"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.20. Kutampar wajah ibuku dengan kenyataan. [RUKMINI]
Setelah Rukmini mendapatkan apa saja yang di carinya, dia kembali pulang ke rumah. Tapi saat itu ibunya terlihat khawatir saat melihat Rukmini berjalan pulang di tengah hujan.
"Koe dari mana?" Tanya ibunya, Rukmini tersenyum.
"Jalan - jalan." Sahut Rukmini, ibunya kemudian menggandeng tangan Rukmini masuk.
"Malam iki koe libur dulu." Ucap ibunya, Rukmini menatap ibunya.
"Ibu yakin? Ndak sayang sama uang nya?" Tanya Rukmini, ibunya sampai tidak bisa berkata apa - apa karena sekarang dia tidak bisa membaca wajah Rukmini.
'Kok sekarang dia makin ndak bisa di tebak.' Batin ibunya.
Ibunya membawa Rukmini duduk di ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Rukmini di mata ibunya sudah benar - benar seperti orang dewasa, selain tinggi nya, penampilan baru Rukmini itu juga membuat nya makin dewasa.
Di tambah juga Rukmini melakukan ritual khusus setiap malam jumat, tak heran makin banyak laki - laki yang datang mencari Rukmini. Tapi yang tidak ibunya sangka, ayah Rukmini sendiri yang membesarkan Rukmini malah ikut - ikutan tergoda dengan kemolekan tubuh Rukmini.
"Masalah koe di pake bapakmu, ibu sudah marahi bapakmu. Dia janji ndak akan sentuh koe lagi." Ucap ibunya, Rukmini menatap ibunya sambil tersenyum.
"Ibu hukum bapak, ndak?" Tanya Rukmini, tatapan nya seperti psikopat yang tersenyum, ibunya menatap Rukmini dengan sedikit ngeri.
"Bapakmu cuma lagi khilaf, nek orang lagi khilaf ndak bakal ingat opo - opo." Ucap ibunya, Rukmini lalu terkekeh.
Saat itu juga Rukmini melihat ayah nya keluar dari kamar nya dan sempat saling tatap dengan Rukmini, kini malah ayah nya menjadi canggung menatap Rukmini karena sudah ketahuan istrinya.
"Khilaf, yo? Yo wes lah.." Ucap Rukmini, lalu bangun.
Ibunya yang mendengar ucapan Rukmini yang sedikit terdengar kecewa itu akhir nya menaham tangan Rukmini agar Rukmini tidak dulu pergi.
"Maksudmu pie?" Tanya ibunya, Rukmini menggeleng, tapi lalu menoleh.
Rukmini berjalan menghampiri ibunya dengan pelan, ibunya sedikit ngeri dengan gerak - gerik Rukmini. Rukmini mendekat dan membungkuk setengah memeluk ibunya dan berkata di dekat telinga ibunya..
"Nek khilaf iku ndak bakal ada kejadian kedua kali, nek sampe lebih dari dua kali iku namanya doyan toh, bu." Ucap Rukmini pelan tapi sangat jelas di telinga ibunya.
DEG!!
"Apa!!?" Ibunya terkejut mendengar apa yang Rukmini ucapkan.
"Bapak ndak khilaf mbe (sama) aku bu, tapi bapak doyan mbe (sama) aku. Aku sengaja ambil dompet ibu supaya ibu balik lagi dan lihat kelakuan bapak, tapi ternyata ibu bela bapak." Ucap Rukmini, dan kembali berdiri menatap ibunya.
"Ibu ndak tau toh bapak sudah berapa kali paksa aku? Iku bukan khilaf bu.. iku doyan." Ucap Rukmini, lalu tersenyum.
Ibunya tertegun. Setelah mengatakan itu, Rukmini kembali tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan ibunya dan masuk ke dalam kamar nya sendiri. Ibunya menangis menutup mulit nya tanpa suara setelah mendengar apa yang Rukmini ucapkan.
Dia tidak menyangka suaminya menghianati nya dan yang paling miris adalah suaminya itu menggauli anak nya sendiri dan dia tidak tahu sudah berapa kali. Dulu niat mereka ya karena Rukmini sudah tidak perawan jadi sekalian saja di manfaatkan, tak di sangka.. Suaminya malah ikut tergoda.
"Kok ngene (begini).." Gumam ibunya Rukmini, dia menangis karena hatinya sakit.
Di dalam kamar, Rukmini duduk di depan meja rias nya, dia juga menangis tapi wajah nya tetap datar. Dia menghapus air matanya, lalu kemudian kembali tersenyum.
"Sakit kan bu? Iku belum apa - apa, atiku sudah mati rasa." Gumam Rukmini, dia membuka gelungan rambut nya dan rambut panjang nya ter urai.
Rukmini menyisir rambut panjang nya dan lalu berganti pakaian, saat itu juga ibu nya masuk ke dalam kamar Rukmini dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Kenapa, bu?" Tanya Rukmini, tanpa dia menoleh.
"Sudah berapa kali koe sama bapakmu?" Tanya ibunya, Rukmini tersenyum.
"Sejak pertama kali sampai sekarang, mungkin hampir setiap hari. Nek ibu pergi ke pasar, atau malam nek ibu sudah tidur." Ucap Rukmini enteng.
"DEG!!" Jantung ibunya rasanya mau copot.
"Koe kan sama tamu - tamu!? Kok bisa.." Ucap ibunya, Rukmini masih sibuk menyisir rambut nya.
"Ibu lupa toh? Wa Minten yang sudah ritualkan aku, mau berapa banyak tamu atau berapa lama pun aku kuat." Ucap Rukmini, sambil memakai minyak rambut di rambut nya.
"Kan ibu yang sendiri yang atur, supaya aku ndak melayani cuma satu tamu dalam satu malam, sudah ingat bu?" Ucap Rukmini, ibunya terdiam..
Ya.. Ibunya tentu saja ingat. Dia yang memang meminta pada wa Minten supaya Rukmini di ritual agar bisa melayani banyak tamu, dia yang meminta supaya Rukmini tidak akan merasakan kesakitan lagi dengan cara di pakaikan susuk.
Tapi bukan ini hasil yang ibunya inginkan, yang ibunya inginkan adalah Rukmini memiliki banyak pelanggan dan bisa menghasilkan banyak uang.
"Kok koe mau toh!? Dia bapakmu, Mini! Kok Koe mau sama bapakmu!?" Ucap ibunya marah - marah.
Rukmini yang sedang menyisir rambut nya itu berhanti dan menatap ibunya dari pantulan cermin di depan nya, ibunya terlihat sangat emosi dan kecewa.
"Aku juga ndak mau, bapak yang paksa aku." Jawab Rukmini.
"Kan koe bisa lawan toh! Dorong bapakmu. Atau koe bilang ibu kan bisa!" Ucap ibunya naik pitam, Rukmini lalu menggelung rambut nya dengan santai, dan kemudian bangun.
Rukmini bangun dan berbalik menatap ibunya, Rukmini berjalan menghampiri ibunya dengan langkah pelan tapi pasti dan kemudian dia berdiri di depan ibunya.
"Kata bapak itu salah satu kewajibanku, dan ibu bilang aku harus manut sama apapun yang bapak bilang." Ucap Rukmini, ibunya tertegun.
"Dan nek aku ngadu, memang nya ibu bakal percaya? Ndak toh?? Yo wes.. aku cuma bisa pasrah saja." Ucap Rukmini, ibunya menangis tersedu - sedu.
"Kenapa koe baru membuktikan sekarang!? Hiks! Hiks! Koe kan bisa saja buktikan sebelum - sebelumnya!" Ucap ibunya, Rukmini tersenyum.
"Gimana yo, nek aku bilang aku kecanduan sama bapak, pie buk?" Ucap Rukmini.
"PLAK!!" Tamparan ibunya mendarat di pipi Rukmini.
"Wani (berani) koe!?" Ucap ibunya marah.
"Seharus nya ibu koreksi diri ibu sendiri, ibu sudah jadi istri dan ibu yang baik atau belum! Semua iki salah nya ada di ibu dan bapak, tapi ibu lebih milih datang ke aku dan marah - marah sama aku!" Ucap Rukmini, akhir nya dia melawan.
"Aku iki korban, bu!!" Bentak Rukmini, ibunya tertegun.
"Waktu pertama aku di perkosa sama wa Parto, iku juga salah ibu dan bapak! Aku kelaparan sampai harus manut di kasih makan wa Parto, yang akhir nya aku di perkosa!" Ucap Rukmini, dia maju dan ibunya mundur sedikit ngeri dengan tatapan Rukmini.
"Koe mau apa, Rukmini?"
...BERSAMBUNG!...