NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13# Sisa-sisa Khenacuran

Suasana di dalam camp Saka tidak pernah sesunyi ini sebelumnya. Meskipun dinding perisai biru di mulut gua telah kembali stabil, perasaan aman itu telah sirna sepenuhnya. Reruntuhan pondok yang hancur dibiarkan begitu saja, seolah-olah tak ada lagi yang memiliki tenaga untuk merapikannya. Di tengah kegelapan gua yang hanya diterangi bara api yang meredup, aroma amis darah dan debu masih terasa menyesakkan.

Leo telah tiada setidaknya itulah yang mereka semua percayai. Bayangan tubuh Leo yang dihantamkan ke pohon dan diseret ke dalam kegelapan kabut masih terekam jelas di benak mereka, seperti mimpi buruk yang enggan hilang.

Cicilia duduk bersandar pada dinding batu, matanya sembab dan merah. Ia terus menatap busur panahnya yang patah menjadi dua, simbol dari kegagalannya melindungi sahabat yang telah menemaninya awal mereka berada di dunia yang seperti neraka ini. Setiap kali ia melihat Naya, amarahnya kembali berkobar.

"Kenapa kau masih di sini?" desis Cicilia tajam saat Naya mencoba mendekat untuk memberikan air minum. "Setiap kali aku melihat wajahmu, aku melihat Leo yang sedang ditarik oleh monster itu. Kau senang sekarang? Kau puas dengan kecerobohanmu?"

Naya tidak menjawab. Ia menundukkan kepala, tangannya gemetar hebat hingga air di dalam gelas kayu itu berguncang. Air mata kembali menetes membasahi pipinya yang kotor oleh debu mesiu. "Aku... aku benar-benar minta maaf, Cicilia. Aku tidak sengaja..."

"MAAF TIDAK AKAN MENGEMBALIKAN LEO!" teriak Cicilia histeris.

Zephyr yang sejak tadi duduk di samping Naya segera berdiri, menghalangi pandangan Cicilia. Ia meletakkan tangannya di bahu Naya dengan protektif, sebuah gerakan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Sudah cukup, Cicilia. Menyalahkan Naya terus-menerus tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Dia mempertaruhkan nyawanya di depan panel itu sementara kita semua terkapar. Berhenti bersikap seolah kau satu-satunya yang kehilangan!"

Tatapan Zephyr begitu tajam, membuat Cicilia terdiam sejenak meski napasnya masih memburu karena marah. Zephyr kemudian menuntun Naya untuk duduk menjauh. Ia memberikan sepotong kain bersih pada Naya untuk menyeka air matanya. Meskipun Zephyr biasanya dingin dan cuek. sebuah pengertian tanpa kata bahwa di dunia yang gila ini, kecerdasan Naya adalah satu-satunya hal yang membuat mereka tetap hidup.

Rick yang duduk di seberang api unggun hanya bisa menghela napas berat. Amarahnya yang meledak-ledak tadi mulai mereda, digantikan oleh rasa pasrah yang amat sangat. Ia melihat Naya yang hancur karena rasa bersalah dan menyadari bahwa gadis itu adalah aset terpenting mereka. Walaupun hatinya perih kehilangan Leo. Ia tahu jika ia terus menyerang Naya, tim ini akan hancur dari dalam sebelum mereka sempat melangkah keluar.

Di sudut lain, Rayden masih meringkuk di dekat Finn. Rayden sesekali terisak, gumamannya tentang monster dan kematian Leo belum berhenti. Finn mencoba menghiburnya dengan memutar-mutar koin perak tua, namun ia sendiri tampak kehilangan semangat jenakanya. Lira hanya diam dan melamun masih syok atas kejadian tadi, wajahnya pucat pasi, merasakan duka yang amat pekat dari setiap orang di dalam gua.

Arlo berjalan menjauh dari kerumunan, menuju bibir lorong yang lebih gelap untuk menjernihkan pikirannya. Beban sebagai pemimpin terasa ribuan kali lebih berat malam ini. Tiba-tiba, sesosok bayangan mendekatinya. Itu adalah Selene.

Gadis misterius itu berdiri di samping Arlo, menatap ke arah luar gua yang gelap. Selene biasanya sangat tertutup dan jarang bicara, namun malam ini ia tampak lebih lembut. "Kau tidak bisa memikul semua beban ini sendirian, Arlo," ucap Selene lirih.

Arlo menoleh, sedikit terkejut dengan kehadiran Selene. "Aku yang membawa mereka ke sini. Aku yang meyakinkan mereka bahwa kita bisa aman di Saka. Dan sekarang, satu orang hilang karena keputusanku untuk memperbaiki pelindung itu di waktu yang salah."

Selene melangkah lebih dekat, jarinya menyentuh lengan Arlo dengan sangat pelan, memberikan sebuah kehangatan yang asing namun menenangkan. Ada percikan chemistry yang terasa di antara mereka berdua sebuah ikatan antara dua jiwa yang sama-sama memikul rahasia besar. "Leo mengorbankan diri agar Cicilia hidup. Itu adalah pilihannya, bukan kesalahanmu. Jika kau terus melihat ke belakang, kau akan jatuh sebelum sampai ke Menara."

Arlo menatap mata Selene yang berkilat di kegelapan. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di hutan ini, Arlo merasa tidak sendirian. Kehadiran Selene memberinya kekuatan yang berbeda dari dukungan Zephyr atau Harry.

Sementara itu, Harry dan Dokter Luz berdiri di dekat panel energi yang kini telah diperbaiki total. Harry menatap Luz dengan tatapan penuh selidik. "Kau tahu, kan? Kejadian tadi bukan sekadar salah colok kabel. Monster-monster itu menyerang tepat saat energi kita berfluktuasi. Seolah-olah mereka tahu."

Dokter Luz hanya menatap lurus ke depan, wajahnya yang dewasa tampak kaku. "Menara itu memiliki sensor yang jauh lebih pintar dari yang kalian bayangkan, Harry. Setiap kesalahan kecil yang kita buat adalah undangan bagi mereka. Naya melakukan kesalahan manusiawi, tapi Menara... ia tidak pernah melakukan kesalahan."

Malam semakin larut di camp Saka. Mereka semua yang tersisa mencoba mencari peristirahatan di tengah reruntuhan. Cicilia akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, Rick tetap berjaga dengan mata waspada, dan Rayden mulai tenang dalam pelukan selimut lusuhnya.

Arlo kembali ke tengah perapian, melihat teman-temannya yang kini bersatu dalam duka. Ia tahu, meskipun mereka hancur, mereka tidak bisa tinggal di sini selamanya. Saka sudah tidak lagi menjadi rumah yang aman. Esok, mereka harus membawa duka ini sebagai bensin untuk membakar semangat mereka menuju Menara.

"Besok pagi," ucap Arlo dengan suara yang cukup keras agar didengar semua orang. "Kita akan meninggalkan Saka. Kita pergi demi Leo. Kita pergi demi kita semua."

Semua mata tertuju padanya. Di tengah duka, sebuah tekad baru mulai mengeras. Mereka telah kehilangan banyak, namun mereka menolak untuk kehilangan harapan.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!