NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Kemalangan Lunaris

Seharian Lunaris harus menahan diri untuk tidak mengamuk saat itu juga.

Permulaan dari neraka yang dijanjikan Bracia tidak memberikan Lunaris waktu untuk bernafas. Semua orang seakan menghakiminya dengan tatapan mereka yang penuh cemoohan.

Bahkan hingga akhir waktu pulang sekolah, Bracia tidak melepaskan Lunaris.

Langit di luar jendela kaca SMA Sevit terbakar dalam warna jingga kemerahan, seolah matahari pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di bawah naungannya.

Bel sekolah yang berbunyi sejak satu jam lalu kini meninggal hening di gedung sekolah elit itu. Tidak ada lagi riuh rendah siswa yang berebut pulang.

Gedung sekolah itu telah mati suri, menyisakan lorong-lorong panjang yang kini berubah menjadi labirin hampa. Namun, keheningan sore itu dihancurkan secara brutal oleh suara langkah kaki yang berpacu dengan maut.

Tap. Tap. Tap.

Suara sol sepatu yang menghantam lantai keramik menggema, pantul-memantul di dinding kosong, menciptakan irama kepanikan yang menyesakkan dada.

Lunaris berlari dengan seluruh sisa tenaga yang masih dia miliki.

Napasnya bukan lagi udara, melainkan api yang membakar paru-parunya. Tas ransel di punggungnya terasa seberat dosa, baju seragam olahraga sudah kusut tak karuan, dan rambut hitam panjangnya yang pagi hari dia ikat rapi dengan ikatan sederhana kini berkibar liar seperti bendera kekalahan.

Wajah Lunaris pucat pasi, matanya bergerak liar mencari celah, persis seperti seekor rusa yang sadar bahwa pemburu telah mengunci target.

Ia tidak berani menoleh. Ia tahu apa yang ada di belakangnya. Bukan hantu, bukan monster, melainkan Bracia dan dua temannya yang jauh lebih mengerikan dari keduanya.

"Lari, Luna! Lari yang kencang!"

Suara tawa itu meledak di belakangnya, memantul ngeri di lorong sepi. Suara Bracia melengking memenuhi seluruh koridor yang sepi. Ratu sekolah, primadona berhati iblis, dan sumber dari segala mimpi buruk Lunaris.

"Hosh... hosh..." Lunaris memaksakan kakinya yang gemetar untuk terus bergerak.

Setiap sel di tubuhnya berteriak minta berhenti, tapi berhenti berarti mati. Ia hanya perlu mencapai tangga, turun ke lantai satu, dan keluar dari gerbang. Hanya itu.

Namun, takdir sore itu sedang ingin bercanda dengan cara yang kejam.

Saat kakinya memijak ujung anak tangga pertama, konsentrasi Lunaris pecah karena rasa takut yang meluap. Kakinya tersangkut tali sepatunya sendiri yang terlepas. Keseimbangannya hilang seketika. Dunia seolah melambat, berputar miring, sebelum gravitasi menariknya tanpa ampun.

"AAKH!"

Jeritan Lunaris memecah udara saat tubuhnya terpelanting ke depan.

Bruk! Dak! Bruk!

Tubuh ringkih itu menghantam anak tangga beton berkali-kali, berguling tanpa kendali hingga akhirnya mendarat keras di bordes lantai bawah. Rasa sakit meledak seketika di sekujur tubuhnya—kepalanya berdenyut hebat, sikunya perih, dan kakinya... kakinya terasa mati rasa dalam posisi yang salah.

Dunia di mata Lunaris menjadi buram dan berputar. Telinganya berdengung, namun suara langkah kaki santai yang menuruni tangga terdengar semakin jelas, semakin dekat, seperti detak jam kematian.

Lunaris mencoba menyeret tubuhnya mundur, tapi rasa sakit di pergelangan kakinya membuatnya memekik tertahan.

Tiga pasang sepatu mahal kini berdiri mengelilinginya, menghalangi cahaya matahari sore, menciptakan bayangan panjang yang mengurung Lunaris di lantai dingin.

"Yah... permainannya selesai deh," Suara Bracia terdengar kecewa, tapi nadanya penuh ejekan.

Lunaris mendongak dengan pandangan kabur. Di sana berdiri Bracia dengan senyum miringnya, diapit Tessa dan Emmeline. Mereka menatap Lunaris bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sampah yang merusak pemandangan.

"Lo ceroboh banget sih, Luna. Gue kan cuma mau ngajak main, kenapa malah atraksi guling-gulingan di tangga?" Bracia terkekeh, lalu ujung sepatunya dengan sengaja menendang pelan luka di lutut Lunaris.

"Ssshh..." Lunaris mendesis, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Biarkan gue pulang... tolong..."

"Pulang?" Emmeline, gadis berambut ikal dengan wajah yang terlihat polos namun bermulut tajam, maju selangkah. "Ck ck ck, buru-buru amat mau pulang. Kita 'kan baru mulai."

Emmeline berjongkok, menatap Lunaris dengan jijik. "Lo gak ngehargain Bracia banget yang ngerelain waktunya ngajak lo main."

Lunaris menggeleng secara impulsif, apakah main yang dimaksud Emmeline adalah penyiksaan dari Bracia. Apa mereka semua tidak cukup membuatnya tersiksa seharian ini? Saat ini Lunaris hanya ingin segera pulang dan lepas dari cengkeraman Bracia.

"Enggak, gue mohon, gue mau pulang," Lunaris mencoba menyuarakan keinginannya, suaranya parau dan putus asa.

"Ayolah bentar lagi, kita masih pengen main sama lo."

BUGH!

Tanpa peringatan, Tessa menendang tas ransel Lunaris yang masih menempel di punggung gadis itu, membuat tubuh Lunaris tersentak menabrak dinding bordes.

"Akh!" Teriak Lunaris saat merasakan nyeri luar biasa meledak di pergelangan kaki kanannya yang tertekuk. Bunyi krak pelan terdengar mengerikan di keheningan tangga darurat itu.

Tawa ketiga gadis itu pecah, seolah suara tulang yang retak adalah musik paling merdu.

"Ups, sorry," Tessa menutup mulutnya dengan gaya dibuat-buat. "Kaki lo sakit banget ya."

Bracia maju, ia tidak tertawa. Wajah cantiknya berubah dingin dan menakutkan. Ia mencengkeram rambut Lunaris, memaksa kepala gadis itu mendongak menatap matanya.

"Denger ya, Tikus Got," Bisik Bracia, napasnya menerpa wajah Lunaris yang penuh keringat dingin. "Aaron itu milik gue. Tapi gara-gara lo, dia terus berpaling dari gue. Dan gue gak akan biarin milik gue jatuh ke tangan sampah kaya lo!"

Bracia menghempaskan kepala Lunaris ke lantai keramik dengan kasar.

Tak!

Dahi Lunaris menghantam lantai. Pandangannya menggelap sesaat. Darah segar mulai mengalir hangat dari pelipisnya, bercampur dengan debu lantai.

"Le-lepashhh," isak Lunaris. Pertahanannya runtuh. Rasa sakit fisik ini tidak seberapa dibandingkan rasa hinanya. Ia tidak bisa melawan. Ia sendirian.

"Emmeline, bersihin dia," perintah Bracia datar. "Darahnya bikin lantai sekolah kotor."

Emmeline tersenyum lebar. Ia mengambil botol air mineral dingin yang ia bawa, membuka tutupnya, dan tanpa ragu menyiramkan seluruh isinya tepat ke wajah Lunaris yang terluka.

"BYUR!"

"Aakhhh! Perih!" Lunaris menjerit tertahan. Air dingin itu masuk ke dalam luka sobek di pelipisnya, menyengat seperti ribuan jarum. Air bercampur darah meleleh membasahi seragam putihnya yang kini berubah warna menjadi merah muda kusam.

"Nah, sekarang lo keliatan lebih seger," ejek Emmeline sambil melempar botol kosong itu tepat ke muka Lunaris.

Tessa ikut berjongkok, kukunya yang panjang mencengkeram dagu Lunaris, memaksanya melihat wajah-wajah mereka yang penuh kemenangan. "Inget tempat lo. Lo sama nyokap lo itu sama aja. Sama-sama pelayan. Jangan mimpi ketinggian buat deketin Aaron cuma buat morotin duitnya."

Kata-kata itu menghujam jantung Lunaris lebih dalam dari pukulan fisik mana pun. Ibunya. Wanita paling baik yang ia kenal, wanita yang bekerja siang malam hingga tangannya kasar demi menyekolahkannya di sini, kini dihina sedemikian rupa hanya karena Lunaris tidak berdaya.

"Jangan... bawa-bawa ibu gue..." gumam Lunaris lirih, giginya gemeletuk menahan amarah dan sakit.

"Apa? Lo mau marah?" Bracia tertawa meremehkan. Ia kembali menjambak rambut Lunaris, kali ini lebih keras hingga beberapa helai rambut tercabut dari akarnya. "Marah aja! Emang lo bisa apa? Ngadu? Silakan! Gak ada yang bakal dengerin lo di sekolah ini."

Bracia mendekatkan wajahnya sekali lagi, matanya berkilat tajam penuh kebencian. "Ini peringatan terakhir. Sekali lagi gue liat lo caper sama Aaron... gue pastiin lo dan nyokap lo bakal diusir dari kota ini. Ngerti lo?!"

Tanpa menunggu jawaban, Bracia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Lunaris kembali terkulai lemas.

"Cabut, Girls. Bau sampah di sini makin nyengat," perintah Bracia sambil melangkah pergi, melangkahi kaki Lunaris yang bengkak seolah itu hanyalah gundukan sampah.

Kedua temannya mengikuti di belakang, tertawa puas sambil sesekali menendang buku-buku Lunaris yang berceceran keluar dari tas.

"Bye bye, Loser!" Seru Emmeline sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.

Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, diiringi gema tawa yang menyakitkan, lalu menghilang di balik pintu koridor utama.

Hening kembali menyergap.

Lunaris terbaring meringkuk di lantai yang dingin. Darah dari pelipisnya terus menetes, membentuk pola abstrak di keramik putih. Seluruh tubuhnya berteriak kesakitan, terutama kakinya yang kini berdenyut hebat.

Ia mencoba bergerak, mencoba bangun, tapi lengannya gemetar hebat dan tidak mampu menopang berat badannya.

"Hiks..."

Satu isakan lolos dari bibirnya. Lalu disusul isakan lain yang lebih keras, hingga akhirnya berubah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati.

Di tengah kesunyian sekolah yang mulai gelap, di antara bayang-bayang yang memanjang, Lunaris menangis sendirian. Ia marah pada Bracia, ia marah pada Aaron yang kebaikannya justru membawa petaka, tapi yang paling utama, ia marah pada dirinya sendiri yang begitu lemah.

Dunia ini tidak adil. Tuhan seolah menutup mata pada dirinya.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!