"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Latihan Neraka
Kamis pagi, jam empat subuh, Suyin terbangun dengan suara ketukan keras di pintu kamarnya.
"Suyin! Bangun! Latihan dimulai dalam lima belas menit!" suara Wei Hao dari luar pintu terdengar sangat ceria untuk jam seawal ini.
Suyin merintih, menarik selimut menutupi kepala. "Jam berapa ini..."
"Jam empat lewat sepuluh menit! Ayo cepat!"
Dengan susah payah, Suyin bangkit dari tempat tidur yang sangat nyaman itu. Dia sholat subuh dengan mata setengah terbuka, lalu langsung ganti ke pakaian olahraga—celana training hitam dan kaos lengan panjang.
Saat turun ke taman belakang, Suyin melihat Wei Hao sudah berdiri di sana dengan pose siap—dan yang lebih mengejutkan, Xiao Zhen juga sudah ada dengan pakaian latihan.
"Pagi," sapa Xiao Zhen dengan senyum yang terlalu segar untuk jam segini.
"Kalian berdua sudah bangun dari jam berapa sih?" gerutu Suyin sambil meregangkan tubuh yang masih kaku.
"Jam tiga," jawab Wei Hao santai. "Kami kultivator sudah terbiasa bangun subuh untuk meditasi. Kamu juga harus mulai biasakan."
"Aku sudah bangun subuh untuk sholat," protes Suyin.
"Bagus! Berarti kamu sudah punya rutinitas bangun pagi. Tinggal tambahkan latihan setelah itu." Wei Hao bertepuk tangan. "Oke, kita mulai dengan pemanasan. Lari keliling villa sepuluh putaran."
"SEPULUH PUTARAN?!" Suyin menatap Wei Hao dengan horror. Villa ini bukan kecil—satu putaran itu kira-kira lima ratus meter. "Itu lima kilometer!"
"Benar sekali. Untuk kultivator pemula, lima kilometer adalah pemanasan standar." Wei Hao sudah mulai berlari. "Ayo! Jangan mau kalah sama Tuan Muda yang sudah mulai duluan!"
Suyin menoleh—Xiao Zhen memang sudah berlari dengan kecepatan steady.
Dengan helaan napas pasrah, Suyin mulai berlari juga.
Putaran pertama masih oke. Putaran kedua mulai terasa. Putaran ketiga, kaki Suyin sudah protes. Putaran keempat, dia yakin kakinya akan copot.
"Wei Hao... aku... tidak... kuat..." Suyin berlari sambil terengah-engah.
"Kamu bisa! Alirkan Qi ke kakimu—ingat teknik yang Tuan Muda ajarkan!" teriak Wei Hao yang berlari dengan santai di sampingnya, bahkan tidak berkeringat.
Suyin mencoba mengingat—alirkan energi ke kaki, bayangkan energi mengalir seperti sungai...
Dan tiba-tiba kakinya terasa sedikit lebih ringan.
"Bagus! Pertahankan!" seru Wei Hao.
Dengan Qi yang mengalir ke kakinya, Suyin berhasil menyelesaikan sepuluh putaran—walau putaran terakhir dia hampir merangkak.
Saat akhirnya berhenti, Suyin langsung jatuh duduk di rumput, napas tersengal-engal seperti ikan di darat.
Xiao Zhen menyerahkan botol air. "Bagus. Kamu tidak pingsan."
"Itu... standar... yang sangat... rendah..." Suyin minum air dengan rakus.
"Istirahat lima menit, lalu kita lanjut latihan teknik," ucap Wei Hao ceria.
"Masih ada lagi?!" Suyin ingin menangis.
"Masih banyak. Ini baru pemanasan, Suyin."
Ternyata Wei Hao tidak bercanda.
Setelah lima menit istirahat yang terlalu singkat, mereka pindah ke area latihan basement untuk drilling teknik.
"Hari ini fokus pada refleks dan kecepatan reaksi," Wei Hao menjelaskan. "Dalam pertarungan sungguhan, kamu tidak punya waktu untuk berpikir. Semua harus jadi insting."
Wei Hao mengambil posisi di tengah ruangan. "Aku akan serang kamu dari berbagai arah tanpa peringatan. Tugasmu adalah aktifkan pelindung atau menghindar—pilihanmu. Tapi harus cepat."
"Tunggu, tanpa hitungan atau aba-aba?"
"Tanpa apa-apa."
Dan tiba-tiba Wei Hao menyerang—tinju yang diperkuat Qi melesat ke arah bahu Suyin.
Suyin hampir tidak sempat bereaksi—dia loncat ke samping dengan canggung, hampir terjatuh.
"Lambat! Lagi!"
Serangan kedua datang dari belakang—Suyin aktivasi pelindung tapi terlambat setengah detik. Serangan menghantam punggungnya dan membuat dia terpental ke depan.
"Masih lambat! Fokus!"
Serangan ketiga, keempat, kelima—Suyin jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi.
Setelah setengah jam yang terasa seperti setengah tahun, Wei Hao akhirnya berhenti.
"Lumayan. Kamu mulai bisa prediksi dari pergerakan energiku." Wei Hao menyerahkan handuk. "Istirahat sepuluh menit, lalu kita latihan kombinasi pelindung dan Jangkar Qi."
Suyin berbaring di lantai basement yang dingin, tidak peduli dengan image. Seluruh tubuhnya sakit.
Xiao Zhen duduk di sampingnya dengan botol air. "Bagaimana rasanya?"
"Seperti ditabrak truk. Berulang kali."
"Bagus. Berarti latihannya efektif." Xiao Zhen tersenyum—tapi ada kekhawatiran di matanya. "Apa terlalu berat? Aku bisa minta Wei Hao kurangi intensitasnya."
"Jangan." Suyin duduk dengan susah payah. "Aku butuh ini. Aku tidak bisa terus jadi beban yang harus dilindungi. Aku harus bisa melindungi diriku sendiri."
"Kamu bukan beban."
"Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau jadi orang yang cuma berdiri di belakang sambil orang lain bertarung untukku." Suyin menatap Xiao Zhen dengan serius. "Aku pewaris Klan Lin. Aku harus sekuat nenek dulu."
Xiao Zhen menatap Suyin dengan tatapan yang sulit dibaca—lalu tiba-tiba menarik Suyin ke dalam pelukan singkat.
"Aku bangga padamu," bisiknya. "Tapi tetap jangan memaksakan diri sampai terluka parah."
"Aku janji."
Latihan berlanjut sampai jam sembilan pagi—empat jam penuh drilling teknik, meditasi pemulihan Qi, dan latihan kontrol energi.
Saat akhirnya selesai, Suyin hampir tidak bisa berjalan. Xiao Zhen harus menopang dia naik tangga ke kamar mandi.
"Mandi dulu, lalu sarapan. Setelah itu kamu bebas sampai sore—gunakan untuk produksi di ruang dimensi atau istirahat," ucap Xiao Zhen sambil membantu Suyin duduk di tepi tempat tidur.
"Latihan lagi sore ini?" tanya Suyin dengan suara lemah.
"Jam empat sore dengan Zhang Wei—latihan kecepatan dan gerakan mengelak. Malam jam delapan dengan aku—kultivasi bersama dan meditasi." Xiao Zhen menyentuh pipi Suyin dengan lembut. "Jadwal ini akan berlangsung setiap hari selama dua bulan ke depan. Apa kamu yakin sanggup?"
Suyin menarik napas dalam. Tubuhnya protes dengan keras. Tapi tekadnya lebih keras.
"Aku sanggup."
"Bagus." Xiao Zhen mencium kening Suyin. "Sekarang mandi dan istirahat."
Setelah mandi air hangat yang membuat otot-ototnya sedikit lebih baik, Suyin turun untuk sarapan. Nyonya Qin sudah menyiapkan bubur ayam dengan lauk lengkap—seperti tahu Suyin butuh makanan yang bergizi tapi mudah dicerna.
"Kamu kelihatan seperti habis perang, Nona," komentar Nyonya Qin sambil menuangkan teh hangat.
"Rasanya memang seperti habis perang," jawab Suyin sambil menyendok bubur. "Tapi ini demi kebaikan."
"Aku tahu. Tapi tetap jangan sampai sakit ya. Tuan Muda akan sangat khawatir."
Setelah sarapan, Suyin masuk ke ruang dimensi untuk produksi rutin.
WUSH!
Udara ruang dimensi yang sejuk dan tenang langsung membuat tubuh Suyin sedikit lebih rileks.
"Selamat datang kembali, Pemilik Ruang," sapa Pohon Kehidupan. "Kamu terlihat sangat lelah."
"Latihan pagi yang sangat intensif," Suyin berjalan ke mata air, mencuci wajah dengan air yang dingin dan menyegarkan. "Tapi perlu dilakukan."
"Aku setuju. Tapi jangan lupa—tubuh juga butuh waktu untuk pulih. Overtraining bisa merusak pondasimu."
"Aku tahu. Makanya aku akan gunakan waktu di sini untuk hal yang lebih santai—bertani." Suyin tersenyum. "Bertani selalu menenangkan."
Dia menghabiskan beberapa jam—waktu dimensi—untuk merawat tanaman yang sudah ada, memanen yang sudah siap, dan menanam benih-benih baru.
Di Rumah Kaca Budidaya, Suyin mulai eksperimen dengan tanaman eksotis. Kemarin dia sudah order benih dari berbagai negara yang dikirim express—strawberry Alpine dari Swiss, tomat Heirloom dari Italia, paprika Shishito dari Jepang, basil Thai, kemangi lemon dari Yunani.
Setiap benih ditanam dengan hati-hati dalam sistem hidroponik yang sudah diatur iklimnya sesuai kebutuhan tanaman.
"Dengan ini aku tambah dua puluh lima jenis tanaman baru," hitung Suyin sambil mencatat di tablet. "Masih butuh tiga ratus dua puluh lima jenis lagi untuk Tingkat 3."
"Pelan-pelan. Kamu punya waktu," ucap Pohon Kehidupan menenangkan. "Dan ingat—bukan hanya kuantitas tapi juga kualitas. Setiap tanaman yang kamu rawat dengan baik akan meningkatkan kualitas keseluruhan ruang dimensi."
Suyin mengangguk, melanjutkan pekerjaannya dengan lebih santai.
Ada sesuatu yang meditatif tentang bertani—tangan di tanah, merawat kehidupan kecil yang tumbuh, melihat hasil kerja keras dalam bentuk tanaman yang sehat dan subur.
Ini sangat berbeda dari latihan kultivasi yang keras tadi pagi. Tapi keduanya sama pentingnya.
Saat keluar dari ruang dimensi—sudah lima jam waktu dimensi tapi baru dua puluh menit waktu luar—Suyin merasa jauh lebih tenang dan fresh.
Dia sempatkan tidur siang sebentar sebelum latihan sore dengan Zhang Wei.
Jam empat sore, Zhang Wei sudah menunggu di taman dengan senyum lebar yang entah kenapa membuat Suyin nervous.
"Siap untuk latihan kecepatan?" tanyanya dengan ceria yang mencurigakan.
"Seberapa menyiksa latihan ini?" tanya Suyin langsung.
"Hmm... sekitar tujuh dari sepuluh di skala penyiksaan?" Zhang Wei tertawa melihat wajah Suyin yang pucat. "Bercanda! Ini tidak seburuk latihan Wei Hao tadi pagi. Ini lebih ke... permainan kejar-kejaran."
"Kejar-kejaran?"
"Ya. Aku akan kejar kamu dengan kecepatan penuh. Kamu harus kabur menggunakan teknik Langkah Kilat dan Langkah Bayangan yang sudah kamu pelajari. Kalau aku berhasil sentuh kamu, kamu kalah."
"Dan kalau aku berhasil kabur selama berapa lama?"
"Lima menit tanpa tersentuh—kamu menang dan boleh istirahat. Kalau tidak... kita ulang sampai kamu bisa." Zhang Wei sudah mulai regangkan tubuh. "Aku kasih kamu sepuluh detik untuk lari duluan. Siap?"
Suyin langsung lari tanpa jawab.
"SATU! DUA! TIGA!" Zhang Wei menghitung dengan keras.
Suyin berlari sekencang yang dia bisa—mengalirkan Qi ke kakinya seperti yang diajarkan, mencoba ingat teknik Langkah Bayangan yang meninggalkan jejak palsu.
"SEPULUH! AKU DATANG!"
Suyin menoleh sekilas—Zhang Wei menghilang dari tempat berdirinya.
Detik berikutnya, dia sudah muncul lima meter di belakang Suyin dengan kecepatan yang luar biasa.
"Astaga!" Suyin langsung belok tajam ke kanan, melewati pohon besar.
Zhang Wei tertawa, mengejar dengan mudah.
Ini berlangsung hampir dua jam—Suyin lari, Zhang Wei kejar, Suyin tertangkap, istirahat sebentar, lalu ulang lagi.
Pada percobaan kedelapan, Suyin akhirnya berhasil bertahan lima menit penuh—kombinasi dari Langkah Kilat untuk kecepatan, Langkah Bayangan untuk tipu daya, dan strategi menggunakan pohon dan struktur taman untuk menghalangi garis pandang Zhang Wei.
Saat timer berbunyi, Suyin langsung jatuh terduduk di rumput, napas seperti mesin rusak.
"AKHIRNYA!" teriaknya dengan campuran lega dan kelelahan.
Zhang Wei bertepuk tangan sambil berjalan mendekat. "Bagus sekali! Percobaan kedelapan—itu lebih cepat dari yang kukira. Biasanya orang butuh dua puluh kali percobaan."
"Aku... tidak... tahu... harus bangga atau sedih mendengar itu..."
"Bangga saja. Kamu progresnya luar biasa." Zhang Wei memberikan botol air. "Besok kita latihan lagi—tapi aku akan tambahkan rintangan. Kamu harus kabur sambil hindari berbagai halangan."
"Wah... tidak sabar..." jawab Suyin dengan sarkasme kering.
Setelah latihan sore selesai, Suyin mandi lagi—sudah mandi ketiga kalinya hari ini—lalu makan malam dengan seluruh tim.
Suasana makan malam hangat dan penuh canda—Liu Peng bercerita tentang misi konyolnya dulu, Chen Ling mengomentari dengan kering, Wei Hao tertawa keras, Zhao Mei tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Xiao Zhen duduk di samping Suyin, sesekali menaruh lauk di piring Suyin tanpa diminta—gestur kecil yang membuat Nyonya Qin tersenyum penuh arti.
"Nona harus makan banyak," ucap Nyonya Qin sambil menambahkan nasi di piring Suyin. "Latihannya keras, kalau tidak makan cukup nanti sakit."
"Iya, Nyonya. Terima kasih."
Setelah makan malam, Xiao Zhen mengajak Suyin ke paviliun di tepi kolam koi—tempat favorit mereka untuk kultivasi bersama.
"Latihan terakhir hari ini," ucap Xiao Zhen sambil duduk bersila. "Tapi ini yang paling penting—memulihkan dan menstabilkan Qi yang terkuras seharian."
Mereka duduk berhadapan, tangan saling menggenggam, mata tertutup.
Energi mengalir di antara mereka—biru gelap dari Xiao Zhen, hijau keemasan dari Suyin—berpadu dalam harmoni yang indah.
Suyin merasakan kelelahan di tubuhnya perlahan berkurang. Otot-otot yang sakit menjadi lebih rileks. Pikiran yang penuh dengan teknik dan strategi menjadi lebih tenang.
Ini bukan hanya kultivasi—ini juga terapi.
Setelah satu jam, mereka membuka mata bersamaan.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Xiao Zhen lembut.
"Lebih baik. Jauh lebih baik." Suyin tersenyum. "Terima kasih."
"Sama-sama." Xiao Zhen tidak melepas genggaman tangan Suyin. "Hari pertama latihan intensif sudah selesai. Masih sanggup untuk esok hari?"
Suyin menarik napas dalam, merasakan tubuhnya yang sudah jauh lebih baik setelah kultivasi bersama.
"Sanggup. Aku harus sanggup."
"Itu semangat yang benar." Xiao Zhen tersenyum bangga.
Mereka duduk di paviliun sampai larut—tidak selalu bicara, kadang hanya diam menikmati kebersamaan, mendengar suara air kolam dan jangkrik malam.
Saat akhirnya Suyin kembali ke kamar untuk tidur, tubuhnya lelah tapi hatinya penuh dengan tekad.
Hari pertama latihan neraka sudah lewat.
Masih ada puluhan hari lagi ke depan.
Tapi Suyin tahu—setiap hari yang dia lalui, dia jadi sedikit lebih kuat.
Dan suatu hari nanti, dia akan cukup kuat untuk berdiri sendiri melawan ancaman apapun yang datang.
Untuk nenek. Untuk Klan Lin. Untuk masa depan yang dia ingin bangun.
Dan untuk orang-orang yang dia cintai.