni. "Masuk ke ruang aman! Marco, bawa dia!"

Marco muncul dari balik pintu, menarik lengan Aria. "Ayo, Nyonya! Cepat!"

"Bagaimana dengan Nonna Vitina?" teriak Aria.

"Dia tahu jalannya! Cepat bergerak!" perintah Dante sambil mulai melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang mulai mendekati gerbang bawah.

Aria ditarik menyusuri tangga rahasia di balik dinding batu. Ia bisa mendengar suara baku tembak yang semakin gencar di luar. Suara teriakan, ledakan, dan desingan peluru bergema di seluruh kastil.

Mereka sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang dilapisi baja tebal. Agostino sudah ada di sana bersama beberapa pelayan wanita yang ketakutan.

"Tetap di sini, Nyonya," ucap Marco sambil mengunci pintu baja dari dalam. Ia berdiri di depan pintu dengan pistol di tangan.

Aria terduduk di lantai yang dingin, jantungnya berpacu kencang. Ia meraba pistol Beretta kecil di sakunya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Ayahnya benar-benar sudah gila. Dia menyerang benteng Moretti di tanah leluhur mereka sendiri. Ini bukan lagi sekadar perang bisnis; ini adalah upaya pemusnahan massal.

Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Aria hanya bisa menunggu. Ia tidak tahu apakah Dante masih hidup, atau apakah kastil ini akan menjadi kuburan massal bagi mereka semua.

Setengah jam berlalu seperti selamanya. Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar dari arah atas, cukup kuat untuk membuat debu berjatuhan dari langit-langit ruang aman.

Lampu di dalam ruangan sempat berkedip lalu mati, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang redup.

"Mereka sudah di dalam," bisik Agostino, wajahnya pucat pasi.

Marco mengokang senjatanya. "Siapa pun yang melewati pintu ini, aku akan menembaknya."

Aria berdiri, mengeluarkan pistol Beretta kecilnya dan melepaskan pengamannya seperti yang diajarkan Dante. Ia tidak akan menunggu seperti domba yang siap disembelih. Jika pintu itu terbuka dan yang muncul bukan Dante, ia akan memastikan peluru pertamanya mengenai sasaran.

"Aria," bisik Marco. "Tetap di belakangku."

"Tidak," jawab Aria dengan suara yang kini stabil dan penuh determinasi. "Aku lelah bersembunyi di belakang semua orang. Jika ini adalah malam terakhirku, aku akan mati sebagai seorang Moretti, bukan sebagai seorang Vane yang penakut."

Di bawah lampu merah yang berkedip, Aria berdiri tegak, senjatanya terarah ke pintu. Di balik pintu baja itu, suara langkah kaki yang berat mulai mendekat, diikuti oleh suara gergaji mesin yang mulai memotong engsel pintu.

Perang telah sampai ke depan pintunya. Dan Aria siap untuk menyambutnya.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!