Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Berdarah
Langit di atas SMA Garuda mendung, seolah memberi pertanda akan badai yang lebih besar dari sekadar soal-soal ujian.
Hari itu adalah hari terakhir, hari yang seharusnya penuh sorak-sorai kelulusan, justru berubah menjadi awal dari sebuah tragedi panjang.
Zayden memacu motornya menuju sekolah. Ia membawa satu buket bunga matahari kecil dan sebuah surat cinta puitis di saku jaketnya, hadiah untuk Amy setelah bel terakhir berbunyi. Namun, ia tidak tahu bahwa Siska dan Chyntia telah menyuap orang untuk merusak sistem rem dan memotong kabel kopling motornya saat Zayden sedang belajar semalam.
Di tikungan tajam menuju gerbang sekolah, rem Zayden blong. Sebuah truk bermuatan besar melaju dari arah berlawanan.
Zayden mencoba menghindar, namun motornya tak terkendali. Ia menghantam pembatas jalan dengan sangat keras dan terpental belasan meter.
Darah segar mengalir di aspal, membasahi surat puitis yang ia tulis untuk Amy. Zayden tergeletak tak berdaya, dunianya perlahan gelap tepat saat ia mendengar suara ambulans dari kejauhan.
Ardiansyah Abbey berdiri di depan ruang ICU dengan wajah tanpa ekspresi. Begitu ia mengetahui bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh sabotase istri dan anak tirinya, ia tidak meledak marah. Dengan satu jentikan jari, ia menandatangani surat cerai dan mengusir Siska serta Chyntia dari rumahnya hari itu juga tanpa sepeser pun harta. Ia tidak memenjarakan mereka, baginya, hidup di jalanan tanpa kemewahan adalah siksaan yang lebih kejam.
Namun, Ardiansyah melihat ini sebagai kesempatan. Ia ingin membersihkan Zayden dari dunia jalanan.
"Siapkan jet pribadi, Kita bawa Zayden ke Amerika malam ini juga," perintahnya. "Hapus semua jejak. Jangan ada satu pun orang yang tahu di mana dia berada. Biarkan mereka mengira dia sudah pergi... atau mati."
Ujian berakhir. Amy berlari ke gerbang sekolah dengan mata berbinar, mencari sosok jaket kulit yang biasanya bersandar di motor sport hitam. Satu jam, dua jam, hingga matahari terbenam, Zayden tak kunjung datang.
Dio, Hendi, dan Bima mulai panik, Mereka mendatangi rumah Zayden, namun gerbangnya terkunci rapat. Bengkel Zayden pun sepi, Ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Zayden nggak mungkin ninggalin kita begini!" raung Dio sambil menendang pagar rumah Zayden yang kosong. Mereka hampir gila mencari informasi hingga ke rumah sakit di seluruh kota, namun nama Zayden telah dihapus dari catatan medis oleh kekuasaan Ardiansyah.
Amy pulang dengan tubuh lemas. Ia mendapati ayahnya, Tuan Pratama, sedang berdiri di ruang tamu dengan wajah prihatin.
"Amy... Papa baru dapat kabar dari kolega bisnis," ucap Tuan Pratama pelan. "Ardiansyah Abbey sudah menutup seluruh kantor pusatnya di sini dan memindahkan semuanya ke Amerika secara mendadak tadi sore. Rumah mereka kosong."
Amy jatuh terduduk. "Lalu... Zayden, Pa? Zayden di mana?"
"Kemungkinan besar dia dibawa ayahnya ke sana," jawab Tuan Pratama. "Tanpa pamitan? Tanpa kabar?"
Hati Amy hancur berkeping-keping. Ia teringat janji Zayden dua bulan lalu, tentang masa depan, tentang kuliah, dan tentang Si Pitter yang konyol itu.
Bagaimana bisa pria yang bertarung melawan maut demi restu ayahnya, kini pergi begitu saja tanpa satu kata perpisahan?
"Kamu pembohong, Zayden..." bisik Amy di tengah tangisnya yang pecah. "Kamu bilang kamu panglima yang nggak akan pernah ninggalin pasukannya. Tapi kenapa kamu ninggalin aku sendirian di sini?"
Amy tidak tahu, di sebuah rumah sakit di Los Angeles, Zayden sedang berjuang antara hidup dan mati dalam koma panjang. Di sakunya yang robek, hanya ada satu helai kertas hancur bertinta darah yang bertuliskan: "Satu derajat celciusmu adalah hangatku selamanya."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 🥰😍😍😍