NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 - Pilihan dan Komitmen

Tepat di Halaman latihan keluarga Marquis Florence dipenuhi suara pedang sedang beradu.

Arthur berdiri di tepi lapangan, tangan bersedekap. Ia tidak ikut berlatih hari itu.

Ia disana hanya sedang mengamati biasa.

Para knight berlatih seperti biasa, tebasan, tusukan, formasi. Namun setelah peristiwa di hutan Nostradus dan pengepungan kecil sebelumnya, satu hal menjadi jelas:

Tidak semua knight bergerak di ranah yang sama.

Seorang knight senior Sir Hollton berdiri di samping Arthur, tongkat kayunya menekan tanah.

“Kau sudah menyadarinya, tuan muda” katanya tanpa menoleh.

“Perbedaan itu.”

Arthur mengangguk pelan.

“Beberapa bergerak dengan langkah kaki yang cepat, tapi mudah lelah. Yang lain lebih lambat, tapi tak goyah meski ditekan.”

Sir Hollton tersenyum tipis.

“Karena kekuatan bukan soal otot.”

“Ia soal pernapasan.”

Ranah Pertama Langkah Baja (Ferrum Step)

Sir Hollton memanggil seorang knight muda ke tengah lapangan.

Namanya Rellan.

Tubuhnya kaku, gerakannya terbilang keras.

“Ini ranah pertama dari para knight” kata Asean.

“Mereka yang baru memahami senjata sebagai sebuah alat.”

Ciri-cirinya:

Gerakan terlatih tapi kaku

Kekuatan mengandalkan otot

Nafas cepat terputus saat tekanan panjang

“Mereka adalah orang yang berani, tuan muda” lanjut Hollton.

“Dan keberanian itu yang membuat mereka menjadi mati pertama kali di medan tempur.”

Arthur mencatat dalam diam.

Ranah Kedua Denyut Perang (Vigor Pulse)

Hollton menunjuk sekelompok knight lain.

Gerakan mereka lebih ringan.

Mereka tidak menyerang membabi buta dan kasar.

“Mereka mulai menyatukan napas dan langkah menjadi satu kesatuan yang utuh” kata Sir Hollton.

“Pedang mereka tidak hanya di tangan, tapi berada di dada mereka.”

Ciri-cirinya:

Nafas mulai stabil

Bisa bertarung lebih lama

Sudah mengenal ritme musuh

Arthur tersenyum kecil.

“Mayoritas knight berada di sini.”

“Dan akan mati di sini atau di medan pertempuran” jawab Hollton tanpa emosi.

“Jika mereka berhenti berkembang saat ini.”

Ranah Ketiga Inti Arus (Coreflow)

Hollton mengangkat pedang besarnya.

“Kemudian yang ini, jarang.”

Ia menunjuk satu knight tua bernama Sir Caldor.

Sir Caldor tidak bergerak cepat.

Tapi setiap langkahnya… tepat.

“Mereka tidak lagi mengikuti teknik, tapi...” kata Asean.

“Teknik yang mengikuti mereka.”

Ciri-cirinya:

Gerakan hemat tenaga

Nafas hampir tak terdengar

Bisa bertarung berjam-jam tanpa penurunan fokus

Arthur menyipitkan mata.

“Dia seperti… tenang atau air yang mengalir dengan lembut.”

“Karena ia bertarung dari pusat jiwa” jawab Asean.

“Bukan dari amarah.”

Ranah Keempat Gelombang Kehendak (Willwave)

Hollton akhirnya menoleh ke Arthur.

Tatapannya tajam.

“Dan terakhir ini” katanya pelan,

“yang akan kau sentuh di masa depan… tanpa sadar.”

Arthur terdiam.

“Knight di ranah ini terakhir ini” lanjut Asean,

“menggerakkan tubuh dengan kehendak, bukan perintah otot.”

Ciri-cirinya:

Reaksi melampaui naluri

Bisa membaca niat musuh

Tekanan mental menjadi senjata

“Seven Deadly Wave milikmu, tuan muda” Hollton berkata,

“bukan teknik. Itu pantulan kehendak dari jiwa mu.”

Arthur menelan ludah.

Saat latihan hampir selesai

Seorang knight dari keluarga Florence, maju ke lapangan.

Namanya Garn Virell.

“Aku ingin menguji anda, tuan Arthur” katanya sopan,

“apakah cerita tentang anda saat berada di hutan Nostradus hanya sebuah kebohongan.”

Keheningan menyelimuti lapangan.

Arthur melangkah maju.

“Satu ronde, itu yang bisa ku janjikan” katanya.

“Tanpa niat membunuh.”

Garn mengangguk.

Pertarungan Singkat

Garn bergerak cepat di ranah Vigor Pulse.

Arthur tidak mundur.

Ia menarik napas.

Satu langkah.

Dua denyut.

Seven Deadly Wave Bentuk Kedua: Retakan Senyap.

Tidak ada suara keras dari dua pedang yang beradu.

Namun Garn terhuyung, pedangnya jatuh.

Ia berlutut di lantai.

Lapangan hening.

Sir Hollton mengetuk tanah dengan pedang.

“Cukup!”

Garn mengangkat kepala, terengah.

“Aku… seperti tidak merasa diserang, saat beradu dengan tuan arthur...” katanya bingung.

“Tapi tubuhku… Seakan menyerah dan pasrah.”

Sir Hollton menatap Arthur dengan mata penuh arti.

“Itulah perbedaan suatu ranah.”

Para knight mulai berbisik.

Ada yang kagum. Dan ada yang tidak percaya apa yang ia lihat.

Toxen berdiri, rahangnya mengeras.

“Jika kabar sparing ini keluar kediaman Florence” gumamnya, “enam organisasi pasti akan bergerak lebih awal dan terstruktur.”

Arthur menghela napas.

“Biarkan mereka.”

Ia memandang ke langit Florence.

“Lebih baik mereka tahu… daripada mengira aku seseorang yang lemah dan mudah di injak.”

Malam itu, Sir Hollton memberikan satu peringatan terakhir.

“Tuaj muda, ranah bukan tujuan akhir dari perjalanan para knight” katanya pelan.

“Ia hanya tanda bahwa kau masih hidup di medan perang.”

Arthur mengangguk.

Namun dalam hatinya, satu pemahaman mulai tumbuh:

Jika dunia mulai mengukur kekuatannya,

maka dunia juga akan mencoba mematahkannya.

Aula pertemuan sebagian keluarga bangsawan tidak dipenuhi musik yang meriah. Hanya suara gelas dan napas terukur.

Arthur duduk di sisi kanan Marquis Florence bukan sebagai anak muda, melainkan sebagai perwakilan keluarga Marquis Fireloren yang ditunjuk langsung oleh Florence.

Itu saja sudah cukup untuk menarik perhatian.

Duke New Gate datang lebih dulu.

Seorang pria tinggi, berjanggut rapi, dengan jubah biru tua berbordir emas.

Matanya tajam, senyumnya hangat terlalu hangat.

“Lihat siapa yang ada disini, Arthur muda dari keluarga Fireloren” katanya sambil menunduk sopan.

“Sungguh langka melihat penerus muda berdiri sejajar dengan seorang Marquis.”

Arthur membalas hormat singkat.

“Saya di sini atas undangan resmi, tuan Duke New Gate.”

“iya-iya Tentu, Arthur...” Duke New Gate tersenyum.

“Namun undangan sering kali punya niat ganda.”

Duke Polein masuk menyusul.

Lebih tua. Lebih dingin.

Sorot matanya seperti timbangan yang selalu mencari berat lebih.

“Hmm ternyata disini juga ada seseorang dari keluarga Fireloren” katanya pelan, “sebhah keluarga yang pernah memiliki pengaruh besar. Sekarang… dunia berubah.”

Arthur tidak menyela.

Duke Polein melanjutkan:

“Kami Duke Polein bersedia menawarkan perlindungan politik bagi Arthur.”

“Langsung. Secara Pribadi.”

Keheningan memadat.

“Tapi dengan satu syarat” tambahnya.

“Kau harus melepaskan keterlibatanmu dalam urusan dengan Marquis Florence.”

Itu proposal.

Reaksi yang Ditunggu

Marquis Florence tidak berkata apa pun.

Ia menunggu.

Mata tertuju pada Arthur.

Jika Arthur menerima

ia akan aman.

Jika menolak

ia akan berdiri sendiri.

Arthur menarik napas.

“Apakah Duke Polein menawarkan perlindungan,” tanyanya tenang,

“atau sedang membeli jarak yang bisa diukur?”

Beberapa bangsawan tersenyum tipis.

Duke Polein tidak tersinggung.

“Kami hanya tidak ingin kau terseret konflik yang bukan milikmu dan melapor kepada ayahmu nantinya, hahahahaha.”

Arthur menoleh ke Marquis Florence.

Lalu kembali menatap Duke Polein.

“Jika konflik itu bukan milikku, maka” katanya pelan,

“mengapa semua orang ingin menjauhkan aku dari Marquis Florence?”

Ruangan membeku.

Duke New Gate menepuk tangan ringan.

“Cerdas, kamu cukup cerdas untuk seukuran pria muda” katanya.

“Namun kau masih terlalu muda untuk memikul beban lama dan berat.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Marquis Florence sedang diawasi sekarang” bisiknya cukup keras untuk didengar.

“Dan hubunganmu dengannya… membuatmu sasaran.”

Arthur mengangguk kecil.

“Aku tahu itu, tuan Duke.”

“Maka lepaskan,” kata Duke New Gate.

“Untuk masa depanmu.”

Arthur tersenyum tipis.

“Masa depan yang dibangun dari jarak” jawabnya,

“akan selalu mengajariku cara melarikan diri bukan bertahan.”

Duke Polein mencondongkan tubuhnya.

“Hmm, Loyalitas yaa, itu kata yang indah,” katanya.

“Namun ia tidak memberi makan pasukan.”

Arthur menjawab tanpa meninggikan suara:

“Dan pengkhianatan tidak pernah memberi tidur nyenyak.”

Hening.

Beberapa bangsawan mulai gelisah.

Ini bukan lagi diskusi.

Ini penilaian.

Keputusan Arthur

Arthur berdiri.

Tidak dramatis.

Tidak tergesa.

“Keluarga Fireloren” katanya jelas,

“tidak mencari perlindungan dengan memutus tangan yang sedang membantu kami berdiri.”

Ia menatap Duke New Gate.

“Dan tidak membangun masa depan dengan menghapus masa kini.”

Ia menatap Duke Polein.

“Jika itu membuatku musuh… maka aku akan belajar bertahan sebagai satu kelompok.”

Marquis Florence akhirnya berdiri juga.

“Marquis Florence sangat tersentuh, serta” katanya tegas,

“menghormati keputusan itu.”

Tidak ada ledakan.

Tidak ada bentrokan.

Namun malam itu:

Duke Polein berhenti berbicara dengan Arthur

Duke New Gate tersenyum… dan mulai merencanakan sesuatu

Saat keluar dari Aula, Toxen berbisik pada Arthur:

“Emm, tuan muda apakah kamu yakin dengan perkataan yang kamu bilang barusan?, kau baru saja menolak dua perisai besar yang bisa melindungi keluarga kita hingga tujuh keturunan lagi.”

Arthur menjawab pelan:

“Mereka hanya perisai berlubang yang meminta aku menjatuhkan pedang.”

Di balkon, Arthur berdiri sendiri.

Marquis Florence mendekat dari arah belakang.

“Kau tahu apa arti keputusanmu?” tanya Marquis.

Arthur mengangguk.

“Aku tahu itu tuan marquis.”

“Dan engkau tetap memilih?”

Arthur menatap langit malam.

“Karena jika aku dipisahkan hari ini dengan anda” katanya tenang,

“aku akan dipatahkan satu per satu besok.”

Marquis Florence menepuk bahunya.

“Maka bersiaplah, anak muda” katanya pelan.

“Ujian berikutnya tidak akan semudah kata-kata motivator.”

Arthur mengepalkan tangannya.

Dan itu artinya ia siap dengan hal yang akan terjadi nantinya.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!